
Hari ini adalah hari yang paling di tunggu untuk Melisa dan Arvin. Hari ini adalah hari pernikahan Narendra dan Ayunda. Sejak pagi buta, pihak MUA sudah datang untuk merias Ayunda. Meskipun ini adalah pernikahan yang sederhana, hanya ada acara ijab kabul saja, tapi Melisa tetap ingin melakukan yang terbaik untuk calon menantu dan juga pernikahan gadis itu. Ini adalah pernikahan sekali seumur hidup.
Ya, Melisa berharap agar pernikahan ini bisa bertahan selama nya. Dia sangat berharap kalau Ayunda dan Naren menikah masing-masing satu kali seumur hidup mereka, tidak seperti dirinya.
Semua orang tahu kalau Melisa menikah kedua kali saat menikah dengan Arvin. Itu karena suami pertama nya yang tidak pernah menghargai nya sama sekali, karena mereka menikah karena perjodohan jadi pria itu tidak pernah memperlakukan nya dengan baik.
Arvin datang dan memberikan nya harapan dan inilah mereka sekarang, membina rumah tangga dengan sangat baik dan harmonis hingga di beri keturunan, yakni Narendra. Bukan tanpa alasan kenapa mereka tidak ingin kembali menambah momongan, tapi Arvin selalu menolak karena dia tidak mau melihat istrinya kesakitan.
"Sayang.." Panggil Melisa sambil membuka kamar dengan perlahan. Dia melihat kalau Ayunda sudah terlihat cantik dengan make up sederhana dan juga gaun yang secara pribadi Melisa pesan secara khusus.
"Iya, Mi.." Jawab Ayunda, dia berbalik menatap ke arah Melisa. Wanita paruh baya itu tersenyum lalu berjalan mendekat ke arah Ayunda yang sedang duduk di kursi meja rias.
"Kamu terlihat sangat cantik, sayang."
"Terimakasih, Mami. Tapi, aku rasa gaun ini terlalu besar dan mewah untuk Ayu."
"Tidak, ini hanya gaun sederhana, sayang. Mami sengaja memesan gaun ini untuk acara pernikahan mu. Ingat, ini pernikahan sekali seumur hidup mu, ini adalah moment yang harus berkesan, sayang." Ucap Melisa sambil tersenyum, dia mengusap-usap wajah cantik Ayunda dan memeluk gadis yang akan menjadi menantu nya itu dengan hangat.
"Mi, apa Mami yakin kalau pernikahan ini adalah.."
"Iya, sayang. Mami yakin, kamu bisa bertahan dengan pernikahan. Mami juga yakin kalau kamu akan menjadi istri dan ibu yang baik untuk suami dan anak mu kelak." Jelas Melisa membuat Ayunda tersenyum kecil.
"Baiklah, Mi. Tolong bantu Ayu, kalau ada yang salah, tolong nasihati Ayu ya, Mi."
"Tentu saja, sayang. Kamu bisa bertanya apapun sama Mami, berkeluh kesah sama Mami ya. Anggaplah Mami seperti ibu kandung kamu sendiri ya." Jelas Melisa, Ayunda menganggukan kepala nya.
__ADS_1
Wanita itu pun menggandeng tangan Ayunda, hari ini paman Ayu lah yang akan menjadi wali di pernikahan Ayunda dan Naren. Karena sang ayah yang sudah tiada, jadi paman nya lah yang akan memberikan Ayu restu untuk menempuh hidup baru bersama pria yang menjadi pilihan nya.
Adam tersenyum saat melihat keponakan nya turun dari kamar dengan langkah anggun nya, dia terlihat sangat cantik dengan balutan gaun berwarna putih dengan banyak manik-manik di gaun itu. Terlihat sangat indah, membuat Adam terharu. Dia mengusap air mata nya yang perlahan menetes.
