
Narendra menatap jengah seorang wanita yang kini sedang berbicara panjang lebar di depan nya. Bukan masalah tentang pembicaraan nya, tapi cara bagaimana wanita itu berpakaian. Itu benar-benar membuatnya muak.
Bagaimana tidak? Dia mengenakan dress yang ketat bahkan hingga membuat dada nya hampir melompat keluar saking ketat nya. Wanita itu juga terlihat genit, sesekali dia melirik-lirik ke arah Narendra dengan tatapan menggoda. Bukan nya suka, Naren malah merinding di buatnya.
'Sumpah ya, kalau bukan karena bisnis, aku mungkin sudah mengubur wanita ini hidup-hidup. Sialan, bagaimana bisa Mark menerima meeting dengan wanita jadi-jadian seperti dia?" Batin Narendra di dalam hatinya. Sungguh, dia mual melihat wanita itu. Apalagi cara berpakaian nya, aduh itu membuat kepala nya pusing tujuh keliling. Belum lagi dia memikirkan apa yang akan di dapatkan nya jika sampai Istrinya tahu kalau dia meeting dengan wanita jadi-jadian seperti ini?
"Lalu, bagaimana dengan anda Tuan Naren?" Tanya wanita itu dengan suara lembut yang di buat-buat, membuat Narendra merasa sebal. Sebalnya bukan main, dia tidak suka dengan wanita yang selalu ingin terlihat baik namun hatinya tidak. Dari wajah dan penampilan nya sudah bisa di lihat kalau dia bukan wanita yang baik, mana ada wanita baik mengumbar-umbar buah dada?
Tidak, wanita baik-baik itu memiliki rasa malu. Dia akan menutupi tubuhnya, untuk apa juga di umbar-umbar? Bukankah itu menunjukkan kalau memang itu murahaan saja?
"Aku tidak mendengarkan apapun, tanyakan pada Mark saja, jangan padaku." Ucap Narendra dengan malas. Dia memilih untuk meminum jus alpukat nya dengan santai, tapi berbeda dengan Mark yang terlihat gelagapan begitu mendengar ucapan Narendra. Dia tidak menyangka kalau pria itu akan mengatakan hal demikian.
"Tuan, tapi anda yang menentukan." Ucap wanita itu, membuat Narendra mendelik.
"Ckkk, jawab saja Mark. Jawaban ku atau jawaban mu bukankah itu sama-sama jawaban? Kau tahu benar seperti apa aku!" Jawab Narendra dengan suara datarnya, membuat wanita itu menatap Naren dengan kesal. Dia seolah tidak memiliki kesempatan untuk bicara dengan Naren karena wajah pria itu sangat datar. Bahkan mungkin lebih datar di bandingkan tembok.
"Maaf, Nona. Tapi sepertinya perusahaan anda tidak sesuai untuk bekerja sama dengan perusahaan kami." Ucap Mark, tapi respon yang di berikan oleh wanita itu membuat Naren semakin naik darah.
"Kenapa? Apa karena dia tidak merespon ku lalu dengan mudahnya kau mengatakan hal demikian hah?" Tanya nya, membuat Narendra menatap wanita itu dengan tajam.
"Sedari awal, aku memang tidak berminat untuk bekerja sama dengan perusahaan milik suami mu. Apalagi saat mendengar kalau kau yang mewakilkan rapat hari ini. Apa kau tidak tahu kalau penampilan mu ini terlihat sedikit murahaan?" Tanya Narendra membuat wanita itu naik pitam karena merasa tidak terima dengan apa yang di katakan oleh Narendra, padahal itu adalah fakta.
"Jangan kurang ajar ya, mentang-mentang kau pria yang tampan, lalu seenaknya mengatai aku murahaan!"
"Lalu, apa ada wanita baik-baik yang memakai pakaian seketat itu? Terlihat jelas kalau anda kesini bukan untuk meeting, tapi untuk menggoda para pria." Jawab Narendra dengan wajah datarnya.
"Ckkk, apa kau tidak melihat semua pengunjung yang ada disini memakai pakaian yang sama? Berarti bukan hanya aku saja yang murahaan!"
