
Pagi ini, Ayunda terlihat sedang berjalan-jalan santai di sekitaran mansion. Tentunya bersama ibu mertua nya, kata orang tua jaman dulu, ibu hamil memang harus banyak gerak, berjalan-jalan santai biar gak bengkak. Ayunda memang mengalami sedikit pembengkakan di bagian kaki, itulah yang membuatnya berinisiatif untuk berjalan-jalan rutin setiap paginya, di temani Melisa.
Ibu mertua nya itu tidak pernah mengizinkan Ayunda untuk pergi sendirian kemana pun. Kemarin saja, Melisa ikut mengantarkan menantu nya ke kantor putranya bersama supir pribadi. Setelah memastikan Ayunda masuk dengan selamat, dia pun kembali pulang ke rumah. Sebegitu protektif nya Melisa menjaga menantu dan juga cucu-cucu nya.
"Mami, bunga-bunga nya cantik sekali.." Ucap Ayunda. Beberapa bulan belakangan ini, Melisa selalu menanam bunga dengan berbagai jenis dan macam nya. Sekarang, di taman yang di bangun oleh Narendra, tidak hanya ada bunga mawar biru, tapi ada banyak jenis bunga lain nya yang di tanam secara sengaja oleh Melisa untuk memanjakan mata menantu nya.
"Iya, sayang. Wangi nya bikin tenang kan?"
"Iya, Mami. Ini bunga apa namanya?" Tanya Ayunda pada Melisa.
"Bunga aster atau crysan, sayang."
"Wangi nya seger banget, Ayu suka apalagi yang pink sama yang kuning. Warna nya cerah sekali."
"Mami ada tanam yang warna merah, tapi kayaknya bunga nya belum mekar deh. Itu lebih cantik dan harga nya juga lebih mahal." Jawab Melisa. Dia membeli bibit-bibit berbagai macam bunga itu dari sahabatnya yang memang pembudidaya tanaman hias. Harga persatu tangkai nya cukup mahal, tapi Melisa puas karena hasilnya sangat bagus, indah dan cantik.
Kedua wanita cantik berbeda generasi itu berjalan beriringan sambil bergandengan tangan, lebih tepatnya Melisa yang menggandeng lengan menantu nya untuk menjaga agar dia tetap aman. Semua orang yang ada di mansion pun tahu kalau Ayunda adalah gadis yang ceroboh, dia seringkali terjatuh karena tak berhati-hati saat berjalan.
"Sayang.."
"Iya, Mami. Kenapa?" Tanya Ayunda sambil berbalik dan menatap wajah mami mertua nya.
"Kamu gak pengen pulang kampung ketemu saudara kamu? Bagaimana pun juga mereka tetap keluarga mu, sayang."
"Ayu udah bilang sama Mas Naren, soalnya waktu itu Mama sama Bapak tuh dateng ke mimpi Ayu. Tapi kata Mas Naren, keadaan aku saat ini gak memungkinkan. Sekarang aku lagi hamil besar, agak rawan kalau menempuh perjalanan jauh." Jawab Ayunda membuat Melisa paham dan setuju dengan putranya, apalagi Ayunda memiliki riwayat kandungan yang lemah. Jadi di khawatirkan akan terjadi hal-hal yang tak di inginkan jika semisal mereka tetap memaksa untuk melakukan perjalanan.
"Mami juga setuju sama Naren sih, nanti aja kalau kamu udah lahiran ya. Kalian benar-benar lost contact ya?"
"Iya, Mami. Soalnya kan bibi gak suka kalau aku tetap komunikasi sama paman, karena berpikir kalau aku menghubungi nya pasti untuk meminta uang, Mami." Jawab Ayunda sambil tersenyum kecil. Fakta nya memang seperti itu, bibi nya memang selalu under estimate padanya. Padahal, dia menghubungi paman nya untuk sekedar menanyakan kabar saja.
Tapi, nyatanya pemikiran bibi nya tidak seperti itu. Karena dia hanya menilai kalau Ayunda adalah beban. Dirinya adalah beban bagi mereka, maka dari itu dia tidak menghubungi paman nya lagi. Dia tidak ingin terus menerus di anggap sebagai beban bagi paman dan juga bibi nya disana.
