Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 118 - Darren Koma


__ADS_3

Keesokan pagi nya, suasana mansion tengah di landa kepanikan yang benar-benar membuat seisi rumah berhamburan kesana kemari setelah mendengar teriakan Melisa. Sekarang, wanita itu tengah menangis di sofa bersama Ayunda yang terlihat menenangkan nya. Dia tidak tahu menahu tentang apa yang sebenarnya terjadi, dia tidak tahu ada apa di rumah ini, tapi suami nya dan juga papa mertua nya saat ini sedang pergi entah kemana.


"Mami, mami kenapa? Jangan bikin Ayu khawatir dong, Mi."


Hening. Tidak ada jawaban sama sekali, hanya sesekali terdengar isakan kecil dari mulut wanita itu. Dia shock sekali saat menerima telepon tadi pagi, dia tidak percaya kalau ternyata akan ada kabar seperti ini pagi ini.


"Kakek di larikan ke rumah sakit karena mengalami kecelakaan dalam perjalanan pulang dari luar negeri, Nak. Sekarang suami mu dan Papa sedang menyusul kesana. Apa dia tidak berpikiran padamu?" Tanya Melisa yang membuat Ayunda terhenyak. Suami nya pergi ke luar negeri tanpa memberitahu nya? Tapi untuk saat ini, Ayunda masih bisa berpikir positif, mungkin saja suami nya merasa sangat terpukul hingga terburu-buru pergi dan melupakan dirinya. Tidak apa-apa, yang penting suami dan papa mertua nya harus pulang dengan keadaan sehat. Begitu juga kakek Darren, dia harus bisa bertahan.


"Apa keadaan nya separah itu, Mi?" Tanya Ayunda lirih. Melisa mengangkat wajah nya, lalu menatap wajah sang menantu yang juga kelihatan khawatir sekarang. 


"Iya, mobil nya sampai meledak."


"Kakek.." Lirih Ayunda. Dia mengingat kalau terakhir dia bertemu dengan sosok Darren, pria paruh baya yang masih terlihat bugar di usia nya yang tak lagi muda. Pria paruh baya yang memiliki karakter keras dan juga tegas, namun dia sangat penyayang. Bukti nya, dia sangat menyayangi Ayunda, cucu menantu nya. 


Terakhir kali, beliau mengatakan kalau Ayunda harus menjaga Narendra dari semua hal-hal yang akan mereka hadapi di masa depan nanti nya. Sungguh, demi apapun itu adalah saat terakhir mereka berbincang. Namun, kini keadaan kakek Darren malah bisa di bilang mengkhawatirkan. Entah dia akan bisa bertahan atau tidak, tapi Ayunda berdoa agar kakek nya bisa pulang dalam keadaan baik-baik saja. 


"Kakek.."


"Kakek bilang ingin bermain bersama cicit kakek kan? Artinya kakek harus bisa bertahan, kakek harus baik-baik saja." Lirih Ayunda. Sungguh demi apapun, hati nya merasakan sangat sakit sekarang. Hati nya bahkan terasa sangat sesak, hingga akhirnya bulir-bulir air mata menetes dari kedua mata nya. Dia ingin menguatkan ibu mertua nya, tapi dia malah terlihat sangat rapuh saat ini. 


"Jangan menangis, nanti adik bayi nya juga ikut nangis."


"Tapi, Mami.."


"Sudahlah, mari kita tunggu kabar baik dari Papi dan juga suami mu nanti. Mungkin sekarang, mereka baru saja tiba." Lirih Melisa. Sebisa mungkin dia tidak boleh terus menerus menangis, karena hal itu akan memancing Ayunda untuk menangis dan itu hal yang tidak di inginkan oleh Melisa karena bisa mengganggu perkembangan janin di dalam perut Ayunda. 


"Mami.."


"Kemarilah, sayang." Lirih Melisa, dia merentangkan kedua tangan nya dan menghambur memeluk tubuh renta sang ibu mertua dengan erat. Dia tidak menangis terisak, namun air mata nya tetap menetes tanpa bisa di cegah. Mulut nya terasa kelu sekarang, dia tidak tahu harus bicara seperti apa. Darren sudah dia anggap seperti kakek nya sendiri karena dia sangat baik hati.


Disaat Ayunda berulang tahun, beliau membelikan perhiasan yang sangat indah dengan harga ratusan juta juga di impor langsung dari luar negeri. Itu adalah hadiah yang paling berkesan bagi Ayunda, seumur hidup dia juga baru merasakan di berikan hadiah di saat moment pertambahan usia nya, bahkan hadiah yang di berikan oleh Kakek Darren itu sangat istimewa, karena dia memesan nya satu bulan lebih awal dari hari ulang tahun Ayunda. 


