
Hening. Taman kota yang terlihat ramai oleh pasangan muda mudi yang menikmati malam bersama orang terkasih, namun tidak dengan kedua insan yang kompak saling terdiam, ya Mark dan Maya. Kedua nya sedang duduk di sebuah bangku taman, di temani dengan air mancur yang di kelilingi oleh lampu berwarna warni, indah sekali.
"Maya.."
"I-iya, ada apa?" Tanya Maya lirih, jujur saja dia canggung saat ini. Duduk berdampingan dengan Mark saja sudah membuat nya minder.
"Bagaimana pendapat mu?"
"Pendapat apa nya?" Tanya Maya lagi, dia melirik sekilas ke arah Mark lalu kembali menatap lurus ke depan, dimana ada beberapa wahana disana.
"Tentang pertanyaan ku tadi."
"Hmm.."
"Hanya seperti itu saja? Aku serius lho, May."
"Sebaiknya tidak, Tuan."
"Kenapa?"
"Anda bisa mendapatkan yang lebih baik dari pada saya." Jawab Maya lirih, membuat Mark mengernyitkan kening nya.
"Kamu sudah cukup baik untuk ku, May."
"Tidak, kita berbeda, Tuan. Aku hanya seorang pelayan."
"Aku tidak melihat perbedaan di antara kita, Maya. Kita sama-sama manusia dengan jenis yang berlainan, itu saja perbedaan kita, May." Ucap Mark. Maya menatap Mark dengan senyum kecilnya.
"Saya tidak pantas bersanding dengan anda, jadi sebaiknya setelah ini kita melanjutkan hidup masing-masing."
"Maya.."
"Saya tidak ingin di cap sebagai perempuan yang numpang hidup pada anda."
"Tidak akan ada yang mengatakan hal seperti itu, Maya."
"Tetap saja, kita berbeda, Tuan." Jawab Maya kekeuh dengan jawaban nya membuat Mark terdiam. Harusnya malam ini menjadi malam yang membahagiakan, ini adalah pertama kalinya dia jatuh cinta pada seorang wanita. Namun ternyata, kenyataan memang tidak seindah khayalan. Ternyata Maya menolak dirinya dengan alasan karena mereka berbeda, padahal bagi Mark, dia tidak melihat adanya perbedaan antara dirinya dan Maya.
"Maya, kamu tidak ingin berusaha meyakinkan hatimu bersama ku?"
"Saya tidak yakin hubungan ini akan berakhir baik, jadi sebaiknya kita tidak saling menyakiti lagi. Saya khawatir, kalau nanti saya sudah jatuh hati, ternyata mengecewakan."
"Apakah tidak ada harapan untuk kita berdua?"
"Rasa sakit itu timbul dari sebuah harapan, Tuan. Jadi, jangan menyakiti hati anda sendiri dengan berharap pada saya." Jawab Maya yang membuat hati Mark terasa sakit sekali rasanya.
"Kamu yakin tidak ingin berjuang terlebih dulu bersama ku?"
"Berjuanglah dengan wanita lain yang lebih layak, Tuan dan itu bukan saya."
"Kenapa kamu mengatakan hal seperti itu, Maya? Aku mencintai mu dan aku yakin kamu juga begitu, benarkan?"
"Perasaan saya tidaklah penting, karena saya sadar diri, Tuan. Siapa saya dan siapa anda, perbedaan kita terlalu jauh."
"Aku tidak melihat adanya perbedaan antara kita, Maya." Lirih Mark yang membuat Maya melirik Mark dengan senyuman kecil.
"Maaf, tapi pandangan kita mungkin berbeda, Tuan."
"Maya, apa yang membuat mu seperti ini? Kita harus memperjuangkan cinta kita, aku mohon." Bujuk Mark, dia menggenggam kedua tangan sang gadis dan mengusap-usap punggung tangan gadis itu dengan lembut.
