
"Sayang.." Panggil Narendra, membuat Ayunda segera menyeka air mata nya. Dia berbalik lalu tersenyum untuk menyembunyikan sebuah perasaan yang membuat hati nya terasa sesak sekali terlebih setelah membaca surat yang di tulis tangan oleh mendiang Trisa.
Hanya secarik kertas lusuh, namun mampu membuat hati Ayunda terasa sakit. Dia merasa jahat disini, padahal yang di inginkan Trisa hanya kembali pada Narendra, tapi pria itu menolak keras karena keberadaan dirinya. Tapi bukankah ini bukan kesalahan nya? Disini, justru dia yang di rugikan oleh Trisa dengan perbuatan keji nya.
"Iya, Mas. Ada apa?"
"Kamu kenapa, sayang?" Tanya Narendra lirih sambil mengusap lembut wajah Ayunda yang nampak sendu.
"Aku baik-baik saja, Mas."
"Jangan berbohong, sayang. Aku lihat mata mu merah, kau pasti habis menangis kan? Katakan, ada apa dan kenapa?" Tanya pria itu dengan ekspresi khawatir nya. Ayunda memang takkan pernah bisa berbohong pada suami nya. Dia tidak bisa, mau bagaimana pun juga Narendra akan tetap mengetahui kalau dia berbohong.
"Aku hanya merasa sedikit terharu setelah membaca surat nya, Mas."
"Mana sini, biar Mas baca juga." Pinta Narendra berusaha merebut surat yang di pegang oleh Ayunda. Tapi dengan cepat, wanita itu menyembunyikan surat nya. Biarlah, hanya dia yang mengetahui isi surat yang di tuliskan oleh Trisa.
"Sayang.."
"Maaf, Mas. Ayu gak izinin Mas baca surat nya, tapi percayalah tidak ada apapun disini dan tidak ada hal yang perlu di khawatirkan." Jawab Ayunda sambil tersenyum kecil.
"Hmm, baiklah. Mas percaya sama kamu, sayang." Pasrah Narendra. Lagipula surat itu di khususkan untuk Ayunda, bukan untuknya. Jadi, dia tidak berhak memaksa istrinya agar mau menunjukkan surat nya.
"Tapi kamu nangis, yang."
"Gapapa, Mas. Ayu gapapa kok, Ayu nangis hanya karena terharu dengan isi surat nya. Itu saja." Jawab Ayunda lirih.
"Baiklah, sayang. Tapi kalau ada apa-apa, jangan menyembunyikan nya ya?"
"Iya, Mas." Jawab Ayunda.
Terasa singkat sekali waktu berlalu, kini Ayunda dan Narendra juga Mark sudah berdiri di sebuah komplek pemakaman. Angin berhembus cukup kencang, membuat sebagian rambut Ayunda terbang karena kuat nya hembusan angin. Langit juga terlihat mendung, seolah mengiringi kepergian Trisa.
Ayunda menatap lurus ke arah mobil ambulance yang baru saja datang, di dalam nya ada ibu nya Trisa dan juga peti jenazah Trisa. Suara sirine ambulance membuat bulu kuduk Ayunda meremang, sejak dulu dia paling takut dengan suara sirine ambulance, entah kenapa. Padahal, hanya suara sirine saja kan. Tapi ya itulah manusia, pasti memiliki hal yang di takuti meskipun bagi orang lain pasti tidak berarti apa-apa.
"Trisa.." Lirih Narendra. Dia melihat peti jenazah berisi mayat Trisa di keluarkan oleh petugas rumah sakit dengan cara menggotong nya, karena peti nya besar dan juga cukup berat.
"Mas, bantuin sana."
"Tapi, sayang.."
"Tak apa, antarkan dia ke tempat pulang nya, Mas. Dia akan beristirahat dari semua hal yang melelahkan di dunia ini, pergilah. Bantu dia, agar dia bisa beristirahat dengan tenang." Ucap Ayunda. Narendra menganggukan kepala nya, dia pun membantu petugas rumah sakit itu mengeluarkan peti jenazah itu.
