
Satu jam pun berlalu..
Ayunda keluar dari kamar mandi dengan rambut basah nya, dia mendelik ke arah sang suami yang menatap ke arah nya dengan senyum nakal nya.
Ya, dia baru saja selesai menidurkan kepala bawah sang suami yang mengamuk tanpa tahu tempat dan waktu. Lagian, Naren tuh kalau sudah ada mau nya pasti akan langsung meminta nya, dia bahkan rela meninggalkan sejenak pekerjaan nya hanya untuk bermain dengan sang istri selama satu jam lama nya.
"Udah dong, wajah nya kok di tekuk gitu sih, yang?"
"Sakit.." Rengek Ayunda membuat Narendra terkekeh pelan.
"Sakit mana nya, sayang?" Tanya Narendra, dia tersenyum lalu memeluk sang istri dari samping.
"Ini nya lecet, Mas. Kamu main nya kasar banget deh, gak kayak biasa nya."
"Hmm? Benarkah? Aku rasa, aku bermain seperti biasa nya kok."
"Mana ada, aku yang ngerasain hentakan kamu keras plus kenceng banget tadi." Jawab Ayunda sambil cemberut. Narendra mencapit bibir sang istri dengan gemas lalu mengecup pipi nya singkat.
"Maafin ya, tadinya aku mau main cepet. Tapi ternyata tetap saja selesai nya satu jam, hehe."
"Itu udah durasi wajar, kamu main pasti gak pernah kurang dari satu jam." Jawab Ayunda. Narendra tertawa mendengar jawaban sang istri.
"Padahal aku rasa main nya cepet gitu, tapi kok pas liat jam, ternyata satu jam selesai nya."
__ADS_1
"Hmmm, saking doyan nya sampe lupa waktu ya, Mas?" Tanya Ayunda sambil menatap wajah tampan sang suami dengan sinis.
"Tubuh kamu bikin aku menggila, enak banget. Legit sampe bikin aku ketagihan." Jawab Narendra. Memang benar, dia sudah ketagihan dengan tubuh istri nya. Dia benar-benar memuja keindahan dan kenikmatan yang di suguhkan oleh tubuh istri nya, benar-benar membuat nya lupa waktu jika sudah bermain dengan Ayunda. Dia bisa melupakan dunia karena terlalu asik bermain dengan tubuh istri nya, rasanya dia takkan pernah bosan untuk menikmati nya kapan pun.
"Bilang aja doyan."
"Iya doyan, hehe."
"Nyengir aja kamu, udah sana kerja lagi. Udah gak pusing lagi kan kepala nya?" Tanya Ayunda dengan menyelipkan sindiran di dalam pertanyaan nya, Narendra cengengesan lalu menganggukan kepala nya. Dia pun mengecup bibir sang istri singkat, lalu pergi ke meja kerja dan duduk di kursi kebesaran nya. Dia pun menekan tombol on di laptop dan kembali memulai pekerjaan nya.
Ayunda merasa bosan, akhirnya dia pun tertidur di sofa. Narendra yang terlalu fokus dengan pekerjaan nya tak menyadari kalau istri nya sudah tertidur di sofa. Pria itu mengalihkan pandangan nya dari benda berbentuk persegi itu dan melihat ke arah sang istri, dia tersenyum kecil saat melihat ternyata Ayunda sudah tertidur.
"Pantas saja ruangan nya terasa hening, ternyata dia tertidur." Gumam Narendra. Dia menggelengkan kepala nya, wajah cantik sang istri terlihat sangat teduh saat tertidur.
"Bahkan, saat tertidur pun kamu terlihat sangat cantik, sayang." Gumam Narendra. Dia pun kembali mengecup kedua pipi sang istri.
"Selamat tidur, sayang."
"Tuan.." panggil Mark. Lagi-lagi dia melupakan pesan Narendra, dia datang tanpa mengetuk pintu atau bahkan menghubungi nya lewat ponsel. Tapi dia langsung masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintu.
"Sshhttt.." Narendra meletakan satu jari telunjuk nya di bibir, meminta pria itu untuk diam. Mark melihat kalau Ayunda sedang tertidur, pria itu pun bergerak dengan sangat perlahan. Narendra beranjak dari tempat nya saat ini dan kembali ke meja kerja nya.
"Ada apa lagi? Kau melupakan pesan ku padamu, Mark? Kebiasaan, bagaimana kalau semisal aku sedang berbuat tak senonoh di dalam ruangan ini hmm?" Tanya Narendra membuat Mark cengengesan. Naren yang sudah terlanjur kesal, melempar pena miliknya dan tepat mengenai kening Mark.
__ADS_1
Pria itu meringis sambil mengusap-usap kening nya dengan perlahan, ternyata di lempar menggunakan pena juga terasa sakit ya.
"Maaf, Tuan.."
"Maaf saja terus, hingga membuat aku muak!" Celetuk Narendra dengan ketus.
"Hehe, nanti aku akan mengingat nya, Tuan."
"Ckkk, jadi ada apa kau datang kesini hah?" Tanya Narendra.
"Tanda tangan, Tuan."
"Hmm, kau butuh sekarang atau besok, lusa atau bahkan tahun depan?" Tanya Naren dengan senyum menggoda nya.
"Sekarang, Tuan. Kalau besok atau lusa, ngapain saya minta tanda tangan nya sekarang?"
"Hahaha, baiklah kemari kan berkas nya." Jawab Narendra. Mark pun memberikan berkas-berkas penting itu pada Narendra dan pria itu langsung menanda tangani nya tanpa ragu dan setelah membubuhkan tanda tangan nya, Mark pun keluar dari ruangan besar sang CEO.
"Gak sopan, setelah di kasih tanda tangan malah pergi begitu saja. Dasar gak tau sopan santun." Gumam Narendra.
.......
🌻🌻🌻🌻
__ADS_1