
"Sayang.." Lirih Narendra sambil melihat ke arah sang istri.
"Iya, Mas."
"Kamu kenapa?" Tanya Narendra sambil mengusap wajah cantik sang istri. Setelah melihat keadaan Kakek Darren di rumah sakit tadi, Narendra dan Ayunda pun memutuskan untuk pulang lebih dulu bersama Melisa. Sedangkan Selin, Arvino dan juga Samuel masih berada di rumah sakit saat ini.
Pasangan suami istri itu berada di kamar sekarang, jangan berharap ada AC disini, karena sedang musim dingin jadi pengatur udara tidak berguna sekarang.
Narendra terlihat khawatir dengan sang istri, karena sejak pulang dari rumah sakit tadi, Ayunda hanya diam saja tidak bicara apapun. Terlebih, setelah melihat keadaan Darren secara langsung. Naren mengerti, mungkin saja istrinya itu merasa shock begitu melihat keadaan Darren saat ini.
"Tidak apa-apa, Mas. Aku baik-baik saja, kenapa memang nya?" Tanya Ayunda sambil tersenyum.
"Kamu diam saja dari tadi, gimana Mas gak khawatir coba."
"Haha, aku pusing, Mas. Itu saja."
"Belakangan ini kamu sering pusing, yang. Apa kamu punya penyakit darah rendah?" Tanya Narendra. Dia segera mendekati istrinya yang sedang duduk di pinggiran ranjang. Narendra meletakan tangan nya di dahi istrinya, tidak panas. Artinya, sang istri tidak demam.
"Apaan sih, Mas. Aku gak demam." Ucap Ayunda sambil menepis tangan Naren dari kening nya.
"Mas kira kamu demam, yang."
"Pengen makan seblak deh, kayaknya enak, Mas."
"Lah, disini mana ada seblak, sayang." Ucap Narendra sambil terkekeh. Istrinya ini ada-ada saja, mana ada seblak di Amerika?
"Gak tau, tapi aku pengen makan seblak, Mas."
"Sayang.."
"Aku gak mau tahu, pokoknya aku makan seblak titik. Kalo kamu gak bisa ngasih, aku gak bakalan mau ngasih kamu jatah seminggu ke depan!" Tegas Ayunda yang membuat Narendra terhenyak. Tidak mendapatkan jatah seminggu? Astaga, apa-apaan ini. Mana udara nya dingin, sangat mendukung untuk bermesraan. Tapi istrinya malah mengancam dirinya takkan memberikan jatah nya kalau dia tidak bisa memberikan seblak.
Kalau bakso sih masih mending ya, di luaran sana juga ada yang jualan bakso. Tapi seblak? Bisa bikin sih, tapi bahan-bahan nya pasti sulit untuk mendapatkan nya disini, berbeda dengan di Indonesia. Warung seblak bertebaran dimana-mana.
"Yang, jangan bawa-bawa jatah dong."
"Gak peduli." Jawab Ayunda sambil memalingkan wajah nya ke samping, lengkap dengan tangan yang bersedekap di dada menandakan kalau dia benar-benar kesal.
"Yang, plis dong. Kalo ngidam tuh yang masuk akal gitu."
"Jadi, menurut kamu aku pengen seblak itu gak masuk akal, Mas?" Tanya Ayunda. Narendra terheran-heran sendiri, dia benar-benar heran kenapa istrinya bisa sensitif seperti ini? Padahal tadi, dia baik-baik saja kan, malahan tadi mereka berjalan-jalan bersama di rumah sakit dan di luar.
"Tapi yang, ini Amerika lho. Dimana disini yang jualan seblak? Kalo di indo sih banyak, aku gak bakalan nolak meskipun kamu mau beli seblak sama gerobak nya sekalian." Jawab Narendra, bukan nya luluh tapi Ayunda semakin kesal mendengar jawaban sang suami.
"Ohh, yaudah. Jangan salahin aku kalau nanti malem aku gak mau peluk!"
"Astaga, sayang. Kamu seriusan ini?"
"Emang siapa yang bercanda hmm? Aku seriusan! Aku pengen makan seblak ceker, sekarang." Jawab Ayunda yang membuat Narendra terhenyak. Dia bingung, jadi dia harus mencari seblak sekarang?