"Seriusan mereka pikir kamu begitu, Nak?"
"Hanya bibi saja, paman tidak begitu. Dia sangat baik sama Ayu, dulu saja kalau Ayu di marahin sama bibi, paman yang selalu siap pasang badan buat lindungin Ayu. Tapi itu malah bikin Mona cemburu dan berbalik membenci Ayu." Jelas Ayunda lirih. Dia menyunggingkan senyuman kecil yang manis, namun Melisa dapat menangkap ada maksud lain dari senyuman menantu nya. Ada rasa sakit yang dia sembunyikan dengan senyuman itu.
Melisa tahu dan paham benar, jika seseorang sudah bisa menyembunyikan rasa sakit dan luka nya di balik senyuman, artinya rasa sakit nya luar biasa dan itu memang benar adanya.
"Mona? Siapa dia?"
"Anak paman sama bibi, hitungan nya mungkin keponakan nya Ayu. Usia nya sekarang mungkin sudah 15 tahun, Mami." Jawab Ayunda.
"Jahat sekali bibi kamu menganggap kamu beban, sayang. Padahal kan selama kamu tinggal disana, kamu sering membantu pekerjaan rumah kan?" Tanya Melisa.
"Tentu, Mami. Ayu yang mengerjakan semuanya, bahkan mencuci pakaian bibi dan juga Mona. Tapi entahlah, kenapa mereka sangat membenci Ayu, hanya mereka yang mengetahui hal itu." Ucap Ayunda dengan pelan, kepala nya tertunduk menahan air mata yang sudah berdesakan ingin keluar dari pelupuk matanya.
Tapi dia tidak ingin menangis hanya karena hal ini, dari dulu dia sudah menguatkan dirinya sendiri agar jangan menangis hanya karena seperti ini. Ayunda sudah menegaskan pada dirinya sendiri agar tetap kuat, sedari kecil kehidupan nya memang sudah keras dan Ayunda sudah kuat sedari kecil.
"Sayang.."
"Iya, Mami."
"Maaf kalau pertanyaan Mami bikin kamu sedih, ya?"
__ADS_1
"Gapapa kok, Mami. Ayu gapapa lho, cuman memang kalau mengingat semua itu agak sakit disini." Ayunda meletakan tangan nya di dada. Setiap mengingat perlakuan bibi nya selalu membuat hatinya terasa sesak, sakit sekali rasanya. Dia sudah berusaha ikhlas, namun nyatanya hatinya belum bisa melakukan hal itu. Dia belum mengikhlaskan apa yang terjadi dulu.
"Tapi, sebagai ganti nya saat ini kamu sudah di berikan kebahagiaan, sayang."
"Iya, Mami. Setiap kehidupan pasti ada proses nya, seperti pelangi yang pasti memerlukan hujan terlebih dulu untuk bisa tercipta."
"Iya, sayang. Kamu benar, mulai saat ini belajarlah mengikhlaskan. Mami tahu kalau hal itu bukan hal yang mudah, Mami juga pernah berperang dengan perasaan Mami sendiri. Itu hal yang sulit, tapi cobalah berdamai dengan keadaan. Hidup terasa lebih tenang dan tentram."
"Iya, Mami. Ayu akan berusaha untuk lebih ikhlas mulai sekarang, bantu dan tegur Ayu kalau melakukan kesalahan ya, Mami."
"Pasti, sayang. Jangan sungkan untuk meminta saran dari Mami atau Papi ya, anggap kami seperti orang tua kamu sendiri." Ucap Melisa sambil mengusap lembut wajah menantu nya. Ayunda memegang tangan Melisa lalu memejamkan kedua matanya menikmati sentuhan hangat dan lembut.
Dia pernah menangis karena merindukan sentuhan hangat seperti ini, tapi sekarang dia mendapatkan nya, bahkan tanpa harus di minta sekalipun Melisa memberikan nya dengan senang hati.
"Sentuhan Mami terasa sangat hangat, Ayu berterimakasih karena Mami mau menerima Ayu sebagai menantu dan menyayangi Ayu layaknya anak sendiri."
