
"Sayang.."
"Eehh, iya Mas. Kenapa?" Tanya Ayunda yang sedang memasak untuk sarapan. Pagi ini, dia ngidam untuk memasak menu sarapan sendirian. Dia tidak ingin di bantu siapapun, termasuk mami mertua nya atau maid. Dia benar-benar memasak sendirian sekarang.
Memang aneh-aneh saja mengidam bumil yang satu ini, tapi nama nya juga ibu hamil. Pasti memiliki gejala berbeda-beda untuk mengekspresikan mengidam nya, bawaan bayi juga macam-macam.
"Masak apa, sayang? Mas bantuin ya, kamu gak boleh kecapean." Ucap Narendra sambil memeluk dan menyandarkan kepala nya di pundak sang istri.
"Gak usah, Mas. Aku pengen sendiri aja, lagian udah siap semua kok, tinggal ini doang." Jawab Ayunda. Mendengar jawaban sang istri, membuat Naren menghembuskan nafas nya dengan kasar. Ayunda memang tipe wanita yang agak sedikit keras kepala, tapi dia akan menurut jika dirinya yang meminta nya.
"Baiklah, kalau begitu Mas kesana sebentar ya.."
"Iya, Mas." Jawab Ayunda sambil tersenyum. Naren mencium pipi sang istri dengan mesra, lalu melepaskan pelukan nya dan pergi entah kemana.
Ayunda kembali fokus mengaduk-aduk masakan nya di dalam teplon, tak lama datang Arvino dengan wajah datar nya.
"Lho, mami kemana, sayang?" Tanya Arvino membuat Ayunda menoleh, dia tersenyum lalu mematikan kompor nya karena memang masakan nya sudah matang.
"Di luar, Pi. Nyiram bunga kayaknya."
"Ohh, kamu kok masak sendirian? Katanya tadi, Mami mau bantu kamu masak." Jawab Arvin sambil duduk di kursi kosong yang biasa menjadi tempatnya.
"Ayu yang pengen masak sendiri, Pi. Gak tahu kenapa, ini pengen banget masak sarapan tapi sendirian. Hehe."
"Oalah, ngidam ya?"
"Kayaknya iya, Pi." Jawab Ayunda sambil cengengesan.
__ADS_1
"Cucu papi kayaknya kalo udah gede mau jadi chef deh, soalnya ngidam nya masak terus." Celetuk Arvin yang membuat Ayunda terkekeh pelan.
"Aamiin ya, Pi. Semoga aja, jadi apapun dia nanti, semoga bisa membanggakan orang tua nya." Jelas Ayunda. Arvin menganggukan kepala nya mengiyakan ucapan Ayunda.
"Papi mau kopi?" Tanya Ayunda sambil tersenyum.
"Boleh deh, kali ini Papi mau kopi hitam pake gula tapi sedikit aja."
"Siap, Pi." Jawab Ayunda. Dia pun segera membuatkan kopi untuk papi mertua nya, pria itu tersenyum ketika melihat menantu nya datang dan meletakan secangkir kopi di depan nya. Dia selalu senang ketika Ayunda melayani nya seperti ini, itu membuat nya tidak canggung lagi dan merasa kalau Ayunda sudah seperti putri nya sendiri.
Awal-awal, saat Narendra menikah dengan Ayu dan tinggal di rumah ini, Arvin merasa canggung jika berkomunikasi dengan Ayunda. Tapi sekarang, dia tidak lagi merasa seperti itu, dia maupun Ayunda sudah saling mengenal karakter masing-masing, jadi mereka bisa berkomunikasi dengan nyaman sekarang.
"Terimakasih, sayang."
"Sama-sama, Papi. Ini mami sama Mas Naren kemana ya? Kok gak ada masuk kesini, padahal sarapan udah siap." Ucap Ayunda.
"Di depan kali.."
"Iya, hati-hati." Ayunda menganggukan kepala nya, lalu pergi dari area dapur untuk menyusul sang Mami dan suaminya ke depan. Wanita itu celingukan, karena tidak menemukan keberadaan mami mertua dan juga suaminya. Namun dia bisa mendengar samar-samar suara orang yang seperti sedang mengobrol.
"Mas.." panggil Ayunda. Namun tidak ada sahutan, jadi Ayunda memutuskan untuk menyusul ke arah sumber suara. Di samping rumah, Ayu melihat kalau Mami nya sedang menanam bunga ke dalam pot dan ada Narendra yang sedang mencampur tanah dan juga pupuk menggunakan cangkul kecil.
