Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 116 - Keadilan Untuk Maya


__ADS_3

"Jadi bagaimana, Nona?" Tanya salah satu pria itu sambil tersenyum nakal, dia terlihat sangat mesum. Dua pria yang duduk di dekat nya juga terlihat menyeringai, tangan mereka terlihat lihai menggerak-gerakkan minuman di dalam gelas. Namun, satu yang dapat Maya simpulkan, minuman di dalam gelas itu bukanlah jus seperti yang ada di meja nya, tapi itu anggur. 


Kenapa Maya bisa tahu kalau itu adalah anggur? Tentu saja, dari warna nya dan melihat mata ketiga pria itu saja dia sudah tahu kalau mereka tengah mabuk sekarang. Gila bukan? Orang mabuk bisa ke pesta. Tentu saja bisa, namanya juga orang kaya. Semua juga bisa di lakukan asal ada uang. Lo punya duit, Lo punya kuasa. Istilah nya seperti itu, jangankan wanita bahkan hukum pun bisa di beli oleh uang.


"Saya tidak tertarik, Tuan." Jawab Maya sambil tersenyum meremehkan. Enak saja, memang nya dia perempuan apaan? Disini niat nya hanya ingin mendampingi kekasih nya untuk menghadiri pesta, tapi dia malah merasa di pojokan bahkan di lecehkan. Memang tidak secara kekerasan namun secara verbal.


"Ohh, selain kampungan ternyata kamu juga jual mahal ya?"


"Biasalah, nama nya juga wanita. Harus di bujuk dulu." 


"Lihat ini, Nona. Kau bisa memilih beberapa kartu milik ku, dengan satu malam kamu bisa mendapatkan nya dan aku akan memberikan nya secara cuma-cuma padamu, asal kau bisa memuaskan ku."


"Tidak, aku sudah memiliki kartu seperti itu. Tidak ada yang lain lagi? Yang hitam misalnya?" Tanya Maya dengan suara pelan nya, namun terdengar sangat datar seperti mengintimidasi. Mungkin, inilah sisi lain dari seorang Maya yang jarang dia perlihatkan. Selama ini, Maya di kenal sebagai perempuan yang lemah lembut, ramah dan juga lugu. Namun, dari cara dia bicara sekarang, itu menunjukkan kalau Maya bukanlah seorang yang selugu dan sepolos itu. 


"Wahh, anak kampung tahu black card? Haha.."


"Tentu saja." Jawab Maya. 


"Baiklah, bagaimana kalau saham 10 persen di masing-masing perusahaan kami, apa kamu bersedia menemani kami malam ini?" Tanya nya lagi, seperti nya mereka masih belum menyerah untuk bisa bermalam bersama Maya. Semenarik apakah Maua di mata mereka? Hingga mereka terlihat sangat ambisius untuk bisa tidur dengan Maya?


"Aku takkan sanggup melayani kalian semua dalam satu malam, jadi sebaiknya kalian menawarkan pada wanita yang lain." Jawab Maya lagi, dia kembali menolak tawaran ketiga pria itu.


"Astaga, kau ternyata sangat sulit untuk di bujuk ya."


"Jangan sok jual mahal lah, mana ada wanita gak suka duit." Celetuk nya membuat Maya tersenyum kecil.


"Tentu, aku juga sangat suka dengan uang. Tapi, uang hasil jual diri tidak enak. Aku lebih suka uang hasil kerja keras ku sendiri atau pemberian kekasih ku." Jawab Maya lagi.


"Sok jual mahal, padahal dalam dalam hati pasti kau sangat suka kan?"


"Aku memang mahal, jadi sebaiknya kalian mencari yang lebih murah. Di luaran sana banyak tuh, bahkan ada yang gocap an juga ada." Jawab Maya, bahkan dia tahu bahasa seperti ini entah dari mana.


Maya bersiap untuk beranjak untuk pergi, dia ingin meninggalkan ketiga pria itu. Namun salah satu dari mereka mencekal tangan Maya dan menarik nya hingga tubuh perempuan itu limbung dan terjatuh menimpa pria itu. 


Plakk.. 