"Anda melihat gaya berpakaian orang lain lalu meniru nya? Hahaha, lucu sekali. Beruntung saja istriku di rumah tidak pernah memakai pakaian seperti itu, karena dia wanita terhormat." Ucap Narendra yang membuat wanita itu mengepalkan kedua tangan nya, dia marah mendengar ucapan Narendra.
"Anda kenapa, Nyonya? Tersinggung? Bahkan Mark pun bisa menilai seperti apa pandangan saya terhadap anda. Keputusan yang bagus, Mark. Aku memang tidak mau bekerja sama dengan perusahaan yang pemiliknya saja seperti ini, memalukan." Narendra bersiap untuk beranjak dari duduknya meninggalkan wanita itu.
"Kalau begitu, kasihan sekali dirimu, Tuan. Pasti kau tidak pernah melihat wanita-wanita menggunakan pakaian seperti ini karena istrimu hanya tahu memakai pakaian tertutup? Lalu, apa yang dia tutupi? Biasanya, wanita yang menutupi tubuhnya seperti itu jauh lebih murah dari pada kelihatan nya!" Ucap wanita itu dengan lantang, bahkan Mark saja sampai terkaget-kaget.
Dia tidak tahu kalau wanita itu bisa sangat berani seperti ini. Semua orang di perusahaan pun tahu kalau Narendra tidak akan mentoleransi apapun jika itu sudah menyangkut pautkan sang istri. Istrinya adalah kata kunci bagi Narendra, kata kunci untuk sebuah kehancuran.
Karena satu kali saja orang itu mengatakan hal yang tak benar tentang istrinya, maka artinya dia sudah siap untuk hancur. Narendra tidak akan segan-segan untuk menghancurkan siapapun yang sudah berani mengusik istrinya. Seperti nya, wanita ini adalah target baru yang harus Naren hancurkan.
"Katakan padaku sekali lagi, Nyonya!"
"Istrimu murahaan!" Jawabnya tanpa rasa takut sama sekali. Wanita itu menatap Narendra dengan senyuman sinis, dia kira Narendra mulai terpancing. Benar memang, Naren mulai terpancing tapi wanita itu tidak tahu kalau perkataan nya itu akan membawa nya pada sebuah kehancuran yang akan membuatnya berlutut di hadapan Narendra untuk bisa mendapatkan kembali apa yang saat ini dia miliki.
"Seperti nya kau sudah salah berurusan dengan siapa, Nyonya. Katakan, kapan kau ingin hancur?" Tanya Narendra, membuat wanita yang tadi tersenyum itu seketika terdiam. Senyuman nya telah hilang entah kemana, bahkan Mark tidak bisa berbicara apapun lagi karena dia sendiri takut jika Naren sudah marah besar seperti ini.
Naren memang jarang marah tanpa alasan, tapi sekalinya marah dia bisa menghabiskan semua nya hanya dengan tangan nya sendiri untuk melampiaskan kemarahan nya itu.
"A-apa maksudmu?"
"Kau ingin aku hancurkan dengan cara seperti apa, Nyonya? Suami mu aku bongkar kebusukan nya, atau perusahaan mu aku buat hancur sehancur-hancurnya?" Tanya Narendra membuat wanita itu terdiam, dia bahkan tidak bisa menelan ludahnya. Terasa ada yang menghalangi di tenggorokan nya saking takutnya dia akan ancaman yang di lontarkan oleh Narendra.
__ADS_1
"Tidak perlu mengancam ku, Tuan. Aku tidak takut sama sekali." Jawab Wanita itu membuat Narendra terkekeh.
"Tentu nya, ini bukanlah sebuah ancaman semata. Aku tidak suka bermain-main dengan hal semacam ini, tapi karena kau sudah mengatakan keburukan tentang istriku, maka aku harus melakukan nya."
"Mark.."
"Ya, Tuan." Jawab Mark, dia langsung berjalan pelan mendekati atasan nya yang sudah berdiri tegak dengan wajah yang memerah menahan emosi.
"Hukuman apa yang pantas aku lakukan untuk menyumpal mulut sampah nya itu?"
"Keduanya, Tuan. Dia pantas mendapatkan nya karena mengatakan hal yang sangat buruk tentang Nona Ayunda dan semua itu tidak benar." Jawab Mark yang membuat Narendra tersenyum jahat, dia menatap wajah wanita itu yang sudah terlihat pucat pasi karena mendengar jawaban Mark.