'Trisa, aku sudah melakukan permintaan terakhir mu, kau senang bukan?' Batin Ayunda sambil tersenyum kecil, ada rasa lega yang mengisi hati nya karena dia berhasil membujuk Narendra agar ikut serta mengeluarkan peti jenazah Trisa.
"Pak, maaf.." Ucap Ayunda.
"Iya, Nona. Ada apa?"
"Bisakah aku melihat wajah mendiang Trisa untuk yang terakhir kali nya?" Tanya Ayunda. Membuat Narendra, Mark dan juga ibu Trisa terkejut mendengar ucapan Ayunda. Tadi, di rumah sakit dia tidak bisa melihat wajah mendiang Trisa. Dia berharap, dia bisa melihat nya sekarang sebelum di makamkan.
"Tentu boleh, Nona. Kami beri waktu satu menit, barangkali ada hal yang ingin anda sampaikan pada mendiang sebelum kami menguburkan nya." Ucap petugas pemakaman itu. Beberapa orang pun membukakan peti jenazah itu.
Ayunda mendekatkan posisi nya, dia berdiri sangat dekat dengan peti jenazah Trisa itu. Dia membungkuk dan membuka penutup wajah Trisa dengan lembut.
__ADS_1
"Hai, Trisa. Ini aku, Ayunda. Wanita yang mungkin paling kamu benci, tapi tidak apa-apa. Aku berhak mendapatkan kebencian itu karena aku yang sudah merebut kekasih mu kan? Maafkan aku, sungguh aku tidak berniat untuk merebut nya darimu. Situasi nya membuat aku mengiyakan ucapan Naren ketika dia mengatakan akan bertanggung jawab."
"Jujur, aku tidak tahu kalau Naren belum selesai dengan masa lalu nya. Tapi saat ini, Naren adalah masa depanku. Maaf, untuk kali ini saja aku ingin egois tapi aku akan meminta izin padamu. Ikhlaskan Naren untuk ku ya? Aku berjanji akan memberikan kebahagiaan pada nya. Maaf juga karena aku sudah membuat mu kesepian selama berada di penjara."
"Untuk yang terakhir kali nya, aku sudah memaafkan semua perbuatan mu, Trisa. Aku akan melupakan semua nya secara perlahan seiring berjalan nya waktu. Beristirahat lah dengan tenang, aku juga sudah mewujudkan keinginan terakhir mu. Kamu senang kan? Semoga kau tenang di tempat peristirahatan mu yang terakhir, berbahagialah disana dan lihat kamu dari kejauhan." Lirih Ayunda sambil mengusap wajah Trisa yang terlihat sangat pucat.
Tak terasa, lagi-lagi air mata nya menetes tanpa bisa di cegah. Namun, dengan cepat dia mengusap air mata nya dengan tangan. Dia tidak ingin sang suami merasa khawatir karena melihat nya menangis.
"Sudah ya? Kamu pasti tidak sabar untuk pulang dan beristirahat kan? Maka dari itu, aku melepaskan mu. Terimakasih karena kamu sudah mengajarkan apa artinya rasa sakit dan hal itu membuat aku menjadi wanita yang kuat. Terimakasih akan hal itu, aku akan bahagia kalau seandainya kau datang mengunjungi ku meskipun hanya lewat mimpi. Selamat jalan, Trisa." Ucap Ayunda lagi.
Setelah itu, dia pun bangkit dan petugas pemakaman itu pun segera menutup kembali peti jenazah itu dan segera memakamkan jenazah Trisa dengan hati-hati. Narendra hanya diam mematung, mata nya terlihat berkaca-kaca. Sungguh, melihat pemandangan menyesakan ini membuat hatinya ikut merasakan sakit.
Namun, hal ini terjadi bukan karena Narendra masih mencintai Trisa. Tapi, dia tidak menyangka kalau wanita yang dulu pernah sangat dia cintai itu kini telah berpulang dan kini tengah di makamkan di depan mata nya sendiri. Ada berbagai macam perasaan yang tak bisa di jelaskan dengan kata-kata.
"Mas.." Panggil Ayunda lirih, lalu menggandeng tangan suami nya. Narendra menoleh, lalu tersenyum kecil.
