
Saat kedua nya, sedang dalam perjalanan menuju kediaman utama keluarga Sanjaya. Sesekali, Narendra terlihat curi-curi pandang ke arah Ayunda yang terlihat sangat cantik dengan balutan dress berwarna biru navy itu.
Gadis itu terlihat sangat gugup, dia tak berhenti meremaas jemari nya. Hal itu membuat Naren gemas. Pria itu mengambil sebelah tangan Ayunda dan menggenggam nya.
"Kamu gugup, sayang? Tangan mu berkeringat dan terasa dingin." Tanya Narendra. Dia melirik sekilas ke arah Ayunda yang sedari tadi memilih untuk diam saja.
"Jangan gugup, sayang. Kedua orang tua ku takkan melakukan apapun padamu, mereka orang yang baik."
"Tapi.."
"Jangan khawatir, ada aku disini." Jawab Narendra. Dia meyakinkan gadis cantik yang duduk di samping nya itu sebisa mungkin.
"Hmmm, baiklah akan aku usahakan. Maafkan aku kalau semisal aku sedikit mengecewakan mu."
"Tidak, kamu gadis yang sempurna. Aku percaya kalau kau takkan pernah mengecewakan aku." Jawab Naren, dia tersenyum kecil, membuat hati Ayunda menghangat. Setidaknya, sekarang dia merasa yakin kalau Naren adalah pria yang serius dengan apa yang dia katakan. Dia juga pria yang bertanggung jawab.
"Terimakasih sudah percaya padaku." Lirih Ayunda, membuat Naren tersenyum kecil.
__ADS_1
"Bukan nya, itu yang harusnya aku katakan padamu?"
"Tidak, tapi kita harus saling percaya, kan?"
"Ya, benar. Aku percaya padamu, maka kamu juga harus percaya padaku, sayang." Jelas Naren, Ayunda menganggukan kepala nya. Setidak nya, hati nya saat ini merasa sedikit lebih tenang. Bicara dengan Naren, nyatanya mampu mengatasi kegugupan nya.
Satu jam kemudian, mobil yang di kendarai oleh Naren berhenti di sebuah rumah yang terlihat sangat besar. Ayunda sambil terkagum-kagum begitu melihat rumah yang besar dengan di dominasi berwarna putih.
"I-ini rumah mu?"
"Rumah orang tua ku, sayang." Jawab Narendra. Dia pun keluar lebih dulu dari mobil nya dan membukakan pintu mobil nya untuk Ayunda.
"A-aku gugup.."
"Percaya saja padaku, sayang. Mari kita masuk." Ajak Naren. Dia pun membawa Ayunda masuk ke dalam rumah besar nan mewah itu. Ayunda di buat takjub kembali saat melihat interior di dalam rumah.
"Kamu sudah datang, Boy.." Panggil Melisa, sedangkan Arvin hanya menatap datar kedatangan putra nya itu. Jujur saja, dia masih di liputi amarah yang menggebu-gebu saat ini.
__ADS_1
"Duduklah.." Ucap Melisa sambil tersenyum, Naren pun menarik Ayunda untuk duduk di sofa yang berhadapan dengan orang tua Naren.
"Dia gadis yang sudah kau rusak?" Tanya Arvin langsung tanpa basa basi terlebih dulu. Ayunda menundukkan kepala nya, jujur saja dia takut begitu mendengar suara Arvin yang terdengar datar dan dingin.
"Iya, nama nya Ayunda."
"Tatap aku saat aku bicara!" Tegas Arvin, membuat Ayunda langsung mendongak. Dia memberanikan diri menatap wajah pria paruh baya itu.
Arvin terkejut saat tatapan mata nya tak sengaja bertemu dengan tatapan polos gadis itu, mata dengan benar cerah membuat hati Arvin seketika bisa menilai kalau gadis ini benar-benar masih polos. Belum terkontaminasi dengan pergaulan ala kota.
"Dari mana kau berasal, siapa orang tua mu?"
"Saya dari kampung, saya kesini untuk bekerja. Saya sudah tidak punya orang tua, selama ini saya tinggal bersama paman dan bibi saya, tapi sekarang saya di usir." Jelas Ayunda, Arvin mencari kebohongan dari tatapan mata gadis itu. Hasil nya nihil, dia tidak melihat ada nya kebohongan dari mata nya, dia jujur.
"Baiklah, jadi kapan kalian akan menikah?" Tanya Arvin, tanpa basa basi lagi. Artinya dia merestui Naren menikah dengan Ayunda?
Naren terhenyak, dia benar-benar terkejut. Semudah itu kah sang ayah memberikan restu nya pada Ayunda? Sedangkan pada Trisa, dia dengan tegas mengatakan ketidak setujuan nya untuk menikahi gadis itu. Tapi pada Ayunda?
__ADS_1
......
🌻🌻🌻🌻