"Jawaban saya masih sama, karena kita berbeda, Tuan."
"Berbeda di bagian mana nya, May? Apa karena aku pekerja kantoran?"
"Ya, dari segi pekerjaan saja kita sudah berbeda. Anda mungkin berada di kalangan orang-orang yang serba berkecukupan, sedangkan saya? Hanya anak yang di buang, tidak di inginkan. Oleh karena itu orang tua saya membuang saya, namun saya masih beruntung karena bertemu dengan Nyonya Melisa." Jelas Maya membuat Mark menatap wajah cantik itu dengan sendu.
"Aku mencintaimu, Maya."
"Saya juga seperti itu, tapi kita tidak bisa bersama karena perbedaan itu." Jelas Maya.
"Kita jalani saja terlebih dulu ya?"
"Tidak perlu, hubungan yang di awali dari sebuah keraguan akan berakhir sia-sia." Jawab Maya membuat Mark gemas. Dia langsung menarik Maya ke dalam pelukan nya.
"Aku akan memperjuangkan mu, sayang."
"Jangan memperjuangkan hal yang tidak akan berakhir baik, Tuan."
"Tidak, aku yakin hubungan kita akan berakhir dengan baik, sayang. Aku yakin, kamu juga harus berpikir demikian."
"Apa aku harus percaya dengan semua ini? Kamu yakin dengan keputusan mu untuk memperjuangkan aku, Tuan?" Tanya Maya lirih di pelukan sang pria, meskipun dia tidak membalas pelukan pria itu sama sekali. Jujur saja, hatinya masih sangat ragu. Dia ragu, akan seperti apa kedepan nya? Dia takut semua nya akan berakhir dengan tak bahagia.
"Iya, kamu hanya perlu percaya padaku, Maya."
"Aku takut kalau semua nya berakhir tidak seperti yang kita harapkan, Tuan."
"Aku akan memperjuangkan kamu, maka dari itu kamu harus percaya padaku, sayang. Ya?"
"Baiklah, aku akan mencoba nya." Putus Maya akhirnya.
"Benarkah?"
"Iya, mari kita saling memperjuangkan." Jawab Maya yang membuat wajah Mark seketika berbinar.
"Terimakasih, sayang."
"Sama-sama.." Jawab Maya sambil tersenyum, Mark menangkup wajah cantik Maya dan mencium bibir gadis itu dengan mesra. Maya membulatkan kedua mata nya, dia shock dengan apa yang di lakukan oleh Mark. Harus di maklumi karena Mark sudah lama jomblo mungkin ya, jadi bawaan nya pengen nyosor mulu.
Mark masih menikmati bibir manis sang kekasih, dia tidak peduli dengan tempat dimana mereka saat ini. Dia hanya ingin meluapkan kebahagiaan nya dengan berciuman dengan Maya, meskipun gadis itu tidak membalas sama sekali.
Orang-orang disana juga terlihat acuh saja, karena hal semacam ini sudah biasa. Ciuman di tempat umum merupakan sebuah hal yang lumrah, bukan hanya Mark tapi banyak yang lain juga.
Pria tampan itu menyudahi ciuman nya, dia tersenyum lalu mengusap bibir Maya yang memerah dan basah karena ulah nya.
"Terimakasih sudah mau percaya padaku, sayang. Apa ini first kiss mu?" Tanya Mark sambil tersenyum kecil, ibu jari nya masih mengusap lembut bibir kemerahan milik Maya.
"I-iya." Jawab Maya dengan gugup, dia menundukan kepala nya menyembunyikan wajah nya yang sudah memerah seperti kepiting rebus.
__ADS_1
"Pantas saja, tapi tidak apa-apa aku lebih suka bibir yang masih orisinil seperti ini." Ucap Mark sambil tersenyum, dia juga melayangkan kecupan mesra di kening Maya.
"Astaga, kamu ini kok suka nyosor begini sih."
