
"Kakek.." Panggil Narendra, membuat Darren yang sedang menikmati pemandangan di belakang mansion yang sekarang di penuhi oleh aneka bunga-bunga yang bermekaran dengan indah, membuat aroma nya semerbak memenuhi indra penciuman.
"Iya, Boy. Ada apa?"
"Naren senang sekali bisa melihat kakek sehat seperti ini."
"Ini semua berkat doa dari kalian semua, kakek juga ingin melihat dan bermain dengan cicit kakek. Kakek pikir, saat kakek pulang kesini cicit kakek sudah besar, tapi ternyata Ayu masih hamil ya.."
"Iya, Kek. Gak ada yang tahu kalau semua itu bakal terjadi." Lirih Narendra sambil menatap lurus ke depan. Tangan nya dia masukkan ke dalam celana pendek nya, dia masih merasakan sakit saat dia harus kehilangan buah hati nya yang pertama. Meskipun itu sudah satu tahun lama nya setelah kejadian menyakitkan itu, tapi hingga saat ini dia masih bisa merasakan sakitnya.
Dia juga masih ingat benar bagaimana keadaan Ayunda setelah itu, dia berubah murung bahkan Narendra harus pulang pergi ke psikiater untuk memeriksakan mental istrinya. Dia juga melakukan terapi agar istrinya bisa sembuh. Namun tetap saja hingga saat ini, sosok Ayunda berubah sejak saat itu. Ayunda yang sekarang, bukanlah Ayunda yang dulu meskipun sosok saat ini hampir sama namun bagi Narendra, istrinya itu tetap berubah apalagi dari sorot matanya.
"Tapi Kakek agak lega saat mendengar wanita ular itu telah tewas, Ren. Anggap saja Kakek jahat karena senang di atas penderitaan orang lain, tapi kakek takkan segan-segan untuk menghukum siapapun yang sudah menyakiti keluarga Kakek. Kalau saja saat itu Kakek tidak koma, mungkin wanita itu akan mati di tanagan kakek." Ucap Darren membuat Naren menatap sang kakek dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Perbuatan wanita itu memang sangat kejam, Kek. Tapi harusnya kita tidak perlu membalas nya kan? Untuk apa? Tidak ada guna nya jga membalas kejahatan orang lain dengan kejahatan lagi."
"Tumben kamu mengatakan hal seperti itu, kamu agak berubah, Boy." Darren terkekeh kecil mendengar ucapan nya sendiri tentang perubahan kepribadian cucu nya. Naren yang dulu tidak seperti ini, dia sangat mudah terpancing emosi nya. Bukan seperti ini, yang ini seperti sosok Naren yang lain. Sangat berbeda.
"Ini semua berkat Ayu, Naren merasa kalau Naren yang dulu itu terlalu kekanakan." Jawab Naren sambil terkekeh pelan, membuat Darren juga terkekeh. Dia senang mendengar nya, artinya Ayunda memang membawa perubahan yang baik untuk cucu nya ini.
"Sejak menikah dengan Ayu, Naren juga tidak pernah pulang malam seperti dulu. Sehabis kerja pasti langsung pulang karena takut Ayu nungguin kalau Naren nongkrong dulu meskipun Ayu tuh sama sekali gak ngelarang Naren buat kumpul-kumpul sama temen-temen Naren."
"Wahh, ternyata Ayunda memang wanita yang sangat hebat hingga membuat si kepala batu ini luluh juga akhirnya." Ucap Darren sambil menepuk bahu cucu satu-satunya itu.
"Iya, Ayunda memang wanita yang luar biasa, Kek."
Dulu, bahkan kemarahan Arvin juga tidak bisa membuat Narendra menuruti apapun perintahnya termasuk meminta Naren harus pulang setelah bekerja tapi keesokan harinya hingga berbulan-bulan kemudian, Naren pasti mengulangi hal yang sama. Yakni memilih tinggal di apartement di bandingkan pulang ke rumah. Alasan nya simpel, karena di apartemen dia merasa tenang dan nyaman.
"Kamu sangat mencintai nya?"
"Haha, kenapa Kakek bertanya demikian? Harusnya dari semua perlakuan dan juga perubahan yang aku lakukan, itu bisa mengatakan seberapa besar aku mencintai Ayunda ku." Jawab Naren membuat Darren tersenyum. Jangankan dari perlakuan yang di tunjukan oleh Naren, dari tatapan saat Naren menatap istrinya itu sudah bisa membuktikan kalau pria itu benar-benar mencintai istrinya.
