Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 203 - Kedatangan Maya


__ADS_3

"Nona.." Panggil seseorang yang membuat Ayunda menoleh dan tersenyum ketika melihat siapa yang datang. 


"Maya." Ayunda langsung beranjak dari duduknya lalu menghampiri wanita yang pernah menjadi maid nya selama beberapa bulan sebelum akhirnya dia di pinang oleh Mark.


"Apa kabar, Maya?" Tanya Ayunda sambil memeluk wanita itu dengan erat. Dia tengah hamil enam bulan saat ini, perutnya sudah terlihat membuncit sekarang. Lucu sekali. 


"Baik, Nona. Nona juga apa kabar?"


"Aku juga sudah membaik sekarang, hanya tinggal masa pemulihan aja, soalnya kan dapet bonus jahitan." Jawab Ayunda sambil tersenyum kecil. 


"Ohh iya, selamat atas kelahiran baby twins, Nona." Ucap Maya sambil memberikan sebuah paperbag ke tangan Ayunda. Wanita itu menerima nya dengan senang hati, sebenarnya dia merasa tidak enak menerima hadiah itu. Tapi dia juga tidak enak jika harus menolak hadiah pemberian orang lain lebih tepatnya menghargai, karena bisa saja orang itu memberikan itu dengan perjuangan. 


"Terimakasih, Maya. Ini kamu lagi hamil berapa bulan?" Tanya Ayunda sambil mengusap perut buncit Maya.


"Enam bulan, Nona. Sudah gerak-gerak disini, bikin geli." Ucap Maya sambil terkekeh.


"Apalagi kalau udah tujuh bulan nanti, nanti gerak nya makin kuat lho. Ayo kita duduk, nanti kaki kamu pegel kalau terus-terusan berdiri gini." Ajak Ayunda sambil menggandeng tangan Maya. Mark juga ada disana, hanya saja dia lebih memilih untuk bergabung dengan para pria yang sedang duduk-duduk tak jauh dari mereka. 


"Lucu juga ya liat perut kamu buncit gini, May." Ucap Ayunda. Dia gemas sendiri melihat perut buncit wanita itu, padahal dulu dirinya juga mengalami nya. Tapi dirinya merasa tidak lucu dan menggemaskan seperti ini, dia malah tidak percaya diri dan malu ketika melihat dirinya sendiri di cermin.


Dengan perut buncit itu agak emmhuag Ayunda malu, tapi ketika melihat orang lain yang hamil kenapa malah terlihat lucu dan menggemaskan? Perut buncit itu terlihat menjadi daya tarik yang sangat menarik pandangan. 


"Di bagian mana lucu nya, Nona? Ini kayak aku kekurangan gizi, perut buncit seperti ini." Jawab Maya sambil terkekeh pelan.


"Tapi beneran gemesin lho, tapi kok pas aku hamil gak menggemaskan kayak gini ya."


"Nah, sama aku juga kayak gitu. Padahal menurut pandangan saya saat melihat Nona Ayu hamil itu terlihat cantik, anggun dan lucu." Jawab Maya sambil tersenyum.


"Ohh, begitukah?" 


"Benar, Nona." Jawab Maya. Memang benar apa yang dia katakan, dia melihat Ayunda terlihat sangat lucu ketika dia mengandung, tapi dirinya malah tidak percaya diri dan malu. Dirinya juga merasakan hal itu, seringkali dia merasa insecure karena tubuhnya yang sudah melar dua kali lipat dari sebelumnya karena nafssu makan nya benar-benar tidak terkendali semenjak dia hamil.


"Nona, apa yang Nona lakukan hingga bisa kurus lagi seperti ini?" Tanya Maya penasaran. Pasalnya dia tahu kalau tubuh Ayunda juga sempat mengembang ketika hamil, tapi sekarang dia terlihat kurusan. Bahkan tubuhnya kembali seperti semula, seperti sebelum dia hamil.


"Aku? Tidak melakukan apapun, hanya saja aku sering begadang sekarang. Mungkin itu yang membuat aku kurusan." Jawab Ayunda sambil terkekeh.


"Kalau makanan? Apa ada makanan yang tidak boleh di makan saat fase menyusui seperti ini?" Tanya Maya lagi.


"Kata Mami sih jangan makan labu kuning, terus perbanyak aja makan sayur, daging, ikan sama buah. Itu aja sih, sebenarnya sama aja kayak pas masih hamil. Makan makanan sehat aja yang penting." Jelas Ayunda. Dia mengatakan hal yang sejujurnya. Sejak hamil, dia memang di anjurkan untuk memakan makanan yang sehat dan bergizi. Begitu juga dengan sekarang, dia harus makan makanan yang bergizi, sehat dan seimbang karena dirinya sedang menyusui saat ini.


