
"Sayang, sudah siap bahan-bahan buat bikin kukis nya?" Tanya Melisa pada sang menantu yang terlihat sedang menimbang bahan-bahan untuk membuat kue kering. Rencana nya, hari ini mereka akan membuat kue kering rasa coklat. Masih sama, kue ini adalah salah satu kue kesukaan Narendra.
"Sudah, Ma. Udah kok, tinggal ngadonin aja. Aku gak bisa, hehe." Jawab Ayunda sambil tersenyum.
"Iya, Mama yang ngadonin nya. Nanti kamu bantuin Mami buat nyetak kukis nya ya?"
"Okey, Mami." Jawab Ayunda sambil tersenyum. Dia pun melihat sang Mami sedang mengadoni bahan-bahan itu hingga tercampur sempurna dan pas untuk di cetak.
"Ini sudah, ayo di cetak." Ajak Melisa. Ayunda pun menganggukan kepala nya, dia pun membantu sang Mami untuk mulai mencetak kue nya hingga habis.
Ayunda yang bertugas memanggang kue nya, setelah matang dia memakan nya dengan lahap. Kue nya terasa sangat enak, manis nya pas. Pokoknya, dia langsung menyukai kue kering buatan sang Mami.
"Bagaimana kue nya, enak nggak?" Tanya Melisa sambil tersenyum. Padahal dari ekspresi perempuan hamil itu saja, Melisa sudah bisa melihat kalau menantu nya itu menyukai kue buatan nya, kalau saja Ayunda tidak menyukai kue buatan nya mana mungkin Ayunda mencomot kue nya lagi dan lagi.
"Eehh, hehe. Saking enak nya, Ayu sampai lupa ngasih tahu Mami. Kue buatan Mami enak banget, Mi." Jawab Ayunda sambil mengacungkan kedua jempol nya ke arah sang Mami.
"Benarkah, sayang?"
"Iya, Mami. Enak banget, gak kemanisan begini ya padahal pakai choco chips tapi rasa nya pas."
"Kan di adonan nya, gula nya sedikit aja. Bisa di akalin kok." Jelas Melisa sambil tersenyum manis.
"Begitu ya? Hmmm, kayaknya Ayu harus belajar bikin kue kering sendiri deh."
"Iya, nanti kamu belajar ya. Mami kasih resep nya, tapi jangan maksain ya. Soalnya kamu itu lagi hamil muda sekarang."
"Oke, Mami." Jawab Ayunda sambil tersenyum. Melisa mengusap puncak kepala menantu nya dengan lembut, dia juga gemas sendiri saat melihat menantu nya. Pantas saja Narendra sering merasa gemas dengan Ayunda, jangankan pria yang menjadi suami nya, dirinya saja merasa gemas saat melihat Ayunda.
"Mami, perut Ayu kok sakit ya.." Ayunda meringis sambil memegangi perut nya, saat ini dia sedang duduk lesehan di lantai bersama Mami mertua nya. Tapi setelah memakan beberapa keping kue kering itu, tiba-tiba saja perut nya terasa sakit.
"Sakit? Lho sakit kenapa, sayang?" Panik Melisa. Kedua mata nya membulat sempurna saat melihat ada darah yang merembes keluar dari area bawah sang menantu.
"Aahsss.." Ayunda meringis kesakitan, membuat Melisa semakin panik di buat nya.
"Pi, papi.." Teriak Melisa memanggil Arvin, suami nya. Mendengar suara sang istri, Arvin yang sedang berada di kebun belakang untuk melihat proses penanaman bunga mawar biru. Ya, proyek itu sudah di mulai seminggu yang lalu dan di awasi langsung oleh Arvin.
"Papi.." Teriak Melisa lagi karena suami nya tidak kunjung datang juga, padahal dia butuh bantuan nya saat ini.
"Ma-mi, sakit.."
"Sayang, sabar sebentar ya. Kita ke rumah sakit ya?"
"Iya, Mi. Kenapa?" Tanya Arvin, dia berlari dari kebun belakang ke rumah yang jarak nya cukup jauh karena jalanan nya yang berputar.
"Ayu, Pi. Lihat, berdarah begini." Tunjuk Melisa ke arah darah yang merembes ke lantai, jumlah nya cukup banyak hingga membuat Arvin membulatkan kedua mata nya.
