
"Maaf, Tuan. Tapi wajah saya penuh akan kejujuran." Jawab Mark sambil tersenyum kecil, dia menatap wajah sang atasan dengan mata yang menyipit karena senyuman nya.
"Jadi, ada masalah apa di kantor?" Tanya Arvin, dia menyedekapkan kedua tangan nya di dada. Mark melirik ke arah Narendra, setelah melihat pria itu mengangguk, barulah Mark berani bicara.
"Ada kebocoran data, Tuan. Dan seperti nya orang yang meretas sistem penting di perusahaan telah menjual informasi pada orang luar, karena ada orang luar yang tidak ada sangkut pautnya dengan perusahaan mengetahui hal ini bahkan menawarkan sebuah tawaran pada Tuan Naren." Jelas Mark panjang lebar.
"Jadi, saham perusahaan merosot?"
"Iya, Tuan. Saham perusahaan turun sebanyak 30 persen, penurunan nya terlihat sangat signifikan." Jawab Mark membuat Arvin menggelengkan kepala nya. Dia tidak habis dengan putra nya. Kenapa bisa dia menyembunyikan hal sebesar ini dari nya? Hal ini sangat beresiko.
"Kau sudah menyelidiki siapa dalang di balik ke kacauan ini, Mark."
"Saya sudah menemukan nya, tapi saya tidak bisa bicara disini, Tuan." Jawab Mark membuat Arvin mengernyitkan kening nya keheranan. Memang nya kenapa kalau bicara disini?
"Mark.."
"Mari kita bicara di ruang kerja." Ajak Narendra. Dia paham benar dengan ucapan sang asisten, pasti nya pria itu khawatir kalau ada maid yang menguping pembicaraan dan itu akan mempersulit keadaan nantinya. Bagaimana jadinya jika maid itu menguping dan memberitahukan semua nya pada si biang keladi nya, bisa-bisa wanita itu kabur atau berbuat sesuatu untuk menghapus bukti-bukti yang sudah di dapatkan. Itu akan menyulitkan, terutama bagi Mark yang sudah bekerja keras untuk mengumpulkan semua nya.
Semua nya pun beranjak dari duduknya dan pergi ke ruangan kerja, disana mereka bisa bebas membicarakan apapun karena ruangan itu sudah di pasang alat peredam suara, jadi sekeras apapun orang bicara di dalam sana, tidak akan bisa terdengar dari luar.
Kenapa Arvin memasang alat itu di ruang kerja, jawaban nya simpel karena dulu dia dan istrinya suka bermain di ruang kerja, saat masih muda dulu.
Semua nya duduk di sofa yang melingkar, disini semua nya bersikap biasa. Bahkan Narendra dan Ayunda terlihat lengket seperti perangko, mereka duduk tanpa jarak bahkan tangan Narendra langsung menggenggam tangan sang istri.
Saat itu juga, Mark paham dengan apa yang di lakukan oleh pasangan bucin itu. Mereka pasti berdrama agar mata-mata di mansion itu tidak curiga dan besar kepala karena merasa rencana nya berjalan lancar.
"Ternyata anda peka juga.."
"Hmm, tentu saja, Mark."
"Ada apa ini?" Tanya Arvin membuat kedua nya kompak menggelengkan kepala nya.
"Jadi, bisakah kau bicara sekarang?"
"Jadi.." Belum juga Mark bicara, suara nyaring yang berasal dari ponsel nya itu membuat fokus mereka terbagi.
"Sebentar, Tuan. Saya angkat telepon dulu.." Izin Mark, semua nya pun menganggukan kepala nya. Mark merogoh ponsel nya dan mengangkat telepon nya.
"Hallo, dokter.."
'Hasil tes laboratorium nya sudah keluar, hasilnya susu itu fositif mengandung obat penggugur kandungan sosis tinggi, Tuan.'
"Jadi semua nya benar? Lalu, bagaimana dengan kehamilan nya? Apa tidak akan terganggu?" Tanya Mark dengan raut wajah khawatir. Narendra menatap ke arah Mark, sedangkan Mark menatap sendu ke arah Ayunda yang sedang mengusap perut nya.
'Masih aman, asal tidak mengkonsumsi obat itu lagi maka semua nya aman.' Jelas dokter itu membuat Mark menghela nafas dengan lega.
