
Pria berwajah tampan itu meremat rambut nya dengan kasar, ruangan yang biasa nya terlihat rapih itu kini tak ubah nya seperti kapal pecah, hancur berantakan. Bahkan banyak pecahan-pecahan kaca yang berserakan dimana-mana, membuat cleaning service yang bekerja untuk membersihkan ruangan ini pun harus ekstra berhati-hati, khawatir nya akan terkena pecahan kaca yang akan membuat mereka terluka.
Mark membuka pintu ruangan Narendra secara perlahan, dia menganga saat melihat keadaan di ruangan itu. Selain ruangan yang terlihat sangat berantakan, pemilik ruangan itu tidak kalah berantakan nya. Rambut acak-acakan, wajah yang kusut, terlihat jelas kalau dia sedang memiliki masalah yang sangat besar.
Dengan perlahan, Mark melangkah untuk mendekati Narendra yang terduduk bersandar di tembok dengan kedua tangan yang menutupi wajah nya. Pria itu berjongkok menyamakan posisi nya dengan Narendra.
"Tuan.."
Hening, tidak ada jawaban. Hanya terdengar suara isakan kecil yang keluar dari mulut Narendra, membuat Mark yakin telah terjadi sesuatu yang buruk. Mengingat kalau dia juga melihat keadaan Ayunda, istri Narendra juga seperti ini. Dia keluar dari ruangan suami nya dengan berderai air mata. Itu semua sudah benar-benar membuktikan kalau mereka sedang ada problem bukan?
Dan lagi, Mark yakin kalau masalah yang saat ini mereka hadapi itu bukanlah masalah yang kecil. Karena, sebesar apapun masalah nya, belum pernah Mark melihat Narendra menangis. Dia terlalu datar dan dingin untuk bisa menangis, bahkan saat di tinggalkan oleh Trisa pun, dia tidak menangis, hanya galau dan gagal move on selama berbulan-bulan.
"Tuan, anda baik-baik saja?"
"No." Jawab Narendra singkat, tanpa mendongak. Dia tidak berani menatap wajah Mark, dia takut karena Mark sudah mengingatkan nya beberapa kali untuk segera menindak lanjuti wanita itu agar tidak mengganggu hubungan nya dengan Ayunda.
Aneh bukan? Wanita itu yang sudah menyia-nyiakan Narendra, tapi sekarang dia datang kembali dan dengan tidak tahu malu nya dia mengejar-ngejar Narendra padahal dia tahu kalau pria itu sudah menikahi wanita lain. Status nya sekarang sudah menjadi seorang suami dan bahkan dalam waktu beberapa bulan lagi, Narendra akan menjadi seorang ayah.
"Wanita itu melakukan apa kali ini?" Tanya Mark sambil menepuk pelan lengan Narendra. Dia juga ikut bersandar di samping pria itu. Inilah yang dia sukai dari sosok Mark, dia bisa menjelma menjadi seorang teman dan juga sangat profesional dalam bekerja, banyak sekali alasan kenapa Narendra terus mempertahankan Mark menjadi asisten yang merangkap menjadi sekretaris nya. Ya, meskipun terkadang pria itu sering kali membuat nya darah tinggi karena sikap menyebalkan nya.
"Dia menjebak ku dan Ayunda melihat nya, dia salah paham, Mark."
"Salah paham bagaimana?" Tanya Mark lagi, membuat Narendra mendongak. Dia melirik sekilas ke arah Mark lalu menatap kosong lurus ke depan. Dia pun mulai menceritakan semua nya dari awal hingga akhir tanpa ada yang terlewatkan sedikit pun.
Mark menghembuskan nafas nya dengan kasar, dia merasa kalau Narendra agak sedikit kurang tegas. Dia paham benar, mau bagaimana pun Narendra pernah sangat mencintai wanita itu, tapi sekarang beda lagi cerita nya. Mereka harus nya sudah bisa bahagia dengan pasangan masing-masing, termasuk Narendra. Dia harus nya bisa lebih tegas pada wanita itu.
"Aku tidak menyalahkan Ayunda, kalau aku jadi dia, aku juga akan salah paham karena aku melihat nya dengan jelas." Ucap Mark mulai memberikan jawaban atas cerita yang Narendra ucapkan dari awal hingga akhir itu. Mark menghela nafas nya, lagi-lagi dia harus terlibat dalam hal yang cukup rumit ini dengan masalah yang hampir sama.
Dulu, dia menjadi penasehat Narendra disaat pria itu terkutuk setelah di tinggalkan Trisa dan sekarang dia harus kembali menjadi penasehat kembali namun dengan kasus yang berbeda tapi tetap melibatkan nama wanita itu.
"Sudah aku katakan padamu, Tuan. Kamu harus tegas dalam mengambil keputusan, selesai kan wanita itu terlebih dulu agar dia tidak mengganggu hubungan mu dengan Ayunda, Tuan."