"Hanya bertanya saja, kakek belum pernah melihat mu jatuh cinta sebesar ini pada seorang wanita. Bahkan dulu, kau tidak mencintai Trisa sebesar seperti kau mencintai Ayunda."
"Tentu saja berbeda, Kek. Trisa hanya kekasih saja, tapi Ayunda adalah istri Naren, teman hidup dan pendamping Naren. Tentu saja Naren mencintai mereka secara berbeda." Jelas Narendra membuat Darren terkekeh.
"Kakek kira kamu terlalu mencintai wanita itu hingga kamu berani melawan orang tua mu hanya karena wanita itu." Ucap Darren membuat Naren tertawa sumbang. Entahlah, kenapa dulu dia bisa sebuta itu? Dia mencintai dengan jiwa, bukan dengan hati hingga akhirnya dia tersakiti oleh kenyataan yang membuatnya merasa hancur ketika wanita yang saat itu tengah dia perjuangkan malah memilih pergi meninggalkan nya sendiri.
Secara langsung, dia mengatakan kalau dia menyerah bukan? Padahal disini, Naren masih memperjuangkan nya, memperjuangkan restu untuk hubungan mereka tapi Trisa dengan mudahnya meninggalkan dirinya. Sialan memang.
"Tapi ternyata, pada akhirnya aku kembali, Kek. Sekarang aku yakin kalau orang tua pasti memiliki feeling yang kuat tentang wanita yang akan mendampingi putranya."
"Ya, itu benar. Bahkan dulu Kakek juga menolak mentah-mentah saat Papi mu mengatakan kalau dia mencintai seorang wanita urakan, hingga akhirnya Kakek mengambil keputusan untuk menjodohkan nya dengan gadis pilihan Papi. Tapi dia menolak dan malah kabur ke pedesaan, disanalah Papi dan Mami mu bertemu." Jelas Darren sambil tersenyum. Jika mengingat semua itu, selalu membuat dia tersenyum kecil.
Dia juga pernah mengambil keputusan yang gegabah tentang masa depan putranya sendiri, hingga membuat Arvin merasa terkekang dan akhirnya memilih keluar dari rumah lalu hidup mandiri dalam kesederhanaan di sebuah desa yang akhirnya membawa dirinya pada kebahagiaan meskipun cara dia mendapatkan kebahagiaan itu adalah cara yang salah.
"Ohh, Papi ketemu Mami tuh di perantauan ya?"
"Hmm, Mami mu itu istri orang."
"Aahhh kakek, Naren sudah tahu yang satu itu." Jawab Narendra sambil terkekeh pelan.
"Ini taman bunga yang kau bangun untuk istrimu bukan?"
"Iya, Kek. Tapi sekarang Mami memberikan tambahan bunga-bunga lain untuk mencerahkan banyak jenis bunga lain." Narendra pun tersenyum karena bunga di taman ini sekarang menjadi banyak macamnya, padahal awalnya disini hanya di tanami oleh bunga mawar biru kesukaan istrinya.
Naren tidak melarang, karena Ayunda memang menyukai apapun jenis bunga nya. Beruntung nya dia tidak memiliki alergi terhadap jenis bunga apapun, jadi tidak masalah untuk Mami nya menanam aneka jenis bunga lainnya disini.
"Ini bunga apa?"
"Kata Mami sih Aster atau crysant." Jawab Narendra.
"Wangi nya enak ya?"
__ADS_1
"Iya, makanya Ayunda sering kesini. Katanya aroma nya bikin tenang, terus bacil-bacil tuh suka langsung tenang kalau Ayu datang kesini."
"Seperti nya anak-anak mu akan menyukai bunga juga."
"Iya kalau yang perempuan, lah kalau laki-laki bagaimana? Kan gak mungkin doyan nanam bunga kayak Mami." Jawab Narendra sambil terkekeh.
"Bisa saja, toh temen Mami mu yang jadi florist kan juga cowok. Dia suka dengan aneka jenis tanaman, salah satunya ya bunga."
"Enggak deh, semoga jangan. Naren pengen putra laki-laki Naren tuh jadi seorang pengusaha, atlet atau penyanyi juga boleh."
