Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 91 - Main yang Lain


__ADS_3

"Mami pulang saja, biar Naren disini jagain Ayu." Ucap Narendra, ini sudah malam dan kedua orang tua nya terlihat sudah cukup kelelahan, mungkin karena shock seharian ini jadi kedua nya terlihat lemas. 


"Baiklah, Mami akan pulang dulu. Besok Mami kesini lagi sama Papi ya." Jawab Melisa. Narendra menganggukan kepala nya, begitu juga dengan Ayunda. Dia hanya tersenyum sambil menganggukan kepala nya.


"Sayang, kamu baik-baik disini sama Naren ya? Mami sama Papi pulang dulu, besok Mami masakin makanan kesukaan kamu, sayang." Ucap Melisa sambil mengusap rambut Ayunda dengan lembut. Dia juga mengecup kening Ayunda dengan lembut dan penuh kasih sayang, penuh kehangatan yang membuat Ayunda memejamkan kedua mata saat merasakan kecupan yang di lakukan oleh ibu mertua nya. 


Kasih sayang Melisa benar-benar seperti ibu kandung Ayunda, perempuan itu tidak merasa kalau Melisa adalah ibu mertua nya, dia merasakan kalau Melisa itu seperti sosok ibu kandung nya sendiri. Sungguh, dia benar-benar sangat bahagia karena memiliki ibu mertua sebaik dan sepengertian Melisa yang memiliki hati baik dan penuh dengan kasih sayang. 


"Kamu cepet sembuh ya? Disini gak enak lho, bau obat." Ucap Melisa.


"Iya, Mami. Ayu juga gak betah berlama-lama disini."


"Kamu nya jangan susah minum obat, kalau kamu nya susah minum obat, gimana mau sembuh hmm?" Tanya Narendra sambil tersenyum menggoda, membuat Ayunda cengengesan. Tadi, dia susah minum obat. Dia cukup kewalahan membujuk sang istri agar mau minum obat.


"Hehe, iya Mas."


"Ya sudah, Mami sama Papi pulang dulu ya."


"Iya, Mi. Hati-hati di jalan nya ya?"


"Tentu saja, kalau begitu kami pulang dulu ya." Arvin mengacak rambut Ayunda dengan perlahan, lalu kedua paruh baya itu pun pergi dari ruangan itu untuk pulang dan beristirahat. 


"Nah, sekarang Mami sama Papi udah pulang. Kamu jelasin, kenapa bisa sampai pendarahan hmm?" Tanya Narendra membuat Ayunda terdiam. Sudah jelas Narendra melarang nya untuk melakukan aktivitas yang terlalu berat, tapi Ayunda tetap lah Ayunda yang merasa tidak enak saat di rumah hanya berdiam diri saja. 


Karena dirinya merasa sehat dan baik-baik saja, akhirnya dia mengerjakan pekerjaan rumah yang dia bisa. Tapi ternyata hal itu malah membuat kandungan nya terganggu dan akhirnya dia pendarahan. 


Ya, sebelum ikut membuat kue kering bersama ibu mertua nya, Ayunda sempat melakukan kegiatan yang dia bisa, dia menyapu dan mengepel rumah. Intinya dia beres-beres rumah, padahal Melisa dan Narendra maupun Arvin sempat melarang. Terutama Narendra, dia melarang keras istrinya untuk mengerjakan pekerjaan rumah apalagi pekerjaan yang berat. 


Menyapu dan mengepel memang tidak berat, tapi kalau mengepel rumah seluas milik keluarga Sanjaya, ya tetap saja lelah dan itu yang membuat Ayunda pendarahan. 


"Hehe, maafin aku Mas."


"Maaf kamu gak berguna, karena keesokan hari nya pasti kamu ulang! Bisa gak, nurut sama suami? Gak keras kepala begini hmm? Kalau sudah terjadi hal seperti ini, siapa yang susah? Kamu juga, sayang." Ucap Narendra sambil memijit-mijit tangan Ayunda dengan pelan. Dia tahu kalau tubuh sang istri pasti pegal-pegal karena terjadi hal-hal tadi. 