"Oke, gimana kalau bikin aja?"
"Terserah kamu aja, tapi harus enak." Jawab Ayunda.
"Iya iya, nanti minta bantuin sama Mami." Ucap Narendra.
"Yaudah sana, aku pengen makan seblak nya sekarang!" Jawab Ayunda. Akhirnya, Narendra pun beranjak dari duduk nya dan akhirnya keluar dari kamar untuk membuat seblak. Makanan yang sering di jual di Indonesia, tapi Ayunda menginginkan nya saat mereka berada di negara orang.
Narendra menuruni tangga secara perlahan, pria itu kebingungan sendiri. Bagaimana bisa dia membuat seblak? Dia tidak bisa memasak, apalagi memasak makanan seperti itu. Dia tidak berbakat untuk memasak, kalau hanya masak mie mungkin dia masih oke. Tapi ini seblak lho, seumur hidup dia belum pernah mencoba makanan itu meksipun Andy sering sekali jajan makanan berkuah pedas itu, katanya sih enak.
__ADS_1
Tapi Narendra tidak tergoda untuk mencoba makanan itu, baginya makanan itu terdengar sedikit aneh karena biasanya kerupuk itu di goreng kan, bukan di rebus.
"Lho, kamu keliatan murung. Kenapa?" Tanya Arvino. Ternyata, pria paruh baya itu sudah pulang dari rumah sakit.
"Udah pulang, Pi?"
"Hmm, baru aja sampai. Kamu belum jawab pertanyaan papi lho, kamu kenapa hmm?"
"Pusing, Pi. Masa Ayu minta seblak sih, dimana coba ada makanan kek gitu disini." Jawab Narendra sambil memijit kening nya, membuat Arvino tersenyum penuh arti.
"Kamu gak bakalan sepusing ini kalau cuma karena seblak, Ren. Pasti, ini ada hubungan nya dengan jatah mu yang terancam, benar?" Tanya Arvino sambil tersenyum kecil.
"Papi.."
"Hahaha, benarkan?" Tanya Arvino.
"Iya bener, itu papi tahu. Kayaknya pengalaman ya dulu?" Goda Narendra tak mau kalah sambil menyenggol pelan sikut sang Papi.
"Iya dong, dulu Mami mu ngidam pengen makan bakso telor tapi harus Papi yang bikin. Aduh ribet nya, jadi biar cepet papi beli aja, terus papi pura-pura kalau itu papi yang bikin. Awalnya, Mami mu percaya. Tapi akhirnya ketahuan juga, dia marah terus papi gak di kasih jatah seminggu sebagai hukuman." Jelas Arvin sambil tertawa.
Dulu, dia dan Melisa juga pernah seperti ini. Beda nya, Melisa sedang hamil saat itu makanya Arvin berusaha semaksimal mungkin, karena katanya kalau ngidam ibu hamil gak keturutan, nanti bayi nya ngeces. Tapi, jujur saja Arvin tidak bisa membuat bakso jadilah tercetus ide untuk nya membeli saja, namun berpura-pura seolah dia yang membuat nya.
"Hahaha, sengsara dong, Pi."
"Iya sengsara, kita memang tidur bareng tapi Mami kamu gak mau di sentuh sama sekali, bahkan di peluk juga gak mau. Tersiksa banget rasanya, tau sendiri kan kalo tidur gak meluk istri itu kayak ada yang kurang." Ucap Arvino.
"Jadi, tolongin Naren dong, Pi."
"Tolongin apaan? Papi gak bisa masak, apalagi masak seblak. Ribet, harus pake bumbu halus segala. Males." Jawab Arvino sambil fokus menonton layar televisi yang menayangkan siaran sepak bola.
"Yaelah, Papi. Tega bener sama anak sendiri, kalau Naren gak dapet jatah, otomatis papi gak bakalan bisa dapet cucu dalam waktu yang lama." Jawab Narendra sambil mengerucutkan bibir nya. Dia kesal, terlebih lagi Melisa tidak terlihat sama sekali saat ini. Mungkin, dia sedang beristirahat saag ini. Melisa memang sudah berumur, jadi dia seringkali mengeluh sakit pinggang lah, sakit kepala lah, atau sakit yang lain. Nama nya juga faktor U ya kan.