"Haha, itu bisa di pertimbangkan nanti. Sekarang, putra mu belum lahir kan? Sudah memikirkan kesana saja, bagaimana kalau ternyata putramu malah ingin mengikuti jejak nakal Papa nya saat masih muda coba?" Goda Darren yang membuat Naren memutar matanya dengan jengah.
"Maksud kakek jadi pembalap gitu?"
"Hmmm, bisa jadi."
"Jangan dulu deh kalo pembalap, mendingan jadi dokter."
"Kalau putra mu nakal seperti dirimu dulu bagaimana? Sampai rela sembunyi-sembunyi buat bisa balapan luar, pulang ke rumah patah tulang tapi bersikap seolah gak terjadi apa-apa tapi semaleman gak tidur karena sakit." Cibir Darren membuat Naren semakin mendelik kesal ke arah sang kakek. Bisa-bisa nya kakek nya ini membongkar masa lalu penuh aib nya dulu. Padahal dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk melupakan semua itu. Dia juga menyembunyikan semua itu dari sang istri, dia tidak ingin kalau Ayunda mengetahui dulu dia adalah pembalap. Bukan pembalap resmi seperti Valentino Rossi, tapi tukang balapan liar.
"Kakek, sudahlah jangan di bahas. Nanti kedengeran sama Ayu bisa bahaya."
"Apa nya yang bahaya, Mas?" Tanya Ayunda. Dia baru saja datang untuk menyusul sang suami, karena ada Mark di ruang tamu.
"E-ehh, kapan kamu kesini, sayang?" Balik tanya Narendra sambil menggaruk tengkuknya menahan rasa gugup yang terasa menjalari tubuhnya.
"Baru aja sih, Mas. Itu ada Om Mark di ruang tamu."
"Ngapain si Mark kesini, Yang?" Tanya Narendra sambil menggenggam tangan sang istri mengajak nya kembali masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Darren yang menatap punggung cucu dan juga cucu menantu nya itu hingga menjauh dan menghilang di balik pintu masuk ke dalam mansion.
"Gak tahu tuh, Mas."
"Pasangan yang serasi, aku berharap bisa hidup lebih lama agar bisa melihat mereka berbahagia lebih dari sekarang." Gumam Darren dengan lirih. Tidak ada lagi yang bisa dia harapkan selain kebahagiaan semua anggota keluarga nya. Arvino sudah bahagia dengan Melisa, mungkin Naren juga sudah bahagia bersama Ayunda saat ini karena Ayunda adalah wanita yang tepat untuk mendampingi Naren.
"Iya, sayang." Jawab Darren. Melisa pun tanpa ragu sama sekali segera menggandeng tangan papa mertua nya, ini sudah biasa bagi Melisa dan Darren juga tidak keberatan sama sekali, malahan dia merasa senang karena dengan seperti ini dia menjadi lebih dekat dengan menantu nya.
Di ruang tamu, Narendra menemui Mark yang sudah terlihat menunggu nya dengan wajah yang terlihat sedikit panik. Kira-kira, ada apa?
"Mark.."
"Aahh, ya Tuan.."
"Ada apa? Ini weekend, kenapa kau repot-repot datang kemari? Apa ada hal yang begitu penting hingga membuat mu kesini?" Tanya Narendra sambil duduk di sofa yang berhadapan dengan asisten nya itu.
"Begini, anda masih ingat dengan Rosalina?"
"Hmm, wanita biang onar itu kan? Kenapa dengan wanita itu? Dia mencari masalah?"
"Dia menyerang balik perusahaan kita, Tuan."
"Ohh, menggunakan cara kotor untuk menjatuhkan ku ya? Haha, tidak bisa!" Ucap Narendra sambil tertawa, lalu sedetik kemudian dia mengubah ekspresi wajahnya. Dia bahkan menatap Mark dengan tajam. Gila, tatapan ini lah yang paling di hindari oleh Mark.
"Kau gentar dengan serangan itu, Mark? Kita orang terhormat yang tidak pernah bermain dengan kotor bukan?"
"I-iya, Tuan."
"Kali ini, balas saja. Tidak masalah, aku mendukung apapun upaya mu."
"Saya sudah memiliki banyak bukti skandal Rosalina, tapi kali ini James tidak terlihat karena setelah pulang dari perusahaan, James sudah menalak Rosalina dan dua hari lalu mereka baru resmi bercerai, Tuan." Jelas Mark membuat Narendra tersenyum menyeringai.
