
"Mas.."
"Iya, sayang. Kenapa?"
"Sebenarnya, kamu ada masalah apa sih sama orang bernama Rosalina? Keliatan serius banget tadi kamu bahas nya sama Mark."
"Hmm, dia hanya menghina seseorang yang sangat aku cintai dan aku tidak terima akan hal itu, sayang." Jawab Narendra membuat Casey mengangguk-anggukan kepala nya.
"Memang nya dia mengatakan apa? Apa fatal sekali ya, sampai mau di hancurkan seperti apa yang kamu katakan tadi." Tanya Ayunda lagi membuat Naren tersenyum kecil dan mengacak rambut istrinya dengan lembut.
"Kenapa memang nya kamu nanya-nanya? Tumben penasaran."
"Hehe, soalnya gak biasanya aja kamu sampai seserius itu bahas orang apalagi itu wanita."
"Kamu cemburu?" Tanya Narendra. Dia berharap istrinya menjawab iya, tapi istrinya terlalu polos jadi dia pasti menjawab tidak.
"Tidak, Mas. Karena aku percaya sama kamu."
"Hmm, begitu ya?"
"Iya, yang tadi jawab dulu dong. Kesalahan nya fatal banget ya?" Tanya Ayunda lagi. Dia benar-benar penasaran dengan apa kesalahan wanita itu hingga bisa membuat Naren menjelma menjadi seorang pria yang kejam.
"Bagi aku sangat fatal, sayang. Tapi Mas tidak tahu seperti apa pendapat orang lain apalagi pendapat orang yang Mas lindungi."
"Siapa memang nya, Mas?" Tanya Ayunda sambil menatap sang suami dengan tatapan penasaran nyam
"Kamu, sayang."
"H-aahh? A-aku?" Tanya Ayunda. Di ruangan ini tidak hanya ada Ayunda dan Naren, tapi ada Arvino, Darren dan juga Adam yang juga ikut menyimak pembicaraan kedua insan yang saling mencintai itu.
"Iya, kamu. Semua ini berawal dari meeting hari itu, awalnya semua berjalan baik-baik saja sampai aku bertemu dengan wanita bernama Rosalina. Tidak etis ya mau meeting sama pria lain yang bukan keluarga atau apapun hubungan nya tapi memakai pakaian kurang bahan."
"Kurang bahan?" Tanya Ayunda lagi.
"Iya, kayak pakaian kamu pas di kamar itu lho. Beda nya, dia memakai pakaian sempit. Mungkin sudah kekecilan, saking kekecilan nya bola tenis nya hampir melompat keluar."
"Ckkk, dasar mata keranjang!"
"Ya maaf, tapi Mas udah berusaha nutup mata kok."
"Nyebelin!"
"Eehh, dengerin dulu cerita nya sampai habis nanti boleh ngambek." Ucap Narendra sambil mengusap tangan Ayunda dan menggenggam nya.
"Meeting nya berjalan biasa saja, sampai wanita itu mulai menggerakkan kaki nya untuk mengusap kaki Mas, sayang. Dari situ Mas udah mikir kalau dia wanita gak bener, jadi pas dia menanyakan inti dari meeting itu, alias menanyakan bagaimana kesepakatan nya, Mas bilang terserah sama Mark aja."
"Tapi Mark malah diem aja, seperti nya dia juga agak kurang nyaman dengan wanita itu. Jadi dia bilang kalau Mas gak setuju, dia marah dong sampe gebrak meja. Kita berdua kaget dong, sebenarnya itu tuh gak jadi masalah ya soalnya ini bukan pertama kali nya kami menangani klien modelan begitu." Ucap Naren menjelaskan dengan detail tanpa mengurangi atau melebihkan ceritanya.
__ADS_1
"Kita masih bisa baik-baikin dia, tapi tuh cewek malah makin ngelunjak, sebel banget deh. Terus Mas bilang dia kayak barang murah, soalnya pakaian nya udah gak mencerminkan kalau dia adalah wanita terhormat yang bisa menjaga kehormatan nya di depan pria yang bukan suaminya."
"Dia malah bilang kalau istri Mas juga pasti murahaan, itu yang dia bilang. Jelas Mas gak terima, sayang." Jelas Naren membuat semuanya mengangguk-anggukan kepala nya.
"Mas sadar, ini memang harusnya gak usah di bawa-bawa ke urusan pekerjaan. Mas harusnya profesional, tapi Mas udah terlanjur marah sama itu orang soalnya dia berani banget ngatain istri kesayangan Mas. Enak aja!"
"Apa yang di lakukan oleh Naren sudah benar, dia benar-benar menjaga harga diri istrinya." Ucap Darren. Dia setuju dengan apa yang di lakukan oleh cucu nya, meskipun agak sedikit kejam, tapi perkataan wanita itu juga pasti sangat menyakitkan bagi Ayunda apalagi jika dia mendengar nya secara langsung. Mendengar dari penjelasan Naren saja membuat hatinya terasa berdenyut ngilu.