"Gapapa dong, sama pacar sendiri. Lagian cuma cium-cium doang, belum di ajak ngamar, hehe."
"Astaga, mesuum sekali."
"Mesuum itu bukan sebuah penyakit, sayang. Itu kan bawaan lahir, hehe. Lagian, aku mesuum gini tuh karena aku normal, sayang."
"Aihhh, iya deh terserah kamu saja." Pasrah Maya sambil terkekeh pelan.
"Mau jalan-jalan lagi, sayang?" Ajak Mark dan Maya menganggukan kepala nya, mereka pun beranjak dari duduk nya dan berjalan-jalan sambil berpegangan tangan.
"Mau makan sesuatu, cantik?" Tanya Mark, membuat wajah Maya memerah karena ucapan sang pria yang kini bisa di bilang kekasih nya.
"T-tidak.."
"Makan bakso yuk?" Ajak Mark.
"Tidak perlu, aku masih kenyang." Jawab Maya membuat Mark cemberut.
"Ayolah, nanti aku di marahin sama Nyonya Melisa kalau ajak kamu jalan-jalan tapi gak di kasih makan."
"Haha, begitu ya?"
"Iya, nanti kita gak bisa jalan-jalan lagi dong, yang."
"Ya sudah, ayo." Jawab Maya, akhirnya mereka pun makan bakso di pinggir taman kota dengan lahap. Udara nya dingin-dingin seperti ini memang cocok makan bakso yang pedas. Mark menatap Maya yang makan dengan tenang, padahal kuah nya terlihat sangat merah karena Maya menambahkan lima sendok sambel.
"Gak pedes, yang?" Tanya Mark.
"Enggak, biasa nya di tambahin lagi tapi takut sakit perut jadi cukup lima sendok aja." Jawab Maya membuat Mark melotot.
"Kurangi makan pedes ya? Gak baik buat kesehatan."
"Iya, Mas."
"Duhh, nikah aja gimana yang?"
"Lho kok mendadak ngajak nikah, Mas?" Tanya Maya membuat Mark tersenyum.
"Panggilan kamu bikin aku pengen berumah tangga, hehe." Jawab Mark lagi, sambil menyeruput es jeruk nya.
"Kamu yang minta kan di panggil Mas?"
"Hehe iya, tapi aku gak berpikir kalau panggilan Mas itu bisa membuat salah tingkah seperti ini, sayang."
"Udah jam setengah sepuluh nih, pulang yuk?" Ajak Maya. Mark menganggukan kepala nya, dia pun segera membayar dua mangkuk bakso dan juga dua gelas es jeruk yang sudah mereka habiskan. Setelah itu, Mark kembali menggenggam tangan Maya dan masuk ke dalam mobil.
"Sayang.."
"Iya, kenapa Mas?"
"Bersiaplah, lusa."
"Aku akan membawa mu bertemu orang tua ku." Jawab Mark membuat Maya tersedak ludah nya sendiri.
Uhukk.. uhukk..
"Minum, sayang. Kamu kenapa sih? Kok bisa tersedak seperti ini." Ucap Mark sambil mengulurkan botol air pada sang kekasih. Maya menerima nya dan meminum nya, setelah batuk nya mereda barulah dia angkat bicara.
"Aku kaget, Mas."
"Kaget kenapa? Suara klakson ya?"
"Bukan itu, tapi ucapan kamu."
"Ohh, lusa itu ya?"
"Iya, Mas. Apa itu tidak terlalu cepat? Aku.."
"Tidak, justru lebih cepat lebih baik bukan? Niat baik itu harus di segerakan. Kenapa?"
"Ini terlalu tiba-tiba, Mas. Aku tidak menyiapkan diriku untuk ini."
"Haha, sayang. Tenang saja, orang tua ku tidak menggigit kok. Mereka orang nya welcome kok." Jawab Mark mencoba menenangkan.
