
Sepeninggalnya Mark, di dalam ruangan itu terjadi keheningan. Baik Ayunda maupun Narendra, kedua nya kompak diam-diaman. Narendra tak suka dengan situasi yang membuat dirinya canggung seperti ini. Jadi dia memilih memfokuskan mata nya ke arah laptop dan memulai pekerjaan nya disana, untuk menghilangkan sejenak kecanggungan yang melanda kedua nya di ruangan ini.
Ayunda juga memilih diam sambil memilin ujung dress yang dia kenakan, hingga membuat kuku yang sengaja dia panjangkan itu patah karena tak sengaja tersangkut di renda dress itu. Dia meringis pelan karena kuku nya berdarah dan meninggalkan rasa perih di sana.
"Aahhhsss.." Ringis Ayunda pelan, tujuan nya agar tidak terdengar oleh suami nya, tapi ternyata Narendra tetap bisa mendengar nya. Pendengaran Narendra sangat tajam, hingga dia bisa mendengar suara sekecil apapun.
"Kenapa, sayang?" Tanya Narendra, dia menutup laptop nya dan beranjak dari duduk nya, dia berjalan mendekat ke arah sang istri yang sedang meniup-niup tangan nya. Tapi saat pria itu semakin mendekat, Ayunda langsung menyembunyikan tangan nya di belakang tubuh nya.
"Kamu kenapa? Apa yang kamu sembunyikan dari ku, sayang?" Tanya Narendra.
"Tidak, tidak ada kok Mas." Jawab Ayunda dengan senyum kecil yang dia paksakan. Nyatanya, luka di tangan nya masih mengeluarkan darah dan terasa sakit. Terluka di bagian kuku memang sakit dan terasa panas. Selain itu, rasa sakit nya akan terasa lebih lama.
"Jangan berbohong!" Tegas Naren, dia sangat membenci orang yang tidak berterus terang. Dia suka dengan orang yang mengatakan apapun secara langsung, kalau sakit ya bilang sakit.
Akhirnya, Ayunda pun kalah. Dia takut saat melihat tatapan tajam yang di layangkan oleh sang suami pada nya. Dia benar-benar takut.
"Astaga, apa yang kamu lakukan sampai berdarah begini sih? Pasti perih sekali." Ucap Narendra, dia mengambil tangan Ayunda yang terluka lalu meniup nya dengan perlahan.
"Nyangkut di baju, Mas. Maaf.."
"Kenapa minta maaf? Tidak apa-apa, biar aku obati saja." Putus Narendra. Dia pun beranjak dan mengambil kotak P3K yang selalu tersedia di laci kerja nya, itu sengaja Naren simpan disana untuk berjaga-jaga kalau ada keadaan darurat seperti ini.
"Aawwhhss, perih Mas.." Perempuan itu meringis saat Narendra mengusapkan obat merah di luka nya. Terasa sangat perih juga sakit, hingga membuat kaki Ayunda tak bisa diam.
"Diamlah, sayang. Nanti sakit nya akan reda kalau di obati, kalau tidak di obati nanti luka nya infeksi." Jelas Narendra dengan lembut.
__ADS_1
"Baiklah, tapi jangan menatap ku seperti itu, Mas."
"Memang nya kenapa, sayang?" Tanya Narendra. Dia tidak sadar kalau ternyata tatapan nya itu membuat istri nya sendiri ketakutan.
"A-aku takut, Mas.."
"Maafkan aku, sayang. Aku hanya khawatir dengan keadaan mu, maaf."
"Tidak apa-apa, tapi jangan menatap ku seperti itu ya?"
"Iya, kalau kamu tidak berbuat salah maka aku tidak akan menatap mu seperti itu lagi." Jelas Narendra. Ayunda pun menganggukan kepala nya, sebisa mungkin dia tidak akan berbuat kesalahan. Dia takut dengan tatapan suami nya, jangan sampai dia melihat kemarahan sang suami. Baru tatapan tajam nya saja sudah membuat nya ketakutan, apalagi kalau pria itu marah? Bisa-bisa dia pingsan saking takut nya.
"Sayang, kepala Mas pusing ini." Ucap Narendra, setelah dia selesai membalut luka di jari sang istri dengan plester.
"Pusing? Yaudah, sini aku pijit." Jawab Ayunda dengan polos nya.
"Apa nya? Terus di masukin kemana?"
"Kepala nya di masukin, sayang." Jawab Narendra, membuat Ayunda mengernyit. Dia masih belum paham dengan apa yang di maksud oleh suami nya.
"Apa sih? Gak jelas banget deh kamu, Mas."
"Yaudah, ayo aku jelasin di kamar." Jawab Narendra.
"Lho lho, tunggu dulu. Kok ke kamar? Mau ngapain?"
__ADS_1
"Jelasin dong, sayang. Apalagi, tadi kata kamu aku gak jelas."
"Tapi kan bisa disini aja, Mas."
"Gak mau, maunya di kamar." Jawab Narendra.
"Emang disini ada kamar, Mas?" Tanya Ayunda membuat Narendra terkekeh.
"Ada, tempat aku beristirahat kalau sudah capek sama kerjaan." Jawab Naren, dia pun menggendong sang istri ke kamar rahasia nya.
"Mas.." Panggil Ayunda, perasaan nya berubah tidak enak saat melihat pria itu mengunci pintu kamar rahasia itu.
"Iya, kenapa sayang?"
"Kamu mau ngapain?"
"Kan aku udah bilang sama kamu tadi, kepala aku pusing."
"Kepala pusing tapi kenapa harus di kamar, Mas?" Tanya Ayunda lagi. Narendra berjalan mendekat sambil membuka jas yang dia kenakan dan menyimpan nya di kursi agar tidak kusut nanti saat dia mengenakan nya lagi.
"Harus di kamar dong, soalnya kalau di ruangan tadi, nanti kamu nya malu kalo tiba-tiba ada orang yang masuk."
"Kan cuma di pijit doang, Mas." Ucap Ayunda.
"Maksud aku, kepala bawah yang pusing." Jawab Narendra membuat Ayunda membulatkan mata nya. Benar, itulah yang di maksud oleh Narendra. Ternyata Ayunda baru menyadari kalau suami nya itu punya dua kepala, atas dan bawah. Gilaa, kenapa dia baru menyadari nya? Kalau sudah begini, bagaimana cara nya dia kabur?
__ADS_1
......
🌻🌻🌻🌻