"Maaf, Mas.."


"Kali ini, plis kamu nurut apa kata Mas!"


"Baiklah, Mas. Sekali lagi, aku minta maaf.."


"Iya, sayang. Maafin Mas juga ya."

__ADS_1


"Mas gak salah apa-apa sama Ayu, kenapa minta maaf?"


"Mas kurang perhatiin kamu kayaknya, jadi hal kayak gini bisa terjadi. Maaf ya, lain kali Mas bakalan lebih meluangkan banyak waktu untuk memperhatikan kamu dan anak kita." Jawab Narendra sambil mengusap perut Ayunda dengan lembut.


"Mas gak bakalan bisa maafin Mas sendiri kalau sampai terjadi hal yang buruk pada anak kita atau padamu, sayang." Lirih Narendra.


"Aku baik-baik saja kok, Mas. Dia juga baik-baik saja, aku berjanji akan menjaga nya dengan lebih baik lagi setelah ini."


"Iya, kita harus menjaga bayi ini dengan baik. Mas mencintai kamu, Ayunda."


"Ayu juga cinta sama Mas." Balas Ayunda membuat Narendra tersenyum kecil, dia mengecup singkat punggung tangan Ayunda lalu mengusap-usap nya kembali.


"Tidurlah, sayang."


"Mas tidur dimana?" Tanya Ayunda, membuat Naren tersenyum. Disaat seperti ini saja, Ayunda masih memikirkan dirinya.


"Tidak perlu khawatir, sayang. Mas bisa tidur dimana saja, di sofa juga jadi lah."


"Disini aja gimana? Tidur nya sambil peluk aku?" Tanya Ayunda membuat Narendra melihat ke arah brankar rumah sakit yang di tempat oleh Ayunda. Cukup lebar memang, cukup untuk dua orang. Tapi tetap saja akan sangat sempit, kecuali kalau tidur nya miring, masih bisa lah. 


"Gak usah, nanti kamu susah gerak, sayang."


"Mas, baby nya pengen di peluk sama Daddy nya."


"Dua-duanya, hehe." Jawab Ayunda sambil cengengesan.


"Yaudah, tapi bobok nya paling sambil miring. Gapapa? Sempit gini kasur nya."


"Gapapa, Mas. Emang orang hamil di anjurkan buat tidur miring ke kanan atau ke kiri, jangan terlentang." Jawab Ayunda sebagai alasan. Memang benar, dokter menyarankan nya untuk tidur miring entahlah apa maksud dan tujuan nya, dia tidak tahu. Tapi dokter mengatakan hal seperti itu. 


Selain karena anjuran dokter, semenjak hamil Ayunda juga lebih manja, kalau tidur selal yg harus di peluk oleh sang suami. Kalau semisal gak di peluk, dia akan susah tidur. Kalau pun bisa tidur, Ayunda akan terlihat gelisah, bergerak kesana kemari dan akan tenang saat Naren memeluk nya.


"Yaudah kalo gitu, kamu yang di sebelah tembok ya."


"Iya, Mas." Jawab Ayunda. Dia pun menggeser tubuh nya untuk memberikan tempat agar sang suami bisa tidur di brankar yang sama dengan nya. 


"Sayang.." Panggil Narendra, dia menarik selimut dan menyelimuti tubuh sang istri, juga tubuh nya. Dia memeluk tubuh sintal sang istri dari belakang, sesekali tangan nakal nya malah memainkan buah kenyal yang menggantung indah di dada sang istri, kenyal dan enak sekali untuk di genggam.


"Iya, Mas."


"Kata perawat tadi, kita jangan berhubungan badan dulu selama trimester pertama."

__ADS_1


"Hmm, tapi aku doyan. Gimana dong?" Tanya Ayunda sambil menoleh dan menatap wajah tampan suami nya dengan sendu. Jujur saja, sejak hamil Ayunda berubah menjadi perempuan yang agresif. Dia suka mengajak suami nya lebih dulu, dia suka dan karena Narendra juga suka, jadi dia tidak bisa menolak. Mana bisa dia menolak, toh dia sangat memuja tubuh istri nya yang membuat nya tak bisa mengendalikan diri saking nikmat nya. 