"Tidak perlu berterimakasih, sayang. Itu sudah tugas Mami, lagipun kami sangat senang memiliki menantu yang cantik dan baik hati seperti mu." Ucap Melisa. Dia sangat bahagia saat Narendra datang membawa Ayunda ke rumah dan mengatakan kalau dia akan menikahi nya.
Dari raut wajah, penampilan nya saja sudah terlihat kalau Ayunda memang gadis baik-baik, Melisa bisa melihat hal itu. Sedari awal Ayunda memang terlihat berbeda, maka dari itu tanpa banyak bicara apapun lagi, dirinya maupun sang suami langsung setuju, meskipun Arvino sedikit marah karena mengetahui alasan putra nya menikahi Ayunda.
Tapi, sekarang terbukti benar kalau Narendra sangat mencintai istrinya. Bahkan dia juga sama-sama menjaga Ayunda sama protektif nya dengan orang tuanya.
"Mami.."
"Iya, sayang. Kenapa?"
"Mami gak bakalan kapok buat bikinin Ayu salad buah lagi kan?" Tanya Ayunda sambil menatap mami nya dengan sendu.
"Tidak, tentu saja tidak akan kapok. Nanti mami buatin lagi yang baru, yang ada buah peach nya nanti Mami yang habisin."
"Udah, gak usah di bahas ya. Sekarang temenin Mami ke kebun, kita petik stroberi sama tomat, yuk? Tadi mami lihat udah banyak yang matang." Ajak Melisa. Ayunda pun menganggukan kepala nya dengan cepat, keduanya pun pergi ke kebun untuk memetik buah stroberi yang memang terlihat banyak yang sudah memerah.
"Wahh, buah nya besar-besar ya, Mi." Ucap Ayunda dengan antusias.
"Ayo kita ambil semuanya." Ajak Melisa. Ayunda pun mengiyakan, dia mengambil keranjang kecil dan mulai memetik buah stroberi yang sudah matang itu. Bahkan, sesekali Ayunda mencicipi buah itu dengan lahap. Rasanya tidak ada asam sedikitpun, itulah yang membuat Ayunda sangat menyukai buah stroberi ini.
Membeli di supermarket pun ada kalanya Ayunda malah mendapatkan stroberi yang asam. Padahal harga nya cukup mahal dan katanya sih buah import, tapi ya kan namanya buah tidak bisa di cicipi terlebih dulu sebelum di beli apalagi jika membelinya di supermarket.
"Manis banget ini buah nya.."
"Suka banget kamu sama buah ini, sayang."
"Manis soalnya, kalo beli di pasar atau di supermarket juga gak semanis ini rasanya, Mi."
"Nanti Mami beli bibit nya lagi deh kalo gitu."
"Ini aja udah banyak, Mami." Jawab Ayunda. Jika semua pohon stroberi sudah berbuah semua dan matang dalam waktu bersamaan, maka Ayunda takkan kewalahan untuk memakan buah berwarna merah dan beraroma khas nan manis.
"Cukup ini? Kalau gak cukup ya nanti Mami mau pesen lagi bibit nya."
"Gak usah, Mami. Ini aja udah banyak banget lho, kalau mau beli bibit buah ya yang lain aja." Ucap Ayunda sambil tersenyum.
"Kira-kira buah apa yang cocok kita tanam di rumah kaca ini, sayang?"
__ADS_1
"Gak tahu, Mami."
"Bingung juga ya, nanti aja Mami cari rekomendasi dari temen Mami."
"Iya, Mami. Udah selesai panen nya, kita ke rumah yuk?" Ajak Ayunda. Karena semua buah sudah di petik, mereja berdua pun masuk ke dalam rumah.
Ayunda dan Melisa pun langsung pergi ke dapur untuk membersihkan buah yang baru saja mereka petik, tadi Ayunda memanen buah stroberi dan Melisa memetik beberapa tomat segar untuk di jadikan salad nanti.
"Mami, ini tomat nya Ayu rujak pakai gula boleh?" Tanya Ayunda.
"Di rujak gimana?"
"Pokoknya di rujak, boleh kan, Mi?"
