
Setelah selesai sarapan, Naren pun berpamitan pada Ayunda untuk pergi ke kantor. Nanti sore, dia akan datang berkunjung ke rumah orang tua nya untuk membicarakan sesuatu dengan kedua orang tua nya, itu tentang hubungan dia dan Ayunda ke depan nya.
"Yang, aku pergi dulu ya?" Pamit Naren, dia memeluk Ayunda dari belakang sambil menyandarkan kepala nya di pundak gadis itu dengan manja. Saat ini, Ayunda tengah mencuci piring.
"Iya, hati-hati di jalan nya. Jangan ngebut bawa mobil nya."
"Iya, sayang. Kiss dulu." Pinta Naren, Ayunda mematikan kran air setelah mencuci tangan nya, dia berbalik lalu memberanikan diri untuk mencium pipi Naren. Tapi, dengan cepat Naren memalingkan wajah nya hingga bibir Ayunda malah mendarat mesra di bibir Naren.
Gadis itu membulatkan kedua mata nya, dia tidak menyangka kalau Naren akan sangat pandai memanfaatkan situasi seperti ini.
Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Naren pun melumaat dan memagutt mesra bibir Ayunda. Dia juga menarik pinggang gadis itu hingga posisi mereka menempel ketat tak berjarak.
"Terimakasih, sayang. Biasakan memberikan ciuman seperti ini setiap pagi, aku akan dengan senang hati menerima nya." Ucap Naren sambil mengusap bibir Ayunda yang basah dan sedikit bertambah volume nya karena gigitan nya tadi, pria tampan itu mengecup kening Ayunda dan memeluk nya sekilas.
"Aku pergi dulu, sayang. Kalau bosan, kamu boleh keluar, ambil ini sebagia pegangan." Naren memberikan satu kartu kredit miliknya, Naren juga memberikan uang tunai pada Ayunda.
"Tapi ini.."
__ADS_1
"Sudah, terima saja. Kalau kamu ingin keluar, jangan lupa bawa ponsel. Biar aku gampang nemuin kamu ya?" Peringat Naren, tapi seperti nya dia melupakan kalau selama ini Ayunda tidak memiliki ponsel sama sekali.
"Tapi aku kan gak punya ponsel, yang."
"Wah, aku lupa. Ya sudah, nanti sore kita keluar nya kalau begitu. Sekarang kamu di rumah aja, nonton televisi atau makan ya?"
"Hmm, kamu semangat kerja nya ya." Ucap Ayunda, Naren menganggukan kepala nya. Dia kembali mengecup pipi kanan dan kiri Ayunda singkat, lalu pergi dari rumah dengan membawa tas kerja dan juga bekal yang sudah di siapkan oleh Ayunda.
Naren berjalan tegap dengan wajah datar nya, namun aura nya benar-benar jauh berbeda sekarang. Bahkan Mark pun selaku asisten Naren tidak tahu menahu kenapa dengan pria yang menjadi atasan nya itu.
"Hmm, pagi." Jawab Naren, tanpa menoleh. Dia membuka ruangan nya dan Mark mengekor di belakang pria itu.
"Mark, ada kegiatan apa hari ini?" Tanya Pria itu setelah dia duduk di kursi kebesaran nya, dia meletakan bekal yang di buat oleh Ayunda di atas meja.
"Meeting bersama klien saja."
"Apa aku bisa pulang lebih awal hari ini, Mark?" Tanya Naren.
__ADS_1
"Bisa, tuan. Kenapa anda ingin pulang cepat?" Balik tanya Mark sambil tersenyum. Dia penasaran, kira nya ada hal apa yang membuat Naren meminta pulang lebih awal.
"Kau masih ingat dengan gadis yang aku ceritakan hari itu, Mark?"
"Hmm, iya iya. Saya ingat, Tuan. Kalau gak salah nama nya, Ayu apa Aya ya? Lupa." Jawab Mark sambil tersenyum kecil.
"Ayu, nama nya Ayunda."
"Aaahh ya, Ayunda. Ada apa dengan gadis itu, Tuan?" Tanya pria itu lagi.
"Aku sudah mengatakan kalau aku akan mempertanggung jawabkan perbuatan ku kan? Aku akan menikahi nya dan nanti sore aku harus datang ke rumah orang tua ku untuk membicarakan ini semua."
"Hmm, Tuan yakin dengan keputusan anda untuk mempersunting gadis itu?"
.....
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1