Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 145 - Bermain Salju


__ADS_3

"Mark.." Panggil Narendra. Mark yang baru saja akan bersiap untuk masuk ke ruangan nya pun berbalik.


"Iya, Tuan. Ada apa?" Tanya Mark sambil tersenyum kecil.


"Maaf, aku tahu kau masih pengantin baru. Tapi, aku harus pergi selama beberapa hari." Ucap Narendra membuat kening Mark berkerut. 


"Kemana, Tuan?"


"Aku akan pergi menjenguk kakek ke Amerika, sekalian bulan madu. Kali aja, pulang dari Amerika, istriku sudah hamil lagi."


"Berapa lama, Tuan?" Tanya Mark lagi. Dia akan kewalahan kalau menghandle semua nya sendirian dalam waktu lama. 


"Mungkin tiga hari, tapi jaga-jaga kalau aku betah disana, paling sampai satu Minggu." Jawab Narendra. Mark menghembuskan nafas nya lega, hanya satu Minggu. Dia masih sanggup, tapi kalau ada yang membantu dia akan merasa sangat senang. 


"Baiklah, Tuan. Kapan anda akan berangkat kesana?" 


"Besok, aku akan pergi."


"Baiklah, Tuan. Hati-hati di jalan dan kembali lah dengan selamat, semoga Tuan Darren semakin membaik." Ucap Mark. Narendra tersenyum, sudah dia duga kalau Mark akan menyanggupi nya. Kalau pun dia tidak sanggup, dia bisa apa? Menolak? Tidak mungkin. 


"Ya, semoga saja, Mark. Kau butuh asisten? Aku akan memanggil orang yang hari itu menggantikan peran mu sementara, Mark." 


"Kalau dia tidak keberatan, boleh-boleh saja, Tuan." Jawab Mark. 


"Baiklah, aku akan menghubungi nya nanti. Hari ini, kalau ada berkas penting yang membutuhkan tandatangan ku, selesaikan semua, Mark."


"Baik, Tuan. Besok, apa saya harus mengantarkan anda ke bandara?" Tanya Mark pelan.  


"Boleh, kalau kau bersedia."


"Tentu saja, Tuan. Saya akan mengantarkan anda ke bandara esok hari." Jawab Mark. Narendra pun menganggukan kepala nya. 


Keesokan hari nya, suasana di mansion Sanjaya sedikit ramai dari biasa nya. Hari ini adalah hari keberangkatan keluarga itu ke Amerika. Semua anggota keluarga Sanjaya ikut kesana, termasuk Ayunda. Dia terlihat sangat antusias sekali, dia senang karena akan pergi ke luar negeri dan ini adalah pertama kali nya dia akan naik pesawat. 


"Kamu terlihat sangat bahagia, sayang." Ucap Narendra pada istrinya. 


"Iya, Mas. Aku bahagia dong karena mau naik pesawat, hehe." Jawab Ayunda sambil tersenyum manis. Narendra terkekeh, lalu mengacak rambut istrinya dengan gemas. 


"Cuman mau naik pesawat lho, apa aneh nya sih naik pesawat? Cuma duduk doang, gak kerasa apa-apa juga. Rasanya hampir sama kayak naik mobil." Jawab Narendra sambil tersenyum.


"Ya, tetep aja aku penasaran kalo belom ngerasain sendiri, Mas."


"Yaudah, jangan jauh-jauh dari aku ya."


"Iya, Mas." Jawab Ayunda. Dia menggelayut manja di lengan suami nya. 


"Selamat pagi, Tuan dan Nona muda." Sapa Mark dengan ramah. Dia membungkukan setengah badan nya saat melihat Naren dan Ayunda keluar dari mansion. Di belakang nya, ada pasangan Arvin dan Melisa yang juga sudah siap untuk pergi. 


"Pagi, Mark." 


"Berangkat sekarang, Tuan?" Tanya Mark. 


"Iya, kita flight jam sembilan pagi." Jawab Narendra.


"Baiklah, Tuan. Silahkan." Mark membukakan pintu mobil nya, hari ini ada dua mobil yang akan mengantarkan keberangkatan mereka ke bandara. 


"Terimakasih, Mark."


"Sama-sama, Nona." Jawab Mark. Dia pun menutup kembali pintu mobil nya dengan perlahan. Pria itu pun masuk dan duduk dengan nyaman di kursi kemudi. Dia menyalakan kendaraan nya, lalu mulai melajukan nya menjauhi mansion dengan kecepatan rata-rata. 


