
"Mami.."
"Iya, sayang.." Jawab Melisa. Wanita paruh baya itu datang dengan semangkuk buah-buahan di tangan nya, saat ini kedua wanita berstatus mertua dan menantu itu sedang berada di taman yang ada di samping rumah.
Sedangkan project pembuatan taman mawar biru yang sedang di bangun oleh Naren ada di halaman belakang dan akses nya di tutup selama pembangunan itu agar tidak sembarangan orang bisa masuk dan melihat keindahan bunga berwarna biru itu ketika mekar. Yang melihat nya untuk pertama kali harus Ayunda, karena tujuan Narendra membuat taman itu adalah untuk menyenangkan hati sang istri.
Anggap saja, dengan taman itu dia menunjukkan kalau dia memang sangat mencintai istrinya dan hanya taman itu saja takkan membuat Narendra miskin. Meskipun dia harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk membangun taman itu. Namun, demi kebahagiaan sang istri, apa sih yang enggak? Bagi nya sekarang, kebahagiaan Ayunda adalah segala nya. Wanita itu adalah prioritas bagi Narendra sekarang, apapun akan dia lakukan jika bisa membuat Ayunda tersenyum bahagia. Ckk, bucin memang.
Tapi itulah cinta, datang tanpa di undang dan pergi juga tidak berpamitan, persis seperti jelangkung. Namun dalam versi yang lebih masuk akal, intinya jika cinta sudah merasuk ke dalam hati, hal bodooh pun bisa di lakukan demi yang nama nya cinta.
"Makan buah biar sehat, sayang."
"Mami gak bikin salad buah?" Tanya Ayunda, namun dia tidak menolak buah yang di bawakan oleh mama mertua nya itu, malah dia menerima nya dengan senang hati.
"Enggak, sayang. Rasanya, mami terlalu sering bikin salad buah. Mami cuma khawatir kamu bosan sama salad buah, jadi mami gak bikin." Jawab Melisa membuat Ayunda menggeleng, dia tidak setuju dengan ucapan sang mami. Dia mana bosan dengan rasa salad buah buatan Mami nya itu, dia malah suka ketagihan kalau sudah memakan makanan itu.
"Mana ada Ayu bosen, malahan Ayu suka banget sama salad buatan Mami."
"Benarkah?" Tanya Melisa sambil tersenyum.
"Iya, benar."
"Ya sudah, nanti sore Mami bikinin lagi salad buah yang banyak biar kamu gak ngidam." Jawab Melisa membuat Ayunda menatap wajah mami mertua nya itu dengan tatapan sendu. Melihat dan mendengar suara wanita paruh baya itu membuat nya teringat akan mendiang sang ibu.
Dulu, jika dia menginginkan sesuatu maka sang ibu akan dengan sangat cepat membuatkan nya. Tak peduli serepot apapun, dia pasti akan menyempatkan waktu untuk membuatkan Ayunda makanan kesukaan nya. Itulah yang membuat Ayunda terkesan manja karena kedua orang tua nya sangat memanjakan nya. Jangankan untuk bekerja, mencuci piring atau membersihkan rumah saja tidak di izinkan.
Mungkin itulah yang salah karena kedua orang tua Ayunda terlalu memanjakan anak nya, tapi itulah bentuk dari kasih sayang orang tua. Namun, semua itu berubah tatkala Ayunda harus kehilangan kedua orang tua nya secara bersamaan karena kecelakaan. Sejak itu, Ayunda terpaksa harus ikut paman dan bibi nya.
Siapa sangka, bibi nya yang selama kedua orang tua nya masih hidup itu selalu bersikap baik pada nya itu berubah 180 derajat. Tidak ada lagi sang bibi yang bersikap manis, dia mulai menunjukkan taring nya disaat paman nya membawa Ayunda untuk tinggal bersama mereka.
Ayunda di perlakukan bak pembantu, bahkan dia sering kali terlambat makan karena tidak di perbolehkan oleh sang bibi, kalau pun makan biasa nya makan makanan sisa bibi dan juga anak nya. Jahat bukan? Tentu saja, hingga seringkali membuat Ayunda ingin mengakhiri hidup karena putus asa.