"Kirim hasil laboratorium nya kesini, dok. Kebetulan, disini sudah ada Tuan Arvin dan Nyonya Melisa, saya tidak bisa menahan nya lebih lama lagi."
'Baik, aku akan mengirimkan nya melalui kurir sekarang.'
"Bungkus serapih mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan, anda paham bukan?" Tanya Mark dan dokter itu langsung mengiyakan. Setelah nya, sambungan telepon nya pun selesai, Mark meletakan ponsel nya di atas meja yang ada di tengah-tengah.
"Ada apa, Mark?"
"Kita bahas yang mana dulu, Tuan? Dalang dari bocor nya data perusahaan atau masalah di rumah?" Tanya Mark.
"Di rumah?" Tanya Melisa dengan ekspresi terkejut nya, bagaimana tidak terkejut? Dia menyangka semua nya baik-baik saja, karena saat dia pulang ke rumah, keadaan nya masih sama seperti terakhir kali dia meninggalkan rumah besar nya ini, hanya saja suasana nya yang agak sedikit berbeda di banding biasa nya.
"Bahas perusahaan saja dulu.."
__ADS_1
"Baiklah, jadi dalang dari semua ini adalah Trisa. Saya sudah memastikan nya dan penghianat di perusahaan juga sudah berada di balik jeruji besi saat ini." Jelas Mark membuat kedua mata Arvin membulat.
"Astaga, wanita itu lagi. Kenapa dia seolah gak ada habisnya bikin onar sih?"
"Nama nya juga biang masalah, Tuan." Celetuk Mark sambil terkekeh pelan, namun dia melirik sekilas ke arah Narendra yang tidak bereaksi apapun saat mendengar ucapan nya. Dia benar-benar terlihat tidak peduli lagi, baginya topik pembicaraan ini cukup membuat nya muak tapi mau tidak mau juga harus tetap di bahas karena wanita itu adalah dalang dari semua kekacauan yang terjadi.
"Wanita itu dimana sekarang?"
"Anak buah Tuan Naren mengikuti nya kemana pun, namun dia tidak bisa pergi jauh karena paspor nya sudah di blokir." Jelas Mark. Narendra saja menganga di buatnya, dia tidak menyangka pekerjaan Mark sudah sejauh ini. Gila, asisten nya memang paling bisa di andalkan. Hebat!
"Siapa yang memblokir paspor model go internasional seperti Trisa?"
"Ehem, saya tuan." Jawab Mark membuat Arvin bertepuk tangan. Dia kagum dengan kinerja Mark yang menurut nya sungguh luar biasa.
"Hebat, Mark."
"Terimakasih, Tuan. Kalau bisa, bilangin sama Tuan Naren buat naikan gaji saya, hehe." Ucap Mark sambil tersenyum kecil.
"Nah, dengar kan? Naikan gaji nya dua kali lipat, Naren."
"Tentu saja, Pi." Jawab Narendra. Dia tersenyum pada Mark, sedangkan Mark sudah kesenangan sendiri karena dia naik gaji.
"Lalu, masalah saham yang anjlok?"
"Itu sudah di atasi oleh Tuan Naren, Tuan besar."
"Syukurlah, aku khawatir kalau sampai perusahaan itu bangkrut." Lirih Arvin. Dia ingat benar, bagaimana susah payah nya dia mempertahankan perusahaan itu, membesarkan nama Sanjaya group agar bisa berdiri megah seperti sekarang. Dia tidak bisa melihat kalau nanti perusahaan itu gulung tikar karena ulah orang yang tidak bertanggung jawab.
"Naren gak bakalan biarin hal itu terjadi, Pi. Naren sama Mark pasti cari solusi terbaik agar perusahaan itu tidak bangkrut."
"Baguslah, papi percaya sama kalian berdua." Ucap Arvin. Narendra dan Mark adalah partner yang serasi. Satu nya terkadang ceroboh dan satunya lagi ambisius. Dia selalu bekerja keras kapanpun, selain itu Mark juga bisa di andalkan dan pekerjaan nya selalu beres apapun itu di waktu yang tepat.
"Ada baiknya mungkin saya menceritakan semua nya dari awal ya, Nyonya?"
