Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 163 - Rahasia Arvin


__ADS_3

Hari Minggu pun tiba, hari ini keluarga besar Sanjaya sudah bersiap untuk pergi ke panti asuhan untuk melakukan kunjungan sekalian memberikan beberapa barang dan uang sebagai bentuk rasa syukur karena telah di berikan kebahagiaan yang berkali-kali lipat dalam waktu yang berdekatan. 


Ayunda tampil cantik dengan gamis berwarna putih lengkap dengan kerudung nya, wanita itu terus mengusap-usap perutnya yang membuncit. Di samping nya, ada Narendra yang juga memakai pakaian koko rapih lengkap dengan peci nya. Pria itu tampak lebih segar saat ini. Tentu saja, hatinya tengah di liputi kebahagiaan. 


Hari Jum'at, hanya berbeda satu hari dengan kabar bahagia dari Ayunda yang mengandung bayi kembar. Keluarga besar itu kembali mendapatkan kabar membahagiakan. Darren, ayah dari Arvino dan kakek dari Narendra yang selama ini koma di Amerika, hari itu ada perkembangan yang baik dan signifikan. Sekarang, dia sudah bisa membuka mata nya tapi belum bisa merespon apapun. 


Hanya menatap adik nya, Samuel dengan tatapan sendu lalu meneteskan air mata nya, tapi masih belum bisa di ajak berkomunikasi. Tapi, hal itu juga menunjukkan kalau kekuasaan Tuhan memang ada, bukan? Tak ada yang tidak mungkin jika Tuhan sudah berkehendak. 


Bahkan disaat dokter-dokter disana berterus terang kalau mereka menyerah untuk mengusahakan kesembuhan Darren karena selama berbulan-bulan tidak ada perkembangan sama sekali. Mereka menyangka kalau tubuh Darren sudah tidak mampu menerima semua metode pengobatan. Tapi ternyata, tepat dua hari setelah dokter itu mengatakan hal yang membuat Sam dan Selin merasa down, Darren malah menunjukkan perkembangan yang sangat baik. 


Artinya, Darren masih bisa di selamatkan dan sembuh seperti sediakala hanya perlu kesabaran yang ekstra untuk menunggu lagi dan lagi. 


Hari ini, Arvin yang mengemudikan kendaraan nya. Di belakang mobil mereka, ada beberapa mobil lain yang mengikuti mobil Arvin. Mobil itu berisi barang-barang kebutuhan anak-anak seperti susu, pakaian, pampers, sembako dan beberapa barang lainnya yang sengaja Arvino sediakan. 


"Sayang, kamu bahagia?"


"Sangat, Mas. Aku sangat bahagia sekali, kenapa Mas bertanya seperti itu?"


"Tidak, sayang. Hanya saja Mas merasa aura kamu positif sekali sekarang, Mas senang karena akhirnya bisa melihat kamu yang seperti ini lagi setelah sosok ini menghilang cukup lama dan di gantikan sosok lain." Ucap Narendra. Ayunda terdiam, beberapa bulan sejak kejadian menyakitkan itu, dirinya memang berubah. 


Dari segi penampilan, sikap, sifat juga dia berubah sangat drastis. Bahkan tak jarang, Ayunda hanya terdiam melamun dan Narendra sering mendapati sang istri seperti itu. Menatap jauh menerawang dengan tatapan kosong, itu membuat Narendra khawatir. Tapi syukurlah, saat ini sosok Ayunda yang dia kenal dan dia suka telah kembali. 


"Maaf, Mas. Mulai hari ini Mas akan sering melihat sosok Ayu yang dulu dalam diri Ayu yang baru." Jawab Ayunda, membuat Narendra tersenyum. Dia merangkul istrinya dari samping, lalu mengecup puncak kepala istrinya dengan mesra.


"Jangan pernah pergi meninggalkan sosok Ayunda yang Mas sukai ya? Mas gak bisa lihat kamu seperti itu lagi, Mas juga ikutan sakit."

__ADS_1


"Kehilangan memang sangat menyakitkan, Mas. Aku merasa kalau aku takkan bisa berada di titik ini sekarang, tapi berkat bantuan kamu, Mami dan Papi yang menguatkan, akhirnya aku berdamai dengan masa lalu, Mas. Terimakasih untuk semuanya." Ucap Ayunda panjang lebar, Narendra menganggukan kepala nya dengan senyuman manis yang tak pernah hilang dari bibirnya. 


"Mas bahagia bisa menikah sama kamu dan melengkapi hidup kamu, sayang. I love you, my wife."


"Love you too, my Hubby. Stay here with me."


"Yeah, aku akan tetap disini bersama mu kapanpun." Jawab Narendra lagi.


"Buceen aja terus, sampe lupa kalau disini gak ada cuman kalian doang." Ucap Arvino. Dia yang paling sering merecoki kemesraan anak dan menantu nya itu, entahlah mungkin dia iri atau memang pada dasarnya sikap Arvin yang jahil. Maka dari itu Arvino tak pernah membiarkan Narendra berhasil bermesraan. 