Tapi, ada sang paman yang masih peduli kepada nya, dia menyayangi nya dan tidak pernah membeda-bedakan nya dengan anak nya sendiri. Namun, dia tahu seperti apa perangai istri nya jadi jika dia ingin memberikan sesuatu pada Ayunda harus sembunyi-sembunyi, kalau tidak nanti istri atau anak nya akan meminta barang itu lagi.
"Kamu kenapa, sayang?"
"H-ahh? Aku kenapa memang nya, Mami? Aku baik-baik saja." Jawab Ayunda sambil tersenyum kecil. Namun, feeling seorang ibu tak bisa di bohongi. Apalagi, wajah Ayunda itu bukanlah wajah orang pembohong. Jadi wajah nya terlihat kentara jika dia memang sedang berbohong.
"Jangan berbohong sama Mami, sayang. Katakan, ada apa? Jangan memendam nya sendiri, ingat disini ada Mami, Papi, suami kamu yang bisa kamu jadikan tempat bercerita." Ucap Melisa yang membuat kedua mata Ayunda berkaca-kaca seketika.
Jadi, begini kah rasa nya di bahagiakan di keluarga yang lengkap? Dulu, dia pernah merasakan nya. Namun, kebahagiaan itu sudah lama hilang sejak kematian kedua orang tua nya, tapi sekarang kebahagiaan itu seolah kembali meskipun bukan dengan orang yang sama.
"Ayu hanya merasa sedikit rindu dengan mendiang Mama dan papa. Sudah lama Ayu tidak datang ke rumah nya." Jawab Ayunda. Memang sudah sangat lama dia tidak datang mengunjungi rumah baru sang ibu dan juga ayah nya.
"Sekarang, keadaan kamu tidak memungkinkan untuk pulang ke desa kelahiran kamu, sayang. Tapi mungkin, kamu bisa membicarakan ini bersama suami mu nanti. Jika dia mengiyakan, Mami akan mengizinkan kamu pulang untuk menjenguk ayah dan ibu mu."
"Tapi, kalau seandainya Naren menolak sebaiknya di turuti saja ya? Mami percaya, Naren sangat mencintai kamu, jadi apapun yang di lakukan oleh nya pasti juga untuk kebaikan mu dan anak kalian. Dia pasti berpikir panjang sebelum memutuskan sesuatu." Jelas Melisa panjang lebar.
Ya, Ayunda paham benar akan ucapan mami mertua nya. Dia juga mengetahui kalau Ayunda adalah tipe wanita yang memang sedikit keras kepala, sebelum merasakan sendiri akibat nya, dia akan sulit di larang. Tapi di balik semua itu, Melisa sangat menyayangi Ayunda seperti anak nya sendiri.
__ADS_1
Bahkan sering kali putra nya sendiri, Narendra itu merasa iri dengan sang istri karena mama nya terlihat lebih menyayangi menantu nya di bandingkan anak nya sendiri. Padahal, Melisa itu tipe wanita yang tidak mudah luluh.
Bahkan selama bertahun-tahun, Trisa mencoba untuk meluluhkan hati seorang Melisa, tapi hasil nya tetap saja gagal. Dia tidak bisa melakukan apa yang di lakukan oleh Ayunda, bahkan dia tidak perlu melakukan apapun untuk merebut hati Melisa. Respon nya sudah sangat baik bahkan di pertemuan pertama. Itulah istimewa nya sekarang Ayunda, dia memiliki apa yang tidak di miliki oleh Trisa.
"Iya, Mami. Ayu akan menuruti apapun perkataan Mas Naren." Jawab Ayunda membuat Melisa tersenyum lalu mengusap puncak kepala menantu nya dengan lembut lalu mengecup nya.
"Jangan pernah merasa sendiri, Mami dan Papi juga suami mu akan selalu berada di samping mu. Selalu, kapanpun dan dimana pun."
"Terimakasih, Mami. Ayu tidak akan pernah merasa sendirian jika Mami dan yang lain selalu bersama Ayu." Jawab Ayunda. Dia tersenyum lalu memeluk sang mami mertua dengan hangat dari samping. Dia memeluk nya dengan erat, sungguh kehangatan inilah yang selalu ingin dia rasakan dan beruntung nya dia mendapatkan nya dari Melisa.