"Ya, aku akan mendengarkan semua nya, Mark." Jawab Melisa, wanita paruh baya itu menatap khawatir ke arah Mark.
"Begini, hari itu ada kejadian tidak mengenakan di rumah sakit, dimana Nona Ayunda mendapati Tuan Narendra tengah anu bersama Trisa, semua itu jebakan. Semua nya adalah rencana jahat dari wanita itu. Lalu, Nona Ayunda pulang dan baru saja sampai di rumah bersama supir, Tuan di kabari kalau Nona Ayunda kembali mengalami pendarahan."
"Hah? Kamu pendarahan lagi, sayang?" Tanya Melisa pada Ayunda, menantu nya itu menganggukan kepala nya.
"Astaga, kamu kenapa lagi, sayang? Kamu melakukan aktivitas apa selama Mami tinggal hmm? Kamu kecapean lagi?"
"Sebentar, Nyonya. Maaf saya memotong ucapan Nyonya. Jangan menyalahkan Nona Ayunda, karena pendarahan ini tidak wajar."
"Maksudmu?"
"Tidak wajar, Nyonya. Jadi saya datang kesini dan bicara bersama dokter Hendra. Beliau mengatakan kalau semua ini cukup janggal, begitu juga saya. Saya merasa ada yang tidak beres dengan rumah ini, Nyonya." Jelas Mark membuat Melisa dan Arvin terdiam, mereka fokus menyimak penjelasan asisten putra nya.
"Jadi, kami melakukan penyelidikan sendiri tanpa sepengetahuan Tuan Naren, tapi saya yakin kalau Tuan Naren pasti juga merasa ada yang tidak beres di rumah ini terutama dengan keadaan Nona Ayunda."
"Saya datang kesini pagi-pagi dan meminta susu kehamilan yang akan di berikan pada Nona Ayunda pagi itu dan memindahkan nya ke dalam botol dan membawa nya ke rumah sakit untuk di cek laboratorium." Jelas Mark membuat semua orang terhenyak mendengar penjelasan yang keluar dari mulut pria dewasa itu.
"Mark, tidak mungkin.."
"Maaf, tapi ini benar. Kandidat yang saya curigai adalah maid bernama Mona."
"Tidak mungkin Mona, Mark.." Lirih Melisa, dia tidak percaya kalau Mona adalah pelaku nya karena dia sendiri yang menunjuk Mona sebagai maid yang dia percayai untuk merawat dan menyiapkan semua keperluan menantu nya.
"Tidak semua orang bisa di percaya, Nyonya. Sebaiknya, jangan terlalu percaya pada siapapun. Kita tidak tahu seperti apa hati manusia." Jelas Mark membuat Arvin mengangguk. Ucapan Mark benar, sangat benar.
__ADS_1
"Apa yang di katakan Mark benar, Mi."
"Mami tahu, tapi rasanya masih agak sedikit shock, Pi."
"Papi paham kok, Mi. Menyakitkan sekali di hianati oleh orang yang kita percayai." Jelas Arvin sambil menepuk-nepuk pundak sang istri.
"Jadi, bagaimana hasil tes laboratorium nya, Mark?"
"Mungkin kalian akan shock mendengar nya, saya harap kita bisa mengatasi ini semua dengan kepala dingin. Kita tidak bisa bertindak gegabah, karena kita tidak tahu di bawah perintah siapa dia melakukan hal ini, meskipun saya sudah yakin kalau dalang dari semua ini adalah orang yang sama." Jelas Mark membuat Arvin tidak bisa menahan emosi nya, dia mengepalkan tangan nya dengan erat hingga buku-buku tangan nya memutih dan wajah nya memerah padam menahan amarah.
"Hasilnya apa? Katakan, Mark!"
"Hasilnya fositif obat penggugur kandungan dengan dosis tinggi, Tuan." Jawab Mark lirih. Benar, semua orang di dalam sana shock. Benar-benar shock. Sungguh, mereka tidak menyangka kalau penyebab kehamilan Ayunda yang lemah adalah obat itu.
"Sebenarnya, kandungan Nona Ayunda tidak lemah, tapi karena di cekoki obat penggugur kandungan jadi kehamilan Nona Ayunda menjadi lemah. Obat itu di campur dengan susu kehamilan yang selama ini di minum oleh Nona Ayunda."