Tangan Maya terlihat ringan sekali saat menampar pipi pria itu, hingga membuat wajah pria itu terhuyung ke samping saking kuat nya tamparan yang di lakukan oleh Maya. Wanita itu terlihat sangat marah saat ini. 


"Anda jangan kurang ajar ya, saya diam karena saya menghormati anda." 


"Ckk, hanya begitu saja kau marah."


"Apa anda tidak punya sopan santun sama sekali? Percuma anda memiliki jabatan tinggi di perusahaan tapi tidak memiliki sopan santun sama sekali?" Tanya Maya dengan geram. Dia tidak peduli meskipun sekarang dia menjadi pusat perhatian karena suara nya yang meninggi.


"Santai saja, tidak perlu marah-marah, Nona. Kami hanya ingin menawarkan sebuah kerja sama yang saling menguntungkan, itu saja."


"Kerja sama macam apa yang kalian maksud?" Tanya seseorang yang membuat semua orang yang terlihat itu berbalik dan menatap siapa pemilik suara berat nan datar itu.


Mark, ya pria itu datang dengan wajah datar nya. Tangan nya di masukkan ke dalam saku celana bahan nya, pria itu menatap tajam ketiga pria yang berada disana, membuat ketiga nya seketika menunduk saat tak sengaja tatapan mereka bersirobok dengan Mark, tatapan tajam setajam mata elang yang siap menerkam mangsa nya.


"Mas.."

__ADS_1


"Yes, Baby. Kenapa, sayang?" Tanya Mark sambil mendekat, dia merangkul Maya dengan mesra. Namun tatapan nya masih terlihat sangat tajam, aura dingin menguar dari pria itu. 


"Mereka melecehkan aku, Mas. Masa mereka nawarin aku uang sama saham perusahaan, tapi mereka bilang kalau aku harus memuaskan mereka." Ucap Maya mengadu, membuat wajah ketiga pria itu terlihat pucat pasi.


"Tidak tidak, kami tidak melakukan itu. Kami hanya numpang duduk lalu mengajak nya mengobrol saja, Tuan." Sanggah salah satu pria itu membuat Mark geram. Dari ekspresi mereka saja, Mark sudah tahu kalau mereka berbohong. Mark yakin, kalau apa yang di ucapkan oleh Maya adalah kebenaran.


"Benar, kami hanya mengajak nya bicara agar dia tidak sendirian."


"Dia saja yang baperan bahkan dia berani sekali menampar wajah ku." Celetuk pria yang lain, sambil menunjukkan wajah nya yang memang terlihat memerah karena bekas tamparan, jelas sekali cap lima jari tercetak disana. Narendra terlihat mengawasi dari posisi yang agak sedikit jauh, dia masih mengobrol dengan rekan bisnis lain disana. Sedangkan Mark, dia berpamitan karena dia mendengar suara Maya yang terdengar seperti sedang marah dan ternyata benar, Maya terlihat sangat emosional bahkan air mata nya hampir menetes. 


"Tapi, rekaman ini gak bakalan bohong." Celetuk seseorang dari arah belakang, Ayunda berjalan santai sambil menunjukkan rekaman pembicaraan ke empat orang itu dan semua nya terekam dengan jelas. Ayunda benar-benar hebat, dia peka dengan keadaan dan dia sangat pintar. Tunggu, dari mana Ayunda mendapatkan ponsel nya? Yaps, itu adalah ponsel milik pelayan tadi. Kebetulan, pelayan itu berjalan melewati Ayunda yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah menunaikan hajat nya.


Ayunda memutar rekaman itu dan membuat Mark terkejut, ternyata apa yang di katakan oleh sang kekasih memang benar adanya. Salah benar kalau dia tidak percaya pada Maya, harusnya dia percaya pada Maya dengan sepenuh hati. Dia tahu Maya adalah wanita yang baik, tidak mungkin jika dia berbohong padanya hanya untuk menghancurkan nama baik orang lain bukan?


"Mas, aku.."


"Berani sekali kalian menawarkan penawaran menjijikan itu pada kekasih ku?" Tanya Mark, suara nya terdengar menggelegar. Tak lama kemudian, datanglah ketiga perempuan yang Mark yakini ketiga nya adalah istri dari ketiga pria yang telah melecehkan kekasih nya. 


"Ada apa ini, Tuan?"