"Bagaimana bisa, Mi? Bukan nya tadi, Ayunda baik-baik saja?" Tanya Arvin sambil mendekat, dia melihat wajah Ayunda sudah memucat. Entah karena menahan rasa sakit atau kehilangan darah, yang jelas wajah Ayunda saat ini terlihat sangat pucat.
"Ini gimana, Pi?" Tanya Melisa.
"Pake nanya gimana, kita bawa ke rumah sakit sekarang!" Tegas Arvin, dia kembali pergi keluar dari rumah untuk meminta penjaga rumah menyiapkan mobil sekarang juga. Tak lama kemudian, Arvin kembali masuk dengan wajah panik nya. Dia langsung menggendong tubuh lemas sang menantu dan membawa nya ke dalam mobil.
"Bawa alas, Ma. Kain atau apa, biar gak membekas di mobil."
"Iya, Pi." Melisa segera berlari ke kamar dan membawa kain jarik untuk alas Ayunda di mobil nanti.
__ADS_1
Wanita paruh baya itu pun kembali berlari ke dalam mobil, dia benar-benar terkejut sekarang ini. Dia memangku kepala Ayunda yang berbaring di kursi belakang, namun saking sakit nya, Ayunda tak sadarkan diri. Hal itu membuat Melisa histeris, begitu juga Arvin yang seketika panik.
Dia mengemudikan kendaraan nya dengan kecepatan tinggi, bodo amat dengan pengendara lain yang mengumpaat padanya karena menjalankan mobil secara ugal-ugalan, tapi dia lebih mempedulikan keselamatan menantu dan calon cucu nya sekarang ini.
"Ayuu, bangun sayang. Jangan buat Mami khawatir, sayang." Ucap Melisa, dia menangis. Dia takut, benar-benar takut kalau seandainya terjadi sesuatu yang tidak di inginkan pada Ayunda dan juga bayi yang ada di dalam kandungan nya saat ini.
"Sayang, bangunlah.." Lirih Melisa lagi sambil menepuk-nepuk perlahan wajah sang menantu dengan air mata yang berderai tak karuan.
"Sebentar lagi kita sampai, Mi."
"Cepatlah, Pi. Aku khawatir dengan keadaan Ayu."
"Papi juga, tapi papi gak bisa melajukan kendaraan dengan kecepatan yang lebih tinggi karena jalanan ini bukan milik nenek moyang Papi, Mi. Sabar sedikit lagi, Ayu pasti akan baik-baik saja." Jawab Arvin. Tapi tetap saja, perkataan pria itu tidak membuat nya lega. Melisa malah semakin ketakutan, apalagi Ayunda yang malah tak sadarkan diri juga.
Beberapa menit kemudian, akhirnya Melisa bisa menghela nafas dengan lega. Kedua nya pun sampai di rumah sakit, Arvin kembali menggendong menantu nya dan meletakan nya di brankar.
"Maaf, Bapak dan Ibu harap tunggu di luar ya."
"Lakukan yang terbaik untuk menantu saja, sus."
"Baik, Bu. Kami akan berusaha semaksimal mungkin." Jawab perawat itu. Ayunda yang ada di dalam brankar pun di bawa masuk ke dalam ruangan IGD. Melisa dan Arvin menunggu di kursi yang ada di ruang tunggu.
Melisa terlihat masih sesenggukan, rasa takut benar-benar mendominasi nya saat ini. Begitu juga dengan Arvin, dia takut, khawatir dan panik bercampur jadi satu dia rasakan saat ini. Sungguh demi apapun, ini terlalu mengejutkan bagi nya. Padahal tadi, Ayunda terlihat baik-baik saja.
"Mi, sudah memberitahu Naren?"
"Belum, Pi." Jawab Melisa pelan. Sangat pelan, bahkan terdengar seperti suara bisikan bagi Arvin. Tapi telinga nya masih berfungsi dengan sangat baik, jadi dia masih bisa mendengar ucapan sang istri dengan jelas.
"Beri tahu dia, Mi. Bagaimana pun, Naren adalah suami Ayu, dia harus tahu."