"Kamu yang kuat ya, ini sudah takdir. Kita tidak bisa berbuat apa-apa jika sudah takdir yang bicara. Kuatlah, semua ini pasti sudah di catat dan di sanggupi oleh Trisa."
"Iya, sayang. Maafkan Mas ya? Tapi Mas seperti ini hanya karena.."
"Tidak apa-apa, Mas. Jangan meminta maaf, tidak ada yang harus di maafkan karena bagiku, kamu tidak salah sedikitpun." Jawab Ayunda. Narendra melepaskan gandengan tangan sang istri, lalu meletakan nya di pundak Ayunda dan menarik nya hingga kepala sang istri bersandar manja di pundak nya.
"Kematian adalah suatu yang pasti, namun kita tidak tahu kapan kita akan di jemput. Iya kan?"
"Iya, Mas." Jawab Ayunda.
Setelah selesai dengan acara pemakaman itu, pasangan suami istri itu memilih untuk langsung pulang, begitu pula dengan Mark. Dia juga memilih untuk pulang ke rumah nya.
Wanita itu mendongak menatap langit biru yang terlihat sangat cerah, padahal tadi mendung tapi sekarang kembali cerah seolah tidak pernah ada awan hitam yang menghiasi luas nya langit itu.
Tiba-tiba saja, pikiran nya tertuju pada isi surat yang di tuliskan oleh Trisa. Entahlah, tulisan nya itu membuat batin nya bergejolak, apa benar dia yang jahat disini? Tapi, dia dan Naren menjalin hubungan setelah Naren putus dengan Trisa kan? Bahkan itu sudah lama.
Ayunda mengambil surat yang sengaja dia bawa, lalu membuka nya dan kembali membaca nya dengan seksama. Setiap kata membuat hatinya seakan tercabik.
Isi surat Trisa.
*Untuk Ayunda..
Hai, Ayunda. Aku Trisa, kau sudah tahu itu kan? Aku wanita yang sangat di cintai Narendra, tapi itu sebelum kau mengambil nya dariku. Apa kau tidak merasa kalau kau adalah wanita yang paling jahat di dunia ini?
Haha, sekarang aku di hukum hanya karena sedikit kejahatan yang aku perbuat untuk membalas perbuatan mu itu. Bagiku, kau adalah wanita yang jahat. Kau merebut Naren dariku dan membuat nya membenciku, hingga mengharuskan aku berada di tempat kotor ini.
Dengarkan aku, Ayunda. Sampai kapan pun, aku takkan mengikhlaskan Naren untukmu, aku tak rela kalian bahagia karena Naren hanya milik ku, bukan milikmu dan sampai kapanpun akan selalu begitu, Ayunda.
Aku disini hanya sementara saja, setelah aku keluar dari penjara, aku akan kembali dan merebut Naren darimu, aku tak peduli meskipun kau tengah hamil seperti waktu itu. Aku bisa mengulang apa yang pernah aku lakukan padaku, Ayunda. Kau wanita jahat dan aku membenci mu.
Tapi, menunggu seumur hidup rasanya terlalu lama untuk ku, Ayunda. Ini terasa sangat tidak adil, aku hanya ingin mengambil kembali apa yang harusnya menjadi milik ku, tapi aku malah terjebak di tempat kotor nan kumuh seperti ini. Ini semua karena mu, Ayunda!
Kalau saja kau tak datang di kehidupan Naren, mungkin saat ini aku sudah bahagia bersama Narendra. Sialan.
Sekarang, inti nya saja. Aku lelah dengan semua ini, Ayunda. Aku tak nyaman berada disini, jadi aku akan melakukan sesuatu yang pasti akan membuat semua orang terkejut, tak terkecuali dirimu. Aahh, aku pikir kau akan bahagia jika aku mati? Kau kan wanita jahat, iya kan?
Aku tidak sudi mengatakan nya, tapi dari pada aku tak bisa mati dengan tenang, jadi aku minta maaf padamu. Bayi mu akan bertemu dengan ku di alam lain, kau tidak perlu khawatir aku akan mengurus dan menyayangi nya. Tak peduli meskipun itu anak dari musuhku sendiri.