"Boleh, sayang." Jawab Melisa, meskipun dia merasa sedikit aneh karena baru kali ini dia mendengar ada buah tomat di rujak. Biasanya kan di jus atau di makan langsung, nah ini Ayunda katanya mau di rujak. Agak terdengar sedikit aneh, tapi lihat saja nanti. Lagipun tomat itu bagus di makan oleh bumil.
Ayunda pun memotong-motong buah tomat itu dan memasukkan nya ke dalam gelas, dia juga menaburi potongan tomat itu dengan gula pasir lalu mengaduk-aduk nya hingga mengeluarkan air sari buahnya. Tak lupa Ayunda memasukkan es batu dan memakan nya dengan lahap.
"Enak?" Tanya Melisa.
"Iya, enak banget. Mami mau nyobain gak? Ini enak lho." Ucap Ayunda sambil mendekatkan sendok ke arah Melisa. Wanita itu agak sedikit aneh melihat tomat di olah seperti itu, tapi karena penasaran akhirnya Melisa mencoba untuk memakan rujak tomat itu.
Melisa mengunyah nya secara perlahan, ternyata memang rasanya tidak seburuk itu. Tapi Melisa memang tidak terlalu suka dengan buah tomat apalagi jika di makan secara langsung seperti ini. Tapi yang ini rasanya cukup enak dan menyegarkan, meskipun agak sedikit aneh saja, rujak tomat.
"Dari mana kamu suka ngerujak buah tomat kayak gini, sayang?" Tanya Melisa.
"Di kampung dulu, kalau Bibi sama Mona beli jus di cafe, Ayu makan ini biar seger terus buat ganjel perut juga."
"Ganjel perut gimana? Emang kamu gak makan?" Tanya Melisa lagi sambil mengernyitkan kening nya.
"Hehe, dua hari sekali paling. Jadi Ayu makan yang lain."
"Astaga, sayang.."
"Gapapa kok, Mi." Jawab Ayunda sambil tersenyum. Pantas saja, saat pertemuan pertama kali hari itu, saat Ayunda di bawa oleh Narendra ke rumah, tubuh Ayunda sangat kurus. Bahkan tulang selangka nya sampai terlihat saking kurus nya, tapi lihatlah sekarang, dia menjadi bulat apalagi sedang hamil saat ini. Tapi tak apa-apa, artinya Ayunda sudah bahagia kan saat ini.
"Sayang, sekarang kamu makan yang banyak ya. Mami bakalan ngasih apapun yang kamu mau, mami janji."
"Semuanya sudah Ayu dapatkan dari sini, Mami. Kasih sayang, makan yang cukup, itu sudah lebih dari apapun bagi Ayu. Ini sangat membahagiakan untuk Ayu, terimakasih Mami." Jawab Ayunda. Melisa menatap wajah cantik menantu nya dengan berkaca-kaca, lalu menganggukan kepala nya. Dia ikut merasa sesak ketika mendengar ucapan Ayunda yang sangat sedih, tak terbayangkan seperti apa menderita nya Ayunda saat masih berada di kampung dulu.
Tapi beruntung nya, saat ini Ayunda sudah mendapatkan kebahagiaan yang sangat besar dari orang lain. Sekarang, dia hidup tanpa kekurangan apapun. Dia di limpahi banyak penuh kasih sayang saat ini.
"Mami akan selalu membuat kamu bahagia."
"Papi juga, jangan lupakan Papi ya, sayang." Ucap Arvino, sedari tadi dia hanya menguping di balik tembok, jadi dia bisa mendengar semuanya dari sana karena jarak nya tak terlalu jauh.
"Papi, sejak kapan Papi nguping?"
"Udah dari tadi kok, Mi. Hehe." Jawab Arvino sambil tersenyum kecil.
"Gak baik lho jadi tukang nguping lho, Papi." Ucap Melisa sambil mendelik kesal ke arah sang suami.
"Hehe, gapapa kok, Mi. Lagian bukan pembicaraan yang penting kok, ini bukan rahasia lagi." Jelas Ayunda sambil tersenyum kecil.
__ADS_1
......
🌻🌻🌻🌻🌻🌻