
Ayunda memakan makanan ala Korea itu dengan lahap, dia langsung menyukai makanan itu padahal ini adalah pertama kali nya dia mencoba makanan ini.
"Enak, sayang?" Tanya Naren, Ayunda mengangguk dengan cepat. Dia tidak bisa berbohong kalau makanan yang dia makan saat ini adalah makanan yang terenak sejauh ini.
"Mau nyobain boleh?"
"Boleh, buka mulut mu." Naren menurut dan menerima suapan dari Ayunda. Pria itu mengunyah nya dengan penuh perasaan.
"Enak kan?"
"Kamu suka, sayang?" Tanya Naren, Ayunda melirik ke arah sang pria dan tersenyum.
"Iya, aku sangat menyukai nya."
"Baguslah, kalau begitu." Jawab Narendra sambil tersenyum kecil. Dia pun mengacak rambut Ayunda dengan gemas lalu dia kembali fokus mengemudi kendaraan roda empat nya, sesekali dia akan menerima suapan yang di sodorkan oleh Ayunda.
Sesampai nya di rumah, Ayunda langsung menata belanjaan nya di lemari dan di kulkas. Dia menata buah-buahan, sayur dan daging di kulkas, sedangkan cemilan, mie instan dan banyak makanan lagi dia simpan di lemari khusus cemilan.
"Sayang, bisakah buatkan aku kopi?"
__ADS_1
"Iya, sebentar." Jawab Ayunda, setelah selesai menata makanan nya, dia pun langsung membuatkan kopi untuk Naren. Gadis itu menyeduh kopi nya dengan perlahan, tapi karena kurang hati-hati, tangan Ayunda malah terkena air panas.
"Aashhss.." Ayunda menjatuhkan panci yang sedang dia pegang hingga membuat kegaduhan di dapur. Naren yang mendengar nya pun langsung pergi ke dapur.
"Ayu, kamu kenapa?"
"Hati-hati, itu basah." Peringat Ayunda, tapi Naren tidak peduli. Dia langsung berjalan cepat ke arah Ayunda, dia melihat tangan Ayunda yang melepuh terkena air panas.
"A-aku kena air panas." Lirih Ayunda, membuat Naren menatap wajah gadis itu dengan tajam.
"Maka nya hati-hati, kamu ini ceroboh sekali sampai mengabaikan keselamatan mu sendiri, Ayu." Omel Naren, membuat Ayunda menunduk seketika, karena dia merasa terintimidasi dengan tatapan yang di layangkan oleh Naren.
"Tidak apa-apa, aku mengomel karena aku khawatir dengan keadaan mu, sayang."
"Maaf, aku terlalu ceroboh." Lirih Ayunda, Naren tersenyum lalu membawa Ayunda ke ruang tamu dan segera mengoleskan salep di luka bakar itu agar tidak melepuh, tak lupa Naren juga meniup-niup nya dulu karena Naren yakin kalau saat ini luka nya pasti akan terasa perih.
"Tidak apa-apa, jangan di ulangi ya. Ini membuat aku khawatir."
"Hmmm, terimakasih karena sudah peduli padaku."
__ADS_1
"Apa yang kau katakan? Tentu saja aku peduli, karena kau adalah calon istriku, Ayu." Ucap Naren, dia mengecup kening Ayunda dan pergi ke dapur untuk mengambil kopi nya. Dia menyeruput nya secara perlahan karena kopi nya masih sangat panas, karena baru di seduh.
"Pelan-pelan saja minum nya." Ucap Ayunda, sambil mengusap sudut bibir Naren yang memerah. Dia terlalu terburu-buru seperti nya.
"I-iya." Jawab Naren, jujur saja dia gugup saat tatapan mereka tak sengaja bertemu. Tatapan polos yang membuat Naren terpikat, tatapan nya tidak bisa berbohong, dia benar-benar tulus.
"Kamu mengomeli ku karena aku ceroboh, tapi kamu sendiri juga sama ceroboh nya. Sudah tahu panas, main di teguk aja."
"Gantian nih cerita nya jadi kamu yang ngomel, hmm?" Tanya Naren, membuat Ayunda terkekeh pelan.
"Kamu cantik." Ucap Naren membuat Ayunda langsung terdiam, lagi-lagi dia menatap wajah tampan Naren yang berada tepat di wajah nya.
"Kok tiba-tiba?"
"Tidak apa-apa, kamu memang cantik." Jawab Naren. Dia mendekatkan wajah nya dan tanpa banyak bicara, dia mencium bibir Ayunda dengan lembut.
Ayunda membulatkan mata nya, tubuh nya menegang seketika. Tapi sepersekian detik kemudian, dia memejamkan kedua mata nya dan membiarkan Naren mencium nya, bahkan pria itu melumaat bibir nya dengan nikmat. Kedua nya larut dalam ciuman mesra itu hingga Naren benar-benar melupakan semua nya, akal sehat nya tidak bekerja saat ini, yang dia inginkan hanya mencium Ayunda, hal yang ingin dia lakukan sedari tadi.
........
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