__ADS_1
Aku memiliki satu permintaan padamu, Ayu. Bisakah kau meminta Naren untuk membantu prosesi pemakaman ku? Kalau bisa, aku akan sangat senang. Sudah dulu ya, tangan ku pegel. Lain kali, aku akan datang berkunjung ke dalam mimpi mu, Ayunda.*
Isi surat yang membuat hati Ayunda tertampar seperti nya, apa benar dia jahat? Rasanya tidak, tapi kenapa Trisa masih menyalahkan dirinya atas kebencian yang di rasakan oleh Narendra kepada nya? Padahal, itu murni kesalahan nya sendiri bukan? Andai saja, dia tidak berbuat jahat, pasti ini semua takkan terjadi. The real, iri hati bisa membuat orang buta akan kebenaran karena hati nya telah menghitam karena iri dan juga dendam.
"Sayang.." Panggil Narendra, membuat Ayunda berbalik lalu tersenyum ketika melihat suami nya sudah pulang.
"Iya, Mas. Udah selesai beli bahan-bahan nya?"
"Udah, lagi di simpen di rak sama Mami. Kamu ngapain disini, sayang? Angin nya kenceng banget, gak baik buat kesehatan." Ucap Naren sambil menarik tangan istrinya untuk masuk ke kamar. Pria itu menutup pintu kaca besar itu dan duduk di samping Ayunda.
"Yang.."
"Iya, Mas. Kenapa?"
"Ini, buat ayang." Ucap Narendra sambil memberikan sebuah kotak kecil berwarna biru tua.
"Apa ini, Mas?"
"Buka aja, barangkali kamu suka." Jawab Naren sambil mengusap lembut kepala belakang sang istri.
Ayunda membuka kotak kecil itu dan seketika senyuman kecil tersungging gemas di bibir Ayunda. Cantik sekali, membuat Narendra yakin kalau istrinya menyukai hadiah darinya.
"Mas, ini kalung buat aku?"
"Iya dong, buat kamu. Mas beli di toko perhiasan langganan Mas, khusus buat kamu." Jawab Narendra. Ayunda mengangkat kalung berwarna putih itu dan tersenyum ketika melihat inisial nama mereka di dalam kalung cantik itu.
"A&N?"
"Iya, itu inisial nama kita berdua, sayang." Jawab Naren sambil tersenyum.
"Terimakasih, Mas. Aku sangat menyukai hadiah nya."
"Sama-sama, ayo pakai. Mas pakaikan ya?"
"Iya, Mas." Jawab Narendra, dia pun mengambil kalung itu dari tangan sang istri lalu memasangkan kalung itu di leher sang istri. Dia gemas karena melihat leher Ayunda yang polos, hanya ada beberapa tanda kemerahan yang dia buat tadi malam, tanpa perhiasan sama sekali. Karena pada dasarnya, Ayunda memang tidak terlalu suka mengenakan perhiasan. Dia lebih suka penampilan nya yang polos, itu lebih nyaman.
Tapi, ketika suaminya memberikan hadiah berbentuk perhiasan, mau tidak mau Ayunda harus menerima nya bukan? Dia tidak ingin mengecewakan suami nya, terlebih suami nya ini membuat kalung ini secara custom.
"Cantik sekali, namun tetap tidak mengalahkan kecantikan yang di miliki istriku." Ucap Narendra dengan senyuman nya, dia mengusap rambut sang istri.
"Terimakasih, Mas."
"Sama-sama, sayang. Mas seneng kalau ternyata kamu menyukai hadiah dari Mas."
"Suka dong, masa iya aku gak suka hadiah dari suami sendiri." Jawab Ayunda sambil bersandar manja di pundak lebar suaminya.
"I love you, sayang.." Bisik Narendra dengan suara serak nya.
"I love you more, Mas." Balas Ayunda sambil tersenyum, dia mengecup bibir suami nya dan di balas ciuman ganas oleh Narendra. Dia mendorong pelan tubuh sang istri, membuat Ayunda tertidur dengan Narendra yang berada di atas tubuh sang istri. Setelah itu, tahulah apa yang terjadi selanjutnya.
.......
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1