Meskipun bisa di bilang dia adalah orang asing, namun kasih sayang wanita itu sudah seperti kasih sayang orang tua kandung nya sendiri. Bahagia? Benar, dia bahagia. Ingat kata pepatah, setelah badai pasti ada pelangi yang menunggu. Mungkin inilah kata pepatah itu yang tengah dia rasakan. Rasanya sangat membahagiakan, dia sangat bersyukur karena memiliki mertua sebaik dan sepengertian Melisa.
"Masuk yuk? Udah mulai panas ini. Udah siang, bukan waktu nya berjemur." Ajak Melisa. Ayunda menganggukan kepala nya, kedua nya pun berjalan masuk ke dalam rumah tanpa alas kaki untuk merangsang saraf-saraf agar tidak terjadi pembengkakan nanti nya.
"Mami, itu akses ke taman belakang kenapa di tutup ya, Mi?" Tanya Ayunda sambil berjalan.
"Itu kan Naren buat taman khusus buat kamu, sayang. Kamu lupa?"
"Enggak, Mami. Bukan lupa, tapi kenapa di tutup ya? Gak bisa liat gitu."
"Mungkin karena belum selesai, sayang. Kata Naren, bunga nya sudah tumbuh subur hanya saja belum berbunga. Semua nya akan di buka jika bunga nya sudah waktu nya mekar, agar lebih indah." Jelas Melisa. Ayunda pun mengangguk-anggukan kepala nya pertanda mengerti.
"Padahal Ayu udah penasaran banget sama penampakan bunga nya, pasti indah banget. Dari balkon juga gak bisa keliatan, soalnya pake kanopi gitu kan."
"Nanti juga kamu yang lihat pertama kali, sayang. Naren kan bikin taman bunga itu buat kamu, khusus buat kamu, sayang." Jawab Melisa sambil mengusap punggung Ayunda. Senang sekali ternyata Naren benar-benar menepati janji, padahal pria itu memutuskan untuk membuat taman itu disaat dia belum mengerti dengan perasaan nya sendiri.
"Iya, Mami. Ayu kok bahagia ya pas liat Mas Naren mau banget bikin Ayu bahagia."
"Lah namanya juga suami sama istri sendiri, pasti pengen ngebahagiain istrinya sendiri, sayang. Dengan cara apapun itu, pasti suami kamu akan melakukan nya." Ucap Melisa sambil tersenyum manis.
"Dulu, Ayu sempet ragu sama Mas Naren, Mi. Kirain itu dia gak bakalan mau bertanggung jawab, tapi ternyata Ayu terlalu mudah menilai dan menyama ratakan derajat manusia." Jawab Ayunda.
"Papi juga marah besar hari itu, sayang. Seumur hidup Narendra, itu adalah pertama kali nya Papi meninggikan suara nya, juga memukul nya. Dia selama ini tidak pernah marah, kalau Naren nakal paling hanya menasehati saja. Tapi saat dia mengatakan kalau dia sudah merusak kehormatan seorang gadis, papi marah besar hingga memukul putra nya itu." Jelas Melisa panjang lebar.
Dia takkan melupakan hari dimana suasana terasa sangat mencekam, melihat tatapan Arvin yang biasa nya hangat dan penuh kasih sayang itu berubah menjadi tatapan tajam dan penuh kemarahan yang terlihat jelas dari wajah nya.
Arvin memang jarang marah, tapi sekali nya marah pasti sangat menakutkan. Tahu lah seperti apa marah nya orang sabar, selama sebulan juga dia masih belum bisa memaafkan kesalahan putra nya yang sangat fatal itu, namun setelah melihat kalau putra nya sangat menyayangi istrinya, akhirnya Arvin luluh dan memaafkan semua nya dengan satu syarat.
Syarat apa? Jangan menyakiti Ayunda, cintai dan sayangi dia seperti Naren menyayangi Melisa, ibu nya. Karena kelak, Ayunda juga akan melahirkan seorang anak dan yang terpenting adalah, Ayunda dan Melisa sama-sama wanita. Jadi, menyakiti Ayunda, menyia-nyiakan kepercayaan istri itu sama saja dengan menyakiti ibu nya sendiri. Benar bukan? Tentu saja.
Saat itu Narendra menyanggupi syarat dari Arvin, jika dia melanggar maka Naren juga harus siap dengan konsekuensi dari perbuatan nya. Apa itu? Di coret dari kartu keluarga, semua aset yang dia miliki sekarang akan Arvino cabut dan memindahkan semua aset itu atas nama Ayunda. Ancaman nya tidak ringan, maka dari itu Narendra benar-benar melakukan apa yang sudah dia janjikan, namun dia melakukan nya bukan hanya karena syarat dari Arvin.
