Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 191 - Ayah dan Anak


__ADS_3

"Awwwshshh.." Ayunda memekik perlahan saat tak sengaja tangan nya menyentuh panci panas. Narendra yang mendengar nya langsung berlari mendekat, padahal dia sedang berada di ruang tamu bersama Papi dan juga Paman nya. 


Melihat Naren yang berlari ke arah dapur, kedua pria itu pun langsung menyusul. Mereka khawatir, karena mereka juga mendengar pekikan Ayunda, meskipun perlahan tapi tetap terdengar. 


"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Narendra sambil melihat tangan sang istri yang memerah. 


"Ini Mas, gak sengaja kena panci panas. Gapapa kok, cuma agak perih dikit." 


"Dikit apanya hmm? Ini sampe merah gini, sayang. Kamu ini selalu saja ceroboh, kebiasaan!" Omel Naren. Dia selalu mengkhawatirkan sang istri, karena dia tahu benar kalau istrinya ini selalu saja ceroboh seperti ini. Bukan hanya kali ini saja, tapi Ayunda seringkali melakukan kecerobohan yang menyakiti dirinya sendiri. 


Pernah suatu hari, Ayunda sampai tak bisa berjalan karena kaki nya tertimpa batu bata. Bisa gitu ya? Bisa, karena Ayunda tak sengaja menendang bagian bawahnya hingga batu bata bagian atas itu jatuh lalu menimpa kaki Ayunda. Ada-ada saja memang kelakuan bumil yang satu ini.


"Kok Mas malah marahin Ayu sih?"


"Bukan marah, sayang. Tapi Mas tuh khawatir sama kamu. Maaf ya kalau kesan nya Mas marahin kamu, sungguh Mas gak ada niatan buat marahin kamu." Ucap Narendra sambil mengusap surai panjang nan hitam sang istri. 


"Iya gapapa kok, Mas."


"Yaudah, ini biar Mas obatin dulu. Masakan nya biar di lanjutin aja sama Mami, lagian ini Mami kemana sih? Menantu nya masak malah di tinggal, tahu sendiri padahal kalo menantu nya ceroboh bukan main." Gerutu Naren sambil mengajak Ayunda ke ruang tengah untuk mengobati luka nya sebelum parah nantinya. 


"Perih gak?"


"Enggak sih tapi panas, Mas." Jawab Ayunda lirih. 


"Lainkali, Mas mohon untuk lebih berhati-hati ya. Hari ini baru tangan, besok apa hmm? Mas tuh khawatir sama kamu, apalagi sekarang kamu lagi hamil besar. Tolong ya, jangan di ulangi lagi." 


"Iya, Mas. Maaf ya kalau Ayu bikin Mas khawatir terus, tadi Ayu lupa. Perasaan itu panci nya udah dingin, tapi ternyata masih panas." 


"Gapapa kok, Mas gak nyalahin kamu. Tapi lainkali jangan ceroboh ya, bahaya." Peringat Narendra. Ayunda pun menganggukan kepala nya mengiyakan, dia memang tidak bisa menghilangkan kebiasaan nya itu, karena memang sudah karakter nya dari dulu mungkin. 


Hal ini juga yang membuat Naren khawatir dan meminta pada Melisa atau Arvin untuk lebih memperhatikan Ayunda, dia khawatir kalau semisal Ayunda melakukan hal ceroboh yang membahayakan dirinya juga bayi yang tengah dia kandung saat ini. 


"Mas, kamu kalo lagi ngomel gini keliatan ganteng deh." 


"Mas masih kesel ya sama kamu, gak usah bujukin Mas kayak gitu. Mas gak bakal luluh lho ini." Jawab Naren sambil mengoleskan salep di punggung tangan sang istri. 


"Gimana kalau aku kasih jatah? Kira-kira Mas bakalan luluh gak?" Tanya Ayunda sambil tersenyum nakal. 


"Ckk, paling bisa buat bujuk. Kamu tahu bener ya apa kelemahan Mas?" 


"Hehe, iya dong. Itu kan kesukaan Mas, iya kan?" Tanya wanita itu lagi sambil menunjukkan senyum ceria nya.


"Oke deh, Mas maafin kamu. Tapi nanti jatah ya?"


"Siap, Mas. Kebetulan aku habis beli pakaian dinas baru lho."


"Seriusan?" Tanya Narendra dengan kedua mata yang berbinar.


"Iya, sayang."


