Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 121 - Keseharian Ayunda


__ADS_3

Seminggu telah berlalu, selama itu tidak ada perkembangan dengan keadaan Kakek Darren, keadaan nya masih sama. Beliau masih di nyatakan koma, beliau masih belum menunjukkan adanya perkembangan yang signifikan dengan pria paruh baya itu. 


Beberapa hari yang lalu, Narendra juga memutuskan untuk pulang karena pekerjaan di kantor semakin menumpuk dan Mark tidak bisa menangani nya sendirian, dia tetap membutuhkan dirinya. Ada banyak berkas-berkas yang memerlukan tanda tangan dari nya. Namun, karena Narendra belum pulang dari Amerika untuk menjenguk sang kakek, jadi terpaksa lah Mark menunda nya terlebih dulu.


Dia tidak bisa sembarangan menggunakan tanda tangan nya sendiri tanpa persetujuan Narendra meskipun itu di perbolehkan. Namun, dia tidak ingin membuat Narendra kecewa dengan nya jika sembarangan membubuhkan tanda tangan. 


Dia harus menyelidiki terlebih dulu seperti apa perusahaan yang ingin menjadi rekan bisnis nya. Bisa saja perusahaan nya bermasalah, tentu nya itu patut di pertanyakan bukan? 


Pagi ini, Narendra terlihat sudah bersiap dengan setelan jas rapih nya. Dia tengah menyisir rambut nya di depan cermin yang ada di meja rias. Ayunda? Jangan tanyakan wanita itu, dia masih tertidur. Semalam, dia tidur larut malam. 


Alasan nya? Tentu saja karena bermain bersama sang suami sampai beronde-ronde untuk menyalurkan kerinduan setelah hampir lima hari mereka harus berpisah. 


Narendra berjalan pelan, setelah menyisir rambut nya dengan rapih ke belakang. Wajah pria itu terlihat berbinar-binar, tentu saja dia sangat ceria karena setelah mendapatkan jatah malam beberapa ronde semalam, hingga membuat istrinya kelelahan.


"Sayang ku, istri ku, cantiku.." Lirih Narendra sambil mengusap wajah cantik sang istri yang masih terlelap dengan nyenyak nya, tubuh nya masih polos sekarang ini, hanya tertutupi oleh selimut tebal. 


"Engh.." Wanita itu melenguuh pelan, dia pun perlahan membuka kedua mata nya. Wanita itu tersenyum kecil setelah melihat wajah tampan sang suami tepat berada di dekat wajah nya.


"Sudah bangun, sayang?"


"Hmm, sudah. Mas mau kerja?" Tanya Ayunda dengan suara serak khas bangun tidur nya. 


"Iya, kasian Mark lembur terus sampai gak ada waktu buat pacaran sama Maya." Jawab Narendra sambil mengusap-usap kepala sang istri dengan lembut.


"Aku gimana?"


"Mau ikut? Ayo, sayang."


"Aku belum mandi, Mas. Bagian bawah aku juga masih sakit." Jawab Ayunda lirih. Bukan omongan semata karena ingin di manjakan, tapi Ayunda memang masih merasakan rasa tak nyaman, pedih dan sakit di bagian sensitif nya karena permainan Naren semalam. 


"Maaf ya, apa aku terlalu kasar?" Tanya Narendra, dia pun mengusap pipi gembul istrinya lalu mencubit nya dengan gemas. 


"Pake nanya, iya lah. Kamu kasar banget semalam, aku sampe kesakitan gini. Malah main nya juga lama." Keluh Ayunda membuat Naren terkekeh pelan. Dia melakukan nya secara tidak sadar, dia terlalu bersemangat untuk menikmati tubuh sang istri setelah lima hari dia berpuasa karena harus pergi ke luar negeri melihat keadaan sang kakek. 


"Hehe maafin, soalnya kangen banget aku sama kamu, Bby." 


"Hmm, alasan.." Ucap Ayunda sedikit ketus. Semalam, dia sudah protes pada suami nya agar tidak terlalu kasar bermain nya, namun Narendra terlalu terbawa suasana, dia terlalu keenakan menikmati permainan nya dengan sang istri hingga lupa diri. Dia bermain kasar pada sang istri, namun mau bagaimana lagi tubuh sang istri terlalu candu bagi nya, apalagi setelah hamil tubuh sang istri lebih berisi membuat nya lebih kenyal dan gemoy. Jadi Narendra lebih suka tergoda untuk bermain dengan istrinya karena hal itu. 