Sekarang, mertua nya juga semakin protektif menjaga dirinya. Kenapa? Karena Ayunda seringkali mengabaikan yang namanya sarapan, seringkali juga dia telat makan karena malas katanya. Jadi sekarang kalau Ayunda telat makan, sudah pasti dia akan tetap makan dengan di suapi oleh mertuanya. Mami mertuanya lebih tepatnya, kalau Arvin sendiri paling hanya menasehati saja dengan ucapan. Kalau Melisa lebih ke tindakan. 


"Labu kuning? Memang nya kenapa?"

__ADS_1


"Aku juga kurang tahu sih sebenernya, tapi kan kita sebagai orang yang masih awam dan pemula, jadi kita cuma bisa menurut sama yang lebih tua dan lebih berpengalaman." Jawab Ayunda.


"Iya juga, Nona. Aku sih gak ada larangan ya, cuma kalau labu kuning memang aku gak suka, hehe." Celetuk Maya sambil terkekeh.


"Sama sih, aku juga. Tapi kalo udah di bikin sup tuh enak banget, tapi jangan kebanyakan aja makan nya. Lagian, sejak aku hamil Mami gak pernah masak sup labu kuning, mungkin karena takut aku makan kali ya.." Ucap Ayunda sambil tertawa kecil, di ikuti juga oleh Maya. Dia merasa Melisa sangat protektif sekali menjaga Ayunda.


Beruntung sekali mertua nya juga seperti itu, mereka sangat baik. Bahkan ketika Mark melakukan sedikit saja kesalahan, maka yang akan marah dan mengamuk adalah kedua orang tua nya, dirinya hanya diam saja. Dia tidak mau mengomel panjang lebar, jadi seringkali memilih diam. 


Tapi berbeda dengan mertuanya, mereka tim orang-orang yang kalau memiliki masalah harus selesai hari itu juga. Mereka benar-benar tidak suka jika melihat Mark diam-diaman dengan istrinya, padahal di balik diamnya Maya merasa tak mau banyak atau memperpanjang masalah. 


Maya dan Ayunda adalah dua wanita yang sangat beruntung karena memiliki mertua yang sangat menyayangi mereka tanpa melihat hal apapun yang ada pada diri mereka. Justru, di mata mereka selalu anak-anak nya lah yang salah. Seperti Melisa contohnya, meskipun Ayunda yang kadang membuat suaminya kesal, tapi tetap saja yang kenapl damprat itu adalah Narendra. Bagi Melisa dan Arvin, apapun kesalahan nya dan siapa yang memulai, selalu Naren lah yang salah. 


Kenapa demikian? Karena mereka tak ingin mau menyalahkan menantu nya karena kesalahan sekecil apapun, meskipun begitu kalau Ayunda salah tetaplah memberikan nasehat dengan lemah lembut. Tapi lagi-lagi, berbeda dengan cara dia bicara ketika menasehati putranya, selalu menggebu-gebu.


"Lho, ada Maya ternyata.." Ucap Melisa sambil tersenyum. Dia membawa piring berisi makanan. Di antaranya ada buah-buahan dan pudding yang juga ada buah di dalamnya.


"Iya, Nyonya."


"Panggil Mami aja." Ucap Melisa sambil tersenyum.


"Iya, Mami."


"Sama siapa kesini? Suami kamu kemana?"


"Di luar sama Tuan Naren dan tuan besar." Jawab Maya lagi sambil tersenyum. 


"Iya, Mami." 


"Yaudah, ini makan. Ada buah-buahan sama pudding, kebetulan ini busui lagi jam nya ngemil biar asi nya gak hambar nanti." Ucap Melisa sambil mengambilkan piring kecil untuk Maya.


"Kamu juga makan, kalau perlu habisin!"


"Mami, Ayu masih kenyang. Kan barusan habis makan sama sup." Jawab Ayunda. Sejujurnya dia masih ke kenyangan, tapi kalau sudah begini mau gimana lagi kan ya? Lagian itu buah dan pudding kelihatan menggoda sekali untuk di santap. 


"Makan.."


"Iya iya, Mami." Jawab Ayunda. Dia pun mulai memakan buah-buahan itu dengan perlahan. Meskipun menolak, tapi akhirnya dia memakan buah-buahan itu sampai habis. 