Pria itu memang sangat baik, tapi istri nya dan putri nya lah yang jahat pada Ayunda. Dia mengetahui nya, bahkan sekarang dia datang kesini tanpa seizin istri dan putri nya. Dengan beralasan, akan pergi meeting keluar kota, padahal dia datang untuk memberikan restu pada pernikahan Ayunda.
Naren langsung menggenggam tangan Ayunda begitu gadis itu datang dan mendekat pada nya. Dia bahkan nyaris tak bisa berkedip saat melihat betapa cantiknya Ayunda, gadis yang sebentar lagi akan resmi menjadi istrinya.
"Sudah siap semua nya?"
"Siap, pak." Jawab Naren.
"Baiklah, mari jabat tangan wali nikah nya." Naren mengangguk dan menjabat tangan Adam, pria paruh baya yang berstatus paman dari gadis yang akan dia nikahi.
"Saudara Narendra Aksa Sanjaya, saya nikah dan kawinkan anda pada Ayunda Maishika binti Budi Haryanto dengan mas kawin satu set perhiasan emas di bayar tunai."
"Bagaimana para saksi, sah?"
Semua orang yang hadir bersorak mengatakan Sah. Pernikahan ini pun sah di mata agama dan negara, pria itu mengusap wajah nya dan kembali membuka kedua tangan nya untuk berdoa. Setelah selesai dengan doa, kedua nya pun menyematkan cincin di jari manis masing-masing.
Naren mengecup kening Ayunda dengan mesra lalu kedua nya pun menandatangani surat nikah. Dengan begitu, acara pernikahan pun selesai.
Adam mendekat ke arah pelaminan, pria itu langsung memeluk Ayunda dan di balas oleh gadis itu dengan pelukan hangat nya.
"Selamat menempuh hidup baru mu, sayang. Maaf karena paman mungkin sudah gagal menjaga mu karena paman terlalu takut pada istri dan anak paman, maafkan semua kesalahan paman ya, Ayu?"
__ADS_1
"Ayu udah maafin paman kok, lagian harusnya paman gak usah minta maaf sama Ayu. Paman gak salah apa-apa sama Ayu." Jawab Ayunda sambil menangis di pelukan Adam.
"Semoga pernikahan kalian langgeng sampai maut memisahkan ya? Paman turut berbahagia untuk mu."
"Terimakasih, paman." Ucap Ayunda.
"Jangan menangis ya, nanti cantik nya luntur. Malu sama suami kamu, bahagia selalu ya, sayang." Ucap Adam, dia kembali meraih Ayunda ke dalam pelukan nya. Dia begitu menyayangi Ayunda seperti anak kandung nya sendiri, sayang sekali dia punya anak dan istri yang jahat hingga membuat nya harus berpisah dengan Ayunda.
"Iya, Paman."
"Paman harus segera pulang, paman gak bisa lama-lama disini. Sesekali telepon paman ya, sayang?"
"Baik, Paman. Hati-hati di jalan dan terimakasih sudah menjadi wali nikah nya Ayu."
"Tidak perlu berterimakasih, itu sudah tugas paman, sayang. Berbahagia lah disini ya.."
"Naren, paman titip Ayu sama kamu ya? Dia anak yang baik, hanya saja agak sedikit manja dan keras kepala, tapi Paman yakin kalau dia akan menjadi istri yang baik." Ucap Adam pada Naren. Pria itu tersenyum lalu menganggukan kepala nya.
"Dengan senang hati, saya akan menjaga Ayu, paman."
"Baiklah, paman merasa lebih lega sekarang. Kalau begitu, paman permisi dulu ya." Pamit Adam, kedua nya pun mengangguk. Ayunda menyaksikan punggung Adam yang perlahan mulai menjauh dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
Naren yang melihat itu langsung memeluk Ayunda, dia mengusap-usap punggung sang istri dengan lembut.
"Jangan sedih, ada aku disini. Biarkan paman mu pergi karena dia sudah menunaikan kewajiban nya, sayang." Lirih Naren.
__ADS_1
......
🌻🌻🌻🌻