"Siapa kalian?" Tanya Mark dengan suara datar nya.


"Kami istri dari tiga pria ini."


"Ohh ya? Haha, jadi ketiga bajingaan ini adalah suami kalian?" Tanya Mark dengan rahang yang mengeras karena amarah yang sudah memenuhi dirinya saat ini.


"Maksud nya apa? Siapa anda? Berani-berani nya mengatai kalau suami kami bajingaan?"


"H-ahh?"


"Maaf, Nona."


"Tidak apa-apa, Mark." Ayunda memberikan ponsel itu pada Mark dan membiarkan pria itu membuka ponsel nya lalu memutar rekaman video yang di rekam oleh Ayunda. Ketiga wanita itu seketika terkesiap, membuat Mark tersenyum licik. 


"See? Suami kalian bajingaan bukan? Bagaimana bisa pria yang sudah memiliki istri bahkan mungkin anak mengatakan hal semenjijikan ini pada wanita lain?" Tanya Mark, membuat Maya mendongak menatap wajah tampan sang kekasih dengan kedua bola mata nya yang bulat itu.


"Maafkan kami, Tuan Mark."


"Apa kalian tidak berpikir dua kali sebelum mengatakan hal seperti itu pada wanita lain? Kalian tidak memikirkan perasaan istri-istri kalian atau wanita yang kalian lecehkan? Perlu kalian tahu, Maya kekasihku adalah wanita terhormat yang berbeda dengan wanita di luaran sana." Tegas Mark membuat ke enam orang terlihat ketakutan. Pasalnya, aura Mark saat ini terlihat sangat menakutkan. Aura nya sangat dingin dan mendominasi, belum lagi ada Narendra yang sedari tadi menyaksikan keributan itu dengan tatapan yang juga terlihat sangat tajam. 


Ingat, di atas Mark masih ada Narendra. Setelah mengatakan salam perpisahan pada para klien bisnis nya, mereka pun mengiyakan dan pergi dari kerumunan orang-orang berpengaruh itu. Belum juga selesai dengan biang onar seperti Trisa, sekarang malah ada lagi yang mencari gara-gara. Apalagi sekarang, Maya lah yang menjadi sasaran nya. Benar-benar memuakkan.


Narendra pikir, manusia gila semacam Trisa itu hanya ada satu di dunia ini, tapi ternyata tidak. Masih ada banyak orang yang seperti ini, doyan sekali membuat masalah, pas di tegur gak ngaku malah mencari pembenaran. Gila bukan? Iyalah, gila sekali memang. Tapi ya itulah, nama nya juga manusia kan? Tidak semua manusia itu berhati baik bak malaikat, ada juga yang kelakuan seperti kotoran, alias menjijikan. Contoh nya, ketiga pria ini.


Gatal saat melihat perempuan sendirian, ketiga pria itu langsung menghampiri Maya yang kebetulan memang sedang sendirian itu dan menggoda nya, bahkan mengatakan kata-kata yang tak pantas di katakan oleh orang terpandang dan terhormat itu pada seorang wanita.


"Apa dengan kata maaf semua nya akan selesai? Saya rasa, tidak setimpal rasanya saat rasa sakit yang di rasakan oleh kekasih saya hanya di bayar dengan kata maaf!"


"Pertanggung jawabkan perbuatan kalian di pengadilan." Ucap Narendra yang terlihat mendekat, dia terlihat sangat gagah dengan setelan jas berwarna hitam, kancing nya terlihat tidak terkancing rapih, menandakan kalau ada sesuatu yang membuat nya marah. Karena biasa nya, Narendra selalu seperti ini jika dia sedang marah dan Mark tau benar akan hal itu. Jika ada yang mengusik ketenangan nya juga, pasti Narendra akan melakukan hal ini. Sudah seperti kebiasaan bagi Narendra untuk membuka beberapa kancing jas nya. 


Semua orang menatap kedatangan Narendra dengan tatapan terkejut, terutama Mark dan Maya, namun tidak dengan Ayunda. Dia sudah melihat wajah sangar sang suami, dia juga sudah menduga kalau masalah seperti ini pasti akan di pidanakan oleh Narendra. Sudah ada bukti yang kuat dan ada pidana nya yang bisa memberatkan ketiga pria itu atas perbuatan tak senonoh mereka.