"Oke, keduanya. Di tunggu, besok atau lusa kau akan mendapatkan kehancuran yang bisa membuatmu memohon untuk kematian mu sendiri, Nyonya."
"T-tidak, kau tidak punya hak untuk melakukan itu!"
"Aku? Tentu saja aku berhak, istriku adalah wanita yang sangat cantik, baik secara fisik juga hatinya. Dia wanita yang sangat baik, jauh sekali jika di bandingkan denganmu. Istriku selalu bertutur kata dengan lemah lembut, tidak seperti dirimu." Ucap Narendra, kali ini dia mengatakan hal itu dengan tatapan tajam yang menghunus wanita itu. Tapi, seperti nya keberanian nya masih tersisa, dia malah menatap balik Narendra.
"Tuan, sudahlah. Melayani orang gila sampai kapanpun takkan pernah berakhir." Ucap Mark. Dia ingin semua nya selesai dan mereka pergi dari tempat ini, dia muak melihat wanita itu, bahkan mendengar suara nya saja sudah membuatnya sebal. Lihat saja, kalau dia masih berani menjawab maka dirinya yang akan turun tangan untuk menyumpal mulut wanita itu.
"Jangan bandingkan aku dengan wanita sekuper istrimu."
"Kau masih berani menjawab dan mengata-ngatai istriku seperti itu? Padahal, kau tidak tahu seperti apa kecantikan yang di miliki istriku. Oke, berarti kau sudah siap dengan apapun yang akan kau terima setelah mengatakan hal itu seolah tanpa bersalah sama sekali."
"Dalam waktu 24 jam, semua aib-aib mu dan suami mu akan aku bongkar dan kau akan hancur. Selamat menikmati kehancuran mu, Nyonya Rosalina." Ucap Narendra lalu memilih untuk pergi meninggalkan wanita itu di restoran. Rencana meeting nya ternyata kacau dan membuat Narendra merasa kesal setengah mati, apalagi wanita itu mengatakan hal yang sangat membuatnya marah.
"Lakukan semuanya, Mark."
"Di jaman seperti ini, masih ada ya wanita semacam itu? Sialan, kenapa pula harus aku yang bertemu dengan nya? Membuat badmood saja." Gerutu Narendra sambil mendudukan tubuhnya di sofa dan menyandarkan punggung nya di sandaran sofa. Pria itu memejamkan kedua mata nya, sambil memijat-mijat pelipisnya. Dia merasa pusing, terlebih saat ini dia belum makan. Dia sudah melewatkan jam makan siang hanya karena meladeni wanita itu.
"Hadeeuhhh, pusing banget ini kepala."
"Mas, kamu kenapa?" Tanya seseorang yang membuat Narendra membuka kedua mata nya. Dia menatap seseorang yang baru saja datang dengan menenteng sebuah paperbag yang entah apa isinya.
"Sayang, kamu kesini?"
"Hehe, iya. Habisnya aku inget sama kamu terus, gak tahu kenapa. Udah makan?"
"Belum, yang." Jawab Narendra, dia bergeser dan membiarkan istri cantiknya untuk duduk di sampingnya.
"Lho, kenapa belum makan? Katanya kamu mau makan siang sekalian meeting sama klien. Kok gak jadi?"
"Klien nya wanita jadi-jadian, sayang. Mana mood Mas makan sambil lihat ular." Jawab Narendra sambil menduselkan wajahnya di lengan istrinya.
"Wanita jadi-jadian? Katanya meeting sama cowok, kok jadi sama cewek? Kamu bohong ya, Mas?"
"Enggak, awalnya memang meeting sama pemilik perusahaan nya, cowok. Tapi gak tahu kenapa malah di wakilin sama istrinya, sayang. Sungguh, Mas gak tahu menahu lho. Kalau kamu gak percaya, tanyain aja sama Mark. Dia yang tahu semuanya dan dia juga yang mengatur semua jadwal meeting." Jelas Narendra sambil menatap istrinya dengan sendu.
"Oke, gapapa. Aku percaya sama suami aku sendiri. Jadi, sekarang makan dulu ya? Aku masakin makanan kesukaan kamu lho." Ucap Ayunda yang membuat Narendra berbinar seketika. Bertemu dengan sang istri membuat mood nya kembali membaik.
