
"M-mas.." Panggil Ayunda lirih. Entahlah malam ini perutnya terasa tidak nyaman dan yang bisa membuat perutnya nyaman adalah usapan suaminya.
Sebenarnya, dia merasa tidak enak untuk membangunkan suaminya. Dia tahu kalau sang suami pasti kelelahan, tapi rasa di perutnya benar-benar tidak nyaman sekali. Jadi, mau tak mau dia harus meminta bantuan suaminya agar rasa tidak nyaman di perutnya itu sedikit lebih lega.
"Mas.." panggil Ayunda lagi, membuat Narendra terjaga dari tidurnya. Pria itu menatap sang istri yang terlihat bergerak tak nyaman di tempatnya. Kening nya nampak berkeringat, mungkin karena menahan rasa sakit.
"Kamu kenapa, sayang?" Tanya Narendra lalu menyalakan lampu yang ada di meja nakas, membuat ruangan sedikit terang. Karena sudah biasa bagi keduanya untuk tidur dalam keadaan temaram, hanya ada lampu kecil di sudut ruangan.
"Perut aku sakit, Mas. Gak nyaman banget rasanya, bisa minta tolong buat usapin, Mas?" Pinta Ayunda pada sang suami.
"Gara-gara makan bakso tadi kali, yang. Pedes kan?"
"Enggak kok, gak pedes. Kan di bening, cuma pakai saos dikit."
"Ya terus kenapa, sayang?"
"Gak tahu, rasanya gak nyaman banget. Usap-usap dong, ya?" Pinta Ayunda.
"Tentu saja, sayang." Jawab Narendra. Dia pun memeluk sang istri lalu mengecup kening nya dengan mesra, lalu mulai mengusap-usap perut buncit sang istri dengan lembut.
"Adik bayi kenapa? Jangan nyusahin Mama ya, jangan bikin Mama sakit. Kasian Mama nya, nanti kurang istirahat lho.." Ucap Narendra, tepat di depan perut sang istri. Tak lupa, Naren mengecup perut buncit sang istri itu.
"Maaf ya, Mas. Istirahat kamu jadi keganggu gini gara-gara aku.."
"Gapapa, sayang. Wajar aja kalau kamu pengen di usap-usap kayak gini, aku kan suami kamu." Jawab Narendra sambil tersenyum manis. Pria itu kembali mengecup kening sang istri.
"Beruntung sekali aku memiliki kamu sebagai suami, Mas."
"Apalagi aku, sayang. Aku lebih beruntung karena bisa mendapatkan pendamping sebaik dirimu." Jawab Narendra sambil tersenyum. Dia terus mengusap-usap perut buncit sang istri dan benar saja, rasa sakit dan tidak nyaman di perutnya berangsur hilang. Rasanya sudah tidak sakit lagi, bahkan tergantikan oleh rasa nyaman yang membuat kedua mata Ayunda mengantuk.
Naren tersenyum kecil ketika melihat sang istri yang sudah tertidur dengan lelap, dia kembali mengecup kening sang istri. Tidak pernah ada bosan-bosannya Naren untuk mengecup apapun yang ada di wajah istrinya, baginya semuanya selalu indah dan dirinya selalu ingin untuk mencium semua bagian wajah sang istri kapanpun.
"Selamat tidur, istriku sayang. Aku mencintaimu.." Bisik Narendra, lalu mematikan lampu dan kembali tertidur sambil memeluk sang istri.
Keesokan pagi, Ayunda bangun terlebih dulu. Hari ini dia ada jadwal senam hamil bersama ibu-ibu hamil yang ada di komplek perumahan, tentunya dia di dampingi oleh Mama mertuanya. Mana mungkin Melisa bisa membiarkan menantu nya sendirian? Dia selalu akan mengikuti kemanapun menantu nya pergi.
"Sudah bangun, yang?" Tanya Narendra saat melihat sang istri sudah terbangun dan sekarang tengah membuka jendela agar udara segar pagi hari bisa masuk ke dalam kamar. Hari ini, Narendra juga tidak akan pergi ke kantor. Dia mengajukan cuti hari ini, alasan nya? Sepele, dia ingin menemani istrinya senam hamil, padahal senam nya siang hari nanti.
"Sudah dong, Mas. Kamu gak kerja?" Tanya Ayunda. Dia terlihat sudah rapih dengan menggunakan daster selutut nya, dia juga sudah mandi pagi-pagi tadi sekali. Malam tadi, mereka absen tidak melakukan ritual suami istri karena Naren yang kelelahan setelah bekerja seharian.
"Libur aahh, capek."
"Dihh, CEO nya males-malesan gini gimana karyawan kamu?"
"Kalau karyawan aku ya udah jelas harus rajin dong, kalau enggak gaji nya aku potong." Jawab Narendra sambil tersenyum kecil.
"Tapi, mereka kan mencontoh perilaku atasan nya, Mas."
"Sekali doang, yang. Aku capek, hehe. Besok aku masuk lagi kok ke kantor, hari ini aku pengen nganterin kamu ke tempat senam, yang." Jawab Narendra.