Sedangkan di kantor, Narendra baru saja selesai meeting bersama klien. Dia berjalan tegap dengan wajah datar nya, di belakang nya ada Mark yang berjalan dengan langkah lebar nya. Kedua nya adalah pria tertampan yang ada di perusahaan besar ini.
Memang, kedua nya hanya meeting di kantor saja. Karena mereka tidak ingin meeting di luar hari ini, lebih tepatnya Narendra yang menolak semua agenda meeting di luar kantor. Jujur saja, Mark terheran-heran dengan apa yang di lakukan oleh tuan nya ini.
Hal ini adalah pertama kali nya terjadi sejak dia bekerja di perusahaan ini, dia sudah bertahun-tahun bekerja bersama Narendra tapi hal semacam ini baru terjadi sekarang, sekali ini saja. Tentu saja hal itu membuat Mark keheranan sendiri tapi mau bertanya saja dia merasa canggung karena wajah Narendra terlihat tak bersahabat saat ini. Entah ada apa dengan pria tampan itu hari ini.
Narendra mengusap dada nya yang berdebar tidak karuan, dia merasa tidak enak hati sejak pagi tadi. Apa terjadi sesuatu yang tak di inginkan atau bagaimana? Tidak biasa nya dia mengalami hal seperti ini, hati nya berdebar, jantung nya juga terasa sedikit sakit. Entah kenapa.
"Mark.."
"Iya, Tuan. Ada apa?" Tanya Mark, dia mempercepat langkah nya untuk menyejajarkan posisi mereka.
"Perasaan ku tak enak, Mark. Kira-kira ada apa ya?" Tanya Narendra, membuat kening Mark mengernyit. Dia kebingungan, pasalnya lagi-lagi ini pertama kali nya melihat Naren yang terlihat gelisah seperti ini.
"Saya tidak tahu, Tuan. Mungkin hanya perasaan anda saja."
"Semoga saja begitu, Mark." Jawab Narendra lirih.
'Aku harap, kamu baik-baik saja, sayang.' Batin Narendra. Dia pun berjalan masuk ke dalam ruangan nya, lalu menutup nya. Mark juga masuk ke dalam ruangan nya.
Narendra duduk di kursi kebesaran nya, dia mengeluarkan ponsel dari saku jas nya dan meletakan nya di atas meja. Pria itu mendongakan kepala nya dengan kedua mata yang terpejam. Dia merasa lelah sekali sekarang ini, dia berharap istrinya segera datang untuk mengantarkan kue kukis yang sudah dia janjikan tadi pagi.
Tring..
Disaat Naren sedang memejamkan mata nya menghalau rasa penat untuk sejenak, dia di kagetkan dengan suara ponsel yang berbunyi dengan nyaring. Naren membuka kedua mata nya lalu mengambil ponsel nya.
__ADS_1
"Hallo, Mi. Ada apa?" Tanya Narendra dengan santai.
'Ren, datanglah ke rumah sakit di jalan cempaka.'
"Ngapain, Mi? Ada apa, memang nya siapa yang sakit?" Tanya Narendra. Wajah nya masih datar sekarang ini.
'Istri mu, dia pendarahan. Mami sama Papi bawa dia ke rumah sakit, cepatlah. Dia membutuhkan mu sekarang ini.' Jelas Melisa membuat Narendra menganga. Seketika wajah nya memucat, jantung nya terasa berhenti berdetak sekarang ini.
"Aku kesana sekarang." Jawab Narendra. Dia pun langsung mematikan sambungan telepon nya secara sepihak, pria itu berlari keluar dari ruangan nya dengan wajah panik nya. Di luar ruangan, tak sengaja dia bertemu dengan Mark yang bersiap untuk pergi ke ruangan nya dengan berkas-berkas yang dia genggam.
"Tuan, anda mau kemana?"
"Ke rumah sakit, Mark. Istriku pendarahan, aku harus kesana sekarang. Dia membutuhkan aku sekarang!" Tegas Narendra, dia pun segera berlari kembali meninggalkan Mark yang masih membeku di tempat nya. Sebelum akhirnya dia ikut berlari menyusul sang atasan.