"Papi juga setuju dengan langkah yang di ambil Naren, berani-beraninya wanita itu mengata-ngatai menantu kesayangan Papi, kalau saja Papi yang meeting sama orang itu, sudah Papi tampar itu wajahnya." Ucap Arvino. Semua orang yang ada disana belum menyadari perubahan ekspresi yang di tunjukkan Ayunda.
"Udah Naren tampar waktu itu, soalnya selang beberapa hari setelah keributan, dia dan suaminya datang ke perusahaan. Tapi dia gak nyesel sama sekali. Awalnya Naren pikir tuh dia ke kantor mau minta maaf, tapi ternyata bukan. Dia malah menjawab dengan angkuh dan sombong, bahkan sampai suaminya saja geleng-geleng kepala dengan apa yang di lakukan istrinya."
"Lebih parah kali ini, dia mengatakan kalau istriku tidak lebih dari jalaang. Sialan, saat itu juga Naren gak bisa nahan emosi. Naren cekik leher nya, terus tampar bolak balik soalnya sebelum masuk ke ruangan Naren tuh, wanita itu sempat nampar pipi Mark sampai merah. Paman juga lihat kan hari itu?" Tanya Narendra pada Adam.
Adam menganggukan kepala nya mengiyakan, dia juga menanyakan apa penyebab pipi kanan Mark yang memerah itu dan Mark menjawab kalau dia kena tampar nenek lampir.
"Iya, pipi nya sampai bengkak."
"Aku membalas tamparan itu dengan tangan ini, agak mencoreng nama baik ku yang tidak pernah melakukan hal kasar pada wanita, tapi wanita seperti itu memang harus di berikan pelajaran!" Ucap Narendra dengan tegas.
"Ya, jadi begitu ceritanya. Aku kira semingguan ini dia gak ada muncul bikin gara-gara, tapi ternyata dia sedang menyusun rencana sepertinya."
"Jangan kalah, Naren. Kamu harus tegas dengan tikus-tikus pengganggu apalagi yang menyinggung dan menyakiti istrimu." Ucap Arvino membuat Narendra menganggukan kepala nya.
"Ayunda harus di jaga perasaan nya, dia sedang hamil besar saat ini. Pasti ada banyak hal yang dia pikirkan dan jangan sampai dia berpikiran terlalu berat."
"Aku ke kamar dulu, Mas." Ucap Ayunda lirih lalu beranjak dari duduknya dan berjalan pelan ke kamarnya. Wanita itu menutup pintu dengan perlahan. Tentu saja semua orang pun merasa keheranan ketika melihat ekspresi yang di tunjukkan oleh Ayunda.
"Istrimu kenapa, Ren?" Tanya Melisa.
"Gak tahu, Mi." Jawab Naren. Dia memang tidak tahu ada apa dengan istrinya.
"Susulin dulu gih, kalau ada masalah omongin bener-bener dengan kepala dingin." Ucap Darren dan langsung di angguki oleh Naren. Dia pun beranjak dari duduknya dan berjalan cepat menuju kamar.
Naren mengetuk pintu kamar, dia khawatir kalau istrinya mengunci pintunya karena ingin sendiri dulu. Jarang sekali dia melihat istrinya seperti ini, berpamitan pergi ke kamar lebih dulu saat semua orang tengah berkumpul dan berbincang bersama.
"Sayang, Mas masuk ya?" Hening, tak ada jawaban apapun dari dalam. Itu membuat rasa khawatir Naren bertambah.
"Sayang.."
"Masuk saja, Mas." Jawab Ayunda dari dalam. Setelah mendengar jawaban sang istri, Narendra pun masuk dan kembali menutup pintunya.
Dia melihat sang istri tengah duduk di sisi ranjang sambil menatap ke arah jendela yang hanya memperlihatkan pemandangan taman belakang yang di penuhi bunga-bunga yang bermekaran dengan indah. Pemandangan ini tak kalah indahnya dengan melihat bunga-bunga indah itu dari atas.
"Sayang.."
"Hmm, iya Mas. Ada apa?" Tanya Ayunda sambil menatap suaminya sekilas, lalu kembali menatap lurus ke depan untuk melihat pemandangan yang membuat hatinya merasa lebih tenang. Apalagi saat melihat batang-batang bunga itu bergoyang tertiup angin.
__ADS_1
Narendra duduk di samping sang istri, dia menatap istrinya dari samping dengan tatapan penuh ke khawatiran. Dia khawatir dengan keadaan istrinya, apalagi saat ini Ayunda tengah hamil besar. Dia tidak boleh berpikiran berat karena itu akan membuatnya mengalami kontraksi palsu seperti yang sudah-sudah.