"Menyelesaikan wanita itu, maksud mu aku harus membunuh nya, Mark?"
"Bila perlu." Jawab Mark singkat.
"Tapi, sebenarnya bukan itu yang aku maksud. Menyelesaikan dalam artian lain, berikan Trisa hukuman yang setimpal dengan perbuatan nya. Anda kurang tegas menanggapi wanita itu selama ini."
"Aku tahu, bagaimana pun juga kalian pernah saling mencintai satu sama lain. Namun, tetap saja hal itu tidak akan pernah bisa menjadi alasan anda untuk tidak tegas dengan wanita itu."
"Mark.."
"Diamlah dan dengarkan aku dulu, Tuan. Pikirkan sekali lagi, anda mencintai istri anda atau masih mencintai mantan anda?" Tanya Mark membuat Narendra menatap wajah asisten nya dengan tatapan yang entah apa arti nya. Dia sendiri dia tidak tahu apa arti dari tatapan Narendra padanya.
"Jawab saja, anda mencintai istri anda yang sekarang sedang mengandung buah hati kalian atau anda masih menyimpan perasaan pada wanita itu?"
Hening, Narendra terdiam seketika. Mark paham, dia tidak mendesak jawaban dari pria itu. Mark memberikan waktu untuk Narendra bisa menjawab semua nya.
"Aku mencintai istriku, Mark." Jawab Narendra dengan tegas.
"Yakin?"
"Yakin, sangat yakin, Mark!"
__ADS_1
"Kalau begitu, bertindak lah untuk menyelamatkan pernikahan anda. Dengan semua yang sudah terjadi sekarang, tidak menutup kemungkinan pernikahan Anda bisa hancur karena gangguan si mantan yang terobsesi dengan anda. Jangan menunggu hingga Nona Ayunda pergi terlebih dulu, baru bertindak." Ucap Mark panjang lebar. Lagi-lagi, Narendra terdiam.
Ucapan Mark benar, sangat benar. Dia harus bertindak secepatnya karena dia tahu benar seperti apa wanita itu, dia wanita yang ambisius. Apa yang dia inginkan, harus dia dapatkan apapun itu termasuk suami orang.
"Aku harus bagaimana, Mark?"
"Lakukan yang terbaik menurut anda, ingat jika anda mencintai Ayunda, berarti anda harus siap melakukan apapun pada wanita itu."
"Termasuk membunuh nya ya?"
"Hahaha, anda ini kenapa sih? Sedari tadi terus saja bunuh membunuh, anda yakin akan membunuh nya?" Tanya Mark sambil terkekeh.
"Entahlah, tapi satu-satunya cara agar dia tidak muncul lagi di hidup ku, hanya dengan membunuh nya, bukan?"
"Benar, tapi itu tindak kriminal, Tuan. Jangan buta, anda bisa di penjara." Jawab Mark membuat Narendra menatap wajah sang Tuan.
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Sekarang? Kok nanya saya."
"Lah.."
"Haha, Tuan.." Ucap Mark sambil terkekeh pelan.
"Aku harus pulang sekarang, menjelaskan semua nya pada Ayunda sekali lagi atau bagaimana?"
"Menurut anda?" Balik tanya Mark sambil menatap Narendra dengan tatapan heran.
"Mungkin tidak dulu?"
"Iya.."
"Telepon saja supir nya, saya takut Nona Ayunda pergi tapi tidak pulang." Jawab Mark membuat Narendra langsung mengambil ponsel nya dan menghubungi nomor ponsel supir nya.
"Hallo.."
'Hallo Tuan, ada apa?' Tanya sang supir yang di hubungi oleh Narendra.
"Kau dimana? Kau bersama istriku, bukan?" Tanya Narendra dengan nada panik.
'Saya sedang di taman menunggui Nona Ayunda, Tuan. Dia menangis..' Jawab supir itu dengan pelan.
"Awasi terus istriku, jangan sampai lecet sedikit pun. Kalau sampai istri ku tergores sedikit saja, maka kepala mu sebagai jaminan nya." Ancam Narendra.
'Baik, Tuan.' Jawab supir itu. Setelah itu, panggilan pun selesai. Narendra juga kembali memasukan ponsel nya ke dalam saku jas nya.
"Bagaimana, Tuan?" Tanya Mark sambil menatap Narendra. Dia tahu seberantakan apa pria itu saat di tinggalkan oleh Trisa, bagaimana lagi jika sampai Narendra di tinggalkan oleh Ayunda dan juga calon buah hati nya? Dia yakin, Narendra akan lebih gila mungkin.
"Ayu sedang di taman, tapi supir menemani nya."
"Hmm, biarkan saja. Dia pasti menjaga Nona Ayunda dengan baik kan? Dia masih memerlukan waktu, Tuan. Dia pasti sedang menenangkan diri."
"Aku tidak yakin dia akan memaafkan aku, Mark. Bagaimana?"