"Warna apa?"


"Bukan cuma warna nya yang aku yakin kamu bakal suka, model nya juga lucu dan menggairahkan. Lihat aja nanti." Jawab Ayunda sambil mempertahankan senyuman manis nya. Narendra juga membalas senyuman sang istri dengan senyuman kecil namun penuh arti. 


"Gak sabar deh pengen lihat."


"Nanti aja, sekarang kita harus makan malam dulu isi tenaga." 


"Nah iya, bener. Mas mau kerja keras nanti."


"Jangan terlalu keras, Mas. Nanti helm nya nyundul anak mu lho." Peringat Ayunda sambil terkekeh.

__ADS_1


"Hahaha, iya iya, sayang. Kamu ini ada-ada aja, emang nya bakalan sampai ya kesana?"


"Mungkin sampe, soalnya kalau terlalu dalam kan agak sakit disini tuh."


"Beneran? Kok kamu gak ngomong, sayang?"


"Aku gak mau ganggu kamu yang lagi semangat-semangatnya." 


"Tapi sayang, aku bakalan berhenti kalau kamu kesakitan." Ucap Narendra sambil menatap istrinya dengan penuh ke khawatiran.


"Enggak kok, Mas. Gak usah natap aku kayak gitu, aku gapapa kok. Lagian aku suka-suka aja, bacil juga gak rewel kalau di jengukin." 


"Hmm, kamu ini." Ucap Naren sambil mengacak rambut sang istri, hingga membuat sang empu merasa kesal dan mencebikan bibirnya untuk menunjukkan kekesalan nya saat ini pada sang suami. Tapi Naren yang melihat hal itu malah tertawa, baginya ekspresi Ayunda terlihat sangat lucu dan menggemaskan. 


"Sayang, makan dulu.." Panggil Melisa yang tiba-tiba saja nongol dari balik tembok arah dapur.


"Iya, Mami." Jawab Ayunda. Naren dan sang istri pun beranjak dari duduknya, Naren menggenggam tangan sang istri dan duduk bersampingan seperti biasa. Melisa melihat punggung tangan Ayunda yang memerah, membuatnya khawatir sekali sekalian dia ingin tahu apa yang terjadi pada menantu nya.


"Sayang, itu punggung tangan kamu merah gitu, kenapa?" Tanya Melisa dengan khawatir.


"Gak sengaja nyentuh panci doang, Mi." Jawab Ayunda sambil tersenyum kecil. Ayunda tersenyum manis agar tidak menimbulkan ke khawatiran berlebih, ini hanya luka biasa. Tidak apa-apa nya bagi Ayunda yang sudah belajar hidup keras sejak kecil. Baginya ini tidak berarti apa-apa, tapi mungkin pandangan Naren dan orang tua nya berbeda karena mereka terbiasa hidup dengan damai dan tenang, tidak seperti dirinya dulu. 


"Doang? Kamu bilang doang? Astaga, sampai melepuh gini." Ucap Melisa saat melihat permukaan kulit menantu nya melepuh, mungkin saking panas nya panci yang tadi tak sengaja dia sentuh. 


"Gapapa kok, Mi. Ini udah di obatin sama Mas Naren."


"Ini Mami kemana tadi? Biasanya kan Mami pasti jagain Ayu kalo di dapur."


"Tadi Mami tinggal dulu ke kebun ngambil tomat sama wortel, pas balik Ayu nya udah gak ada. Kata Papi di bawa sama kamu, tapi Papi gak bilang kalau istrimu luka." Jelas Melisa, membuat Arvin memutar matanya dengan jengah. Lagi-lagi namanya di bawa-bawa dalam hal seperti ini. Padahal sedari tadi dia hanya diam saja, tidak ikut menimbrung dalam pembicaraan. Dia hanya fokus dengan makanan di piring nya.


"Papi.."


"Apa? Papi dari tadi diem aja lho." Jawab Arvin pada sang istri, membuat Melisa mendelikan kedua mata nya karena kesal.


"Mami tuh panikan, Papi gak mau ya seisi rumah panik cuma karena Mami."


"Ohh, jadi gitu? Awas aja ya, Pi. Nanti tidur di luar!" Tegas Melisa yang membuat Arvin gelagapan sendiri. Mana bisa dia tidur sendiri, Arvin itu seperti seorang bayi yang tak bisa tidur tanpa ibunya dan juga susu. Dia harus tidur sambil memeluk sang istri, kalau tidak dia gak bakalan bisa tidur. Atau tidur nya tidak nyenyak, dia akan terlihat gelisah dalam tidurnya. 