"Habis nya kamu enak, Mom. Jangan marah.."


"Iya gapapa, aku suka kok." Jawab Ayunda yang membuat Narendra tersenyum. 


"Baby udah bangun?"


"Udah kok, barusan dia nendang begitu dengar suara papa nya." Jawab Ayunda. Pria itu tanpa ragu menyibak selimut yang menutupi tubuh istrinya, membuat Ayunda memekik pelan karena dia merasa malu saat Naren melihat tubuh polos nya. 


Malu? Tentu, dia masih merasa malu. Meskipun mereka sudah cukup lama menikah, bahkan sudah seringkali bermain hingga Ayunda hamil saat ini. Namun tetap saja Ayunda merasa malu kalau dia memperlihatkan semua nya di depan seorang pria meskipun itu adalah suami nya sendiri.


"Mas.."


"Kenapa, sayang?"


"Malu, isshh.."


"Ya kenapa harus malu, sayang? Kita sudah sering melihat tubuh masing-masing kan?"

__ADS_1


"Iya, tapi kan tetap saja rasanya kalau, Mas."


"Haha, aku hanya ingin melihat baby ku saja."


"Melihat?"


"Aaahhh, bukan melihat tapi memberi nasehat pada nya agar tidak rewel pas Papa nya lagi kerja." Jawab Narendra sambil mengusap perut Ayu yang terlihat sudah membuncit. Lucu sekali, terlihat sangat menggemaskan bagi Narendra.


"Baiklah, silahkan." 


"Hey, Baby. Jangan rewel pas Papa lagi kerja ya? Kasian Mama, nanti Papa bawain oleh-oleh, mau apa pas Papa pulang kerja?" Tanya Narendra, seolah dia sedang berbicara dengan sang jabang bayi di dalam kandungan sang istri. 


"Iya, baby gak bakalan rewel kok. Kemarin juga Baby gak bikin Mama kerepotan pas Papa tinggal ke luar negeri, apalagi ini cuma di tinggal ke kantor." Jawab Ayunda dengan menirukan suara anak kecil. Naren terkekeh mendengar ucapan sang istri, terdengar sangat menggemaskan bagi nya. 


"Gemas banget sih, bumilku."


"Hehe, istri siapa dulu dong?" 


"Istri aku, istri aku.." Jawab Naren tak kalah lucu nya, akhirnya kedua nya pun tertawa bersama. Kehangatan pagi kembali Ayunda rasakan setelah lima hari dia merasa sepi, kosong, hampa tanpa kehadiran sang suami. Tapi sekarang, dia sudah kembali dengan keadaan baik-baik saja. 


Di Amerika, ada Arvin dan Samuel yang menjaga kan Kakek Darren secara bergantian. Keadaan nya memang tidak bisa di prediksi kapan beliau akan sadarkan diri, bisa dalam hitungan hari, minggu, bulan atau tahun. Tidak bisa di tentukan, jadi Narendra memilih pulang karena pekerjaan disini terlalu banyak, dia juga merasa kasian pada Mark yang beberapa hari ini lembur selama dia pergi ke luar negeri. Sampai pria itu tidak bisa datang ke mansion untuk pergi menemui sang kekasih, Maya. 


"Yaudah sana, kalau mau kerja."


"Ngusir nih cerita nya?" Tanya Narendra sambil tersenyum kecil. 


"Ya enggak gitu, tapi kan udah jam tujuh pagi, Mas. Kamu gak takut telat?"


"Hmm, baiklah. Mas pergi dulu ya? Kalau kamu mau makan sesuatu, bilang sama Mas. Oke?" Tanya Narendra. Wanita itu menganggukan kepala nya mengiyakan, saat ini karena masih pagi, dia belum mengidam untuk memakan apapun, entah nanti siang atau sore. Bisa saja dia menginginkan sesuatu, bukan?


"Oke, Mas."


"Issh, iya. Bawel banget deh kamu sekarang." Jawab Ayunda sambil terkekeh pelan.


