Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 126 - Ayunda Keguguran


__ADS_3

Keesokan hari nya, Ayunda dan Naren pun berangkat ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan Ayunda. Kedua nya sengaja tidak memberitahu Melisa, karena kalau wanita itu mengetahui hal ini, bisa-bisa dia panik. Tau sendiri seperti apa parnoan nya seorang Melisa, dia selalu panik kalau itu menyangkut tentang menantu dan cucu nya. 


"Mau kemana? Udah rapih gitu." Tanya Melisa saat tak sengaja mereka berpapasan di ruang tengah. 


"Ayu bosan katanya, jadi mau Naren bawa ke perusahaan." 


"Hmm, ya sudah. Kalau begitu hati-hati ya, jangan nakal disana." Peringat Melisa membuat Ayunda menganggukan kepala nya dengan cepat. 


"Iya, Mami."


"Ingat, jangan ngebut-ngebut bawa mobil nya. Awas aja kalo sampai menantu Mami lecet atau tergores, orang yang bakal Mami timpuk itu kamu, Ren!" Ancam Melisa yang membuat Narendra menelan ludah nya dengan kepayahan. 


"Iya iya, Mami." Jawab Narendra. Pasrah saja dari pada harus melawan Mami nya, jujur saja dia tidak berani. 


"Yaudah, sana. Keburu siang, jangan molor. Kasian Mark, mana mau pengantinan." Celetuk Melisa membuat pasangan itu saling menatap satu sama lain. 


Tadi pagi-pagi sekali, Mark sudah datang ke mansion untuk mengantarkan Maya ke rumah. Saat itu juga, Mark mengatakan kalau dia akan segera menikahi Maya, tepatnya bulan depan. Mendengar hal itu, tentu saja Melisa merasa bahagia karena dengan begitu, Maya akan ada yang menjaga nya sekarang. 


"Iya, bulan depan dia mau nikah sama Maya."


"What? Aduh, harus ngasih hadiah dong." Cetus Narendra sambil menepuk kepala nya. 


"Iya, plus kamu juga harus nyiapin mental soalnya dia bakalan cuti nikah selama beberapa hari."


"Lah, terus aku gimana dong?" 


"Kerja lah, cuma sendirian." Jawab Melisa yang membuat putra nya itu mengerucutkan bibir nya, dia tidak siap jika harus bekerja sendirian, tapi selama ini sering membiarkan Mark bekerja sendirian. Ampun deh, untung saja dia bos nya. Kalau dia masih berstatus karyawan, bisa jadi sudah lama Narendra di pecat karena bekerja nya males-malesan. 


"Udah, sana gak usah cemberut gitu deh."


"Iya iya, yaudah Naren sama Ayu berangkat dulu."


"Hmm, hati-hati." Peringat Melisa, dia pun mengantarkan menantu dan putra nya hingga ke teras dan kembali masuk ke dalam rumah setelah melihat mobil yang di kendarai oleh putra nya menjauh dari mansion. 


Di perjalanan, Ayunda kembali meringis ketika merasakan perut bagian bawah nya terasa sakit. Narendra yang mengetahui hal itu seketika panik dan menekan pedal gas melajukan kendaraan nya dengan kecepatan tinggi agar lebih cepat sampai di rumah sakit. 


"Sabar, sayang. Sebentar lagi, plis Mas mohon bertahanlah." Ucap Narendra di tengah kepanikan nya.


"Aaahh, Mas.. Sakit.." Lirih Ayunda, dia berpegangan pada sisi kursi yang di duduki nya dengan erat, keringat mengucur membasahi tubuh Ayunda saking sakit nya. Sungguh demi apapun, dia merasakan rasa sakit yang benar-benar sakit sekarang. 


"Mas.."


"Astaga sayang.." Narendra memekik ketika melihat darah mengalir di paha Ayunda, saat itu Narendra semakin melajukan kendaraan nya lebih laju. Dia tidak mempedulikan apapun lagi, yang dia pikirkan sekarang hanya segera sampai di rumah sakit. Dia tidak bisa melihat Ayunda seperti ini, astaga kenapa cobaan ini tidak kunjung berakhir juga? 


"Mas, aku gak kuat lagi.."


"Enggak, kamu pasti kuat, sayang. Tahan ya? Mas mohon." Ucap Narendra lagi, dia terus berusaha meyakinkan istrinya, namun yang terjadi malah sebaliknya, Ayunda tak sadarkan diri saking sakit nya. Saat itu juga, Narendra di landa kepanikan saat melihat tubuh istrinya yang terkulai lemas di samping nya. Dia tidak bisa menahan air mata nya, dia menangis namun tetap harus fokus mengemudikan kendaraan nya.


