
"Mas.." panggil Ayunda sambil tersenyum. Narendra menoleh dan juga ikut melempar senyuman manis nya. Pria itu merentangkan kedua tangan nya untuk menyambut sang istri ke dalam dekapan nya.
"Kamu cantik sekali, sayang." Puji Narendra sambil tersenyum, dia melihat Ayunda benar-benar cantik sekali malam ini. Dengan balutan dress selutut berbahan satin berwarna merah maroon membuatnya terlihat jauh lebih cantik. Rambutnya di gerai indah, tak biasanya juga Ayunda mengenakan make up seperti ini, tapi malam ini dia benar-benar berhias diri. Wanita cantik itu memakai make up malam ini untuk menyenangkan suaminya.
"Mas gombal.." rengek Ayunda dengan manja, Narendra hanya terkekeh pelan sambil menangkup wajah cantik Ayunda yang kemerahan karena malu akan pujian yang dia lontarkan baru saja.
"Ini bibir kamu ngapain di pakein beginian hmm? Hapus dulu gih." Ucap Narendra sambil menunjuk bibir Ayunda yang di olesi lipstick berwarna merah cerah.
"Ini gincu, Mas."
"Mas gak suka, yang." Jawab Narendra sambil terkekeh pelan.
"Lho, kenapa?"
"Nanti rasa manis bibir kamu kecampur sama rasa lipstick nya, sayang." Pria itu mengusap bibir Ayunda dan seketika lipstick itu pun luntur ke tangan Naren.
"Lihat, mana gak tahan lama. Kenapa kamu punya lipstick kayak begini coba? Yang Mas beliin kemana?" Tanya Narendra. Seingat nya, dia selalu membelikan istrinya lipstick mahal yang tidak luntur meskipun di gosok, apalagi jika di cium.
"Hehe, hilang Mas.."
"Kan banyak, sayang. Mas ingat benar kalau Mas beliin lipstick buat kamu tuh gak cuma satu, sayang." Ucap Narendra sambil menggelengkan kepala nya.
"Gak tau tuh, Ayu gak pernah make tapi lipstick nya gak ada. Tuh Mas lihat aja di meja rias." Ucap Ayunda. Narendra melirik ke arah meja rias, tempat perlengkapan sang istri di letakkan. Benar, hanya ada beberapa lipstick saja disana. Lalu, kemanakah semua lipstick yang dia belikan itu pergi?
"Kamu memberikan nya pada orang lain, sayang?" Tanya Narendra dengan kedua mata yang memicing menatap istrinya.
"Hmmm, bukan aku masih Mas. Tapi di ambil gitu aja."
"Sama siapa?" Tanya pria itu lagi, sebenarnya ini bukan masalah lipstick nya tapi masalah kebaikan istrinya.
"Sama maid yang waktu itu lho, Mas."
"Siapa?"
"Yang bekerja sama dengan Trisa." Jawab Ayunda lirih. Narendra mengingat nya, bagaimana dia bisa lupa dengan orang sejahat mereka? Mengingat namanya saja dia sudah muak, dia tidak ingin mengingatnya kembali. Tapi sialnya, dia terus mengingatnya. Bahkan sampai saat ini, dia belum bisa melupakan kejahatan yang wanita itu lakukan terhadap istri dan juga calon anaknya.
"Lalu?"
__ADS_1
"Aku pernah memergoki nya mengambil make up ku, Mas. Lipstick, bedak, terus maskara juga. Tapi aku gak berani negur, jadi aku biarin aja. Hehe."
"Kenapa gak bilang sama Mas hmm?" Tanya Narendra sambil merapikan rambut istrinya ke belakang.
"Gak berani, lagian aku tahu ya kamu gimana. Aku gak mau kamu mukul tuh maid, tapi ternyata kamu malah melakukan itu."
"Kamu nyalahin, Mas? Padahal dia udah jahat banget sama kamu dan anak kita lho."
"Iya iya, aku tahu Mas. Tapi kan sekarang dia sudah mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatan nya, Mas." Ucap Ayunda lirih. Dia tidak ingin memancing kemarahan sang suami, terlebih mereka sudah berjanji akan melakukan ritual suami istri malam ini. Tapi malah membahas lipstick yang hilang berbulan-bulan lalu.
"Hanya hukuman penjara saja tidak cukup, sayang. Dia sudah membuat kita kehilangan anak pertama kita, tapi kamu malah terlihat seperti memihaknya dengan menyalahkan Mas. Hanya karena Mas memukulnya, harusnya hari itu mas membunuhnya saja sebagai penebus nyawa." Jawab Narendra dengan jutek.
"Kejam nya suamiku, jangan aahh. Aku gak suka ya kamu begini, Mas." Ucap Ayunda sambil mengalungkan tangan nya di leher sang suami.
"Mas.."
"Hmmm, kenapa?"
"Jadi gak main kuda-kudaan nya?" Tanya Ayunda sambil mengecup pelan pipi sang suami, guna untuk menggodanya agar amarah nya sirna.
"Enggak, tapi aku ngeliatnya kamu kayak gak mood. Hehe."
"Gak mood kenapa emangnya?"