"Mami kok gitu sih? Papi kan gak salah apa-apa." 


"Gak mau ngaku? Pokoknya malam ini Papi tidak di luar, Mami gak mau ya tidur sama Papi." Jawab Melisa lagi, membuat Narendra menguluum senyum nya. Dia memang jahil plus iseng pada sang Papi. 


Arvino melirik sinis ke arah putranya yang seolah tengah menertawakan nya, dia kesal sekali saat ini. Hanya karena dia mengatakan kalau istrinya itu panikan, dia jadi tak bisa tidur sambil memeluk sang istri nanti malam. Padahal, kan pada kenyataan nya Melisa memang panikan. Dia selalu membuat seluruh isi rumah ikut panik jika dia tengah panik.


"Gak usah ngetawain lu!"


"Ppffftt, hahaha.." Naren tak bisa lagi menahan tawanya, dia tertawa hingga membuat Ayunda mendelik lalu menggeplak lengan suaminya agar tetap fokus pada makanan yang ada di depan nya.


"Sayang, sakit.."


"Kamu mau kayak Papi? Aku kunci pintu kamar nanti."


"Jangan dong, kan kamu udah janji kita mau itu.."


"Yaudah, diem terus makan."


"Iya, istriku." Jawab Narendra sambil mencolek dagu sang istri dengan genit. Bukan Narendra namanya kalau tidak ada tingkah yang membuatnya terlihat lucu dan menyebalkan dalam waktu yang bersamaan. 


"Ckk, colek-colek terus nanti jadi pukul-pukulan." Cetus Arvin membuat Naren terkekeh lagi.


"Cieee, iri ya? Iya dong iri, kasian nanti bobok nya sendirian." Ledek Narendra membuat Arvino mencebik lalu memalingkan wajahnya ke arah lain karena kesal dengan tingkah putranya itu. Dia masih memikirkan cara untuk membujuk istrinya agar dia tidak jadi tidur sendirian di kamar lain, dia tidak bisa tidur tanpa istrinya. 

__ADS_1


"Mas.."


"Iya, sayang. Kenapa?"


"Ambilin kerupuk dong, maaf. Tangan aku gak nyampe." Pinta Ayunda. Naren pun dengan senang hati mengambilkan toples berisi kerupuk untuk sang istri.


"Makasih, Mas."


"Iya, sama-sama. Ayo makan lagi yang banyak, biar kamu sama bacil sehat-sehat terus." Ucap Narendra sambil mengusap perut buncit Ayunda. Ini adalah daya tarik baru bagi Narendra, selain wajah cantik sang istri, perut istrinya yang membuncit juga merupakan suatu hal yang membuat Naren semakin jatuh cinta pada sang istri. Dia selalu saja di buat jatuh cinta setiap harinya oleh sosok bernama Ayunda Maishika. Dia benar-benar wanita yang sempurna, dia memiliki semuanya yang di inginkan oleh pria. 


Tapi, sesuatu yang sempurna bukan berarti tidak pernah retak bukan? Seperti Ayunda, dia bisa menjadi sosok Ayunda yang saat ini adalah berkat masa lalu nya yang keras dan menyakitkan hingga membuatnya tumbuh menjadi seorang wanita yang kuat. Dia benar-benar di dewasakan oleh keadaan. Keadaan lah yang menuntut nya untuk bisa melakukan apapun sendiri, tanpa harus bergantung pada orang lain. 


Karena dia tidak memiliki siapapun untuk dia bergantung, dia tidak memiliki tempat untuk tempatnya bersandar. Tapi dia masih memiliki tempat untuk bercerita, yaitu sang paman. Hubungan mereka memang dekat, bahkan bisa di bilang sangat dekat hingga Mona saja merasa iri dan cemburu karena sang ayah terlalu dekat dengan keponakan nya dari pada anaknya sendiri.


Adam yang melihat perhatian Naren pada Ayunda pun mengangkat sudut bibirnya ke atas. Dia sangat bahagia karena Ayunda bisa memiliki keluarga yang sangat baik dan menerima dirinya apa adanya tanpa melihat apapun. 