Hingga satu jam kemudian, akhirnya mobil yang di kendarai oleh Narendra pun sampai di rumah sakit. Pria itu langsung menggendong tubuh sang istri yang sudah sangat lemas dan pucat dengan berlari dengan sang istri yang ada di pangkuan nya. Dia menuju ruangan UGD, kebetulan ada suster yang sedang berjaga disana jadi Narendra langsung meminta Ayunda untuk segera di tangani.


"Suster, tolong istri saya, sus." 


"Baik, ini pasien dokter Rena?"

__ADS_1


"Ya, dia sedang hamil. Tolong, tangani dengan cepat, sus."


"Baiklah, silahkan anda tunggu di luar sebentar." Narendra pun membiarkan istrinya di bawa masuk ke dalam ruangan, suster itu pun menutup pintu dan juga gordeng nya dengan rapat, membuat Narendra tidak memiliki sedikit pun celah untuk mengintip. 


"Ya Tuhan, selamatkan lah istri dan anak hamba. Jangan biarkan istri hamba menderita terlalu lama." Gumam Narendra. Dia tidak tahan melihat sang istri yang menahan rasa sakit nya tadi saat di jalan. Sungguh, kalau bisa dia ingin menukar rasa sakit sang istri dengan dirinya. 


"Ini semua salahku, kalau saja Ayunda tidak menikah dengan ku, mungkin Trisa takkan melakukan hal gila untuk memenuhi obsesi nya dan membuat Ayunda menderita seperti ini." Gumam pria itu lagi dengan nada putus asa. Rasa nya sakit seperti ada ribuan pedang yang menusuk hatinya, sakit sekali. 


"Sayang, Mas mohon bertahan lah sebentar lagi." Lirih Narendra, air mata pria itu menetes tanpa bisa di cegah. Tubuh nya lemas, merosot dan duduk bersandar di tembok. Niat nya ingin memeriksakan keadaan Ayunda, malah hal ini yang terjadi. 


Disaat rapuh seperti ini, dia selalu memerlukan bahu seseorang untuk bersandar, disaat yang bersamaan ada seseorang yang menepuk pundak nya. 


"Tuan.." Panggil nya, membuat Narendra menoleh. Gotcha, dia seolah menemukan sandaran. Mark datang kemari, tanpa di beri tahu sekalipun tapi dia berada di tempat ini? Sedang apa dia di rumah sakit? Apa ada sesuatu yang terjadi padanya? Tapi, biarkanlah itu menjadi pertanyaan belakangan.


"Mark." Lirih Narendra, dia menatap wajah sang asisten dengan tatapan berkaca-kaca, menunjukkan kalau dia memang sedang tidak baik-baik saja sekarang. 


"Tuan, anda baik-baik saja?" Tanya Mark, membuat Narendra menggelengkan kepala nya pelan.


"Ada apa, Tuan? Apa yang terjadi?"


"Kemarin malam, Ayunda pendarahan lagi. Hanya saja pendarahan ringan, jadi aku pikir itu tidak masalah, aku pikir mungkin efek obat penggugur kandungan yang di berikan Mona masih berpengaruh, jadi pagi nya aku membawa Ayu ke rumah sakit, tapi di mobil dia malah pendarahan lagi bahkan sampai pingsan, Mark." Jelas Narendra panjang lebar. 


Terlihat, kedua mata Mark membulat sempurna. Dia terkejut mendengar penjelasan ucapan sang atasan, bagaimana bisa hal seburuk ini terjadi? Dia kira, keadaan Ayunda sudah membaik setelah Mona di tangkap polisi dan juga dalang dari semua nya sudah di penjara sekarang, rupanya belum. Ayunda masih menderita sekarang. 


"Apa istri dan anak ku akan baik-baik saja, Mark? Aku takut sekali." Lirih Narendra, suara nya bergetar menahan gemuruh di dada nya.


"Anda harus percaya pada Nona Ayunda, dia wanita yang baik dan kuat, saya yakin kedua nya pasti akan selamat, Tuan." Ucap Mark, meskipun jauh di dalam lubuk hati nya dia juga merasa ragu. 


Tak berselang lama, seorang perawat keluar dengan keringat yang membasahi kening nya. Dengan seragam khas perawat berwarna putih keluar dan memanggil keluarga pasien.


Mendengar itu, Narendra langsung bangkit dari duduk nya, dia berjalan terseok-seok seperti orang mabuk.


