
"Ayu.." Panggil seseorang yang tak asing, membuat Ayunda segera membuka matanya. Kedua mata nya berkaca-kaca saat melihat siapa sosok yang berdiri di depan nya. Mereka terlihat sangat cerah dan indah, dengan mengenakan pakaian serba putih dan di kelilingi cahaya juga aroma semerbak yang menguar. Bahkan Ayunda belum pernah mencium aroma seperti ini dimanapun.
"M-mama, Bapak?"
"Apa kabar, Nak?" Tanya nya dengan suara uang lirih mendayu. Sosok itu tersenyum manis menatap Ayunda yang berdiri dengan perut buncitnya.
"Mama, Ayu kangen banget sama kalian." Ayunda menghambur memeluk keduanya. Sosok yang paling dia rindukan saat ini adalah kehadiran kedua orang tuanya.
"Bagaimana kehidupan mu sekarang, Nak?"
"Baik, sangat baik, Ma. Ayu sudah menikah dengan pria yang mencintai Ayu, meskipun awalnya dari sebuah kesalahan, tapi sekarang dia sangat mencintai Ayu." Ucap Ayunda sambil tersenyum.
"Syukurlah kalau begitu, Nak. Mama senang mendengarnya, kamu sedang hamil?"
"Iya, Ma. Ayu hamil kembar lho, kembar nya sepasang. Ayu bahagia sekali sekarang." Celoteh Ayunda. Kedua nya tersenyum lalu mengusap wajah cantik Ayunda, membelainya dengan penuh kasih sayang. Kelembutan yang sama seperti dulu, setelah belasan tahun berlalu kini Ayunda dapat merasakan nya kembali.
"Benarkah? Mama sangat senang mendengarnya. Sehat-sehat ya, cucu-cucu nenek." Ucapnya sambil tersenyum. Senyuman yang terlihat sangat tulus, senyuman yang Ayunda rindukan saat dia merasa kesepian. Tapi sekarang, dia tidak pernah lagi merasa kesepian karena dia memiliki banyak orang yang menyayangi nya di sekelilingnya.
"Mama.."
"Iya, Nak. Ada apa?"
"Ayu sangat rindu, kenapa kalian tidak kembali?"
"Dunia kita sudah berbeda, Nak. Kamu takkan pernah bisa kembali meskipun kami menginginkan nya. Tapi, kami selalu melihat kamu dari atas sana."
"Tapi, Ayu ingin bersama-sama lagi seperti dulu." Ucap Ayunda lirih, kini dia menatap sosok itu dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
"Kamu sudah memiliki keluarga baru kan? Apa mereka menyayangi mu?" Tanya Mama Ayunda.
"Iya, tapi rasanya sangat berbeda, Ma."
__ADS_1
"Jangan terlalu larut dalam hal yang tidak mungkin akan terjadi, sayang. Nikmati hidupmu, kamu harus bersyukur memiliki keluarga baru yang sangat menyayangi kamu, Nak."
"Apa yang ibu mu bilang itu benar, Nak. Bapak maupun Mama, disini pasti melihat dan selalu mendoakan kebahagiaan mu, Nak. Berbahagialah, kami akan senang jika kamu menikmati hidupmu." Ucap pria paruh baya yang menatap Ayunda dengan tatapan hangat penuh kasih sayang. Sosok ayah Ayunda memang pria yang baik hati, lembut dan penuh kasih sayang.
Hanya saja, karena kebaikan hatinya itu membuatnya seringkali di manfaatkan oleh orang lain. Bahkan oleh istri dari adik ipar dan juga keponakan nya, dulu saat dia masih hidup seringkali di manfaatkan untuk keuntungan diri sendiri tanpa sepengetahuan Adam, adik dari ibu Ayunda sendiri.
"Bapak, tolong bimbing Ayu ya? Kalau ada kesalahan yang Ayu lakukan tanpa sadar, tolong tegur Ayu lewat mimpi atau apapun itu."
"Tentu, sayang. Bapak sangat menyayangi mu, kamu tumbuh menjadi anak yang cantik dan mandiri. Bapak bangga melihatmu bisa di tahap ini sekarang." Ucapnya. Ayunda memeluk tubuh itu, dia peluk dengan erat. Pelukan yang terasa sangat hangat dan dia rindukan, sungguh demi apapun dia sangat merindukan ini.
Tidak ada pelukan yang sehangat itu, meskipun sekarang dia nyaman dengan pelukan suaminya, tapi pelukan seorang ayah tetap menjadi pemenang nya. Ibarat kata pepatah, seorang ayah adalah idola dan cinta pertama seorang anak perempuan itu benar adanya.