__ADS_1


"Tuan, Maafkan saya.."


"Tidak perlu, aku tidak perlu permintaan maaf mu. Sungguh, tapi jika kau di biarkan berkeliaran di luaran sana, aku yakin kau pasti akan menjadi predator wanita. Bukan kau saja, tapi kalian bertiga!"


"Tuan Narendra, kami.."


"Tidak, tidak ada kata maaf dan tidak ada toleransi bagi kalian. Aku akan tetap membawa masalah ini ke ranah hukum! Kalian ingat, negara ini negara hukum. Jangan lupakan, di atas Mark masih ada aku!" Tegas Narendra.


"Tapi Tuan.."


"Perlu aku tekankan sekali lagi disini, aku paling tidak suka dengan pria yang tidak bisa menjaga nafssu nya, mulut nya, mata nya terhadap wanita lain, sedangkan kalian sudah memiliki istri masing-masing. Aku paling tidak suka dengan pria yang tidak menghargai wanita, kalian pikir kalian keluar dari siapa hmm? Dari rahim seorang wanita, tapi bisa-bisanya kalian melakukan hal semenjijikan ini? Memalukan sekali, kalian orang terpandang tapi tidak memiliki attitude!" Ucap Narendra panjang lebar, membuat semua orang yang ada disana menganga. 


Jika sudah marah, ternyata Narendra terlihat sangat menakutkan sekali. Aura dingin nya jauh lebih terasa saat dia sedang marah, sungguh demi apapun semua orang yang melihat kemarahan seorang Narendra pasti akan ketakutan. Jangankan hanya pria brengseek seperti ketiga nya, Arvin bahkan Darren saja seringkali merasa terintimidasi saat berhadapan dengan kemarahan seorang Narendra.


"Tuan, kami mohon.."


"Tidak, aku katakan tidak! Kalian tidak dengar hmm? Memuakan." Jawab Narendra. Dia menghempaskan tangan pria itu dengan kasar, lalu mengajak istri dan asisten nya juga Maya untuk pergi meninggalkan tempat itu.


"Kita pulang!" Tegas Narendra. 


"Tuan, sebaiknya kita berpamitan dulu."


"Tidak perlu, aku akan mengurus nya nanti. Kita pulang sekarang, aku tidak suka berada di satu ruangan dengan pria brengseek." Cetus nya membuat ketiga nya kompak menunduk, namun tidak dengan istri-istri mereka. 


"Ohh, ya siapkan pengacara terbaik kalian dan selamat bertemu di pengadilan." 


Kedua pasangan itu pun pergi dengan langkah cepat, sambil menggandeng pasangan masing-masing. Narendra menggenggam tangan sang istri dengan erat, dia memang tidak terseret dalam kasus ini, namun tetap saja dia mengkhawatirkan keadaan istrinya itu. Terlebih lagi mental Maya, baru pertama kali di ajak ke pesta klien seperti ini tapi sudah mendapatkan kesan yang tidak baik.


"Mark, berhenti di restoran langganan kita. Aku lapar, apalagi istriku. Kau dan Maya juga kan?"


Iya, Tuan. Baiklah, saya akan berhenti nanti."


"Bagus."


"May, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Ayunda lirih sambil menepuk pelan pundak sang maid. Mereka memang sering terlihat sangat akrab, tidak seperti maid dan majikan nya, tapi seperti seorang teman.


"Baik, Nona. Saya baik-baik saja, tidak perlu khawatir, Nona."


"Maaf, aku.."


"Nona, jangan meminta maaf pada saya. Saya tidak apa-apa, saya baik-baik saja." Jawab Maya sambil tersenyum.


"Tapi, apa kau yakin kalau.."


"Tidak apa-apa, saya baik-baik saja kok. Tadi juga saya sempat menampar pipi salah satu pria itu, jadi mereka tidak melakukan apapun pada saya."


"Baguslah, melawan saja ya?"


"Baik, Nona." Jawab Maya sambil tersenyum kecil, senyum kecut yang terlihat sedikit menyakitkan bagi Ayunda. Dia tahu benar karena senyuman Maya jauh berbeda dengan senyum yang biasa Maya perlihatkan.


........

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2