"Sebentar ya, May. Aku harus pumping asi dulu. Gak lama kok."


"Iya, Nona." Jawab Maya. Dia pun membiarkan Ayunda pergi sejenak untuk mengambil asi nya menggunakan alat pumping dan memasukan nya ke dalam botol. Setelah mendapatkan beberapa botol, Ayunda pun menyimpan nya di dalam freezer setelah memberi nya tanggal dan jam agar tidak tertukar dengan yang sudah lama.


Setengah jam kemudian, Melisa datang sambil menggendong baby Haneen di pelukan nya dia duduk di samping Maya yang tengah melamun sendirian.

__ADS_1


"Ayu kemana, Maya?"


"Tadi katanya mau pumping asi dulu." Jawab Maya sambil tersenyum. 


"Ohh, iya sih sudah waktunya memang." 


"Ini bayi laki-laki nya?" Tanya Maya dengan antusias, dia mencolek-colek pipi gembil kemerahan yang terlihat sangat menggemaskan, kulit nya sangat lembut dan memiliki aroma yang manis dan membuatnya candu. 


"Nama nya siapa, Mi?" Tanya Maya, dia mengusap pipi itu dengan gemasnya, tapi baby Haneen tetap tertidur lelap, seolah sentuhan itu tidak membuaynya terusik sama sekali. 


"Haneen." 


"Wah, nama yang indah sekali."


"Iya, Naren yang memilih dan memberikan nama ini untuk anak laki-laki nya." Jawab Melisa.


"Ini kakaknya atau adiknya, Mi?"


"Ini kakaknya, meskipun hanya berbeda beberapa menit saja." Wanita paruh baya itu tersenyum menatap bayi mungil di gendongan nya, selain lucu dia juga sangat indah. Benar-benar indah, sampai rasanya dia tidak bisa mengatakan apapun untuk mendeskripsikan keindahan yang di miliki kedua cucunya ini.


"Dia tampan sekali ya, Mi."


"Apalagi Hania, dia sangat cantik seperti Ayunda."


"Benarkah? Wah, aku ingin melihatnya juga."


"Sebentar lagi dia akan keluar bersama kakeknya." Jawab Melisa sambil tersenyum dan benar saja, tak lama kemudian Arvino datang dengan menggendong Baby Hania. Seperti nya bayi yang satu itu sangat menempel pada kakeknya. Tidak, lebih tepatnya pada laki-laki. Mungkin benar, cinta pertama seorang anak perempuan itu adalah ayahnya. Jadi dia lebih dekat dengan yang laki-laki di bandingkan perempuan. Lebih tepatnya, Hania akan merengek dan rewel jika di pangku perempuan selain ibunya. 


Dan feeling bayi itu cukup kuat padahal usia nya baru beberapa hari saja. Tapi feeling nya terhadap pengenalan orang tua nya sangat baik, dia tidak akan menangis jika berada di dekapan Ayunda. 


Sebaliknya Haneen akan selalu merengek dan merasa tak nyaman jika berada di pangkuan laki-laki, dia lebih suka di gendong oleh perempuan. Aneh ya? Padahal masih bayi berumur beberapa hari saja, tapi mereka sudah memiliki keinginan masing-masing yang cukup bertentangan satu sama lain.


"Nah itu dia Hania.." Ucap Melisa. Arvin pun mendekat dan memperlihatkan bayi mungil itu pada Maya, dia tahu kalau wanita itu pasti penasaran dengan bayi perempuan bernama Hania itu. 


"Mami benar, Baby Hania ini terlihat sangat mirip dengan Nona Ayunda." 


"Iya kan? Bahkan dagu nya yang seperti terbelah itu sama seperti Ayunda." Ucap Melisa. Memang dagu Baby Hania itu terlihat seperti terbelah dan Ayunda juga memiliki dagu yang seperti itu. Cantik sekali memang, tapi Ayunda sendiri tidak menyangka kalau putrinya ini akan mewarisi apa yang ada pada dirinya semirip itu. 


"Lucu sekali, aku ingin menggendong nya tapi aku takut kalau dia nangis. Jadi enggak deh, hehe."


"Kenapa?"


"Nanti berabe, soalnya kan mereka kembar. Kalo yang satunya menangis, pasti yang satunya lagi juga akan menangis." Jawab Maya, Melisa dan Arvin menganggukan kepala nya mengiyakan. Memang kembar selalu seperti itu, bukan karena keterikatan batin tapi ya karena berisik saja membuat tidur mereka terganggu. 

__ADS_1


.......


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2