Bahkan, saat masih kecil dulu pun, Ayunda menginginkan sosok seperti sang ayah yang kelak menjadi suaminya. Dia ingin pria yang bertanggung jawab seperti sosok sang ayah dan sekarang dia mendapatkannya. Sosok Narendra sangat mirip dengan sosok sang ayah, keduanya memiliki sifat yang sama.
Namun, jika di bandingkan dengan Narendra, ayahnya memiliki banyak kemiripan dengan ayah mertua nya, Arvino Sanjaya. Dari segi fisik, gaya bicara, tegas dan kehangatan nya pun sama. Seringkali, Ayunda menangis diam-diam jika melihat Arvino. Karena melihat nya, selalu mengingatkan nya akan mendiang sang ayah.
"Terimakasih, Ayunda bangga menjadi anak kalian."
"Kamu tetap menjadi putri kecil Mama sama Bapak, kami menyayangi mu, Nak. Hiduplah dengan bahagia, dengan begitu kami akan tenang melihatmu dari atas sana."
"Mama sama Bapak berbahagialah di syurga ya? Jangan khawatirkan Ayunda, karena disini Ayunda memiliki banyak orang yang menyayangi Ayu. Ayu sudah ikhlas akan semua yang terjadi pada Ayu di masa lalu, Ayu juga sudah mengikhlaskan kepergian kalian. Maaf kalau Ayu terlalu lama untuk itu." Ucap Ayunda sambil mengusap air matanya.
"Tak apa, Nak. Mengikhlaskan memang sesuatu yang sangat sulit, terlebih mengikhlaskan kehilangan sosok yang paling dekat. Tapi kami sangat bangga, karena pada akhirnya anak kami, sudah ikhlas akan semua yang terjadi pada dirinya." Mama tersenyum kembali menatap Ayunda.
"Dari dulu hingga sekarang, kamu tidak pernah berubah, Nak. Kamu selalu menjadi putri kebanggaan kami."
"Mama.. Bapak.."
"Selamat tinggal, Nak. Sudah waktunya kami pulang, kamu juga harus pulang. Kamu menyayangi mu, hiduplah dengan bahagia."
"Iya, Mama. Selamat tinggal, sering-seringlah mampir di mimpi Ayu ya? Ayu akan sangat senang kalau kalian datang."
__ADS_1
"Tentu saja."
"Lainkali, kamu yang mampir ke rumah kami ya? Maaf, Mama sama Bapak ingin bunga mawar merah."
"Baik, nanti akan Ayunda bawakan. Nanti Ayu datang berkunjung sama suami Ayu." Jawab Ayunda. Keduanya pun tersenyum, lalu kedua sosok itu perlahan menghilang seolah terbawa angin yang berhembus tiba-tiba. Kupu-kupu yang berterbangan pun kini mengelilingi nya, membuat Ayunda tersenyum. Dia yakin kalau kedua orang tua nya pasti mendapatkan tempat yang layak di sisinya.
"Sayang.." Panggil Narendra sambil mengguncang pelan tubuh sang istri agar terbangun dari tidur nyenyak nya. Tak lama kemudian, Ayunda pun membuka kedua mata nya dan menatap wajah tampan suaminya dengan senyum yang terukir indah di sudut bibirnya.
"Iya, Mas."
"Wajah kamu berbinar banget, kenapa? Habis mimpi indah ya?" Tanya Narendra menggoda sang istri. Ayunda menganggukan kepala nya mengiyakan. Dia memang mengalami mimpi yang indah, bahkan mimpi yang sudah lama tidak dia rasakan.
"Aku mimpi ketemu Mama sama Bapak, Mas."
"Wah, benarkah?" Tanya Narendra ikut antusias.
"Iya, Mas."
"Artinya, mereka lagi kangen sama kamu, sayang. Kirim doa buat mereka ya, biar mereka tenang disana."
"Mas, aku pengen jengukin mereka deh. Kangen aja rasanya, dulu setiap aku ngerasa sedih, sendirian, kesepian, pasti aku ngadu nya di makam Mama sama Bapak."
"Mas harus atur jadwal dulu ya, nanti kalau bisa kita berangkat kesana. Sekalian kamu Flashback masa kecil kamu disana."
"Beneran, Mas?" Tanya Ayunda dengan kedua mata yang berbinar.
"Iya, sayangku. Kapan sih Mas gak bener pas bicara sama kamu?"
"Enggak pernah sih, hehe." Jawab Ayunda. Narendra pun hanya menggelengkan kepala nya, lalu mengacak pelan rambut sang istri dan mengecup keningnya. Syukurlah kalau Ayunda baik-baik saja, tadi dia terbangun dari tidurnya karena istrinya terlihat gelisah, dia juga menangis sesenggukan dalam tidur nya. Ternyata dia sedang bermimpi bertemu dengan orang tua nya, mungkin di dalam mimpi itu, Ayunda menangis ketika bertemu dengan mereka.
.......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