"Nah kan, papi harus bekerja sama kalah mau cucu." Jawab Naren sambil tersenyum. Dia pun membuka ponsel dan mencari resep untuk membuat seblak yang sekira nya enak.
"Oke bumbu nya ada kencur, bawang putih, bawang merah terus cabe." Ucap Narendra setelah melihat resep di internet. Pria itu mengernyit, apa ada kencur ya disini?
"Yang lain nya ada, tapi kencur?"
"Oke, kita cari di dapur. Kali aja ada." Jawab Narendra. Kedua pria itu pun pergi ke dapur. Mereka mengubek-ubek kulkas dan isi dapur untuk mencari bahan-bahan nya. Ada aneka olahan seafood di kulkas, kerupuk juga ada, sosis dan yang lain nya juga ada. Hanya saja, mereka belum mendapatkan kencur nya.
Belum juga mendapatkan bumbu yang mereka butuhkan untuk membuat seblak, mereka malah mendapatkan omelan dari kedua wanita yang baru saja datang.
"Astaga, kalian lagi ngapain? Ini kenapa dapur jadi acak-acakan begini?" Tanya Melisa. Dia baru saja kembali dari sebuah tempat bersama Selin, kedua nya datang bersamaan.
"Eehh, hehe.."
"Mau aku jewer atau kalian beresin?" Tanya Selin yang membuat kedua pria itu kompak cengengesan.
"Maksud kalian berantakin dapur tuh ngapain?" Melisa menggelengkan kepala nya, dia heran sendiri dengan kelakuan kedua pria yang berstatus ayah dan anak itu. Mereka berdua ngapain sih di dapur? Padahal, Melisa tahu benar kalau kedua nya paling anti berada di dapur jika bukan waktu nya makan.
"Nyari kencur."
"Buat apa kencur?" Tanya Selin dengan kening yang mengernyit heran.
"Ayu pengen makan seblak, Bi. Makanya Naren mau buat aja, kalo beli kan gak ada ya disini."
"Ohh, mau bikin seblak ya? Ayu ngidam?" Tanya Selin membuat Naren menganggukan kepala nya. Tapi, ngidam tidak selalu melekat pada ibu hamil kan? Wanita yang tak hamil juga bisa memiliki keinginan untuk makan sesuatu, itu juga bisa disebut ngidam kan?
"Kayaknya sih iya."
__ADS_1
"Hmm, yaudah. Kalian berdua ke depan aja sana, biar seblak nya kamu yang buat." Ucap Melisa.
"Beneran, Ma?"
"Beneran, tapi kalian harus beresin ini dulu. Sekarang!" Tegas Melisa yang membuat Narendra dan Arvin saling melempar tatapan satu sama lain.
"Eehh, Papi mendadak sakit perut nih. Papi ke kamar mandi dulu ya, hehe." Ucap Arvino sambil berpura-pura memegangi perut nya yang padahal tidak sakit sama sekali. Ini hanya alasan pria itu agar dia di bebas tugaskan dari beres-beres, malas saja kalau dia harus beres-beres. Padahal tadi, mereka membuat dapur berantakan itu tidak malas sama sekali.
"Naren juga udah di panggil sama Ayu, Naren ke kamar dulu ya, hehe. Babay.." Narendra juga kabur dari dapur. Membuat kedua nya kompak menghela nafas lalu menggelengkan kepala mereka secara bersamaan.
"Like father, like son." Gumam kedua nya. Lalu mereka pun mulai membuat seblak, satu orang membuat seblak untuk memenuhi keinginan Ayunda, itu adalah tugas Melisa. Dia memasak makanan itu untuk menantu kesayangan nya. Dia bahagia mendengar kalau Ayunda ngidam, semoga saja sekarang memang menantu nya itu sedang hamil, namun dia belum menyadari nya.
Selin sendiri, dia memutuskan untuk membereskan dapur yang tadi di berantakin oleh kedua pria yang merupakan ayah dan anak itu. Setelah membuat berantakan, mereka malah pergi dengan alasan masing-masing karena tak ingin di suruh beres-beres. Menyebalkan memang, tapi ya sudahlah.
"Seblak nya wangi banget, Mel."