Di bangku penumpang, Ayunda terlihat gugup. Dia memang antusias karena akan naik pesawat dan untuk pertama kalinya dia akan pergi ke luar negeri. Dulu, dia memang memiliki cita-cita untuk pergi liburan ke luar negeri. Dia ingin pergi ke Jepang dulu, tapi sekarang dia tidak ingin pergi kemana pun. Padahal kalau dia ingin, Naren bisa saja mewujudkan keinginan nya. 


"Sayang, wajah kamu pucat. Kenapa? Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Narendra pada sang istri.


"Aku baik-baik saja, hanya merasa sedikit gugup saja, Mas." 


"Hahaha, gugup? Jangan seperti itu, sayang."

__ADS_1


"Tetap saja rasanya gugup, karena ini yang pertama kali nya, Mas." Jawab Ayunda sambil terkekeh pelan. 


"Baiklah, takkan terjadi apa-apa. Rasanya naik pesawat juga sama seperti naik mobil kok."


"Pasti ada perbedaan nya, Mas." 


"Iya-iya, sayangku." Jawab Narendra. Dia pun merangkul pundak sang istri dengan mesra. 


Hanya membutuhkan waktu satu jam saja hingga mereka sampai di bandara. Mark langsung membawakan barang bawaan sang atasan berupa koper dan beberapa tas juga di tangan nya. Narendra juga membawa tas berisi pakaian sang istri di tangan nya. 


"Mark, aku titip perusahaan padamu. Orang yang aku suruh untuk membantu mu sudah di perusahaan sekarang, kau bisa langsung bekerja setelah ini." Ucap Naren.


"Baik, Tuan."


"Aku pergi dulu."


"Iya, Tuan. Hati-hati di jalan, semoga penerbangan anda baik-baik saja."


"Aku pergi dulu, Mark. Sampai jumpa." Ucap Narendra. Mark pun menganggukan kepala nya, dia membungkukan setengah badan nya seperti biasa. Mata nya terus menatap punggung Narendra yang hilang di balik pintu masuk bandara. Mark merasa ada sedikit perasaan tak enak di hatinya saat ini, dia mengusap dada nya yang terus berdebar.


'Astaga, ada apa ini? Semoga anda baik-baik saja, Tuan. Saya berharap anda mendarat dengan selamat, juga pulang kesini dalam keadaan baik-baik saja.' Batin pria itu. Dia pun berbalik lalu pergi dari bandara menuju ke perusahaan, mau bagaimana pun dia harus tetap bekerja sekarang karena saat ini, dia yang bertanggung jawab dengan perusahaan karena Narendra menitipkan perusahaan padanya, selama dia pergi ke Amerika untuk sementara waktu.


Tak lama kemudian, Mark pun sampai di perusahaan. Dia berjalan dengan langkah tegap nya, dengan kedua tangan yang di masukkan ke dalam saku celana bahan nya. Dia mengangguk ketika tak sengaja berpapasan dengan karyawan lain dan merekabmenyapa dirinya dengan ramah. 


"Selamat pagi, Tuan." Sapa seseorang yang terlihat agak asing, dia berdiri di dekat ruangan Narendra.


"Pagi kembali, siapa kau?" Tanya Narendra pelan. 


"Aku Ardian, pria yang akan membantu anda mengerjakan pekerjaan selama Tuan Naren pergi." Jawab pria bernama Ardian itu.


"Ohh ya, baiklah. Ayo masuk, Ardian."


"Panggil saja aku Ardi atau Dian." Ucap Ardian sambil tersenyum.


"Baiklah, Dian. Ikut aku, ada banyak sekali pekerjaan yang harus kita kerjakan."


Di lain tempat, Ayunda terlihat sangat antusias. Dia masih baik-baik saja saat ini, dia juga masih antusias melihat awan di langit sana. 


"Awan nya cantik sekali, Mas." Tunjuk Ayunda. Kebetulan, Ayunda duduk di dekat jendela. Di samping nya, ada Narendra yang juga duduk sambil menggenggam tangan sang istri dengan erat. 


"Iya, tapi kasian awan nya insecure." Ucap Narendra sambil tersenyum kecil.