"Kamu baik-baik saja, sayang?" Tanya Naren sambil meraih tangan sang istri lalu menggenggam nya.
"Memang nya aku kenapa? Aku baik-baik saja kok, Mas." Jawab Ayunda sambil tersenyum. Tapi senyum itu terlihat sangat palsu bagi Naren, dia bisa melihat ada sebuah luka yang Ayunda sembunyikan di balik senyuman manis itu.
"Jangan berbohong dari Mas, sayang. Tatapan kamu gak bisa bohong sama Mas."
"Cerita sama Mas, kalau berat biar Mas bisa mencarikan solusi untuk semuanya. Jangan di pendam sendiri, nanti hati kamu sesak." Ucap Naren lagi membuat Ayunda menatap sang suami. Dia tersenyum kecil lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Apa aku serendah itu ya, Mas? Sampai-sampai orang yang tidak aku kenal saja bisa mengatakan kalau aku ini murahaan, apalagi jalaang."
"Tidak, kamu tidak rendah di mata Mas. Justru derajat kamu lebih tinggi di bandingkan wanita itu, sayang."
"Apa Mas mengatakan hal itu hanya untuk menghiburku saja?"
"Tentu tidak, sayang. Mas mengatakan hal yang sesungguhnya, Mas membela kamu mati-matian tapi maaf kalau membuat kamu kepikiran." Ucap Narendra membuat Ayunda terdiam.
"Aku hanya heran saja, Mas. Kenapa dia bisa mengatakan hal demikian padahal kita belum pernah bertemu apalagi mengobrol bersama. Tapi dia bisa mengatakan hal itu, lucu ya? Tapi menyakitkan sekali rasanya. Aku punya salah apa memang nya sampai wanita itu bisa seperti itu. Sungguh, ini menyakitiku." Ayunda mengatakan hal itu tanpa menatap sang suami.
Hati Naren terasa sakit, sang istri yang biasanya ceria itu kini terlihat murung. Rasanya dia ingin marah saat ini juga, kalah saja wanita itu ada di hadapan nya sudah pasti Narendra akan memukulnya karena sudah mengatakan hal yang menyakitkan pada istrinya.
"Mas harus berbuat apa untuk wanita itu, sayang? Apa mas harus menghukum nya agar bersimpuh di kaki kamu?" Tanya Narendra membuat Ayunda menggelengkan kepala nya.
"Tidak kok, Mas. Mungkin hanya aku saja yang terlalu bawa perasaan. Aku hanya merasa sedikit overthinking, itu saja."
"Jangan overthinking, sayang. Pokoknya kamu harus tetap percaya diri karena ada Mas disini. Jangan pernah merasa sendirian apalagi kamu merasa kurang beruntung. Justru aku dan semua nya sangat beruntung memiliki kamu disini." Ucap Naren sambil mengusap puncak rambut Ayunda dengan lembut.
"Kehadiran kamu bagaikan cahaya kecil di tengah kegelapan, meskipun kecil tapi mampu membuat suasana malam terlihat lebih hangat karena kehadiran cahaya itu dan cahaya itu adalah kamu, sayang. Terimakasih karena sudah mendampingi Mas sejauh ini." Naren tersenyum membuat Ayunda juga membalas senyuman sang suami.
"Kita sama-sama beruntung, Mas. Jangan tanyakan seberapa banyak aku bersyukur karena bisa di pertemukan dengan kamu."
"Mas bahagia melihat kamu seperti ini, jangan pernah meninggalkan Mas ya?"
"Tidak akan Mas, aku gak bakalan pernah meninggalkan kamu. Memang nya aku mau pergi kemana? Aku sudah tidak punah keluarga lagi, jadi tidak ada yang akan menampung ku jika aku pergi dari sini." Ucap Ayunda panjang lebar, membuat Narendra tersenyum.
Dia pun memeluk sang istri, dia mengusap-usap punggung sang istri dengan lembut. Dia mendekap sang istri di dalam dekapan hangat nya, dia benar-benar tidak suka saat istrinya seperti ini. Dia benci saat melihat istrinya bersedih seperti tadi, dia berjanji akan memberikan pelajaran yang setimpal dengan apa yang sudah di lakukan oleh wanita itu pada istrinya.
"Jangan sampai senyum kamu hilang hanya karena masalah ini, Mas akan segera menyelesaikan nya, sayang."
"Terimakasih karena sudah membela ku, Mas."
"Sudah tugas Mas buat jagain kamu, sayang." Jawab Narendra.
'Ckkk, aku akan menghancurkan mu, Rosalina. Kau yang sudah membuat istriku seperti ini. Lihat saja nanti, kau akan mendapatkan pelajaran yang setimpal dariku!'
........
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