Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 146 - Menjenguk Darren


__ADS_3

Keesokan hari nya, Narendra mengajak sang istri untuk sekedar berjalan-jalan keluar rumah. Hanya di halaman saja, berjalan-jalan di halaman rumah saja cukup melelahkan karena mansion ini di lengkapi dengan halaman yang luas. Biasanya, jika musim semi disini banyak di tumbuhi bunga, namun karena sekarang sedang musim dingin. Tak ada pemandangan lain selain putih nya salju sejauh mata memandang. 


"Sayang.." Panggil Narendra. Ayunda sedang berjongkok sambil memainkan salju di tangan nya.


"Beneran dingin dong, Mas." Celetuk Ayunda sambil tersenyum.


"Salju itu es, sayang. Ya jelas dingin dong, kamu ini ada-ada aja." Ucap Naren sambil mengacak rambut istrinya dengan gemas. Sungguh, melihat tingkah polah sang istri membuat nya gemas setengah mati. 


"Mas, ayo bikin boneka salju."


"Iya, sayang. Ayo kita bikin boneka salju nya." Jawab Narendra. Dia pun mengiyakan saat istrinya mengajak nya untuk membuat boneka salju. Sungguh, ini terlihat sangat kekanak-kanakan sekali. Biasanya, anak kecil yang akan membuat boneka-boneka salju saat musim dingin seperti ini. Agak sedikit aneh bagi Narendra jika orang dewasa yang membuat nya. 


Namun, demi membahagiakan sang istri, dia rela mengenyahkan pemikiran itu karena dia tidak ingin membuat istrinya bersedih. Dari pada membuat mood istrinya memburuk, lebih baik dia melakukan apapun yang bisa menyenangkan istrinya. Bagi Naren sekarang, kebahagiaan Ayunda adalah yang utama sekarang. Ayunda adalah prioritas bagi Narendra. 


"Mas, seru sekali deh. Aku seneng banget datang kesini, Mas." Jawab Ayunda sambil tersenyum manis. Narendra pun mengangguk, kedua nya nampak asing bermain salju. Sesekali, Naren terlihat menatap sang istri dengan senyuman kecil nya. Dia senang melihat akhirnya senyum manis yang beberapa waktu lalu sempat hilang, kini kembali lagi. 


'Syukurlah, sayang. Mas takkan pernah membiarkan senyuman itu hilang lagi dari wajah cantik mu, sayang.' Batin Naren. 


"Mas, kok diem aja sih? Kenapa?" Tanya Ayunda sambil menatap wajah tampan suami nya dengan intens. Tatapan nya sangat teduh, membuat hati Narendra berdebar. Aneh bukan? Sudah menikah cukup lama, tapi saat istrinya menatap seperti ini, dia masih berdebar seperti ini.


"Ee-eehh, enggak kok. Mana boneka salju buatan kamu, sayang?" Tanya Naren sambil melihat kumpulan bola-bola kecil yang di buat oleh Ayunda. 


"Hehe, baru ini aja. Bulet-bulet kayak bakso ya.."


"Omong-omong tentang bakso, kok Mas pengen makan bakso ya? Kayaknya enak deh dingin-dingin begini makan bakso kuah pedes." Ucap Naren sambil terkekeh.


"Bikin yuk?" Ajak Ayunda. 


"Kamu bisa bikin bakso?" Tanya Narendra seolah meragukan kemampuan memasak istrinya.


"Bisa dong, kamu meragukan aku?"


"Hehe, enggak sih. Tapi kan.."


"Kenapa, Mas?" Tanya Ayunda sambil menoleh ke arah sang suami.


"Tidak, kamu sudah selesai main salju nya?" 

__ADS_1


"Udah deh, nanti aja main lagi. Dingin, hehe. Tangan aku sampai kebas, gak kerasa apa-apa." Jawab Ayunda sambil tertawa.


"Ya gak kebas gimana, itu yang kamu mainin tuh es, sayang." Ucap Narendra. Dia pun mengajak istrinya masuk ke mansion, wanita itu menuruti suami nya. Kedua nya pun masuk ke dalam mansion, di dalam ada Selin yang sedang duduk bersama Samuel dan Arvin. 