"Cuma senam doang lho, Mas. Kan aku bakalan pergi sama Mami."
"Tetep aja aku pengen lihat."
"Ckk, yaudah terserah Mas aja." Pasrah Ayunda. Mau bagaimana pun juga, dia takkan menang jika berdebat dengan suaminya.
"Hehe, sayang udah mandi?"
"Udah kok, udah keramas." Jawab Ayunda sambil memperlihatkan rambutnya yang basah sehabis keramas.
__ADS_1
"Padahal tadi malem kita gak anu ya.."
"Memang nya keramas kalau habis anu doang ya?" Tanya Ayunda dengan kening yang mengernyit.
"Ya enggak sih, tapi kan kita gak anu tadi malam. Gimana kalau.."
"Gak ada, Mas. Udah pagi dan aku harus pergi ke tempat senam, aku juga belum masak. Gak usah macem-macem kamu ya.."
"Ayolah, sayang. Tadi malam kan kita gak anu.."
"Yaudah, nanti aja pulang senam atau nanti malem aja anu nya. Kan masih banyak waktu, Mas." Jawab Ayunda membuat Narendra cemberut. Bibirnya mengerucut seperti paruh bebek.
"Gak lucu, Mas. Udah sana mandi, aku mau masak." Ucap Ayunda membuat Narendra beranjak dari duduknya sambil menghentak- hentakan kedua kaki nya karena kesal modus nya tidak berlaku pagi ini.
"Ada-ada aja kelakuan nya, udah mau jadi ayah juga tetep aja gemesin.." gumam Ayunda, dia pun pergi keluar kamar dan melihat sudah ada Melisa di dapur tengah memasak.
Ayunda memeluk mami mertua nya dari belakang seperti biasa, membuat Melisa tersenyum. Dia sudah tidak heran dan sudah bisa menebak siapa yang melakukan nya, siapa lagi kalau bukan menantu kesayangan nya. Kalau dulu ada suaminya yang sering melakukan nya, maka sekarang ada Ayunda yang sering menggelendot manja di pelukan nya. Dia tidak keberatan sama sekali, justru dia menyukai tingkah manja Ayunda.
"Selamat pagi, Mami.." sapa Ayunda sambil mengecup pipi kanan sang ibu mertua.
"Pagi kembali, sayang." Balas Melisa sambil tersenyum.
"Masak apa, Mami?"
"Sebenarnya Mami bingung, jadinya Mami cuma masak cumi goreng tepung nanti di siram saus gitu."
"Ayu pengen ikan, boleh Mi?"
"Boleh, sayang. Masih ada stock ikan gurame di kulkas, masak aja." Jawab Melisa, membuat Ayunda tersenyum lalu kembali mencuri kecupan manja di pipi kiri Melisa.
Adam dan Darren yang melihat interaksi kedekatan mertua dan menantu kompak menyunggingkan senyuman manis mereka. Keduanya tidak canggung lagi untuk berinteraksi seperti ini, mereka sudah terlihat seperti ibu dan anak. Siapapun takkan menyangka kalau Ayunda ternyata adalah menantu Melisa saking dekatnya mereka berdua.
"Saya senang sekali melihat Ayunda bisa tersenyum semanis ini lagi, senyuman yang sudah lama tidak aku lihat sejak dia kehilangan orangtua nya." Lirih Adam sambil menatap Darren.
"Sekarang, dia memiliki kedua orang tua yang lengkap. Melisa dan Arvin, keduanya sangat menyayangi Ayunda. Mereka menganggap Ayunda seperti anak kandung mereka sendiri, jangan khawatir. Keponakan mu akan baik-baik saja disini bersama kami. Kamu juga tinggalah disini, temani keponakan mu. Dengan ini, kamu akan melihat Ayunda setiap hari." Ucap Darren.
"Iya, saya sangat berterimakasih karena sudah di izinkan untuk tinggal di rumah ini bersama kalian."
"Kenapa tidak? Kau keluarga kami juga." Jawab Darren sambil tersenyum kecil, pria paruh baya itu menyeruput kopi hitam nya, sedangkan Adam meminum susunya, dia tidak bisa meminum kopi meskipun dia ingin. Kalau dia nekat, yang ada perutnya akan sakit melilit nantinya.
"Suami mu mana, sayang?" Tanya Arvino yang baru saja masuk ke dapur dengan wajah datarnya. Seperti biasa, Arvin memang berwajah datar. Sampai-sampai Adam menyangka kalau Arvin tidak menyukai dirinya karena ekspresi wajahnya, tapi setelah beberapa hari tinggal di rumah ini, dia jadi tahu kalau memang wajah Naren sudah seperti itu.
"Masih di kamar, Pi. Tadi sih Ayu suruh mandi, tapi gak tahu dia nurut atau enggak." Jawab Ayunda.
"Tumben, apa gak kerja?"
"Katanya mau cuti, capek katanya." Jawab Ayunda membuat Arvino mengangguk-anggukan kepalanya paham. Dia takkan memaksakan untuk putra nya bekerja keras di perusahaan, mau bagaimana pun, perusahaan itu penting tapi kesehatan Naren jauh lebih penting. Jika putranya sudah mengeluh lelah, artinya dia memang sudah benar-benar lelah.
