
Setelah pulang dari rumah sakit, Narendra pun terus saja menyunggingkan senyuman manis nya, membuat Ayunda heran dengan suaminya. Bukan artinya dia tidak senang dengan berita kehamilan nya yang ternyata hamil kembar, tapi dia tidak senyam-senyum seperti suaminya.
"Mas, aku liat dari tadi kamu senyum-senyum aja sendiri. Kenapa?" Tanya Ayunda, membuat Narendra menoleh ke arah sang istri.
"Mas bahagia banget, sayang."
"Iya, aku tahu kamu bahagia, Mas. Aku juga bahagia, sangat bahagia dengan kehamilan aku. Tapi gak senyam-senyum kayak gitu dong, Mas." Ucap Ayunda.
"Tapi Mas gak bisa nahan senyum Mas, sayang."
"Iya baiklah, tapi jangan terlalu sering senyum nya ya? Nanti gigi nya kering lho." Goda Ayunda yang membuat Narendra terkekeh. Dia menggenggam tangan sang istri dengan mesra, lalu mengusap-usap punggung tangan Ayunda dengan lembut.
"Sayang, terimakasih karena sudah memberikan aku kebahagiaan. Aku sangat bahagia sekarang."
"Aku juga bahagia, Mas. Tidak perlu berterima kasih karena ini sudah kewajiban aku untuk hamil dan melahirkan anak kamu. Anak kita lebih tepatnya." Ucap Ayunda sambil tersenyum kecil.
Narendra mendekatkan wajah nya, lalu mengecup kening sang istri cukup lama, lalu memeluknya. Dia berharap, ini bukanlah kebahagiaan semu. Dia berharap, ini kebahagiaan yang akan bertahan selamanya. Dia tidak ingin kehilangan lagi, sudah cukup dia kehilangan saat itu. Rasanya sangat sakit, jadi dia tidak ingin kehilangan itu.
Untuk mengantisipasi semuanya, agar Ayunda tidak mengalami hal yang sama seperti yang sudah-sudah, dia harus ekstra menjaga sang istri. Dulu, saat Ayunda hamil untuk pertama kalinya, dia sangat keras kepala dan suka sekali beres-beres. Entahlah sekarang akan seperti apa, karena konon katanya setiap kehamilan pasti membawa sifat yang berbeda.
"Terimakasih sudah mengandung anak ku, sayang. I love you my wife.."
"I love you too, Hubby. More than anything." Jawab Ayunda sambil tersenyum. Narendra kembali mengecup kening sang istri dengan mesra, membuat Ayunda merasa sangat di cintai oleh suaminya.
"Kamu ingin makan sesuatu, sayang?" Tanya Narendra. Saat ini keduanya berada di dalam perjalanan untuk pulang. Tadi, dia memang mengemudi sendiri, tapi sekarang dia ingin quality time bersama sang istri di bangku belakang, jadi Narendra menghubungi supir kantor yang paling dekat jarak nya dengan rumah sakit dan sekarang supir itulah yang mengemudi di depan.
"Telur gulung, hehe."
"Oke, kita cari ya.."
"Pak, berhenti di pasar tradisional di perempatan ya? Istri saya mau telur gulung."
"Baik, Tuan muda." Jawab supir itu sambil tersenyum. Mendengar pembicaraan Narendra dan Ayunda membuat nya ikut merasa senang, sungguh melihat keharmonisan rumah tangga keduanya membuat nya merasa ikut bahagia.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, mobil nya pun berhenti di sebuah pasar tradisional. Supir itu pun turun untuk membelikan telur gulung pesanan sang Nona muda dan setelah mendapatkan nya, mereka pun pulang.
Di rumah, Narendra dan Ayunda pun disambut oleh kerempongan Melisa dan Arvin. Kedua nya nampak sangat antusias bertanya pada anak dan menantu nya yang baru saja pulang itu. Melisa langsung menggenggam tangan Ayunda, dia menatap menantu nya itu dengan khawatir.
Khawatir kenapa? Karena Narendra menjelaskan vonis dokter hari itu karena memang ukuran perut Ayunda jauh lebih besar jika di bandingkan dengan kehamilan pertama nya. Usia kandungan lima bulan, tapi perut nya sudah buncit besar seperti wanita hamil tujuh bulan.
"Sayang, bagaimana hasil pemeriksaan nya?" Tanya Melisa dengan nada khawatir.
"Tidak ada yang perlu di khawatirkan, Mami. Ayu baik-baik saja, mereka juga." Jawab Ayunda yang membuat Melisa mengusap dada nya dengan lega. Dia senang karena ke khawatiran nya tidak terjadi.
"Syukurlah kalau kalian baik-baik saja." Jawab Melisa sambil menghela nafas nya dengan lega. Semoga saja setelah ini, tak ada lagi drama seperti yang sudah-sudah.
"Tapi tunggu, mereka? Apa maksud kamu, sayang?"
"Twins, Mami. Ayu hamil kembar." Bukan Ayunda yang menjawab, tapi Narendra yang baru saja masuk dengan wajah berbinar nya. Dia masih tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan nya.
Melisa dan Arvino menatap Ayunda dengan tatapan seolah mereka meminta penjelasan pada Ayunda.