Tapi hal ini bukan tentang hadiah saja, tapi kasih sayang yang di berikan oleh Darren pada Ayunda juga sangat tulus, sama seperti Arvin dan Melisa. Kedua nya sangat menyayangi Ayunda, apalagi Narendra. Dia adalah pria pertama yang paling mencintai Ayunda. Tidak peduli seperti apa masa lalu mereka masing-masing, terlepas dari semua itu kedua nya saling mencintai sekarang.


"Beliau orang yang sangat baik, bukan?"


"Tentu, dia sangat baik, sayang. Mami dulu pernah berpikir kalau kakek adalah sosok yang kejam, karena wajah nya." Ucap Melisa. Wajah Darren memang terlihat sangat sangar, jadi Melisa menyangka kalau dia adalah pria yang kejam dan sadis. Melisa terlihat menatap lurus ke depan dengan tatapan menerawang jauh mengingat masa lalu, disaat mereka bertemu untuk yang pertama kali nya dengan keadaan Melisa yang sudah hamil saat itu.


Arvin sangat berharap kalau ayah nya bisa langsung memberikan restu nya, namun yang terjadi justru sebaliknya. Darren menentang keras hubungan Arvin dan Melisa karena dia adalah pria yang sangat realistis, menilai sesuatu berdasarkan derajat dan harta. 


Benar, hubungan nya dan Arvin dulu pernah di tentang habis-habisan oleh Darren. Namun setelah beberapa saat, dia berubah pikiran dan akhirnya memberikan restu nya pada hubungan Arvin dan Melisa. Hingga akhirnya kedua nya pun menikah dan di karuniai seorang putra yang tampan, yakni Narendra. Putra semata wayang pasangan Arvin dan Melisa. 


Namun, setelah mereka menikah dan Ayunda sering berbincang bersama Darren, akhirnya pandangan itu pada orang dengan derajat yang lebih rendah itu sirna seketika. Kini, Darren menyama ratakan derajat manusia tidak berdasarkan materi, kekayaan atau pun kasta. Semua manusia sama dan berhak mendapatkan rasa hormat kan?


"Pemikiran kita sama, Mami."


"Benarkah?"


"Hehe, iya Mami. Tapi sekarang rasa nya aku merasa sangat bersalah saat menilai seperti itu pada kakek."


"Begitu juga Mami, sayang. Semoga saja kakek baik-baik saja, dia pasti akan pulang ke rumah ini dengan keadaan yang baik-baik saja. Sama seperti saat dia pergi ke luar negeri." Ucap Melisa, tatapan matabnya terlihat menerawang jauh. Dia benar-benar khawatir dengan keadaan papa mertua nya disana, sampai sekarang belum ada kabar sama sekali mengenai keadaan Darren disana. 

__ADS_1


Bahkan mereka juga belum mendapatkan kabar, apakah kedua pria yang menyusul ke luar negeri sudah mendarat dengan selamat atau mereka sudah sampai atau belum di tempat tujuan.


Di waktu yang sama dengan keadaan berbeda, Arvin dan Narendra baru saja mendarat dengan selamat di negara lain yang menjadi tujuan mereka. Kedua pria itu langsung berjalan dengan tergesa-gesa, mereka tidak punya banyak waktu untuk bersantai atau sekedar beristirahat. Mereka harus segera pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Darren disana. 


Di bandara, kedatangan kedua pria itu di sambut oleh Samuel, dia adalah saudara Darren. Sudah lama paman dari Arvin itu tidak pulang ke negara kelahiran nya karena sibuk mengurus bisnis disini, dia memutuskan untuk menetap di negara ini bersama istri dan juga anak nya. 


Samuel adalah tempat yang di jadikan Darren sebagai tempat untuk menghilangkan sejenak perasaan tak enak nya selama tinggal bersama putra dan juga cucu nya. Tapi sekarang, kejadian tidak terduga membuat siapapun terkejut. Terutama bagi Arvino, karena dia baru saja mengobrol dengan sang ayah kemarin sore dan dia mengatakan kalau dia baik-baik saja dan akan pulang hari ini. Tapi bukan nya pulang, beliau malah mengalami musibah. 


Terdengar seperti bencana bukan? Benar, bencana yang besar bagi Arvino begitu mendengar kabar yang sangat membuat nya shock berat. Bermimpi pun tidak, tapi tadi pagi-pagi dia malah mendapatkan kabar yang sangat tidak mengenakan itu. 


"Arvin.."


"Bagaimana dengan Papa?"


"Sebaiknya, kita ke rumah sakit sekarang saja ya?" Ajak Samuel. 


"Baik, Paman."