__ADS_1
Istrinya adalah mood booster bagi Narendra, dia tidak bisa mengatakan hal apapun tentang pekerjaan pada siapapun, tapi pada istrinya dia bisa melakukan apapun dan mengatakan apapun tanpa adanya rahasia.
"Wahh, terimakasih sayangku.."
"Sama-sama, Mas. Makan yang banyak ya.."
"Kamu udah makan?"
"Belum, kan aku sengaja mau makan disini. Gak tahu kenapa, aku terus-terusan keinget sama kamu, yang. Jadinya aku kesini, eehh ternyata kamu habis ketemu ular Derik ya?"
"Heem, iya sayang. Ular nya beracun sekali, tapi untung aja Mas gak kegigit." Jawab Narendra sambil tertawa. Pria itu pun mengambil makanan nya dan mulai memakan nya dengan lahap, makanan buatan sang istri memang tidak perlu di ragukan lagi rasanya, sudah pasti enak. Bahkan dia bisa makan banyak berkat makanan sang istri yang sangat enak dan pas di lidahnya.
"Hahaha, Mas ini ada-ada aja. Btw ini gimana rasanya? Enak gak?" Tanya Ayunda.
"Gak usah di ragukan lagi, sudah pasti enak. Makasih, sayang."
"Sama-sama, Mas. Si bacil juga kepengen makan sama papa nya, makanya aku maksain kesini. Sekalian, aku juga keinget terus." Ucap Ayunda sambil menyuapkan makanan nya ke dalam mulut. Begitu juga Narendra, dia melakukan hal yang sama. Dia makan dengan lahap.
"Bacil jangan manja-manja ya sama Mama? Kalau Papa lagi kerja, kalian anteng-anteng sama Mami." Ucap Narendra sambil mengusap perut buncit istrinya.
"Yang.."
"Iya, kenapa Mas?"
"Kalau nanti Mas pengen jengukin si bacil, kamu bakalan ngasih gak?" Tanya Narendra sambil menatap wajah cantik sang istri dengan sendu. Dia takut kalau ternyata Ayunda benar-benar tidak ingin memberikan nya jatah malam.
"Di kasih dong, memang nya kenapa sampai gak di kasih? Yang ada, nanti aku dosa lho karena nolak keinginan suami."
"Beneran? Tapi kan tadi pagi kamu bilang.."
"Aku cuma bercanda kali, Mas. Aku gak bakalan nahan vitamin buat kamu. Itu kan asupan vitamin biar kamu semangat kerja, iya kan?"
"Iya, sayang. Makasih banget ya.."
"Sama-sama, tapi emang nya nanti malem mau jengukin bacil?" Tanya Ayunda, karena tadi malam kan sudah, belum lagi tadi pagi di kamar mandi. Meskipun dengan acara di paksa, tapi kalau sudah masuk ya tetap saja dia menikmati nya juga.
"Lihat aja nanti, kalau Mas mau ya bakalan minta. Gapapa kok, gak usah pakai pakaian begituan kayak kemarin. Tanpa kamu memakai pakaian seperti itu juga, Mas udah tergoda, hehe."
"Hmmm, otak mesuum."
"Mesuum nya cuma sama kamu doang, kalau sama istri kan wajar, sayang." Jawab Narendra tak mau kalah. Namanya juga laki-laki ya, yang ada di pikiran nya hanya pekerjaan, kalau gak pekerjaan ya sudah pasti hal-hal yang mesuum. Sudah pasti dan sudah bisa di tebak.
"Iya iya, aku timpuk pake tabung gas kalau kamu mesuum nya sama wanita lain." Ancam Ayunda yang membuat Narendra tertawa.
"Kamu tenang saja, Mas gak bakalan tergoda sama wanita lain. Kalau emang Mas udah tergoda, harusnya tadi juga udah tergoda soalnya dia pake baju anak SD. Ketat bener dah pokoknya, tapi Mas gak tergoda sama sekali soalnya di rumah Mas punya yang lebih menggoda plus menggairahkan." Jawab Narendra yang membuat Ayunda mendelik sebal.
"Dasar buaya darat."
......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