"Gapapa, aku bawel begini karena khawatir sama kamu, yang."


"Iya iya, aku mengerti. Yaudah, kamu nya hati-hati di jalan ya? Semangat kerja nya, pak suami." 


"Oke, istriku. Kalau udah di semangatin gini, aku langsung semangat. Hehe." Jawab Narendra. Dia pun mengetatkan dasi nya, dia juga memakai jas nya yang sedari tadi di sampirkan di dekat ranjang lalu merapikan nya.


"Mas berangkat dulu ya?" Ayunda tersenyum manis lalu menganggukan kepala nya.


"Baby, Papa pergi dulu ya. Jangan rewel sama Mama ya, baby harus anteng. Bobok aja ya?" Ucap Narendra lalu mengecup perut buncit sang istri, lalu mengecup kening Ayunda dan kedua nya pun berpisah. Pagi ini mereka pun berpisah, karena Narendra harus berangkat ke kantor padahal pria itu baru saja pulang kemarin pagi. 


Lalu malam nya bermain bersama nya begadang, lalu pagi nya dia pergi ke kantor untuk bekerja. Sedangkan Ayunda, dia masih bisa bermalas-malasan karena merasakan nyeri dan pegal-pegal di seluruh tubuh nya, bahkan di seluruh tubuh nya terdapat beberapa tanda kemerahan akibat ulah Narendra yang liar, brutal saat bermain. Pria itu melukis tubuh sang istri dengan tanda kepemilikan yang tersebar hampir di seluruh tubuh nya.


"Aduh, merah-merah gini. Totol-totol kayak macan." Gumam Ayunda. Dia beranjak dari tidur nya lalu melihat keadaan tubuh nya, benar saja tubuh nya di penuhi banyak tanda kemerahan yang berjejer rapi di tubuh nya. 


"Astaga Mas Naren, kelakuan.." Gumam wanita itu lagi sambil mengusap beberapa tanda kemerahan di leher nya yang masih meninggalkan sedikit perih disana karena Narendra terlalu kuat menyesap permukaan kulit nya mungkin, jadi nya tetap berasa bahkan setelah beberapa lama.


"Ini tanda gak bakalan hilang dalam waktu singkat."


"Hufftt, punya suami nafssuan banget deh. Padahal cuma gak ketemu lima hari doang, pas main udah kayak gak ketemu setahun." Gumam wanita itu lagi, dia menarik bath robe dan membawa nya ke kamar mandi, dia akan membersihkan tubuh nya yang sudah terasa sangat lengket. Namun dia menyukai aroma tubuh dan keringat yang bercampur dengan milik sang suami, wangi nya membuat Ayunda enggan membersihkan tubuh nya, namun lagi-lagi dia merasa tidak nyaman dan itu mengharuskan nya untuk mandi.


Hanya membutuhkan waktu sekitar lima belas menit, akhirnya Ayunda selesai dengan kegiatan nya, wanita itu pun segera mengenakan pakaian nya, tak lupa rambut basah nya dia gulung dengan handuk kecil agar air nya tidak menetes kemana-mana. Setelah selesai berpakaian, Ayunda pun membereskan tempat tidur yang berantakan, mengganti seprei nya dengan yang baru karena yang lama sudah kotor akibat permainan hebat semalam.

__ADS_1


Ayunda memasukkan seprei nya ke dalam keranjang cucian, dia di larang keras untuk mencuci, jadinya dia pasti akan mengandalkan Maya untuk mencuci nya. Tidak mencuci dengan tangan, tapi dengan mesin atau di laundry biar wangi. Biasanya, Ayunda akan meminta pihak laundry untuk datang ke mansion. 


Setelah selesai, wanita itu pun keluar dari kamar dengan wajah lesu nya. Jujur saja, dia merasa lemas saat ini. Bayangkan saja, mereka mulai bermain jam delapan malam lalu berakhir jam satu dini hari. Gila bukan? Tapi ya, itulah Narendra. Kalau sudah bernafssu yang ada Ayunda kewalahan karena ulah sang suami yang terus menerus melakukan nya.


"Selamat pagi, sayang." Sapa Melisa. Wajah wanita paruh baya itu terlihat masih sembab, dia terlalu banyak menangis selama satu minggu ini karena kejadian sang ayah mertua yang tiba-tiba saja kecelakaan yang membuat nya harus di nyatakan koma. 