"Kau tidak membawa Melisa dan cucu menantu ku?" Tanya Samuel sambil berjalan dengan cepat, di ikuti oleh Narendra dan Arvin di belakang Samuel.


"Melisa menemani Ayunda, dia sedang hamil sekarang. Terlebih, kandungan Ayunda lemah, Sam." Jawab Arvin tanpa embel-embel paman, dia lebih suka memanggil Samuel seperti teman seperti ini. Samuel adalah adik dari Darren, jadi dulu disaat Naren masih kecil, seringkali dia bermain bersama Sam di rumah.


Tak heran, kenapa kedua nya sangat akrab. Namun tetap saja, setelah lama tidak bertemu hanya bicara lewat telepon, beda rasanya dengan berbicara secara langsung seperti ini. Rasanya agak sedikit canggung namun tidak apa-apa. 


"Hamil berapa bulan?"


"Baru lima bulan sih, tapi kalau aku bawa kemari, aku khawatir kehamilan nya akan terganggu, Sam." Jawab Arvin sedangkan Narendra memilih diam saja. Saat di pesawat tadi pun, pria itu malah diam seribu bahasa. Dia bungkam, mungkin karena shock mendengar kabar yang sangat mengejutkan tadi pagi. Mereka baru sampai di negara ini setelah hampir tiga jam di dalam pesawat.


"Astaga.." Ucap Narendra. Dia pun segera mengeluarkan ponsel nya dan mengotak-atik nya dengan cepat.


"Kenapa, ada apa?" Tanya kedua pria itu bersamaan.


"Aku lupa mengabari Ayunda kalau aku pergi kemari hari ini."


"Bagaimana bisa? Astaga, kamu sampai lupa sama istri sendiri."


"Nama nya juga buru-buru tadi, sampe lupa ngasih tau istri." Jawab Narendra. Dia pun langsung menghubungi istri nya, tersambung namun belum di angkat.


Beberapa detik kemudian, akhirnya panggilan dari Narendra pun di angkat oleh sang istri. 


'Hallo, Mas..'


"Sayang, aku baru saja sampai. Kamu baik-baik saja kan? Maaf, aku lupa memberi tahu mu kalau aku terbang ke Amerika untuk menyusul kakek." Jelas Narendra. Sekarang, mereka sudah berada di dalam mobil dengan Samuel yang mengemudikan kendaraan nya dengan kecepatan sedang. Mereka sedang dalam perjalan menuju ke rumah sakit untuk melihat keadaan Darren. 


'Iya, aku baik-baik saja. Gapapa kok, Mas. Aku udah tau dari Mami tadi, gimana keadaan kakek?' tanya Ayunda dari seberang telepon. 


"Aku masih belum tau, sayang. Aku, Papi dan Paman Sam masih di jalan mau ke rumah sakit, sayang."


'Baiklah, kabari aku secepatnya tentang keadaan kakek ya, Mas? Mami sedari tadi gak berhenti nangis, Mas. Kasian, Mami kelihatan nya khawatir banget, begitu juga aku.' Celoteh Ayunda panjang lebar.


"Tentu, aku akan langsung mengabari mu nanti. Jaga diri dan kesehatan mu, sayang. Jangan terlambat minum susu sama vitamin nya, Mas mungkin akan berada disini selama beberapa hari. Gapapa kan?"

__ADS_1


'Gapapa kok, Mas. Tapi jangan lama-lama ya? Nanti aku kangen.' Ucap Ayunda yang terdengar seperti rengekan bagi Narendra. Maklum saja, Ayunda tengah hamil saat ini jadi dia sangat suka bermanja-manja pada suami nya dan Narenda tidak pernah keberatan sama sekali. Malahan, dia suka saat istrinya manja padanya. 


"Iya, Mas akan pulang setelah situasi nya membaik. Inget, jangan susah makan ya? Inget anak kita."


'Iya, Mas. Kamu juga ya? Jangan kecapean, terus istirahat yang cukup. Terus juga jangan nakal ya, kata orang cewek bule cantik-cantik.'


"Tidak ada yang lebih cantik dari istriku." Jawab Narendra yang membuat wajah Ayunda merona di sana. Sungguh, Naren memang paling bisa membuat nya salting dengan wajah yang memerah seperti kepiting rebus. 


'Yaudah, hati-hati kamu nya, Mas. Aku tunggu kabar baik nya.'


"Iya, sayang. Sudah dulu ya? Nanti mas telepon lagi."


'Iya, Mas. Love you..'


"Love you more, Mommy." Balas Narendra. Dia tidak malu bicara semesta itu di depan papa dan juga paman nya, kenapa harus malu? Toh dia bilang sama itu pada istrinya sendiri, bukan pada wanita lain. Bukan juga dia mengatakan hal seromantis itu pada istri orang kan? Tapi pada istri nya sendiri.