"Lho, kenapa? Kok insecure sih." Tanya Ayunda dengan polos, dia tidak tahu kalau ucapan suami nya itu merupakan sebuah gombalan. 


"Karena kalah cantik nya sama istriku ini." Jawab Naren sambil tersenyum. Sontak saja, Ayunda mendelik ketika mendengar jawaban suaminya. Kalau saja dia tahu kalau ini hanya gombalan nya saja, dia pasti takkan menanggapi nya seserius tadi. Narendra pun merangkul pundak sang istri dengan mesra.


"Tidur ya, masih lama lho ini."


"Iya, Mas. Bawaan nya kok ngantuk ya.." Jawab Narendra.


"Iya, tidur aja. Nanti Mas bangunin kalau udah mau sampai ya?"


"Oke, Mas." Jawab Narendra sambil tersenyum. Ayunda pun meletakan bantal leher agar dia tidur lebih nyaman. Pria itu mengusap-usap kepala istrinya, hingga akhirnya Ayunda tertidur lelap dengan kepala yang bersandar manja di pundak suami nya. 


Narendra memilih untuk tidur juga, sekedar mengistirahatkan mata nya. Dia pun menutup mata nya, dia juga tertidur dengan lelap, sama seperti Ayunda. Kedua nya tertidur, begitu juga Arvino dan Melisa di bangku belakang, mereka juga tertidur sementara menunggu waktunya landing, karena memerlukan waktu berjam-jam untuk mereka sampai ke negara tujuan. 


Singkat saja, akhirnya pesawat yang mereka tumpangi pun landing dengan selamat. Narendra menggandeng lengan sang istri yang mengeluh pusing, lagi-lagi dia mabuk. Namun, mabuk pesawat ini dia tidak muntah-muntah, hanya pusing dan mual saja.


"Mas.."


"Sabar ya, kita pulang ke rumah uncle Sam, terus kita istirahat disana."


"Naik mobil, Mas?" Tanya Ayunda dan Naren mengangguk mengiyakan. Tentu saja naik mobil, di negara seperti ini mana ada ojek online kan? Kalau taksi sih masih banyak. 


"Iya, sayang."


"Aduh, membayangkan nya saja sudah membuat aku mual, Mas."

__ADS_1


"Terus gimana dong, yang."


"Gapapa, paling muntah-muntah." Jawab Ayunda dan benar saja, Ayunda muntah-muntah parah saat mobil baru saja melaju beberapa meter meninggalkan kawasan bandara. Samuel yang mengemudikan kendaraan nya itu pun memutuskan untuk berhenti sejenak. 


"Ren, istrimu sedang hamil atau bagaimana? Kok dia bisa mabuk begini sih?"


"Gak tau aku, dia begini sejak hamil. Tapi sekarang kan dia lagi gak hamil, itu aja sih yang bikin aku heran." Jawab Narendra sambil memijat tengkuk istrinya dengan lembut. 


Dia terlihat sangat lemas sekarang, wajah nya pucat, namun perut nya masih merasa mual. Perut nya terasa di aduk-aduk karena saking mual nya. Wanita itu mengusap wajah nya yang terasa sedikit panas, wanita itu pun menyandarkan kepala nya di pundak sang suami.


"Tidur aja ya, Bby?"


"Hmm, lemes banget rasanya."


"Iya, kamu sebaiknya tidur aja ya." Jawab Narendra. Dia pun membiarkan sang istri merebahkan kepala nya di paha nya, Narendra terus saja mengusap-usap kepala sang istri dengan lembut. Sungguh, melihat istrinya seperti ini selalu membuat nya tidak tega.


"Jalan lagi, Ren?"


"Iya, melaju perlahan saja."


"Baiklah." Jawab Samuel. Pria itu pun kembali melajukan kendaraan roda empat nya itu dengan kecepatan rata-rata. Pria itu menatap lurus ke depan, cuaca di negeri ini terasa dingin karena memasuki musim dingin. Sebentar lagi akan musim salju. 


"Kalian membawa pakaian hangat?"


"Bawa, Paman. Aku mendapatkan informasi kalau disini sedang musim dingin."


"Iya, paling nanti malam juga hujan salju." Jawab Samuel sambil tersenyum kecil.


"Salju? Ayu pengen main salju." Celetuk Ayunda. Naren terkejut bukan main, dia mengira istrinya itu tertidur. Tapi ternyata tidak, dia begitu antusias ketika mendengar kalau negara ini akan ada hujan salju.