"Bukan masalah itu, Mas. Tapi aku belum siap untuk bertemu orang tua mu, bagaimana reaksi mereka nanti kalau mengetahui aku ini cuma seorang maid?"
"Orang tua ku bukan tipe orang yang suka membeda-bedakan orang lain berdasarkan level atau derajat nya, sayang. Tenang saja, kalau mereka tidak memberikan kita restu, biarkan aku memperjuangkan kamu sekali lagi, sayang."
"Kamu hanya perlu percaya padaku, percayalah semua akan baik-baik saja." Ucap Mark membuat hati Maya merasa sedikit tenang. Ya, dia memang harus percaya pada Mark. Bukankah dengan melakukan hal ini membuktikan kalau Mark memang benar-benar serius padanya? Jarang-jarang ada laki-laki seperti Mark, tidak perlu pacaran lama kalau memang sudah klop langsung seriusi saja.
"Kamu ngebet nikah ya, Mas? Hehe.." Tanya Maya sambil tersenyum kecil. Mark tergelak mendengar pertanyaan sang kekasih, dia mencubit gemas pipi gembul sang kekasih. Selain cantik, salah satu daya tarik Maya adalah pipi nya yang gembul, enak sekali untuk di cubit-cubit seperti ini. Selain enak di cubit, pipi gembul juga terlihat akan sangat menggemaskan.
"Usia ku sekarang sudah cukup untuk berumah tangga dan memiliki anak, sayang. Kamu belum siap menikah?"
"Kalau sama Mas sih, aku oke-oke aja." Jawab Maya yang membuat Mark langsung menginjak pedal rem secara tiba-tiba, membuat tubuh Maya hampir menyentuh dashboard mobil kalau semisal nya dia tidak mengenakan seatbelt.
"Astaga, Mas."
Mark membuka seatbelt nya lalu mencondongkan tubuh nya ke kursi di samping nya, Maya menjauhkan wajah nya saat merasakan hembusan nafas hangat beraroma mint itu semakin mendekat.
Tangan pria itu kembali menangkup wajah Maya dan lagi-lagi, bibir tebal nan sensual pria itu kembali menyapa bibir mungil kemerahan nya. Pria itu melumaat dan memaguut bibir Maya secara bergantian atas dan bawah. Pria itu memejamkan mata nya menikmati bibir manis sang kekasih, begitu juga dengan Maya. Dia berusaha menikmati setiap lumaatan yang di lakukan oleh Mark, perlahan dia juga mulai membalas ciuman sang kekasih.
Mark tersenyum kecil di balik ciuman nya, dia senang karena akhirnya Maya mau membalas ciuman nya meskipun masih terkesan sangat kaku, tapi tidak masalah karena Maya masih pemula. Ini adalah ciuman kedua nya, dan Mark adalah pria yang sukses mendapatkan first kiss gadis itu, bayangkan saja seperti apa senang nya Mark sekarang.
Beberapa menit kemudian, Mark melepaskan ciuman nya. Lagi-lagi, dia mengusap bibir kemerahan Maya dan mengecup nya sekilas.
"Bibir kamu manis, aku gak bakalan bosen deh cium kamu setiap hari." Ucap Mark sedangkan Maya masih gelagapan mencari oksigen. Wajah nya memerah seolah dia tidak menghirup nafas selama beberapa jam, padahal mereka hanya berciuman selama beberapa menit saja.
"Mas, kamu nyosor terus."
"Maklumin aja, hehe. Udah kelamaan jomblo, makanya kalau kita lama-lama pacaran aku takut gak kuat, sayang."
"Hmm, begitu ya?"
__ADS_1
"Iya, sayang." Jawab Mark, dia pun kembali menghidupkan mesin mobil nya dan mulai melajukan nya dengan kecepatan rata-rata. Pria tampan itu terlihat sangat fokus mengemudikan kendaraan nya dan tak lama kemudian, akhirnya mereka sampai di mansion milik keluarga Sanjaya.