Setelah membalas ucapan romantis itu, Narendra pun kembali memasukan ponsel nya ke dalam saku. Pria itu pun tersenyum kecil, dia membayangkan wajah cantik sang istri yang mungkin tengah menunggu nya.


"Cieee, ternyata putra mu bisa romantis juga ya?"


"Hmm, ya begitulah. Nama nya juga kalau sudah ketemu pwang, ya jelas bakalan luluh, Sam." Jawab Arvin sambil terkekeh pelan, dia ingin melupakan sejenak masalah yang besar yang tengah mereka hadapi dengan menggoda Narendra, meskipun dia merasa sangat takut dan khawatir, cemas yang bercampur menjadi satu saat ini. Namun Arvin berusaha tenang, dia yakin karena sang ayah adalah orang yang sangat baik.


Arvin juga yakin kalau sang ayah adalah sosok yang kuat dan tegas, dia yakin kalau sang ayah akan mampu bertahan meskipun sekarang, jujur saja dia merasakan hatinya berdegup kencang karena gugup akan melihat keadaan sang ayah.


Hampir satu jam berlalu, akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Kembali, dada Arvin merasakan jantung nya berdetak jauh lebih cepat. Dia merasa sangat gugup sekarang, hingga akhirnya ketiga pria itu pun segera berjalan pelan memasuki kawasan rumah sakit. 


Disana, sudah ada Selin yang terlihat langsung beranjak dari duduk nya saat melihat kedatangan tiga pria itu. Selin adalah istri dari Samuel.


"Mas.." panggil Selin begitu ketiga nya mendekat, wajah nya terlihat sangat khawatir.


"Apa dokter sudah keluar dari ruangan Darren?" Kepala Selin mengangguk pelan, namun dari anggukan kepala nya saja Narendra sudah bisa mengartikan kalau keadaan sang kakek mungkin saja sedang tidak baik sekarang ini. 


"Apa yang terjadi?"


"Dokter bilang, keadaan nya cukup parah sekarang dan di nyatakan koma.." Lirih Selin yang membuat tubuh Narendra dan Arvin lemas lunglai seketika.


Bahkan Narendra merosot ke lantai, dia tidak bisa lagi menyembunyikan perasaan nya. Dia menangis tergugu dengan kepala yang terduduk, dia menutup wajah nya dengan kedua tangan nya. Sungguh, hati nya merasa sangat sakit. Kenapa? Di pertemuan terakhir mereka kesan nya agak sedikit buruk karena menurut Darren, Naren terlalu mengekang istrinya. 


Bukan nya menjawab dengan bahasa yang sopan, tapi amarah Naren yang sedang tidak stabil dan juga dia sedang kelelahan, di tambah dengan masalah nya dengan Trisa waktu itu membuat Naren malah marah pada Darren dan saat kakek nya itu pergi dari rumah untuk berkunjung ke rumah adik nya di Amerika, Naren terkesan tidak peduli dan acuh sekali karena merasa dia sedang marah pada kakek nya itu.


Itu bukanlah pertengkaran mereka yang pertama kali nya, mereka memang sering bersitegang sedari dulu mungkin karena perbedaan pendapat, terlebih karakter kedua nya yang sama-sama keras kepala, jadi tidak ada yang mau mengalah di antara mereka.


Tapi sekarang, Naren menyesali semua nya. Itulah yang membuat air mata nya terus menetes begitu saja tanpa bisa di cegah, dia menangis tergugu dengan bersandar ke tembok. Dia terduduk di lantai dengan bahu yang bergetar hebat karena tangisan nya yang terdengar sangat menyakitkan. Bahkan Arvin sendiri tidak se emosional itu, bukan berarti dia tidak bersedih namun dia masih bisa mengendalikan perasaan nya, tidak seperti Narendra.


Putra nya itu langsung menangis begitu mendengar kabar kalau Darren di nyatakan koma karena kecelakaan hebat itu membuat beberapa saraf dan titik sensitif Darren terganggu, itulah yang membuat pria itu akhirnya di nyatakan koma.


'Kakek, maafkan aku. Seharusnya aku mendengarkan kakek hari itu, harusnya juga aku menjawab dengan bahasa yang baik, tidak dengan amarah yang meletup-letup seperti hari itu. Aku minta maaf, Kek. Tolong bangunlah dan kembali baik-baik saja seperti dulu, aku janji akan bersikap lebih baik lagi kalau kakek sembuh.'


'Bukankah kakek ingin bermain dengan cicit kakek? Tinggal empat bulan lagi sampai Ayu melahirkan, Kek. Bangunlah, jangan tidur terlalu lama.'


.......

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2