
"Pi.." Panggil Narendra. Saat ini, kedua pria berstatus ayah dan anak itu sedang berada di halaman belakang.
"Iya, ada apa, Boy? Kelihatan nya ada yang ingin kau katakan."
"Kenapa Papi bisa tahu? Apa Papi ini peramal atau cenayang?" Tanya Naren sambil tertawa pelan.
"Kelihatan dari wajah mu, Boy. Ada apa? Apa ada masalah dengan perusahaan?"
"Tidak, perusahaan berjalan dengan baik." Jawab Narendra. Dia berjalan pelan dengan kedua tangan yang dia masukkan ke dalam celana pendek selutut yang dia kenakan. Belakangan ini, Narendra lebih sering mengenakan celana chinos pendek. Entah kenapa, padahal dulu dia lebih menyukai celana jeans yang cukup ketat.
"Lalu, ada apa?"
"Aku ingin meminta izin untuk mengubah kebun ini, Pi."
"Mengubah nya seperti apa, hmm?" Tanya Arvin lirih. Dia menoleh ke arah putra nya yang sedang berjalan juga di belakang nya.
__ADS_1
"Ayunda menyukai bunga mawar biru, jadi aku berpikir akan sangat indah kalau tempat ini aku jadikan taman bunga."
"Mawar biru?" Tanya Arvin, dia cukup tercengang karena mawar biru adalah jenis bunga yang cukup langka. Tapi, tanaman bunga itu memerlukan perawatan yang sangat khusus, karena rentan terkena hama tanaman. Tentu nya, perawatan bunga itu akan memakan biaya yang tidak sedikit alias mahal.
"Bagaimana, Pi?"
"Lakukan saja, Boy. Tapi, katakan dulu apa alasan mu, kenapa ingin mengubah kebun ini menjadi taman bunga."
"Bukankah alasan nya sudah terpampang nyata, Pi? Karena, Naren ingin membahagiakan istri Naren, itu saja." Jawab Narendra sambil tersenyum kecil.
"Hmm, baguslah. Papi akan mendukung mu, Boy. Papi juga akan membantu mengurus bunga-bunga itu nanti nya. Mulai lah, jangan ragu."
"Sama-sama, apapun itu jika membuat istri mu bahagia, Papi akan mendukung mu. Tapi sebaliknya, jika kamu menyakiti istrimu, kamu harus berhadapan dengan Papi. Ingat itu, Boy!" Tegas Arvin. Narendra menganggukan kepala nya. Dia paham benar, kenapa sang Papi mengatakan hal demikian.
Dulu, dia pernah salah memilih dan mati-matian untuk meminta restu tapi sampai hubungan mereka berakhir pun, restu itu tidak kunjung di dapatkan juga. Karena apa? Kedua orang tua nya mengetahui sesuatu yang tak dia ketahui namun tidak ingin menjelek-jelekkan nama perempuan itu padanya.
__ADS_1
Mereka, ingin Narendra melihat nya secara langsung apa yang di lakukan oleh wanita itu dan dengan sendiri nya, Narendra akan menyadari kenapa Arvin maupun Melisa tidak setuju dengan hubungan mereka karena dia bukan wanita yang baik, itu saja.
"Baik, Papi."
"Ingat ini, Papi tidak pernah mengajari putra Papi untuk menjadi pria brengseek. Kalau bisa, kamu harus menikah satu kali seumur hidup, sama seperti Papi. Tidak masalah kalau pasangan mu pernah gagal, dukung dia dan perbaiki dia. Tapi kalau sudah berhubungan dengan yang nama nya sifat, itu akan sulit di sembuhkan." Pepatah Arvin dan di angguki oleh Naren.
Dia paham benar dengan apa yang di katakan sang ayah. Artinya, dia harus mencintai istri nya. Benar, kalau bisa meminta dia akan menikah satu kali seumur hidup. Susah maupun senang, dia akan menghadapi nya bersama Ayunda, istri nya. Wanita yang dia pilih untuk menjadi istrinya sekarang.
"Ayunda adalah perempuan yang sangat baik, Boy. Percayalah, di zaman ini akan sangat sulit mencari perempuan sebaik dan setulus dia. Maka dari itu, kamu jangan menyia-nyiakan nya atau nanti kamu akan menyesal."
"Baik, Papi."
"Baguslah, Papi yakin kamu bukan pria yang keras kepala. Papi yakin kamu akan mendengarkan nasihat Papi dan melakukan semua yang Papi katakan."
Narendra menganggukan kepala nya, pembicaraan seperti ini sudah sering mereka lakukan. Berkali-kali, Arvin memberikan nasehat nya pada Narendra. Berbeda jauh saat Narendra masih menjalin hubungan dengan Trisa, Arvin maupun Melisa kedua nya kompak menjauh. Hingga hubungan anak dan ayah itu renggang, tercipta sebuah jarak di antara mereka.
__ADS_1
.....
🌻🌻🌻🌻