"Pagi kembali, Mami. Sudah ada kabar dari Papi?" Tanya Ayunda sambil berjalan mendekat.


"Hmm, masih belum ada perkembangan apapun, sayang."


"Mungkin belum, kita masih perlu menunggu." Jawab Ayunda, membuat Melisa menganggukan kepala nya.


"Yuk, sarapan dulu."


"Iya, Mami." Jawab Ayunda. Dia pun berjalan bersama sang ibu mertua ke ruang makan, disana sudah tersaji secangkir susu hangat yang di buatkan oleh Maya. Wanita itu juga terlihat berdiri di samping kursi yang biasa nya Ayunda duduki, begitu melihat wanita itu mendekat dia langsung menarik kursi dan membiarkan sang Nona duduk di kursi itu.


"Susu nya, Nona. Tadi saya mendapat perintah untuk mengganti rasa susu kehamilan anda dari Tuan muda, katanya biar anda tidak bosan." Jelas Maya karena Ayunda terlihat keheranan saat melihat segelas susu berwarna sedikit pink di depan nya. 


"Rasa apa? Jangan vanilla atau madu plis.."


"Rasa stroberi, Nona. Di kulkas ada stock rasa mangga, Nona."


"Hmm, tidak masalah. Asalkan jangan rasa mangga atau madu, itu takkan tertelan. Bau nya aku tidak suka, May." Jawab Ayunda.


"Baik, Nona. Saya akan mengatakan itu pada Tuan nanti."


"Terimakasih, Maya."


"Sama-sama, Nona. Itu sudah tugas saya, selamat makan." Ucap Maya sambil menata makanan di atas meja, makanan khusus untuk bumil.


"May.."


"Iya, Nona."


"Lain kali, tambahkan sedikit garam nya ya? Ini terlalu hambar." Lirih Ayunda. 


"Maaf, Nona. Akan saya perbaiki."


"Tidak apa-apa, tidak perlu minta maaf." Jawab Ayunda sambil tetap makanan buatan Maya yang memang sedikit hambar, namun tidak terlalu parah. Masih bisa tertelan. 


"Nona maaf, apa anda ada pakaian yang harus di laundry hari ini?"


"Ada seprei di atas, May."


"Baiklah, nanti saya ambil bersama Nona saja." Ucap Maya. Dia memang maid di rumah ini, namun jika dia masuk ke dalam sebuah kamar yang kosong tak ada pemilik nya, dia takkan merasa nyaman sama sekali. Jadi, sebaiknya dia akan menunggu Ayunda selesai makan lalu pergi ke kamar bersama-sama agar tidak menimbulkan kesalah pahaman, nama nya juga di kamar pasti ada semua kan? Termasuk barang pribadi. Kamar itu adalah ruangan yang di penuhi privasi, sangat privasi. 


"Iya, Maya."


"Ini jus titipan Tuan muda untuk Nyonya." Ucap Amel, dia membawakan segelas jus berwarna hijau. Itu adalah jus kiwi yang di campur melon, lemon dan juga daun mint. Minuman wajib bagi Melisa setiap pagi nya, jus ini membuat tubuh nya terasa lebih nyaman setiap hari nya. Meminum jus ini membuat imun nya terjaga, meskipun jika yang tidak terbiasa, pasti akan terdengar aneh bukan? Jelas, kiwi dan melon? Apa serasi jika di campur? Tapi percayalah, rasa nya tidak seburuk itu, apalagi itu untuk kesehatan kan?


"Terimakasih, Amel."


"Sama-sama, Nyonya." Jawab Amel. Kedua nya pun melanjutkan makan dan setelah selesai, maid pun segera membereskan meja makan dan segera mencuci peralatan memasak dan juga piring kotor tadi. 


Ayunda dan Melisa memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak, tanpa alas kaki karena mereka memang hanya berjalan-jalan di sekitaran mansion saja. Kata orang dulu, wanita hamil jangan terlalu sering berdiam diri di kamar, sekali-kali harus berjalan-jalan agar terkena sinar matahari dan mencegah pembengkakan dengan cara berjalan-jalan seperti ini. 

__ADS_1


.......


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2