
"Mas, pelan-pelan saja.." Lirih Ayunda, saat ini pria itu sedang bermain-main di atas tubuh sang istri dengan gerakan yang cukup cepat. Membuat tubuh perempuan itu terguncang karena gerakan pria itu.
"Iya, sayang. Tahan lah sebentar lagi, aku akan segera keluar." Jawab Ayunda lirih. Perempuan itu pun hanya bisa pasrah di bawah kungkungan tubuh besar suami nya. Sungguh, kalau saja dia tidak ingat akan dosa karena menolak keinginan suami nya, dia pasti akan menolak. Tapi, dia tidak ingin menjadi istri yang durhaka karena tidak menuruti keinginan sang suami. Lagi pula, ini sudah wajar dan lumrah bagi pasangan suami istri.
"Aaarghhh.." Naren mengerang tertahan dengan kedua mata terpejam rapat, kepala nya mendongak ke atas menikmati gejolak kenikmatan yang di rasakan, lagi-lagi pria itu melepaskan kecebong milik nya di dalam rahim sang istri.
"Terimakasih, istriku sayang." Ucap Naren berbisik. Pria itu mengecup lembut kening sang istri sebagai ungkapan terimakasih karena sang istri yang sudah melayani nya dengan baik.
"Sama-sama, suamiku." Jawab Ayunda. Pria itu pun berguling ke samping sang istri dan menarik nya ke dalam pelukan. Lagi-lagi, Narendra mengecupi puncak kepala sang istri. Dia juga memeluk tubuh ramping istrinya dengan erat, sampai-sampai perempuan itu merasakan sesak.
"Sesak, Mas. Peluk nya pelan-pelan saja."
"Hmmm, maafkan Mas, sayang." Jawab Narendra sambil tersenyum kecil.
"Mas.."
"Iya, sayang. Kenapa?"
"Tadi, Ayu kan ngobrol sama Mami. Kata Mami, Ayu harus diskusi dulu sama Mas."
__ADS_1
"Diskusi tentang apa, sayang?" Tanya Naren sambil mengusap-usap puncak kepala istrinya dengan lembut.
"Tentang kehamilan, barangkali Mas mau menunda terlebih dulu atau mau langsung punya."
"Lah, gak terbalik? Harus nya Mas yang nanya kayak gitu sama kamu. Mas juga bicara sama Papi tentang hal ini kemarin." Jelas Narendra. Bukan kah ini seperti sebuah kebetulan yang memang sudah di atur? Pasangan suami istri paruh baya itu pasti punya pemikiran yang sama tentang cucu.
"Ohh ya?"
"Iya, sayang. Sekarang Mas mau tanya, kamu gimana? Mau nunda terlebih dulu atau langsung saja? Kamu siap atau tidak."
"Aku sih siap-siap saja, Mas. Kalau Mas mau nya nunda dulu yaudah, aku bakalan pakai kontrasepsi. Kalau Mas mau nya langsung punya, aku gak bakalan pakai pengaman." Jelas Ayunda membuat Naren tersenyum. Usia nya saat ini, dia rasa sudah cukup untuk memiliki anak. Bahkan, teman-teman nya sudah ada yang memiliki dua anak.
"Baiklah, semoga saja dia cepat hadir disini."
"Iya, Mas."
"Aku tidak sabar membayangkan perut kamu membuncit nanti, aaahh sangat menggemaskan pasti." Ucap Naren sambil mengusap-usap perut Ayunda dengan lembut.
"Jangan lupa ya, kalau aku ngidam harus di penuhi. Nanti adik bayi nya ileran kalau semisal ngidam nya gak keturutan." Jelas Ayunda.
__ADS_1
"Iya, sayang. Mas akan berusaha untuk menjadi ayah dan suami yang siaga buat kamu."
"Baiklah kalau begitu, aku senang mendengar nya, Mas." Jawab Ayunda sambil tersenyum kecil.
"Hmm, kalau mau cepat-cepat dia hadir berarti kita harus rajin usaha nya, sayang."
"Modus kamu tuh basi banget deh, Mas." Jawab Ayunda sambil terkekeh.
"Lho kok modus? Aku bicara kebenaran lho itu."
"Bilang aja kamu mau nambah ronde, Mas. Iya kan? Orang doyan gitu." Jawab Ayunda sambil tertawa. Begitu pun dengan Naren, dia cukup malu karena modus nya sudah ketahuan oleh istri nya.
"Jadi, oke ya? Satu atau ronde lagi."
"Terserah Mas aja, tapi jeda sebentar aja ya, Mas? Masih capek."
"Iya, sayang. Lima belas menit lagi ya, Mas mau nongkrong dulu di kamar mandi. Mules, hehe." Jawab Naren sambil terkekeh, begitu juga Ayunda. Dia pun melerai pelukan nya di tubuh polos sang istri dan pergi ke kamar mandi dengan setengah berlari.
.......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