"Hehe, seblak tuh makanan kesukaan aku, mbak." Jawab Melisa sambil tersenyum kecil, dia mencoba kuah nya dengan menggunakan tangan nya. Sudah pas, bumbu nya sudah sangat pas. Asin dan gurih nya sudah cukup.
"Pantesan, kamu kayak santai banget pas bikin seblak nya. Pantes aja kalo kamu emang suka, jadi tau seblak gimana yang enak." Ucap Selim sambil terkekeh. Dia sedang memasukan kembali beberapa barang ke dalam lemari khusus perabotan. Selin heran sendiri, dasar laki-laki kenapa mencari kencur hingga ke dalam lemari?
"Ini suami sama anak mu, ngapain sih cari kencur sampai ngeluarin perabotan ya?"
"Hahaha, entahlah Mbak. Maklum, mereka kan gak pernah mau datang ke dapur kalo belum waktu nya makan." Jawab Melisa sambil tertawa kecil.
"Pantesan, gak tau dimana letak kencur." Selin juga tertawa, dia memang sengaja menanam kencur di kebun samping rumah nya, namun karena sekarang musim salju pertumbuhan kencur nya sedikit terhambat. Jadi belum bisa di panen, namun demikian tidak masalah. Daun nya juga sama-sama bisa di makan dan memiliki aroma juga rasa yang sama, hanya berbeda bentuk saja.
"Aku bahkan gak yakin, mereka tau bentuk kencur tuh kayak gimana." Ucap Melisa sambil tertawa kecil. Terasa lucu saja karena kedua ayah dan anak itu tidak pernah pergi ke dapur, jangankan tahu bentuk kencur kan ya?
"Hahaha, pasti mereka nyangka kencur itu yang kayak jahe."
"Parah sih kalau emang mereka gak pake kencur dan ternyata malah pake jahe, gak jadi seblak dong." Jawab Melisa.
"Omong-omong, ini mau pake ceker kan? Kebetulan, Sam itu suka ceker jadi aku sering nyetok ceker gitu."
"Iya sih, pakein aja. Soalnya seblak pake ceker emang enak, hehe." Jawab Melisa. Untung nya, Selin memiliki stok ceker yang sudah di rebus. Dia pun memasukan ceker nya ke dalam wajan berisi seblak dengan kuah merah yang masih mengepul.
Tak berapa lama kemudian, akhirnya seblak nya pun siap. Narendra memanggil istrinya sesuai perintah sang ibu. Dia meminta putra nya untuk memberitahu Ayunda kalau seblak nya sudah matang.
Ayunda pun keluar, wajah nya terlihat pucat juga terlihat lemas. Namun, dia masih menyunggingkan senyuman nya. Dia masih merasa pusing, semoga saja dengan memakan seblak yang pedas, sedikit pusing nya akan hilang.
"Ayo sayang, seblak nya udah jadi." Ucap Melisa sambil memberikan semangkuk seblak pada sang menantu. Ayunda tersenyum lalu memakan seblak nya dengan lahap, dia terlihat sangat menikmati makanan nya. Rasa seblak nya benar-benar seperti apa yang dia bayangkan.
Pedas, gurih dan asin yang pas membuat lidah nya berpesta. Dia sangat bahagia, karena makanan yang ada di benak nya, kini benar-benar dia nikmati. Simpel saja untuk membahagiakan Ayunda, buatkan saja seblak dia langsung good mood. Namanya juga perempuan, mood nya kadang naik turun. Kalau kata anak jaman sekarang itu mood swing katanya. Ayunda sering mengalami hal itu, ketika dia menstruasi dan juga saat dia ngidam waktu itu.
"Gimana seblak nya, sayang?"
"Enak, tapi ada yang kurang, Mi."
"Apa, sayang?" Tanya Melisa.
"Kurang banyak, hehe." Jawab Ayunda sambil terkekeh kecil. Melisa tersenyum lalu mengusap puncak kepala Ayunda dengan penuh kehangatan dan kasih sayang. Dia memang sangat menyayangi Ayunda.
"Tuh, masih ada di panci, sayang. Jangan takut gak kenyang, masih banyak tuh."
"Hehe, terimakasih Mami.."
"Sama-sama, sayang." Jawab Melisa. Dia tersenyum melihat menantu nya makan dengan lahap. Melihat Ayunda seperti ini saja, Melisa sudah merasa sangat bahagia.
......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