"Saya suami nya, sus."


"Begini, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, namun kandungan Nona Ayunda terlalu lemah."


"Jadi, bagaimana keadaan nya sekarang, suster?" Tanya Narendra lagi. Hati nya sudah merasakan perasaan tidak enak, sungguh dia khawatir apa yang akan terjadi pada istri dan juga anak nya. 


"Maaf, kandungan Nona Ayunda tidak bisa di selamatkan. Jika pun di pertahankan, itu akan sangat beresiko untuk ibu dan juga janin nya, Tuan. Jadi kami memutuskan anda untuk menyelamatkan salah satu nya, bayi di dalam kandungan atau ibu nya. Kami juga tidak yakin jika Tuan memilih bayi yang ada di kandungan Nona Ayunda, karena kemungkinan janin nya juga sudah meninggal di dalam rahim, Tuan." Jelas perawat itu. 


Deghh.. 


Jantung Narendra seakan berhenti berdetak saat itu juga, artinya calon buah hati nya tidak bisa di selamatkan? 


"Jadi.."


"Maafkan kami, Tuan. Kami akan mengoperasi nya namun kami membutuhkan tanda tangan anda sebagai suami nona Ayunda. Kalau terlambat, kami tidak bisa.."


"Sus, bisakah di wakilkan? Saya yang akan menandatangi nya. Selamatkan Nona Ayunda, saya yang akan bertanggung jawab untuk semua nya, Suster." Jawab Mark. Dia memutuskan untuk mengambil keputusan besar untuk mewakili Narendra. Dia khawatir kalau sampai terlambat, semua nya akan kehilangan nyawa mereka. 


"Baik, silahkan tanda tangan disini, Tuan." Perawat itu pun memberikan sebuah berkas dan Mark segera membubuhkan tanda tangan nya disana. Sungguh demi apapun, kalau dia juga berada di posis Narendra, dia mungkin akan pingsan. Berbeda dengan Narendra yang hanya terdiam dengan pandangan kosong. Mark tahu, ini adalah hal terberat yang di alami nya.


"Terimakasih, kami akan melakukan operasi sekarang juga. Permisi.." Perawat itu pun pergi untuk menyiapkan ruangan operasi, setelah mendapatkan tanda tangan sebagai bentuk persetujuan. 

__ADS_1


"Tuan.."


"Mark.." Lirih Narendra dan sedetik kemudian, pria itu tumbang tak sadarkan diri. Mark terkejut, ini benar-benar berat bagi Narendra dan Mark tahu hal ini. Dia pun bersusah payah untuk membawa tubuh besar Narendra ke salah satu ruangan untuk nya beristirahat. 


"Apa aku harus memberitahu Nyonya Melisa ya? Seperti nya iya, bagaimana pun juga dia berhak tahu kan?" Gumam pria itu, dia pun mengambil ponsel nya dari saku dan menghubungi nomor Melisa. Dengan perasaan harap-harap cemas, Mark menunggu detik demi detik hingga akhirnya panggilan nya di angkat oleh Melisa.


'Hallo, Mark. Ada apa?' Tanya Melisa, suara nya lembut mendayu membuat Mark tak tega jika harus memberitahu kan kabar buruk ini, tapi dia juga berhak mengetahui keadaan menantu kesayangan nya saat ini yang tengah bertaruh nyawa di meja operasi kan?


"Nyonya, bisakah anda ke rumah sakit sekarang?"


'Ke rumah sakit? Memang nya siapa yang sakit, Mark?' Tanya Melisa lagi, nada suara nya mulai berubah. Seperti nya feeling seorang ibu memang tidak bisa di bohongi, begitu mendengar kata rumah sakit, perasaan nya langsung berubah. 


"Nona Ayunda keguguran dan harus di operasi sekarang, Nyonya." Jawab Mark, dia memejamkan mata nya menunggu respon yang mungkin saja akan membuat nya merasa sesak.


'Jangan bercanda, Mark. Tadi Ayunda baik-baik saja kok, cuma dia bilang bosan jadi mau ngikut Naren ke kantor, Mark.'


"Saya tidak bercanda, Nyonya. Datang lah, sekarang pun Tuan Naren tak sadarkan diri karena shock mendapati kabar ini." Jelas Mark lagi yang membuat Melisa merasakan dada nya sesak, jantung nya seakan berhenti berdetak sekarang. 


'J-jadi, ini sungguhan, Mark?'


"Benar, Nyonya. Tolonglah, datang kemari. Nona Ayunda maupun Tuan Naren membutuhkan anda." 