"Hehe, maaf Papi. Lagian Papi harusnya pake headphone biar gak denger apa-apa. Udah tua juga, masih aja suka nguping anak muda romantisan." Celetuk Narendra yang membuat Arvino kesal pada putra nya itu. Dia memang jahil pada Putranya, tapi saat putranya membalas pasti dia kena ulti alias kena mental. 


"Ckk, sok banget kamu, Ren."


"Udah sih, Mas. Gak usah di ganggu anaknya kalau gak mau tersinggung. Udah tahu kamu tuh orangnya gampang kesinggung, pake segala godain anaknya yang punya mulut pedes." Ucap Melisa yang membuat semua orang terdiam seketika. Terutama Narendra, dia bungkam namun dalam hati dia tertawa terbahak-bahak karena melihat sang ayah yang langsung tak berkutik saat sang ibu mengeluarkan suaranya. 


Tatapan mereka sangat-sangat polos, jangan heran karena tatapan anak-anak memang sangat tulus. Mereka menatap kedatangan keluarga besar itu dengan sendu. Mungkin, ada sebagian dari mereka berharap kalau yang datang adalah calon orang tua angkat mereka. Orang tua yang akan menyayangi mereka yang kurang beruntung karena tak memiliki keluarga. 


Orang-orang yang akan menyambut mereka dengan senyum dan dekapan hangat, namun sayang sekali kedatangan semuanya kesini bukan untuk mengadopsi salah satu anak dari sini, tapi mereka melakukan kunjungan sekalian santunan sebagai bentuk rasa syukur karena Tuhan memberikan rezeki yang sangat berlimpah juga kebahagiaan yang semoga saja tiada habisnya.


Arvino langsung bertemu dengan seorang wanita yang ternyata adalah pengurus panti asuhan kasih bunda ini. Dia terlihat sangat ramah saat bertemu dengan Arvino juga anggota keluarga nya yang lain.


"Selamat siang, Tuan Arvin."


"Siang, Buk. Apa kabar?" Tanya Arvino sambil tersenyum. 

__ADS_1


"Allhamdulilah baik, bagaimana dengan anda sendiri?"


"Baik juga, bagaimana anak-anak dan ekonomi disini?"


"Sejak Tuan Arvin dan Tuan besar yang menjadi donatur tetap di panti asuhan ini, tidak ada lagi kekurangan untuk semua kebutuhan anak-anak, Tuan." Jawab nya lagi. Tentu saja membuat Narendra dan Ayunda terhenyak, siapa yang menyangka kalau Arvin adalah donatur terbesar di panti ini?


Tapi itulah Arvin, menurutnya kebaikan tak selalu harus di publikasi. Biarkan saja, lagi pula dia melakukan ini tulus dan ikhlas dari hati, bukan hanya untuk mendapatkan apresiasi dari orang banyak. Akan lebih baik tidak ada yang tahu kalau dia sering berbuat baik, meskipun kelihatan nya Arvino hanya diam-diam saja di rumah sambil minum kopi. Padahal, pikiran dan hatinya berpikir jauh entah kemana.


"Ini siapa, Tuan?"


"Perkenalkan, ini Ayunda dan Narendra. Narendra adalah putra tunggal saya dan Ayunda istrinya." Jawab Arvino yang membuat ibu itu tersenyum, apalagi saat melihat perut buncit Ayunda. 


"Sedang hamil, Nak?"


"Iya, Buk." Jawab Ayunda dengan ramah. Dia tidak menunjukkan sikap canggung sama sekali. 


"Berapa bulan, Nak? Kelihatan nya sudah besar ya kandungan nya."


"Baru lima bulan, Buk. Tapi karena hamil kembar, jadinya kayak hamil tujuh bulan." Jelas Ayunda sambil tersenyum. 


"Allhamdulilah, Nak. Sakitnya Kehilangan waktu itu, tergantikan dengan kebahagiaan ya.." Ucap nya, membuat Ayunda kaget. Dari mana ibu pengasuh panti itu mengetahui kalau dia pernah keguguran?


"Jangan kaget, Nak. Saat kamu keguguran hari itu, Papi berkunjung kesini dan memberikan santunan sebagai bentuk rasa berduka. Tidak apa-apa kalau melampiaskan nya dalam kebaikan bukan? Seperti saat ini. Bagi Papi, kehilangan atau kedatangan, tak ada salahnya jika di pakai untuk berbagi. Toh, sama-sama mendapatkan pahala meskipun tujuan nya untuk melupakan sejenak rasa sakit. Percayalah, dengan berbagi dan berbuat baik seperti ini, maka hati akan terasa lega, terasa jauh lebih lapang." Jelas Arvino panjang lebar, membuat Ayunda paham sekarang. 


Pantas saja, Arvino terlihat selalu kuat, tegar dan lapang dada. Ternyata ini adalah rahasia nya, teruslah berbuat baik apapun keadaan nya. Karena pada dasarnya, dengan berbuat baik, selain bisa mendapatkan pahala yang besar, berbuat baik juga bisa membuat hati lebih tenang, lega, ikhlas dan juga lebih lapang. Seperti yang di katakan oleh Arvino. 

__ADS_1


......


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2