"Hmm, ya sudah."
"Sayang, jadi kan nanti senam nya?" Tanya Melisa pada Ayunda.
"Jadi, Mi. Tapi katanya Mas Naren mau ikut nganter juga."
"Ngapain? Nanti suami mu di kepung ibu-ibu rempong lho. Kamu rela memang nya?" Tanya Melisa membuat Ayunda mengernyitkan kening nya.
"Di kepung ibu-ibu?"
"Iya, namanya tempat senam ibu hamil ya pasti banyak ibu-ibu, sayang."
__ADS_1
"Ohh, gitu kah? Aduh, Ayu gak bakalan izinin Mas Naren ikut deh kalo gitu, gak rela nanti aset Ayu di pegang-pegang." Jawab Ayunda menyatakan kecemburuan nya, membuat Melisa terkekeh.
"Yaudah, itu hati-hati goreng ikan nya nanti minyak nya nyiprat. Sebelum ikan nya di masukin taburi tepung dulu biar gak terlalu nyiprat ya, sayang."
"Iya, Mami." Jawab Ayunda. Dia pun melakukan sesuai intruksi yang di berikan oleh mami mertuanya, dia memasak ikan nya hingga matang dan garing. Tak lupa, Ayunda juga membuat sambal marah lalu di letakan di atasnya.
"Baunya enak sekali, masak apa istriku?" Tanya Narendra yang baru saja keluar dari kamar dan langsung pergi menuju semua orang berada. Dia berjalan dengan santai sambil memasukkan kedua tangan nya di saku celana nya.
"Ikan gurame sambel matah, Mas."
"Wihh, mantep tuh. Mas pengen makan sekarang rasanya, laper banget."
"Sebentar ya, nasi nya belum mateng ini." Ucap Ayunda. Memang nasi nya belum matang, jadi terpaksa lah harus menunggu terlebih dulu.
"Mau kopi gak, Mas?"
"Boleh, gak pakai gula ya.." Pinta Narendra. Ayunda pun menganggukan kepalanya, dia memang suka kopi hitam tanpa gula. Dia suka rasa nya yang pahit.
Tak membutuhkan waktu lama, secangkir kopi hitam yang masih mengepul pun tersaji di depan matanya. Ayunda tersenyum sambil meletakan kopi itu di depan suaminya.
"Terimakasih, sayang."
"Iya, sama-sama Mas." Jawab Ayunda. Dia kembali memasak bersama sang ibu mertua.
"Paman.." Panggil Naren, membuat Adam yang sedari tadi asik melamun terlihat kaget.
"E-eehh, iya.."
"Jangan melamun, emang ngelamunin apa sih?" Tanya Naren lagi.
"Tidak ada kok."
"Begini, Naren berencana mau pindahin bibi ke rumah sakit itu besok. Bagaimana menurut Paman?" Tanya Narendra.
"Besok? Apa itu tidak terlalu cepat, Nak?"
"Tentu saja tidak, Paman. Agar kalian bisa sering bertemu, mungkin dengan begitu Bibi akan cepat sembuh." Jawab Naren sambil tersenyum.
"Terimakasih, Nak."
"Sama-sama, tapi maaf sekali. Kemarin ada berkas yang harus di tandatangani penanggung jawab kesehatan pasien, Naren tidak memberitahu Paman di kantor biasa lah lupa, hehe. Jadinya Naren yang tandatangan, gapapa kan?"
"Tentu saja tidak apa-apa, Nak. Terimakasih sudah sangat memperhatikan paman dan bibi."
"Iya sama-sama, kalian juga keluarga kami." Jawab Naren sambil tersenyum kecil. Adam merasakan kekeluargaan yang kental di rumah ini, bahkan dirinya yang masih asing saja disini tapi mereka begitu menghormati dan menghargai nya.
Mereka tidak membeda-bedakan dirinya, mereka memperlakukan nya sama. Apakah dia patut bersyukur dengan semua ini? Dia hanya orang asing, tapi mendapatkan perlakuan sebaik ini. Benar, dia harus sangat bersyukur untuk hal ini.
"Paman, bagaimana kalau hari ini libur juga?" Ucap Narendra.
"Tapi kan Paman baru masuk beberapa hari, apa kata pegawai lain nanti.."
"Tidak apa-apa, jangan terlalu menghiraukan ucapan orang lain. Paman bekerja di perusahaan keluarga sendiri." Ucap Narendra.
"Tapi kan bukan artinya Paman bisa bekerja sesukanya."
"Aku suka semangat paman dalam bekerja, tapi sungguh tidak apa-apa. Liburlah hari ini dan temani Kakek bermain catur. Kasian Kakek, soalnya gak ada lawan main nya. Ada Papi kalah terus, apalagi aku." Jawab Narendra membuat keempat pria itu tertawa bersama. Tapi memang pada kenyataan nya, Arvin maupun Naren tidak bisa mengalahkan Darren dalam hal bermain catur.
.......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