"Sudah main salju nya, cantik?" Tanya Samuel sambil tersenyum. 


"Sudah, hehe. Dingin ya ternyata.." Jawab Ayunda sambil tersenyum kecil. 


"Salju kan es, sayang." Ucap Arvin. Ayunda memilih duduk di samping Selin dan Naren duduk di samping Samuel. 


"Iya, Pi. Agak kampungan ya, tapi ini pertama kali nya Ayu main salju." Jawab Ayunda lagi. Dia tersenyum membuat Samuel menatap ke arah wanita cantik itu.


"Pantas saja Naren luluh padamu, sayang. Senyum mu saja terlihat sangat tulus." Ucap Samuel yang membuat Ayunda menoleh dan menatap Samuel seketika. 


"Iya, dia memang memiliki senyum yang tulus. Selain hati, Ayunda juga memiliki hati yang baik, sungguh Naren sangat beruntung dan bahagia karena bisa di pertemukan dengan Ayunda meskipun secara tidak sengaja." Jawab Narendra sambil tersenyum. Dia menatap wajah cantik sang istri yang terlihat merona. 


"Syukurlah, bibi senang karena akhirnya kamu menikah dan tidak salah memilih, Nak. Pilihan mu tidak salah kali ini." Celetuk Selin sambil tersenyum. Mata nya menyipit membentuk bulan sabit. 


"Aduh, kok panas ya.." Ucap Ayunda sambil menepuk-nepuk wajah nya yang memang sudah memerah karena malu. Tipe keluarga ini memang begini, jika ada keluhan apapun pasti akan membicarakan nya secara langsung di depan orang nya. Bagus kan? Tentu saja. Jadi, tidak ada acara ngomongin orang di belakang. Jika tidak suka, maka langsung bicara di depan orang nya langsung.


"Hahaha, sayang.." Semua orang yang ada di ruangan itu tertawa ketika mendengar ucapan Ayunda yang terdengar lucu bagi mereka. Ayunda ini sangat polos namun dia baik hati dan juga tulus. Terlihat dari cara nya bicara, bersikap bahkan senyum nya saja orang-orang tahu kalau Ayunda adalah sosok wanita yang tulus. Itulah yang Arvin dan Melisa sukai dari sosok Ayunda. 


Penilaian orang tua memang tidak salah, buktinya semua penilaian yang di berikan oleh Melisa dan Arvin, semua nya ada di Ayunda. 


"Sayang.." Panggil Melisa. Ayunda menoleh lalu tersenyum ketika melihat mami mertua nya berjalan mendekat.


"Iya, Mami." Jawab Ayunda.


"Mami bikin sup.." Melisa menunjukkan mangkuk berisi sup berkuah merah yang masih mengepul.


"Ini apa, Mami?" Tanya Ayunda sambil terlihat antusias karena bau nya sangat wangi hingga membuat perut nya keroncongan. 


"Hot pot, sayang. Menu ini populer kalau lagi musim dingin, soalnya bisa ngangetin tubuh terus pedes." Jawab Melisa.


"Ayu mau dong, Mami."


"Ayo makan, sudah matang semua. Kita makan bersama ya." Ajak Melisa. Mereka pun pergi ke ruang makan, disana ada satu kompor kecil dan di atas nya ada panci besar berisi hot pot dengan kuah merah yang menggoda. Tidak masalah, karena semua orang disini menyukai makanan yang pedas. Bahkan Samuel saja yang tidak terlalu bisa makan pedas, tapi setelah menikah dengan Selin, dia jadi suka makanan pedas. 

__ADS_1


"Wah, kayaknya enak banget ini mah." Ucap Ayunda sambil tersenyum. Dia mengambil mangkuk dan menggulung daging menggunakan sumpit. Dia mencelupkan nya ke dalam kuah yang panas itu dan memakan nya dengan lahap. 