"Gara-gara aku pake lipstick, terus lipstick yang kamu beliin hilang."
"Masih banyak di toko, nanti Mas beliin lagi yang banyak, sayang." Jawab Narendra seolah tanpa beban sama sekali. Padahal satu lipstick nya saja harga nya cukup mahal, bisa menembus angka ratusan ribu, bahkan pernah Narendra membelikan lipstick berharga jutaan untuk sang istri. Tapi ya begitu, Ayunda tidak memakainya dan sekarang malah hilang di curi maid tak tahu diri yang memanfaatkan kebaikan istrinya.
"Gak usah banyak-banyak, lagian aku jarang pake lipstick. Jadi, aku ke kamar mandi dulu ya?" Ucap Ayunda.
"Ngapain lagi, yang?"
"Hapus lipstick nya dulu, biar Mas enak cium nya." Jawab Ayunda. Narendra pun tersenyum lalu dengan nakal menepuk pelan pantaaat sang istri dengan gemas.
"Yaudah sana, hapus dulu tapi jangan di gosok nanti bibir kamu rusak. Biar sisanya Mas aja yang bersihin pake bibir." Ucap Narendra sambil tersenyum nakal, Ayunda yang melihat itu hanya terkekeh pelan, lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan bibirnya yang masih terdapat lipstick berwarna merah itu.
Ayunda pun mencuci bibirnya menggunakan air, hingga dia merasa semuanya telah bersih. Setelahnya, Ayunda pun keluar dari kamar mandi dan melihat kalau suaminya sudah menunggu di atas ranjang, pria tampan itu hanya mengenakan bathrobe karena baru saja habis mandi. Tadi, sepulang dari kantor Ayunda langsung mandi lalu di susul oleh Narendra.
__ADS_1
Jujur, dia tidak tahu menahu kalau sang istri akan menggoda nya seperti ini. Dia memang berniat untuk menyenangkan hati suaminya karena dia melihat sang suami yang kurang bersemangat saat bekerja tadi. Dia pikir, mungkin karena suaminya kurang mendapatkan jatah malam nya karena sudah beberapa hari ini dia tidak menagih nya.
Sejak hamil, Ayunda memang jarang sekali memberikan jatah malam untuk suaminya karena dia sering kelelahan di tengah permainan karena perutnya yang semakin membesar setiap harinya. Selain itu, Naren juga seringkali merasa tak tega untuk menggaulii istrinya karena melihat perut buncitnya saja sudah membuatnya ngilu sendiri.
Hai baby.."
"Dih, Mas kayak om-om deh." Ucap Ayunda sambil tertawa. Dia melihat kalau suami nya seperti om-om cabul yang sudah menunggu sugar baby nya.
"Hahaha, mana ada om-om ganteng kayak Mas gini."
"Banyak tuh, tinggal nyari aja."
"Heh, mau nyari kemana? Aku ikat ya kamu besok-besok pake rantai." Ucap Narendra membuat Ayunda tergelak. Dia pun melingkarkan kedua tangan nya di leher kokoh sang suami, lalu duduk di pangkuan Narendra dengan kedua kaki yang mengangkaang.
"Udah dong, jangan marah-marah mulu. Nanti cepet tua." Rayu Ayunda yang membuat Narendra tersenyum kecil. Istri nya sudah pandai menggodanya sekarang, sangat menggemaskan sekali apalagi dengan perut besar nya. Aura kecantikan sang istri juga bertambah berkali-kali lipat saat ini. Mungkin karena efek dia sedang hamil, jadi aura keibuan nya sudah mulai keluar dari wanita cantik itu.
Bukan hanya Narendra yang sadar akan hal itu, tapi sang ibu juga menyadari nya. Melisa bahkan sudah bisa melihat aura keibuan itu sejak Ayunda mengandung empat bulan.
"Sudah pandai menggoda ya kamu, sayang."
"Hehehe, kan aku belajar dari kamu, Mas." Jawab Ayunda sambil mengusap rahang tegas sang suami yang mulai di tumbuhi bulu-bulu halus.
Narendra memeluk pinggang sang istri dengan posesif, lalu mulai mendekatkan bibirnya dengan bibir sang istri. Tapi, sedikit lagi bibir itu akan bertemu, suara ketukan di pintu membuat keduanya kompak menoleh ke arah sumber suara.
"Sial, siapa sih? Ganggu aja." Ucap Narendra.
"Husshh, gak boleh gitu dong Mas. Siapa tahu itu Mami atau Papi gitu."
"Ya, tujuan nya apa ngetuk pintu malam-malam. Ganggu aja, gak tahu apa ya anak nya lagi mau belah duren." Jawab Narendra dengan kesal. Dia memang tidak suka jika kesenangan nya terganggu seperti itu.
"Yaudah, bukain aja dulu. Siapa tahu penting."
"Ckkk, iya iya. Kamu nya turun dulu atuh." Ucap Narendra membuat Ayunda terkekeh pelan, dia sendiri yang meminta Narendra untuk membukakan pintu, tapi dirinya sendiri yang menghalangi sang suami untuk membukakan pintu.
.......
🌻🌻🌻🌻
__ADS_1