'Aku kesana sekarang.' Jawab Melisa. Panggilan pun selesai. Mark pun menghela nafas nya, dia merasa sedikit lega karena sudah memberikan kabar yang tidak bertele-tele dan dia bisa mengatakan nya dengan jelas.


"Aku tau, kalian orang-orang yang hebat makanya Tuhan memberikan cobaan berat ini pada kalian, karena dia tahu kalau kalian akan mampu melewati nya." Gumam Mark. Dia keluar dari ruangan Narendra dan memilih menunggu di luar ruangan sambil duduk. Sesekali dia celingukan mencari keberadaan sang nyonya, namun jarak dari mansion ke rumah sakit ini cukup jauh, jadi memerlukan waktu yang tidak sebentar. 


Tadi pagi, Mark merasakan tubuh nya tidak enak, perut nya sakit melilit dan dia memutuskan untuk memeriksakan diri di dokter khusus langganan nya, dia juga mengantri di bagian farmasi untuk menebus obat nya, namun setelah dia mendapatkan obat nya dan berniat untuk segera pergi ke kantor untuk bekerja, dia malah melihat Narendra terduduk di lantai dengan kepala tertunduk dalam. 


Awalnya, Mark sendiri merasa kurang yakin kalau itu adalah Narendra. Namun saat dia berjalan mendekat, dia yakin kalau itu adalah Narendra. Dia hafal bentuk dan aroma parfum atasan nya itu, dia sudah bekerja bertahun-tahun bersama Naren, mustahil bagi nya kalau tidak mengetahui aroma parfum atasan nya sendiri bukan?


Akhirnya, dia memberanikan diri untuk menepuk pundak pria itu dan ternyata benar, pria itu adalah Narendra. Atasan nya, tapi sedang apa dia disini dengan keadaan berantakan seperti ini padahal masih pagi? Setelah mendengar semua nya, Mark pun mengerti dan paham. Dia juga terkejut begitu mendengar ucapan Narendra. Dia berpikir, kandungan Ayunda baik-baik saja setelah semua nya terungkap, tapi rupanya cinta mereka masih di uji. 


Tak lama kemudian, Melisa datang dengan wajah panik nya. Dia datang kesini bersama supir keluarga nya, dia tidak bisa menyetir jadi dia mau tidak mau harus mengandalkan supir, Arvin juga menyediakan banyak supir di rumah yang selalu siap siaga kalau-kalau ada yang membutuhkan nya. 


"Mark, dimana Ayunda?"


"Nona Ayunda masih berada di ruang operasi, dia sedang di tangani sekarang, Nyonya."


"Astaga, bagaimana semua ini bisa terjadi." Gumam Melisa. Mata nya terlihat sembab, mungkin sepanjang perjalanan wanita paruh baya itu menangis.


"Kata perawat tadi, ini terjadi karena efek obat penggugur kandungan itu, Nyonya. Itu membuat kandungan Nona Ayunda yang memang sedari awal sudah lemah, semakin lemah dan akhirnya janin nya tidak bisa bertahan." Jelas Mark membuat Melisa kembali menangis. Air mata nya menetes tanpa bisa di cegah, bagaimana tidak? Dia sudah sangat senang karena sebentar lagi dia akan memiliki cucu, namun sekarang? Calon cucu nya pergi ke surga. 


Bukan hanya calon cucu nya yang dia khawatirkan, tapi juga menantu nya. Dia mengkhawatirkan keadaan menantu kesayangan nya, dia sangat terkejut mendengar semua ini. Ini terlalu tiba-tiba bagi nya, hingga rasanya begitu menyakitkan sampai-sampai dia tidak bisa berkata apapun. 


"Sakit sekali rasa nya, Mark.."


"Maaf, sebenarnya tadi ada dua pilihan. Menyelamatkan janin atau menyelamatkan ibu nya, kedua nya sama-sama beresiko. Kemungkinan besar, jika pun janin nya di selamatkan, detak jantung nya sudah melemah, lambat laun akan meninggal juga. Jadi, saya memilih menyelamatkan Nona Ayunda. Karena Tuan Narendra terlalu shock, dia mematung di tempat. Maafkan saya, Nyonya." Jelas Mark dengan jujur.


"Tidak perlu meminta maaf, keputusan mu sudah benar, Mark. Terimakasih, dimana Narendra sekarang?"


"Ada di dalam, dia belum sadarkan diri." Jawab Mark lagi. Melisa pun menghembuskan nafas nya beberapa kali untuk menghilangkan rasa sesak di dada nya. 


........

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2