"Itu memudahkan kita untuk membalas perbuatan wanita sialan itu kan?"
"Iya, Tuan. Saya kesini hanya untuk meminta persetujuan anda."
__ADS_1
"Kalau hanya untuk itu, kenapa kau tidak menelpon saja, Mark? Jauh-jauh saja kau kesini." Ucap Narendra.
"Saya lupa kalau ini sudah jaman modern, Tuan. Saya hanya kepikiran langsung kesini saja tadi."
"Ckkk, kau kesini naik apa? Delman atau sepeda?" Tanya Narendra dengan ketus.
"Mobil, hehe."
"Itu kau pakai mobil, masa lupa kalau punya ponsel."
"Hehe, tapi gapapa saya mau ke stasiun berita setelah ini. Anggap saja sekalian."
"Ada-ada saja kau ini, Mark. Tapi ya sudahlah, bagaimana kabar istrimu?"
"Baik-baik saja, hanya sekarang dia sering muntah-muntah."
"Maya sedang hamil?"
"Allhamdulilah, iya Tuan. Baru enam minggu." Jawab Mark membuat Naren tersenyum.
"Wah, selamat Mark. Kau juga akan berganti status menjadi seorang ayah sebentar lagi. Ehhh, masih lama ya?"
"Masih tujuh bulan setengah lagi, Tuan."
"Gak bakalan kerasa itu." Jawab Narendra.
"Iya, Tuan. Kalau begitu, saya pulang dulu ya. Sekalian mau itu tuh."
"Hmm, hati-hati di jalan. Aku akan mentransfer bonus mu besok."
"Bonus? Tapi kan awal bulan kemarin anda sudah memberikan saya bonus, Tuan."
"Ini bonus kecil atau kau anggap ini sebagai ucapan selamat ku untuk kehamilan istrimu." Jawab Narendra membuat Mark tersenyum cerah. Tidak sia-sia dia datang ke mansion keluarga Sanjaya pagi ini, dia mendapatkan rezeki yang tidak terduga.
"Terimakasih, Tuan."
"Sama-sama, hati-hati di jalan."
"Baik, Tuan. Saya permisi dulu." Narendra menganggukan kepala nya lalu membiarkan Mark pergi meninggalkan rumahnya. Dia tersenyum sinis saat mengingat kalau Rosalina masih ingin bermain-main dengan nya. Dia yang memulai, dia juga yang harus hancur!
"Ckkk, dia ingin menghancurkan aku? Jangan mimpi, justru kau yang akan hancur. Aku takkan pernah melepaskan siapapun yang sudah membuat aku marah." Ucap Narendra sambil mengepalkan tangan nya di atas meja. Wajah nya memerah dengan urat-urat leher yang terlihat menegang menahan kemarahan yang memenuhi hati dan pikiran nya, namun dia tidak ingin menunjukkan nya apalagi di hadapan sang istri.
"Lho, Om Mark kemana?" Tanya Ayunda sambil celingukan mencari pria yang tadi ada di ruang tengah bersama sang suami.
"Sudah pergi, kenapa?"
"Ini aku buatin teh hangat buat dia, mana aku tahu kalau dia udah pergi. Aku kira bakalan lama, soalnya kalo ngobrol serius kayak tadi tuh suka lama."
"Hmmm, dia buru-buru. Istrinya lagi sakit di rumah." Jawab Naren sekenanya. Ayunda pun meletakan teh di atas meja, lalu duduk di samping sang suami. Tangan Narendra secara refleks langsung mengusap perut Ayunda yang membuncit itu.
"Maya sakit? Sakit apa, Mas?"
"Ngidam, dia lagi hamil katanya."
"Wahh, seriusan? Udah berapa bulan?" Tanya Ayunda dengan antusias.
"Kata Mark baru enam minggu."
"Akhirnya, Maya hamil juga. Seneng banget dengernya." Ucap Ayunda sambil tersenyum manis. Narendra mengacak rambut sang istri dengan gemas, inilah kelebihan istrinya. Bukan iri mendengar kebahagiaan orang lain seperti orang kebanyakan, tapi Ayunda malah ikut berbahagia malahan dia lebih antusias dari yang sedang mendapatkan kebahagiaan.
.......
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1