"Ya Tuhan, apalagi ini.." Lirih Narendra sambil menjambak rambutnya sendiri. Sungguh, dia menyesal karena dia kurang peka. Pria itu menangis dan langsung memeluk istrinya.
"Beruntung, semua nya cepat di ketahui. Kalau tidak, ini sangat membahayakan. Bagi janin yang di kandung Nona Ayunda, jelas itu sangat membahayakan. Tapi nyawa Nona Ayunda juga di pertaruhkan, selain itu rahim Nona Ayunda juga bisa saja rusak karena obat ini sangat keras." Jelas Mark lagi, membuat Arvin menggelengkan kepala nya dengan lemah.
Sedangkan Melisa sudah menangis dengan emosional, sungguh dia tidak menyangka hal ini terjadi di rumah nya yang selama ini dia kira menjadi tempat yang paling aman bagi Ayunda. Tapi rupanya, tempat ini adalah sumber penderitaan bagi wanita itu. Padahal, dia tidak bersalah sama sekali dalam hal apapun, tapi kenapa selalu Ayunda yang di jadikan korban dan sasaran kejahatan?
"Maafkan mami, sayang. Mami merasa gagal jagain kamu sama cucu Mami, maaf.."
"Tidak, Mami. Ini bukan kesalahan Mami, percayalah kalau Ayu baik-baik saja."
"Kamu terlalu baik, sayang."
"Satu lagi, di rumah ini ada sedikit ketidak adilan, Nyonya." Ucap Mark lagi membuat Melisa menatap wajah Mark yang terlihat sangat serius.
"Apa lagi, Mark?"
"Maya, salah satu maid di mansion ini mengalami ketidak adilan. Dia belanja sendirian, tanpa di dampingi supir dan itu sudah terjadi sejak sebulan lalu saat dia masuk ke rumah ini, Nyonya dan Tuan."
"Saat saya menanyakan kenapa tidak di dampingi supir, jawaban nya adalah Mona tidak memperbolehkan." Jelas Mark membuat Melisa lagi-lagi terlihat shock. Benar-benar shock, ternyata di rumah ini selalu terjadi hal semacam ini.
"Kau serius?"
"Saya sangat serius, Tuan. Itulah alasan nya kenapa saya datang bersama Maya tadi."
"Astaga, apa semua ini. Terlalu mengejutkan untuk ku.." Gumam Melisa sambil menggelengkan kepala nya.
"Aku juga sangat terkejut dengan hal ini, Mami.."
Tak lama kemudian, terdengar suara pintu di ketuk dari luar. Mark segera beranjak dari duduknya untuk membuka pintu itu dan setelah melihat apa yang di bawakan oleh seorang bodyguard, dia menerima nya dan langsung menutup pintu nya kembali, tanpa membiarkan bodyguard itu mengintip ke dalam.
"Maaf, ini adalah hasil tes laboratorium yang di kirimkan dokter Hendra." Mark memberikan hasil tes itu pada Arvin, pria paruh baya itu membuka dan membaca selembar kertas berisi pernyataan kalau susu yang di berikan oleh maid itu memang fositif mengandung obat berbahaya dengan kadar yang melebihi dosis.
Arvin menggeretakan gigi nya, dia benar-benar marah saat ini. Sungguh demi apapun, dia akan terlihat seperti orang lain ketika sedang marah. Dia tidak bisa membiarkan masalah ini berlarut-larut. Dia harus segera menyelesaikan semua nya, kalau bisa sekarang juga!
"Bereskan semua nya, Mark."
"Baik, saya akan menyelesaikan yang di kantor."
"Aku yang akan mengurus sisa nya disini, pastikan wanita itu berada di tempat seharusnya!" Tegas Arvin dan langsung di angguki oleh Mark. Pria itu selalu sigap dalam menjawab perintah, itulah yang Naren dan Arvin sukai dari sosok Mark.
'Bersiaplah untuk kehancuran mu, Trisa. Kau mengusik keluarga ku, artinya kau siap dengan semua konsekuensi nya. Lihat saja, aku yakin kau akan menangis darah di depan ku!' Batin Arvin. Dia benar-benar membenci wanita itu, sudah dari awal dia tidak menyukai wanita itu dan sekarang kelakuan nya benar-benar membuatnya muak.
.......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