"Paman, ayo makan lagi. Nambah yang banyak, besok kan Paman mulai kerja di kantor." Ucap Narendra sambil tersenyum. Melisa juga mengatakan hal yang sama, tapi Adam masih merasa canggung berada di lingkungan keluarga yang sangat rukun seperti ini. Sedangkan dirinya berasal dari tempat yang selalu sunyi, karena saat Mona dan istrinya masih sehat-sehat pun dia sering sendirian apalagi saat makan malam. Semuanya sibuk dengan kehidupan masing-masing. 


Termasuk Mona, dia seringkali melewatkan makan malam bersama orang tua nya di rumah karena sibuk berpacaran di luar sana mungkin. Seringkali Adam menegur putrinya agar jangan di biasakan pulang malam karena dia adalah seorang perempuan, tapi istrinya terlalu memanjakan nya hingga hal yang tak di inginkan itu pun terjadi. 


"Iya, terimakasih." 


"Paman kerja di kantor?" Tanya Ayunda dengan wajah kagetnya.


"Iya, mulai besok Paman kerja di perusahaan Mas."


"Seriusan? Paman kerja jadi apa disana, Mas?" Tanya Ayunda dengan antusias. Tapi apakah ke antusiasan itu akan bertahan saat dia mengetahui kalau sang Paman hanya menjadi seorang petugas kebersihan atau OB. 


"Sayang, maafin Mas ya. Mas belum bisa ngasih jabatan buat Paman, karena Mas harus tetap profesional dalam mengurus pekerjaan. Jadi Mas ngasih kerjaan jadi cleaning service buat Paman. Maaf ya, jangan marah." Ucap Narendra membuat Ayunda menatap sang suami dengan senyum kecilnya.


"Cleaning servis itu OB kan, Mas?"


"Iya, sayang. Keduanya sama saja, petugas kebersihan hanya berbeda penyebutan saja."


"Gapapa, bekerja di awal dari bawah dulu nanti juga akan di berikan kepercayaan yang lebih kalau kinerja Paman bagus. Lagi pula, bekerja sebagai petugas kebersihan juga bukan pekerjaan yang memalukan bukan?"


"Iya, Nak. Paman tidak keberatan sama sekali, di berikan pekerjaan saja Paman sudah sangat senang." Jawab Adam sambil tersenyum.


"Syukurlah, tapi Paman mau tinggal dimana kalau Paman bekerja disini?" Tanah Ayunda. Naren maupun Arvin sama-sama belum mengatakan kalau Adam akan tinggal disini bersama mereka. Tapi hari ini dia akan mengetahui nya. 


"Disini, paman mu akan tinggal disini bersama kita." Jawab Narendra sambil tersenyum, membuat Ayunda membulatkan kedua matanya. 


"M-mas, ini beneran? Jangan bercanda, Mas."


"Iya, sayang. Mas serius, tuh bahkan Papi aja setuju."


"Papi.." Panggil Ayunda, membuat Arvin mendongak menatap wajah menantu nya. Pria paruh baya itu tersenyum lalu menganggukan kepala nya. 


"Iya, Paman mu akan tinggal disini bersama kita."


"Papi, terimakasih karena sudah mau membuat Paman tinggal disini." Ucap Ayunda dengan kedua mata yang berkaca-kaca. 


"Sama-sama, sayang. Apapun untuk kebahagiaan menantu kesayangan Papi, pasti akan Papi lakukan." 


"Papi.."


"Rumah akan terasa lebih ramai kalau Paman mu tinggal disini, Papi juga jadi ada temen yang bisa di ajakin main catur. Soalnya kalo main sama suami mu gak seru, dia kalah terus." Sindir Arvino membuat Narendra mulai merespon. Seperti nya mereka akan gatal-gatal kalau semisal tidak saling sindir menyindir seperti ini, tapi menyindir dalam artian lain ya. 


Mereka hanya bertengkar dalam rangka becanda, karena itu adalah love languange mereka, yaitu bertengkar setiap hari, setiap jam, menit, detik. Seperti Tom and Jerry. Jarang sekali melihat ayah dan anak itu akur, hanya beberapa kali saja. Jadi kalau melihat Arvin dan Naren akur, itu adalah kejadian yang langka. 


"Naren tuh anak muda, main nya billiard bukan catur. Catur kan buat orang tua." Cetus nya membuat Arvin mati kutu, sedangkan Narendra sudah menunjukkan senyum jahilnya. Narendra memang paling bisa membuat sang ayah terdiam. 

__ADS_1


.......


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2