__ADS_1
"Yakinlah, saya yakin kalau Nona Ayunda adalah wanita yang baik, bukan? Dia wanita yang sangat baik, hingga kedua orang tua anda sangat menyayangi nya kan?" Tanya Mark. Narendra menganggukan kepala nya. Benar, kedua orang tua nya sangat menyayangi Ayunda. Tidak berlebihan kalau Narendra menyebut Ayunda sebagai menantu kesayangan nya.
"Entah kebaikan apa yang di perbuat oleh Ayunda di kehidupan sebelum nya, tapi aku yakin kalau dulu dia adalah jelmaan malaikat."
"Tentu saja, Tuan. Anda harus percaya dan jangan berputus asa, justru anda harus membuktikan kalau anda sangat mencintai nya."
"Iya, Mark."
"Baiklah, anda sudah merasa sedikit tenang? Mari kita meeting." Ucap Mark sambil beranjak dari duduk nya.
"Aku tidak mood, Mark. Aku akan beristirahat saja, meeting nya kau wakilkan ya?"
"Hmmm, baiklah. Anda harus menaikan gaji saya kalau begini."
"Ckk, kerjakan dulu tugas mu dengan baik. Baru aku akan menaikan gaji mu, Mark."
"Aahh ya, aku melupakan sesuatu, Tuan."
"Apa?" Tanya Narendra dengan kening yang berkerut heran.
"Aku sudah menemukan titik terang tentang penghianat itu, tapi aku masih harus memastikan nya."
"Siapa?"
"Anda tahu orang nya, bahkan mungkin anda sudah mencurigai orang ini dari awal. Tapi, saya akan bekerja keras untuk mencari bukti yang kuat untuk bisa menyeret nya ke hadapan anda, Tuan."
"Hmm, baiklah. Kalau kau keluar, tolong bilang pada cleaning service untuk membersihkan ruangan ku, aku akan makan." Jawab Narendra. Ini sudah hampir jam tiga sore, sudah sangat terlambat untuk makan siang, tapi karena masalah ini, membuat nya melewatkan waktu makan siang nya.
Kedua pria itu beranjak dari duduk mereka, Naren langsung duduk di sofa yang ada di tengah ruangan lalu membuka kotak bekal di depan nya. Makanan yang rencana nya akan di makan berdua, kini terpaksa hanya dirinya saja yang harus memakan nya.
"Mark.." panggil Narendra pelan, membuat Mark yang sudah memegang handle pintu itu pun berbalik ke arah Narendra.
"Kau sudah makan?"
"Belum, Tuan."
"Kemarilah, kita makan dulu." Ajak Narendra. Dia melihat ada makanan kesukaan nya dengan porsi yang cukup banyak, sangat cukup untuk berdua karena Ayunda membuat nya untuk mereka makan berdua.
"Tapi.."
"Ini masakan istri ku, Mark. Dia membuat nya sangat banyak, aku tidak mungkin memakan nya sendirian, terlalu banyak. Kemarilah dan makan bersama ku, masakan Ayunda semua nya enak."
"Baiklah." Pasrah Mark, dia pun kembali dan berjalan dengan hati-hati karena banyak pecahan kaca disana akibat amukan Narendra tadi.
Mark mengambil ponsel dari saku nya, lalu memanggil cleaning service untuk membersihkan ruangan yang terlihat seperti kapal pecah itu, sedangkan mereka akan makan siang.
Sedangkan di taman, Ayunda menatap lautan tanaman bunga yang terlihat sangat indah. Dahan nya bergerak kesana kemari karena tertiup angin yang berhembus. Tak terasa air mata nya menetes tanpa bisa di cegah, hatinya terasa sakit dan sesak. Melihat hal yang paling tidak ingin di lihat oleh wanita mana pun, ini sebuah penghianatan tapi Naren mengatakan kalau ini adalah jebakan yang di lakukan oleh Trisa demi bisa mendapatkan Narendra kembali. Semua pikiran itu memenuhi pikiran nya saat ini.
"Aku harus apa, Mas? Aku mencintaimu, apa kamu juga begitu? Setelah melihat semua itu, membuat aku tahu." Gumam Ayunda sambil mengusap air mata nya yang berlinang.
Sakit? Tentu saja, ini sangat menyakitkan. Tapi dia tidak bisa egois kan? Dia langsung pergi sebelum mendengar penjelasan suami nya.
"Aku harus mendengarkan penjelasan Mas Naren, aku tidak bisa egois karena aku juga harus memikirkan masa depan untuk anak ku kelak." Putus Ayunda. Biarlah, dia akan mendengarkan penjelasan Narendra nanti. Untuk sekarang, dia ingin disini menikmati semilir angin di taman bunga. Narendra juga sedang membuatkan taman bunga di belakang dengan di dominasi bunga mawar biru seperti yang di sukai oleh Ayunda, tapi sampai sekarang belum selesai juga.
__ADS_1
......
🌻🌻🌻🌻🌻