Kedua mata Ayunda berbinar, siapa sangka makanan ini sangat enak. Memang rasa pedas nya agak sedikit berbeda, agak sedikit membuat kebas di lidah tapi rasanya sangat enak dengan isian yang bermacam-macam. Melisa memasukan bakso-baksoan seafood, tahu sutra, jamur enoki, sayur pakcoy, tauge, jamur kuping dan masih banyak lagi. Belum lagi ada daging slice yang terlihat menggugah selera, semua nya enak. 


Ayunda makan dengan lahap, cuaca nya sangat mendukung untuk memakan makanan pedas seperti ini. Hingga akhirnya, Ayunda menyerah duluan karena dia sudah kenyang. Perut nya terasa menggembung saking kenyang nya. 


Wanita itu mengusap-usap perut nya yang kekenyangan, membuat Narendra tersenyum jahil.


"Itu perut isi nya lemak semua ya, yang?"


"Hmm, lemak doang. Besok-besok, isinya bayi, Mas." Jawab Ayunda sambil tersenyum kecil. Dia masih mengusap perut nya yang memang agak sedikit menggembung karena kekenyangan. 


"Iya, kita kencengin lagi usaha nya lain kali."


"Oke, Mas."


"Semangat, kami tunggu kabar baiknya lagi." Ucap Arvino sambil tersenyum manis. Kedua nya pun menganggukan kepala nya mengiyakan. Sebelum mereka berhasil, memang harus usaha setiap hari agar kemungkinan Ayunda hamil semakin besar.


"Akan kami usahakan secepatnya." Jawab Narendra. Ayunda mengiyakan, dia memang sudah ingin kembali mengandung, namun jika belum waktu nya, bisa apa? Usaha, ikhtiar dan juga berdoa. Hanya itu yang bisa di lakukan oleh Ayunda dan Naren sekarang. 


"Kita ke rumah sakit ya?" Ajak Arvino. Niat hatinya kesini memang untuk menjenguk sang ayah. Sudah sekitar tiga bulan Arvino tidak berkunjung ke rumah sakit dan melihat keadaan sang ayah. Sungguh, dia selalu merasakan rasa sakit ketika melihat kondisi sang ayah yang sampai saat ini masih koma juga. Belum ada kemajuan apapun, hanya saja keadaan nya agak sedikit membaik di bandingkan setelah tabrakan itu terjadi. 


"Ayo, tapi sebentar dulu. Ini perut masih kenyang." Jawab Samuel sambil mengusap perut nya yang buncit, tapi bukan hamil. Ini pure buncit karena lemak yang tertimbun.


"Iya.." 


Beberapa jam kemudian, keluarga itu pun sampai di rumah sakit elit yang dimana, salah satu ruangan di tempat ini di huni oleh Darren. Orang tua Arvino. Semua orang turun dari mobil dan masuk ke salah satu ruangan karena memang dokter mengiyakan. Selama tidak mengganggu, maka akan di izinkan seberapa banyak pun orang nya. 


Arvino menatap tubuh sang ayah dari atas sampai ke bawah. Kini, gips yang awal nya ada di kaki telah tiada. Perban nya juga sudah di buka, membuat luka-luka dan bekas jahitan masih terlihat, membuat Ayunda merinding sendiri ketika melihat keadaan sang kakek.


"Hai, Pa. Selamat siang, apa kabar? Ini Arvin, maaf sudah lama tidak datang menjenguk Papa. Arvin sibuk, terlebih sekarang Ayunda jauh lebih sensitif, Naren juga sibuk dengan pekerjaan nya. Maaf, kami tidak bisa setiap harinya berkunjung dan menemani Papa. Asal Papa tahu, kalau Arvin sangat menyayangi Papa." Gumam Arvino sambil mengusap air mata nya yang menetes tanpa bisa di cegah.


"Jangan menangis, Papa mu pasti akan baik-baik saja. Kita hanya perlu percaya pada papa mu, Vin."


"Bagaimana kata dokter, apakah papa tidak memiliki kesempatan lagi untuk mihat dunia?"


"Kata dokter, setiap kemungkinan akan selalu ada. Tugas kita sekarang hanya perlu berdoa pada Tuhan. Kesempatan tidak datang dua kali" 

__ADS_1


.......


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2