
"Yang.." Panggil Narendra saat kedua nya sedang berbaring di ranjang. Pria itu memeluk tubuh sang istri yang berada di dalam dekapan nya.
"Iya kenapa, Mas?"
"Tadi, Papi nanyain. Kapan kita mau ngadain acara resepsi pernikahan kita."
"Terus?"
"Ya, aku jawab mau diskusi dulu sama kamu. Mau bagaimana pun juga, ini tentang kita. Jadi aku harus memutuskan sesuatu atas dasar persetujuan kamu, sayang." Jelas Narendra.
"Sebaiknya tidak perlu ada resepsi deh, yang penting kita udah resmi menjadi pasangan suami istri. Itu saja sudah cukup kan? Lalu kenapa harus di adakan resepsi? Hambur-hamburin uang aja."
"Hmm, tapi aku adalah pewaris keluarga Sanjaya, sayang. Jadi pernikahan ku harus di langsungkan dengan pesta meriah." Jelas Narendra.
"Gak usah aja ya? Kalau punya uang, sebaiknya di tabung aja buat keperluan nanti ke depan nya."
"Yaudahlah, kalau kamu gak mau. Nanti Mas sampaikan sama Papi."
"Iya, Mas."
"Tidur sekarang, sayang?" Tanya Narendra. Ayunda menganggukan kepala nya, dia sangat mengantuk sekarang ini.
"Main dulu boleh? Satu ronde aja deh, janji."
__ADS_1
"Harus ya, Mas?" Tanya Ayunda.
"Harus dong, sayang. Biar besok Mas semangat kerja nya."
"Tapi besok kan hari minggu, Mas." Naren terdiam. Bisa-bisa nya dia melupakan kalau besok adalah hari minggu. Mana ada perusahaan yang buka di hari minggu? Sial, apa mungkin modus nya malam ini takkan berpengaruh?
"Tapi yang.."
"Kamu ini doyan atau apa sih? Setiap malam minta jatah terus. Aku capek lho, Mas. Ini aku rasa nya bengkak tau gak!" Rengek Ayunda yang malah membuat Narendra terkekeh.
"Hahaha, baiklah. Kamu aku bebaskan malam ini, tapi besok malam kamu harus memberikan nya, oke?"
"Oke, Mas. Terimakasih, aku mencintaimu." Ucap Ayunda sambil memeluk tubuh Narendra dan menduselkan wajah nya di dada bidang sang suami dengan manja.
"Selamat tidur juga untuk mu, mimpi yang indah ya." Balas Ayunda. Dia pun kembali menduselkan wajah nya di dada bidang sang suami, Naren juga mengusap-usapkan tangan nya di punggung sang istri. Membuat perempuan itu merasa sangat nyaman dan akhirnya dia bisa tertidur hanya dalam waktu beberapa menit saja.
"Sebegitu nyaman nya kah tidur di pelukan ku, sayang? Baru beberapa menit saja bisa membuat mu tertidur nyenyak seperti ini." Gumam Narendra. Dia tersenyum lalu memejamkan kedua mata nya, tak lama kemudian dia pun menyusul Ayunda ke alam mimpi.
Kedua nya tertidur dengan posisi yang saling memeluk satu sama lain, di bawah selimut yang sama. Berbagi kehangatan di suasana malam yang sejuk karena sedang turun hujan. Belakangan ini, kota ini memang sedang di landa hujan terus menerus. Terkadang di sertai angin dan petir jika malam hari.
Di bawah, pasutri yang sudah saling mencintai puluhan tahun itu pun berbincang sambil mengemil buah potong. Kedua nya membicarakan tentang hubungan putra dan menantu nya.
"Jadi, gimana Pi?"
__ADS_1
"Papi udah nanyain sama Naren tadi, dia bilang kalau dia sudah mencintai Ayunda." Jawab Arvin sambil menyuapkan sepiring buah melon ke dalam mulut nya.
"Benarkah? Aaahh, Mami senang mendengar nya, Pi."
"Ya, Papi juga. Akhirnya putra kita bisa melupakan wanita binal itu." Celetuk Arvin yang langsung di angguki oleh Melisa.
"Lalu bagaimana tentang pesta resepsi, apa Narendra akan berhasil membujuk Ayunda agar mau melangsungkan pesta?" Tanya Melisa. Tapi Arvin menggeleng, dia ragu kalau putra nya itu bisa membujuk istri nya sendiri.
"Aku meragukan nya, dari dulu Narendra kan paling tidak bisa membujuk wanita. Kalau bisa, sudah pasti dia akan membujuk si Trisa untuk tidak menandatangani kontrak modeling di luar negeri."
"Iya ya. Kelakuan wanita itu pasti semakin menjadi di luar sana. Disini saja dia sudah begitu, bagaimana kalau di luar negeri yang bebas?"
"Pulang kesini palingan bawa anak." Cetus Arvin dengan wajah datar nya.
"Husshh, Papi gak boleh gitu."
"Kan bener, orang temen Papi aja udah bilang dia mainan kok." Jelas Arvin.
"Udahlah, yuk tidur aja."
"Oke, ada jatah kan malam ini?" Tanya Arvin sambil memainkan alis nya naik turun dengan genit.
.....
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