
Narendra tersenyum saat melihat istrinya terlihat kehausan, dia meminum es jeruk nya dengan cepat. Naren mengusap puncak kepala istri nya, membuat perempuan cantik itu menoleh ke arah suami tampan nya.
"Kenapa, Mas?"
"Enggak, keliatan nya enak banget es jeruk nya."
"Iya, seger banget, Mas. Mau nyoba?" Tanya Ayunda sambil mengulurkan es jeruk di dalam cup ke arah Naren yang tengah mengemudikan kendaraan nya dengan kecepatan rata-rata. Mereka belum sampai di rumah, kedua nya masih berada di jalan saat ini. Setelah mampir ke mall untuk membeli ponsel, Ayunda merengek ingin minum es jeruk, jadi nya mampir-mampir dulu.
"Gak usah, sayang. Buat kamu aja." Jawab Narendra. Dia memang tidak terlalu suka dengan es jeruk, karena dia tidak suka dengan buah-buahan asam.
"Hmm, yaudah sih. Padahal ini es jeruk nya enak banget, seger." Jawab Ayunda sambil tersenyum kecil. Dia pun kembali menyedot es jeruk nya dari sedotan.
Hanya memerlukan waktu setengah jam, kedua nya pun akhirnya sampai di rumah. Ayunda keluar dari mobil dan langsung di sambut oleh mami mertua nya di ambang pintu, dengan senyum yang terkembang manis di bibir nya.
"Sayang, sudah pulang?"
"Sudah, Mami." Jawab Ayunda, Melisa memeluk menantu nya. Seolah mereka sudah berpisah sangat lama, hingga membuat Melisa sangat merindukan sosok menantu nya.
"Bagaimana di kantor hmm?" Tanya Melisa sambil membawa tangan menantu cantik nya itu ke dalam rumah. Naren mencebikan bibir nya, entahlah dia tiba-tiba merasa cemburu saat melihat Sang Mami yang terlihat lebih menyayangi dan memperhatikan Ayunda, di banding dirinya.
__ADS_1
"Ckkk, Mami seperti nya lupa kalau aku adalah putra kandung nya." Gumam Narendra, dia pun berjalan masuk ke rumah dengan menenteng kresek berisi martabak telur, pesanan Papi nya. Tadi saat di jalan, Arvin menghubungi nya dan meminta untuk di belikan martabak telur langganan nya. Jelas saja tempat nya ngantri, tempat nya cukup terkenal karena rasanya yang enak dan harga nya cukup terjangkau.
Biasa nya Naren kalau di mintai membeli martabak itu, dia akan memesan terlebih dulu lewat chat, lalu saat pulang dia akan mengambil nya. Kalau dadakan seperti hari ini, ya terpaksa dia mengantri. Hal yang paling menyebalkan bagi Narendra adalah menunggu.
Narendra hanya menghembuskan nafas nya dengan kasar saat melihat istri nya malah langsung di bawa ke dapur.
"Kalo udah di rumah, pasti di kuasain sama Mami. Padahal, Ayunda kan istri nya Naren. Pengen manja-manjaan habis kerja alamat gagal ini mah." Gumam Narendra, dia meletakan martabak telur nya di atas meja, lalu dia pergi ke kamar untuk membersihkan tubuh nya.
"Lho, ini anak nya mana?" Arvin celingukan mencari keberadaan putra nya, di meja sudah ada martabak telur pesanan nya, sudah pasti itu di bawa oleh Naren kan? Tapi kemana anak nya? Kok gak ada.
Tapi, saat melihat Ayunda keluar dari area dapur bersama istrinya, Arvin semakin yakin kalau Naren sudah pulang. Tapi anak nya hilang begitu saja, padahal biasa nya dia akan berleha-leha dulu di ruang tamu sehabis pulang kerja sebelum ke kamar untuk membersihkan tubuh nya.
"Sayang, suami mu kemana?" Tanya Arvin sambil tersenyum. Ayunda terlihat celingukan juga mencari keberadaan suami nya, tapi nihil.
"Kalo di luar sih gak mungkin, soalnya ini martabak nya udah ada di atas meja." Jawab Arvin sambil menunjuk ke arah kresek hitam berisi martabak yang tadi mereka beli di jalan saat akan pulang.
"Ohh, mungkin ke kamar, Pi." Jawab Ayunda.
"Hmm, ya sudah. Bilangin sama dia, makasih martabak nya."
__ADS_1
"Iya, Pi. Kalau begitu, Ayu ke atas dulu nyusulin Mas Naren." Jawab Ayunda. Kedua nya pun menganggukan kepala nya dan membiarkan menantu nya pergi ke kamar.
Ayunda membuka pintu kamar nya dengan perlahan, ternyata Narendra belum mandi. Dia masih berpakaian yang sama persis seperti saat ke kantor bersama nya tadi pagi.
"Mas, belum mandi?" Tanya Ayunda.
"Keliatan nya?" Balik tanya Narendra, membuat kening Ayunda mengernyit pelan.
"Biasa aja sih, ketus amat."
"Aku nungguin kamu."
"H-aahh? Apa nya?" Tanya Ayunda, dia terlihat terkejut saat mendengar ucapan sang suami. Pria itu tersenyum miring, dia beranjak dari duduknya, lalu mendekat ke arah istri nya yang masih mematung di ambang pintu. Narendra mendekat, setengah memeluk tubuh Ayunda, dia memutar anak kunci dan mengunci pintu nya.
Naren tersenyum, dia menempelkan kening nya di kening sang istri. Ayunda memejamkan mata nya, dia merasakan hembusan nafas hangat yang beraroma mint menerpa wajah nya. Kalau sudah begini, Ayunda paham apa yang di inginkan oleh suami nya.
"Mas.." Lirih Ayunda, membuat Narendra langsung memeluk perempuan yang berstatus istri nya itu dan langsung menggendong nya seperti karung beras ke kamar mandi.
Tebak, apa yang mau di lakuin sama Naren dan Ayunda di kamar mandi? Hayoo lho..
__ADS_1
.....
🌻🌻🌻🌻🌻