
"Selamat pagi, sayang.." Sapa Melisa di meja makan saat dia melihat Ayunda baru saja turun dengan rambut basah. Itu sudah seperti kebiasaan bagi Melisa melihat rambut menantu nya yang basah seperti itu setiap pagi nya, tapi dia tidak mempermasalahkan nya. Bukankah itu bagus? Semakin sering mereka menyatu, artinya kesempatan untuk dia memiliki cucu juga semakin besar. Benar kan?
"Pagi, Mami." Balas Ayunda. Dia pun langsung mendekat ke arah mami mertua untuk membantu nya memasak.
"Sarapan pagi kali ini, Papi request mau soto daging, sayang."
"Soto daging? Wah, terdengar sangat enak, Mi. Ayu suka plus Ayu setuju buat masak itu." Jawab Ayunda dengan antusias.
"Kamu terlihat agak sedikit pucat, sayang. Kamu baik-baik saja?" Tanya Melisa, dia tahu benar ada yang salah dengan menantu nya. Ya, wajah nya pucat.
"Benarkah, Mi? Ayu baik-baik saja kok." Jawab Ayunda sambil meraba wajah nya.
"Apa Narendra terlalu bersemangat hingga membuat mu kelelahan, sayang?"
"H-aahh? Enggak kok, Mi. Malam tadi, Ayu sama Mas Naren gak ada main." Jawab perempuan itu. Tapi, tanda kemerahan di leher nya membuat Melisa memicing.
"Tidak tadi malam, tapi pagi tadi? Benar?"
"Ma-mi.."
"Mami tahu, ini memang kewajiban kamu, sayang. Tapi, kamu masih ingat apa perkataan Mami sebelum nya?" Tanya Melisa. Ayunda menganggukan kepala nya mengiyakan.
__ADS_1
"Menolak juga tidak apa-apa sesekali, itu juga untuk kebaikan kamu, sayang."
"Baik, Mami. Terimakasih karena sudah memperhatikan Ayu."
"Tentu saja Mami memperhatikan kamu, karena kamu adalah menantu kesayangan Mami. Tidak, bukan sekedar menantu. Kamu sudah Mami anggap seperti putri Mami sendiri. Jadi, jangan sungkan sama Mami ya, sayang?" Ucap Melisa sambil mengusap lembut wajah cantik Ayunda sambil tersenyum kecil.
"Terimakasih, Mami."
"Tidak perlu berterimakasih, ini memang sudah tugas Mami untuk menyayangi kamu, sayang." Jawab Melisa sambil tersenyum. Ayunda merasa terbaru, hingga kedua mata nya berkaca-kaca.
"Sayang, kok kamu nangis. Kenapa?" Tanya Narendra yang baru saja masuk ke area dapur dan melihat kedua mata sang istri yang terlihat mengeluarkan air mata.
"E-enggak kok, ini aku ngupas bawang merah. Bikin mata aku perih, itu sebab nya aku menangis."
"Tumben udah bangun?" Tanya Melisa pada putra nya.
"Gak enak tidur gak di temenin istri, Mi. Gak ada yang bisa di pegang-pegang." Jawab Narendra sambil cengengesan.
"Dihh, mentang-mentang udah nikah mau nya deket-deket terus sama istri nya." Ejek Arvin sambil duduk dengan selembar koran harian di tangan nya.
"Iri aja Papi, emang nya dulu pas masih muda Papi gak gitu?"
__ADS_1
"Enggak tuh, iya kan Mi?"
"Hah, gak kedengeran. Telinga Mami mendadak tuli." Jawab Melisa membuat Narendra tertawa. Bohong nya ketahuan oleh putra nya. Padahal dulu, dia lebih bucin jika di bandingkan dengan Narendra dan Ayunda sekarang. Jauh lebih bucin, bahkan sampai memasak seperti ini pun Arvin selalu mengintili pantaat istrinya.
Seperti nya Arvin akan gatal-gatal kalau semisal tidak menempel terus-menerus pada Melisa. Tapi ya, hasil dari ketempelan itu lahirlah Narendra. Putra pertama dan satu-satunya di keluarga Sanjaya karena Arvin melarang keras sang istri untuk hamil lagi. Alasan nya, dia tidak ingin membuat atau melihat istri nya kesakitan lagi. Dia tidak tega melihat hal itu lagi.
"Sayang, kemarilah."
"Ayu, Pi?" Tanya Ayunda sambil menunjuk dirinya sendiri. Arvin menganggukan kepala nya.
Ayunda melirik ke arah sang Mami, dia melihat Melisa mengangguk sambil tersenyum. Ayunda pun duduk di kursi kosong yang berhadapan langsung dengan Arvin, papi mertua nya.
"Naren sudah ada bilang tentang rencana resepsi pernikahan?"
"Iya sudah, Pi." Jawab Ayunda seadanya. Dia memang baru saja membicarakan hal ini tadi malam bersama suami nya.
"Jadi bagaimana keputusan mu?"
"Menurut Ayu, itu tidak perlu. Eemm, itu agak sedikit pemborosan, Pi. Kalau ada uang nya, lebih baik di tabung." Jelas Ayunda, membuat kedua mata Arvin mendelik ke arah putra nya yang memasang wajah polos seolah tak bersalah apapun.
"Aahhh ya, seperti nya Naren gagal membujuk mu."
__ADS_1
......
🌻🌻🌻🌻🌻