"Iya boleh, besok ya. Sekarang, kita istirahat dulu. Besok sekalian kita ke rumah sakit jengukin kakek." Ucap Narendra sambil mengusap kepala sang istri dengan lembut.


"Aku gak sabar pengen main salju, pasti seru banget kalo kita bikin boneka salju kayak yang sering di video sama anak-anak itu lho."


"Tapi kamu kan udah gede, sayang?"


"Ya masa gak boleh sih, Mas? Aku kan pengen aja gitu, pertama kali nya kesini terus kebetulan lagi musim dingin." Jawab Ayunda sambil mengerucutkan bibir nya. Narendra mencapit bibir sang istri dengan gemas.


"Iya iya, besok kita main salju, bikin boneka salju di depan rumah Paman Sam aja ya? Disana luas dan besok pagi pasti bakalan di penuhi salju." Jelas Narendra dan Ayunda langsung menganggukan kepala nya dengan cepat. Dia sangat bahagia, sungguh demi apapun dia bahagia. Semua yang akan dia lakukan di tempat ini, semua nya pertama kali. Dari mulai naik pesawat, pergi keluar negeri, lalu kebetulan di negeri yang dia kunjungi sedang musim salju. Jadi dia bisa bermain salju seperti orang-orang yang dia lihat di video. 


Sesampai nya mereka di rumah paman Samuel, Ayunda dan Naren langsung pergi ke kamar karena Ayunda kembali mengeluh pusing. Bahkan kepala nya terasa berputar-putar saat ini, hampir saja dia limbung kalau Narendra tidak cepat menahan tubuh nya. Akhirnya, Naren pun memutuskan untuk membawa istrinya ke kamar untuk beristirahat. 


"Mas, laper.." Lirih Ayunda.


"Yuk makan, Mas suapi ya. Ini bibi masak makanan enak lho, hari ini dia masak banyak menu Indonesia." Jawab Narendra sambil tersenyum. Kedua mata Ayunda berbinar ketika melihat ikan kuah kuning yang terlihat sangat menggugah selera dan sepiring nasi putih yang masih mengepul.


"Wah, keliatan nya enak deh."


"Pasti enak, soalnya bibi pandai masak kayak Mami, sayang."


"Benarkah?"


"Iya, sayang. Meskipun ada beberapa masakan yang bibi pelajari dari Mami." Jawab Narendra. Ayunda pun hanya tersenyum, dia pun memulai makan nya dengan lahap. Begitu juga dengan Narendra, dia sengaja makan sore hari di kamar menemani istrinya.


Perjalanan yang cukup menyita waktu, berangkat pagi-pagi tapi sampai kesini saat sudah sore hari, mereka melewatkan makan siang, karena di pesawat tadi Ayunda benar-benar tidak menyentuh makanan yang di berikan pihak maskapai. Jangankan makan, perut nya terasa mual, kepala nya pusing kliyengan hingga pandangan nya buram berkunang-kunang. 


Tapi sekarang, selera makan nya sudah kembali, jadi dia bisa makan dengan lahap. Makanan yang tengah dia makan sekarang, rasanya memang persis seperti masakan Mami mertua nya. Benar, menu ini memang di pelajari dari Melisa, tentu saja rasanya akan familiar karena resep nya sama hanya berbeda orang yang memasak nya saja.


"Enak kan, sayang?"


"Iya, Mas. Enak sekali, gak kerasa kalo kita lagi di luar negeri ya? Kayak di rumah sendiri, Mas. Makanan nya juga otentik banget sama makanan yang ada di indo." Ucap Ayunda.


"Paman kan orang Indonesia, hanya saja bibi yang orang sini. Jadi wajar saja kalau disini kebanyakan menu nya pasti menu yang ada di Indonesia, karena Paman akan sangat merindukan makanan negara nya sendiri." Jelas Narendra dan di angguki Ayunda. Dia setuju dengan Narendra, tinggal jauh dari keluarga pasti akan sangat rindu kan? Makanya, sebagai obat rindu istrinya Paman Samuel sering memasak menu kesukaan Sam yaitu makanan Indonesia. Syukurlah, bibi nya sangat paham dengan apa yang di rasakan oleh Sam, dari itu dia dengan senang hati selalu memasak makanan Indonesia untuk menyenangkan hati suaminya.


......


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2