Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 173 - Sama-sama Berteman


__ADS_3

"Mas, pulang nanti mampir beli es krim ya. Boleh kan, Mas?" Tanya Ayunda sambil tersenyum. 


"Boleh, tapi jangan banyak-banyak ya.."


"Satu aja, penasaran banget sama es krim rasa green tea." Jawab Ayunda. 


"Iya nanti belum, kalau enak nanti Mas beliin setiap hari."


"Katanya gak boleh banyak-banyak, tapi malah mau beliin setiap hari." Ucap Ayunda sambil terkekeh.


"Hehe, dari pada kamu nya bad mood kan?" Jawab Narendra. Dia mengacak pelan rambut sang istri lalu mengecup kening nya dengan mesra. 


"Mas beresin beberapa berkas lagi, setelah itu kita pulang ya?"


"Iya, Mas. Aku main ponsel boleh gak?"


"Boleh dong, sayang." Jawab Narendra. Dia pun mencubit gemas hidung mancung sang istri lalu pergi ke meja kerja nya. Hari ini, tidak terlalu banyak pekerjaan yang harus di selesaikan. Mungkin semesta pun mendukung untuk Narendra bisa pulang lebih awal dari biasanya karena dia mengajak sang istri ke kantor. 


Narendra mengerjakan beberapa pekerjaan yang penting, Ayunda juga sibuk dengan ponselnya. Wanita itu bermain game dan sesekali menonton video mukbang yang ada di ponsel, tapi melihat hal itu membuat dirinya merasa lapar. Untung saja, di meja masih ada banyak cemilan yang tersisa. Tadi, Mark membelikan banyak sekali makanan dan juga cemilan.


"Makan lagi, yang?" Tanya Naren sambil tersenyum melihat istrinya makan dengan lahap.


"Hehe, lapar Mas. Ini nih gara-gara lihat video mukbang, jadinya laper lagi."


"Habisin ya, biar makin gemoy." Jawab Naren sambil terkekeh.


"Sekarang aku kurang gemoy kah, Mas?" Tanya Ayunda lagi. 


"Udah gemoy, tapi kalau pipi nya nambah bulet, pasti lebih gemoy." Jawab Narendra. 


"Enggak aahh, nanti aku susah diet nya lagi kalau udah lahiran."


"Kenapa harus diet?" Tanya pria itu.


"Ya biar kamu gak malu punya istri gendut." Jawab Ayunda. 


"Mana ada Mas malu, gapapa lho. Mau kamu kecil, kurus atau gendut pun Mas gak peduli, yang penting kamu sehat. Itu sudah cukup buat Mas, jangan di pikirkan ya. Jangan diet!" 


"Tapi kan gak ada salahnya aku mau jaga badan biar kamu gak malu bawa aku kemana-mana." Ucap Ayunda. Narendra hanya menggelengkan kepala nya, sungguh dia takkan merasa malu meskipun istrinya gendut. Tapi tetap saja wanita itu akan selalu merasa insecure, Ayunda juga seperti itu. 


Apalagi saat ini, mungkin karena efek dia sedang hamil, jadi berat badan nya selalu bertambah. Bawaan nya memang lapar saja terus, mungkin karena Ayunda membawa dua nyawa juga di dalam rahimnya. 


"Mas tegaskan sekali lagi, mas gak bakalan malu, sayang."


"Hmm, yaudahlah terserah Mas aja." Jawab Ayunda. 


"Ayo kita pulang." Ajak Narendra sambil mengulurkan tangan nya ke arah sang istri. 


"Sudah selesai kerjaan nya, Mas?" Tanya Ayunda. 


"Udah kok, tadi cuma tinggal dua berkas lagi, sayang." Jawab Naren. Ayunda pun menerima ukuran tangan sang suami. 


"Ohh, yaudah deh kalau beneran udah selesai. Lagian ini udah sore juga." Jawab Ayunda sambil tersenyum. Dia menggandeng lengan besar sang suami dengan mesra. Pria itu tersenyum lalu mengacak lembut puncak kepala sang istri dengan gemas. Dia sangat mencintai istrinya, apalagi di tambah dengan kehadiran calon dua buah hati yang kini menghuni rahim sang istri. 

__ADS_1


"Iya, sayang." 