Tapi sekarang, dia sudah sangat mencintai Ayunda. Bahkan, rasanya hampa jika dia tidak bisa melihat senyuman Ayunda. Tidak bisa di bayangkan jika Narendra harus berpisah untuk waktu yang cukup lama dengan Ayunda, bisa-bisa dia gila nanti nya karena merindukan wanita cantik dengan sejuta pesona itu.
Apalagi setelah kehadiran si calon buah hati di rahim Ayunda, perasaan cinta yang tumbuh di hati Narendra semakin besar setiap harinya. Itulah Narendra, dia gila jika sudah mencintai.
"Pantas saja saat itu ada bekas lebam di wajah nya, tapi Mas Naren mengatakan kalau itu hanya luka biasa. Ayu pikir, Mas Naren mungkin habis berantem dengan saingan bisnis nya, Mami."
"Nyatanya bukan, Nak. Itu tamparan yang di layangkan Papi, luka yang akan membekas seumur hidup karena itu adalah pertama kali nya Naren mendapatkan hal itu dari papi nya dan Mami berharap semoga saja itu adalah yang terakhir." Jawab Melisa sambil tersenyum kecil. Begitu juga Ayunda. Artinya, perjuangan Naren untuk meyakinkan kedua orang tua nya juga bukanlah hal yang mudah, mengingat seperti apa Arvin. Dia pria yang tegas dan di segani, bahkan oleh putra nya sendiri.
__ADS_1
Di kantor, Narendra sedang fokus bekerja. Hingga pintu ruangan nya itu terbuka secara perlahan, Mark masuk dengan wajah datar nya. Dia membawa beberapa berkas di tangan nya.
"Tuan.."
"Hmmm, apa?"
"Ini berkas yang harus anda tanda.."
"Berkas lagi? Yang ini saja masih menumpuk, Mark." Jawab Narendra sambil menunjuk tumpukkan berkas dengan dagu nya, bahkan sebelum Mark menyelesaikan ucapan nya Naren sudah memotong nya.
"Nama nya juga lima hari gak masuk, otomatis berkas nya menumpuk, Tuan."
"Kau menyindir ku, Mark?"
"Iya, karena anda tidak membawakan saya oleh-oleh!" Jawab Mark yang membuat kening Narendra mengernyit heran.
"Oleh-oleh? Gak salah, Mark? Memang nya kau siapa hmm? Lagipun, aku kesana bukan untuk liburan atau bersenang-senang, Markus. Aku kesana karena ada kejadian gak terduga, aku gak kepikiran beli oleh-oleh."
"Padahal coklat dari Amerika katanya enak-enak."
"H-aahh? Kau ngidam apa bagaimana, Mark? Tiba-tiba ingin coklat? Cuma coklat, disini juga banyak." Jawab Narendra membuat Mark mengerucutkan bibir nya.
"Tidak, mana ada ngidam. Saya belum ngapa-ngapain lho sama Maya. Rencana mau bawa dia ke rumah juga gagal karena harus LEMBUR!" Jawab Mark dengan menekankan kata lembur.
"Cek rekening mu sana, sudah aku transfer untuk kau beli coklat. Kalau sudah, keluar sana aku pusing melihat wajah mu!" Tegas Narendra membuat wajah Mark berseri-seri. Dia pun merogoh ponsel dan melihat notif transfer, nominal nya besar sekali kalau mau beli coklat di jamin bisa beli setoko-toko nya.
"Hehe, makasih pak bos."
"Hmm, sana keluar. Jangan boros, di tabung buat modal nikah, Mark!"
"Baik, Tuan bos." Jawab Mark, dia pun keluar dari ruangan bos nya dengan hati gembira. Bahkan, pria itu bersiul sambil berjalan menuju ke ruangan nya. Efek bonus lembur ternyata bisa seperti ini, pengaruh uang jauh lebih dahsyat di bandingkan dengan perasaan jatuh cinta.
.......
🌻🌻🌻🌻🌻
Visual..
Narendra Astra Sanjaya
Ayunda Maishika
Asisten Markus
__ADS_1