"Iya, Mami, Papi." Jawab Ayunda sambil mengusap perutnyabyanh terlihat membuncit indah. Melisa mengusap mata nya, dia menatap Ayunda dengan kedua mata yang berkaca-kaca. Wanita itu memeluk Ayunda dengan erat, bahagia? Tentu saja, dia sangat bahagia dengan kabar yang dia dapatkan sekarang. Sungguh demi apapun, dia sangat bahagia karena kabar ini.
"Selamat, sayang. Mami sangat bahagia, terimakasih karena sudah mengandung cucu Mami." Ucap Melisa sambil mengusap-usap punggung menantu nya dengan lembut.
"Sama-sama, mami. Harusnya jangan berterimakasih seperti itu karena ini adalah kewajiban Ayu untuk mengandung cucu Mami." Jawab Ayunda sambil tersenyum, dia membalas pelukan mami mertua nya yak kalah erat.
"Papi boleh peluk juga?" Tanya Arvin. Melisa pun langsung melepaskan pelukan nya, Ayunda merentangkan tangan nya siap menerima pelukan papi mertua nya. Tapi disaat pria paruh baya itu mendekat dan bersiap untuk memeluk menantu nya, dengan cepat Narendra memeluk istrinya. Seperti biasa, Narendra selalu tak suka jika istrinya di peluk oleh pria lain selain dirinya. Tak peduli, meskipun itu adalah Papi nya sendiri.
"Astaga, Naren." Ucap Arvino sambil menggelengkan kepala nya. Dia heran dengan sikap cemburuan sang putra. Padahal, dia hanya ingin memeluk menantu nya, tapi putra nya ini selalu saja menghalangi nya. Padahal, dia memeluk juga karena ada alasan nya bukan? Dia ingin memeluk Ayunda karena ikut merasa senang dan bahagia karena berita kehamilan kembar menantu nya ini.
"Dilarang meluk istri Naren!"
"Mas.."
"Gak mau, pokoknya jangan di peluk, titik!" Jawab Narendra membuat Ayunda terdiam, kalau sudah begini ya mending biarkan saja. Kalau pun dia melawan, pasti suami nya ini akan merajuk dan misuh-misuh nanti.
__ADS_1
"Gapapa, sayang. Papi paham dengan sikap posesif nya. Selamat untuk kehamilan ini, Papi senang mendengar nya. Sehat selalu ya cucu dan menantu Papi, btw mau hadiah apa dari Papi?" Tanya Arvino membuat Ayunda terhenyak.
Hamil kembar saja sampai di tawari hadiah seperti ini? Betapa royal nya seorang Arvino sebagai mertua pada menantu nya.
"Tidak usah, Papi. Gak usah repot-repot, lagian Ayu kan cuma hamil kembar bukan ulang tahun."
"Jangan menolak, sayang. Katakan, barangkali ada sesuatu yang ingin kamu beli tapi suami kamu gak peka." Jawab Arvino menyindir Narendra. Yang tentu saja membuat putra nya itu berdecak tak suka, dia menatap Papi nya dengan tatapan bombastic side eye alias mendelik kesal ke arah sang papi.
"Gak usah nyindir gitu juga kali, papi kan tahu sendiri seperti apa menantu Papi ini."
"Ya justru karena itu, kamu sebagai suami harusnya lebih peka sama istri kamu. Barangkali dia pengen beli sesuatu tapi malu bilang sama kamu, kan bisa aja." Jawab Arvino yang membuat Narendra terdiam. Benar, Ayunda memang tidak pernah meminta sesuatu padanya.
Pernah sesekali, itu pun kalau sudah kepepet dan dia yang menawari terlebih dulu. Seperti saat dia hamil pertama kali nya, dia ngidam ingin membeli tas baru dan Narendra langsung membelikan nya agar bayi nya tidak ngeces. Tapi ternyata takdir tidak berpihak pada mereka, mereka harus kehilangan bayi itu dengan cara yang paling menyakitkan.
"Sayang, kok diam?" Tanya Narendra lagi.
"Biarin, istri kamu lagi mikir pengen minta apa sama Papi." Jawab Arvino yang membuat putra nya itu menatapnya sinis, tapi bukan Arvino jika tidak suka menggoda putra nya ini. Sudah tahu putra nya posesif, cemburuan dan gampang kesal, Arvin malah senang sekali menggoda putranya itu.
"Ayu pengen main-main ke panti asuhan, terus kita ngadain santunan disana. Bagaimana?" Tanya Ayunda yang membuat Narendra langsung menatap sang istri dengan tatapan tak percaya.
"Tentu, papi sangat setuju sayang. Kita ke panti asuhan nanti hari minggu. Bagaimana? Biar Naren libur kerja jadi bisa ikut ke sana."
"Mami juga setuju, Nak." Jawab Melisa, dia setuju dengan ucapan suaminya.
"Boleh, Ayu senang sekali kalau Papi sama Mami setuju."
"Kenapa kamu harus tidak setuju? Niat kamu sangat baik dan tulus, kami akan selalu mendukung apapun yang akan kamu lakukan jika itu masih dalam tujuan yang baik, sayang."
"Terimakasih, Mami." Jawab Ayunda sambil tersenyum, Melisa mengusap punggung dan wajah cantik sang menantu dengan lembut lalu melemparkan senyuman manis. Dia senang karena Ayunda meminta hal yang sangat baik saat Arvino menanyakan tentang hadiah. Ternyata hadiah nya sangat bermanfaat untuk orang banyak, terlebih anak yatim piatu.
......
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1