Mark membukakan pintu mobil untuk Maya dan gadis itu keluar dengan langkah perlahan, jujur saja dia malu sekali. Apalagi di ambang pintu, dia melihat nyonya dan Tuan besar sedang berdiri dengan wajah datar mereka, terlihat jelas kalau mereka tengah menunggu seseorang.
"Sudah pulang hmm?"
"Hehe sudah, Tuan besar." Jawab Mark sambil tersenyum kecil.
"Lebih lima menit, Mark. Kau harus ganti rugi."
"Macet tadi, Tuan. Tapi sebagai bentuk ganti rugi nya, saya membawakan martabak manis di toko langganan anda." Ucap Mark sambil menunjukkan kresek berwarna hitam berisi satu kotak martabak manis kesukaan Arvin, yakni martabak coklat keju. Kenapa Mark mengetahui kalau itu makanan kesukaan tuan besar? Karena dia sering di titipi Narendra untuk membeli martabak di kedai itu.
"Hmm, aku terima martabak nya. Terimakasih, kau bisa pulang sekarang." Ucap Arvino sambil menerima kotak berisi martabak itu.
"Aku pulang dulu ya."
"Hati-hati di jalan nya, Mas." Lirih Maya, Mark menganggukan kepala nya dan pergi dari mansion itu dengan mengendarai mobil kesayangan nya.
"Cieee, eheemm.." Celetuk Melisa sambil pura-pura batuk untuk menggoda maid kesayangan nya itu.
"Nyonya." Rengek Maya membuat Melisa tertawa kecil.
"Ya sudah, bersih-bersih terus tidur sana."
"Terimakasih, Nyonya." Maya pun melewati Melisa dengan menundukan punggung nya dengan sopan, namun tidak di sangka wanita itu mengusap rambut nya dengan lembut.
"Tidur lah, Maya." Maya menganggukan kepala nya lalu tersenyum, setelah itu dia pun pergi ke belakang, tempat dimana para maid beristirahat.
"Cieee, Maya.." Goda salah satu teman Maya dengan senyum menggoda nya.
"Eehh, kalian belum tidur atau aku mengganggu tidur kalian ya? Aku minta maaf."
"Enggak kok, kita emang sengaja belum tidur mau tanya-tanya sama kamu."
"Tanya apa?"
"Kamu pacaran ya sama asisten nya Tuan muda?" Tanya Amel, dia adalah teman Maya di mansion ini sesama maid.
"I-iya.."
"Wahh, hebat. Dia ketemu sama kamu berapa kali, Mau?" Tanya Siti, dia juga teman Maya.
"Dua apa tiga kali ya, lupa."
"Keren banget kamu, May. Mona aja yang biasa nya caper sama Tuan Mark itu gak di lirik sama sekali lho."
"Hah, Mona?"
"Kamu gak tahu? Mona naksir parah lho sama Tuan Mark, tapi syukur nya Tuan Mark itu gak pernah nanggapin Mona." Jawab Amel.
"Ya, Tuan Mark juga suka nya yang mahal kali, kalo Mona keliatan dari tingkah nya kalau dia gatel."
"Husshh, jangan gitu. Udah, ayo kita tidur. Besok kita harus kerja kan?"
"Hehe, ayo-ayo.." Akhirnya ketiga maid itu pun beristirahat malam itu dengan lelap, namun Maya malah terbangun malam-malam. Sialnya, yang dia ingat malah ciuman Mark yang terasa membekas di bibir nya, bahkan bibir nya itu masih terasa basah karena ulah Mark tadi. Baru juga sekali kencan, udah dua kali ciuman.
"Astaga, kenapa aku malah terbayang-bayang dengan ciuman itu ya? Ya ampun, tidak mungkin kalau aku ketularan mesuum dari Mas Mark kan? Tapi kata dia kan mesuum itu bukan penyakit jadi mana ada menular ya?" Gumam Maya sambil menggelengkan kepala nya.