Dia tahu, keadaan Narendra saat ini pasti sedang tidak baik-baik saja, dia sedang kalut dan dia khawatir kalau pria itu akan mengemudikan kendaraan nya dengan ugal-ugalan. Itu akan sangat membahayakan, jadi lebih baik dia yang menyetir saat ini agar lebih aman.
"Sayang, aku akan datang. Tunggu sebentar lagi.." Gumam Narendra. Dia membuka pintu mobil nya, tapi tangan nya di cekal oleh Mark. Narendra menoleh dan menatap asisten yang sekaligus sekretaris nya itu dengan tajam.
"Apa maksud mu, Mark? Aku harus pergi sekarang, istriku membutuhkan aku!"
"Saya tahu, Tuan. Saya yang akan mengantarkan anda, jangan mengambil resiko. Anda sedang panik saat ini." Jawab Mark membuat Narendra terdiam. Benar apa yang di katakan oleh Mark, dia harus berpikir lebih logis. Maka dari itu, dia melempar kunci mobil nya pada Mark dan dia pergi berlari ke sisi lain dari mobil itu.
Kedua pria itu masuk ke dalam mobil, Naren duduk dan langsung memakai seat belt nya, begitu pula dengan Mark. Dia pun menyalakan mesin mobil nya dan segera mengemudikan nya dengan kecepatan rata-rata.
"Tuan, di rumah sakit mana?"
"Rumah sakit jalan Cempaka, cepatlah!" Mark mengangguk, dia pun menekan pedal gas guna mempercepat laju kendaraan roda empat nya itu.
"Kau tak bisa menyetir atau bagaimana, Mark? Lelet sekali." Tanya Narendra membuat Mark mendelik sebal ke arah Narendra.
"Saya bisa saja mempercepat laju kendaraan nya, tapi bagaimana dengan keselamatan pengendara lain?" Ucap Mark membuat Narendra berdecak kesal.
"Aku tidak peduli, Mark. Biarkan saja, yang aku inginkan sekarang hanya sampai ke rumah sakit dengan cepat dan bertemu istriku!" Tegas Narendra.
Mark memilih diam dan fokus mengemudikan kendaraan roda empat nya dengan kecepatan tinggi sekarang. Hingga akhirnya, setelah hampir satu jam yang menguras emosi bagi Mark karena harus mendengar Naren yang terus menerus mengoceh di sepanjang perjalanan.
Narendra keluar dari mobil, dia segera berlari dan celingukan mencari keberadaan kedua orang tua nya. Begitu dia berhasil menemukan nya, Narendra langsung berlari mendekat tanpa menghiraukan Mark yang sudah megap-megap karena lelah mengejar langkah nya kesana kemari.
"Anjir, nafas gue kayak orang sesak nafas." Gumam Mark sambil berdiri dengan kedua tangan yang berada di pinggang nya. Dia akan berdiri sejenak untuk menetralkan kembali nafas nya.
"Mami, papi.." Panggil Narendra. Dia berdiri di hadapan kedua orang paruh baya itu, wajah mereka terlihat sangat khawatir bahkan wajah Melisa masih terlihat bersimbah air mata, bisa di pastikan kalau dia masih menangis sampai sekarang karena memikirkan keadaan menantu nya.
"Kau datang juga akhirnya.." Ucap Arvin sambil menepuk pelan pundak sang putra.
"Bagaimana keadaan Ayunda, Mi? Dia baik-baik saja kan, anak ku bagaimana?" Tanya Narendra. Namun ibu nya malah menggelengkan kepala nya dengan wajah sendu.
"Kenapa? Ada apa dengan istriku?!"
"Kami belum tahu, dokter masih memeriksa nya di dalam, Boy." Bukan Melisa, tapi Arvin yang menjawab.
"Bagaimana Ayu bisa pendarahan, padahal tadi pagi dia baik-baik saja."
"Mami juga gak tahu, tadi dia lagi asik makanin kue kering buatan Mami, eeh tiba-tiba dia ngeluh sakit perut terus pendarahan." Jelas Melisa apa adanya. Narendra percaya, tak mungkin jika orang tua nya berbohong bukan? Mengingat kalau Melisa sangat menyayangi Ayunda, jadi mustahil kalau seandainya Melisa yang mempunyai niat jahat pada menantu nya sendiri.
......
__ADS_1
🌻🌻🌻