Tubuh itu selalu membuat nya mabuk kepayang, dia di buat kecanduan dengan tubuh Ayunda yang benar-benar legit bahkan saat pertama kali Naren menikmati nya, Naren sudah sangat menyukai rasa yang di berikan oleh Ayunda. Kenikmatan yang dia rasakan berkali-kali lipat dari yang pernah dia rasakan dulu. 


Hmmm, dulu? Ya, dulu dia pernah melakukan hal semacam ini satu kali. Namun bukan dengan Trisa, dengan perempuan sewaan yang dia sewa hanya untuk menuntaskan rasa penasaran nya. Keperjakaan nya memang hilang di kamar mandi menggunakan tangan, tapi kalau untuk pertama kali melakukan hal itu, dia masih ingat rasanya. Namun tidak senikmat yang dia rasakan saat melakukan nya dengan Ayunda. 


Mungkin karena mereka sudah resmi menjadi suami istri, jadi kenikmatan yang di rasakan Narendra juga jauh lebih nikmat karena sudah halal.


"Paling main cepet aja ya? Aku gak mau ambil resiko bikin kamu kesakitan."


"Baiklah, tapi jangan menolak nya saat aku meminta nya, Mas." Jawab Ayunda. Narendra menganggukan kepala nya mengiyakan. Narendra mengecup singkat puncak kepala Ayunda dengan mesra lalu mengusap-usap nya. Hal ini akan membuat Ayunda nyaman dan akhirnya dia bisa tidur dalam waktu beberapa menit saja karena saking nyaman nya.


Benar saja, hanya dalam hitungan menit saja, Ayunda sudah terlelap. Dia tidur dengan nyenyak, Narendra tersenyum kecil. Dia tidak menyangka kalau Ayunda akan tidur secepat itu hanya karena usapan tangan yang dia lakukan. 


"Selamat malam dan selamat tidur istriku, sayang." Lirih Narendra, dia kembali mengecup kening sang istri lalu dia pun ikut memejamkan kedua mata nya dan akhirnya dia menyusul Ayunda ke alam mimpi. 


Pagi hari nya, Ayunda terbangun lebih dulu. Namun dia tidak bergerak dulu karena dia masih ingin menikmati pelukan hangat sang suami, Ayunda mengusap tangan kekar yang melingkar erat di perut nya. Sang pria terlihat sedikit terganggu tidur nya, hingga akhirnya dia membuka kedua mata nya secara perlahan.


"Mas.."


"Iya, kenapa sayang?" Tanya Narendra.


"Bangunlah, nanti ada perawat yang datang kesini."


"Lalu, memang nya kenapa?" Tanya Narendra acuh, seolah hal yang di katakan oleh sang istri bukanlah hal yang memalukan bagi nya, berbeda dengan Ayunda yang akan menahan malu setengah mati kalau ke romantisan mereka di lihat oleh orang lain.


"A-aku malu, Mas."


"Tidak perlu malu, sayang. Kita sudah menikah, kita ini suami istri. Mas rasa, gak ada yang perlu kamu merasa seperti itu. Anak muda jaman sekarang juga tidak malu mengumbar kemesraan mereka di depan umum, lah kita yang udah nikah ini apa kabar?"


"Kamu nya udah lama gak ngajakin aku main-main ke luar gitu, soalnya kamu ngajakin nya main yang lain."


"Hahaha, main yang lain?" Tanya Narendra sambil tertawa.


"Iya, aku pengen nya main tuh jalan-jalan gitu sambil beli jajanan gitu. Ini mah main nya di atas kasur aja terus, bosen." 


"Bosen tapi doyan kamu tuh, Yang."


"Hehe, itu benar sih, Mas." Jawab Ayunda sambil tertawa. Dia sendiri suka dengan hal itu, baginya itu seperti energi. Begitu juga dengan Narendra, dia menjadikan tubuh sang istri sebagai vitamin nya sebelum memulai hari-hari nya yang sibuk sebagai pemilik perusahaan. 


......

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2