"Astaga, kalian sedang ngapain pagi-pagi begini?" Tanya Ayunda. Kedua nya sontak menengok ke arah Ayunda, lalu kompak cengengesan. Ya, namanya juga anak sama ibu pasti memiliki kesamaan yang signifikan.
"Nanam bunga, yang."
"Mas, kamu campur tanah sama pupuk gitu pake setelan kerja?" Tanya Ayunda membuat Naren menundukan kepala nya, dia melihat kalau dia sudah rapih dengan setelan jas nya. Dia memang akan ngantor hari ini, tapi kenapa dia bisa lupa dan sekarang malah mencampur pupuk dan tanah untuk media tanam bunga?
__ADS_1
Narendra juga merasa kesal pada sang Mami, bisa-bisa nya dia meminta nya untuk mencampur tanah dan pupuk itu. Baginya itu permintaan konyol, terlebih lagi karena ini masih pagi hari. Bahkan kedua nya belum sarapan sama sekali.
"Ayo masuk, kalian belum sarapan kan?"
"Hehe, iya.." Jawab kedua nya, mereka pun pergi untuk mencuci tangan dan bagian-bagian lain yang terlihat kotor. Setelah itu, mereka pun masuk ke dalam mansion. Arvino yang melihat itu tersenyum kecil, mau bagaimana pun juga dia sudah mengetahui apa yang di lakukan oleh Naren dan juga istrinya.
"Sudah nanam bunga nya?" Tanya Arvino dengan senyum mengejek nya.
"Apa sih, Pi?"
"Hahaha, kalian ngapain sih pagi-pagi udah nanam bunga hmm?" Tanya Arvino lagi sambil tersenyum kecil.
"Mami tuh, pake nyuruh aku campur tanah sama pupuk. Padahal ini udah pake setelan jas rapih gini, udah vibes nya kayak CEO muda. Eehh malah di suruh campur tanah sama pupuk, jadi kan bau keringat." Gerutu Narendra. Sedari tadi, dia memang sudah misuh-misuh sendiri karena tidak mau di suruh untuk mencampur tanah dan juga pupuk.
Tapi yang namanya anak, paling tidak bisa menolak permintaan ibu nya kan? Benar, Narendra tidak bisa menolak keinginan sang ibu. Jadinya ya begitu, mau tidak mau dia harus menuruti keinginan sang ibu. Arvino yang mendengar jawaban sang putra yang terlihat kesal, lengkap dengan wajah yang memerah nya itu pun membuat dia tak tahan untuk tidak tersenyum.
Dia merasa lucu saja, ngapain sih nanam bunga pagi-pagi begini? Kalau gabut sih keterlaluan ya karena melibatkan Narendra yang sudah rapih dengan setelan kerja nya berupa jas berwarna hitam, lengkap dengan vest nya. Hanya saja dia belum menggunakan sepatu, itu saja. Namun bagian atas nya sudah rapih dengan kemeja yang di baluti jas.
"Mami kan pengen nambah koleksi bunga gitu." Jawab Melisa. Arvino yang mendengar pembelaan sang istri pun menggelengkan kepala nya, dia heran kenapa bisa istrinya berpikir seperti itu? Padahal kan disini ada tukang kebun, lalu kenapa harus dia yang bekerja keras? Aneh, padahal selama ini Arvino selalu menjaga tangan istrinya agar tetap lentik. Tapi istrinya kelewatan sederhana, jadinya ya begitu.
"Kan ada tukang kebun, mami."
"Pengen pake tangan sendiri, Papi." Jawab Melisa tanpa bersalah.
"Yaudah, gapapa. Nanti Mami nanam bunga nya sama Ayu ya? Sekarang, ayo makan dulu. Mas Naren, nanti sebelum berangkat kerja harus ganti baju dulu ya? Yang itu udah bau keringat, kusut juga. Jangan lupa rambut nya di sisir rapi, itu udah acak-acakan." Ucap Ayunda dengan lembut. Narendra menganggukan kepala nya.
"Lagian sih, mami ada-ada aja kelakuan nya. Nanam bunga pagi-pagi begini, ngapain coba.." Gerutu Narendra, tapi saat melihat sang mami mendelik tajam ke arah nya, dia langsung menundukan kepala nya. Dia takut pada ibu nya, jadi kalau mau ngomel pasti di belakang sang ibu. Kalau di depan, bisa-bisa dia kena semprot.
__ADS_1
......
🌻🌻🌻🌻🌻