Di rumah Mark, pria itu sedang berbincang dengan kedua orang tua nya. Pria dewasa itu terlihat sangat ceria, berbeda dengan hari-hari biasa nya, itu membuat kedua orang tua Mark bertanya-tanya, ada apa dengan putra mereka? Maksud nya, putra angkat mereka.
Ya, Mark bukanlah anak kandung mereka. Mark adalah anak yang mereka adopsi dari panti asuhan karena Indah, ibu angkat Mark itu tidak bisa hamil karena kanker rahim membuat rahim nya terpaksa harus di angkat. Berat memang, tapi Tuhan selalu memiliki cara lain untuk memberikan hamba nya sebuah jalan keluar.
Kedua nya yang memang ingin memiliki seorang anak memutuskan untuk mengadopsi seorang anak dari panti asuhan, di pertemuan pertama kedua nya sudah jatuh hati dengan seorang anak laki-laki yang terlihat sangat tampan dan itu adalah Mark. Markus Arion Wirata adalah nama yang di berikan oleh Sandi, pria yang menjadi ayah angkat Mark.
Mark sendiri tahu kalau dia bukanlah anak kandung kedua nya karena dia sudah besar saat kedua nya mengadopsi nya, dia sudah berusia delapan tahun hari itu. Awalnya, Mark merasa canggung dan takut dengan kedua nya. Tapi saat melihat kasih sayang yang di berikan oleh orang tua baru nya membuat hati Mark akhirnya luluh dan dia juga menyayangi kedua nya akhirnya.
"Seperti nya suasana hati putra kita sedang membaik ya sekarang?" Ucap Indah sambil tersenyum pada suaminya.
"Hehe, Mama. Aku punya pacar, Ma."
"Pacar? Wah, benarkah? Siapa?"
"Tapi apa kalian berjanji akan menerima nya dengan baik?" Tanya Mark sambil menatap wajah kedua orang tua nya.
"Memang nya kenapa? Ada apa dengan perempuan itu, Boy?" Tanya Sandi dengan senyum kecil nya.
"Pacar Mark itu maid di rumah Tuan Naren, Ma, Pa."
"Maid?" Tanya Sandi membuat Mark langsung menganggukan kepala nya mengiyakan.
"Kamu tidak salah memilih, Nak?"
"Mark bahagia saat bersama nya, Pah."
"Kalau memang itu sudah menjadi pilihan kamu, kami berdua bisa apa selain merestui kalian berdua? Tidak apa-apa, mau dia maid sekali pun, asal dia wanita baik-baik, kami tidak mempermasalahkan nya." Jawab Sandi.
"Benarkah, Pah?"
"Iya, apapun akan kami lakukan asal kamu bahagia, sayang."
"Terimakasih, Papah."
"Sama-sama, Nak. Kapan kamu akan membawa perempuan pujaan hati mu kemari untuk bertemu kami?" Tanya Sandi lagi.
"Iya, Mama juga gak sabar pingin ketemu sama calon menantu Mama. Dia pasti sangat cantik, sampai mampu meluluhkan hati putra kita, iya kan Pah?"
"Iya, Ma."
"Selain cantik, dia juga memiliki hati yang sangat baik, Ma. Dia wanita yang spesial, Mark sudah langsung menyukai nya bahkan di pertemuan pertama."
"Wahh, cieee cinta pandangan pertama nih ya?" Goda Indah.
"Hehe, iya Mama." Jawab Mark. Beginilah keluarga Wirata, kedua nya selalu menyempatkan berbincang hangat sembari bercanda ria membuat suasana lebih hangat. Kedua nya sangat menyayangi putra mereka, tidak akan ada yang percaya kalau Mark adalah anak angkat, melihat kasih sayang kedua nya yang seperti orang tua kandung.
......
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1