Ayunda dan Naren pun berjalan bersisian, keduanya terlihat sangat serasi, bahkan Ayunda terlihat sangat pantas bersanding di samping Naren. Ayunda memang memiliki paras yang cantik, selain itu dia juga manis. 


Keduanya pun masuk ke dalam mobil dan duduk dengan nyaman setelah memasang seatbelt, Naren pun mengemudikan mobil kesayangan nya itu menjauhi kawasan perkantoran. Ayunda tersenyum karena melihat senja yang terlihat sangat indah, warna langit saat ini di penuhi semburat berwarna orange. Indah sekali, membuat Ayunda tak bisa untuk tidak tersenyum ketika melihat keindahan itu. 


"Sayang, kenapa senyam-senyum gitu?" Tanya Naren, dia melirik sekilas ke arah sang istri yang masih menunjukkan senyum manisnya. 


"Langit nya cantik ya?"


"Cantik nya kalah sama kecantikan kamu, sayang." Jawab Narendra tanpa menoleh ke arah sang istri yang wajahnya sudah merona karena malu akan ucapan sang suami yang terdengar seperti sebuah gombalan, padahal kenyataan nya tidak sama sekali. Narendra benar-benar serius mengatakan hal itu, baginya tidak ada hal apapun yang bisa mengalahkan kecantikan istrinya. Cantik secara fisik maupun hatinya, Ayunda adalah sosok yang sempurna bagi Narendra. Dia memiliki semuanya, semua yang mungkin tak di miliki oleh wanita lain. 


"Gombal.."


"Mana ada Mas gombal, sayang. Seriusan lho ini." 


"Terserah kamu ajalah, Mas." Jawab Ayunda, dia memilih diam setelahnya. Pria itu juga fokus mengendarai kendaraan nya dengan kecepatan rata-rata, hingga mereka sampai di sebuah kedai es krim yang cukup ramai. 


"Sayang, jadi jajan es krim?" Tanya Narendra. 


"Jadi, aku pengen es krim." Jawab Ayunda. Pria itu pun menghentikan laju kendaraan nya di depan kedai es krim itu. 


"Sayang, mau keluar atau tunggu aja di mobil?"


"Ikut keluar aja deh, Mas." Jawab Ayunda. 


"Yaudah, tunggu. Biar Mas bukain pintu mobilnya dulu, jangan keluar sebelum Mas bukain pintu buat kamu. Oke?"


"Wajar, sayang. Kan namanya juga Mas cinta sama kamu." Jawab Narendra. Dia pun keluar dari mobil terlebih dulu dan membukakan pintu untuk sang istri, setelahnya Naren mengulurkan tangan nya ke arah Ayunda. Dengan senang hati, Ayunda menerima uluran tangan itu dan keduanya pun berjalan masuk ke dalam kedai es krim itu. 


"Sayang, kamu duduk dulu aja. Mas pesenin es krim nya dulu." 


"Iya, Mas. Green tea ya.."


"Iya, sayang." Jawab Narendra. Dia pun membiarkan istrinya duduk di salah satu meja yang kosong, sedangkan Naren memilih untuk mengantri demi mendapatkan es krim untuk sang istri. 


"Ayu.." Panggil seseorang yang membuat Ayunda menoleh. 


"Fira, kita ketemu lagi." Ucap Ayunda sambil tersenyum. Itu adalah Safira, ini adalah pertemuan mereka yang tidak di sengaja entah yang ke berapa kalinya. 


"Hahaha, iya ya. Kamu kesini sama siapa?"


"Sama suami, kamu?" 


"Aku juga." Jawab Safira.


"Duduk, Fir."


"Boleh?" Tanya Safira. Ayunda menganggukan kepala nya, Safira pun duduk di kursi kosong yang berhadapan dengan Ayunda. 


"Apa kabar?"


"Baik kok, kamu juga?"

__ADS_1


"Hmm, aku gak baik, hehe."


"Lho kenapa?" Tanya Ayunda pada Safira.


"Aku lagi berobat sekarang, Yu."


"Kamu sakit apa?" 


"Aku mandul, gak bisa punya anak." Lirih Safira yang membuat Ayunda terkejut bukan main.


"Safira.."


"Haha, kamu kaget? Inilah kenyataan nya, aku mandul. Tapi aku bersyukur karena memiliki suami yang sangat baik, dia tidak mempermasalahkan aku bisa hamil atau tidak."


"Syukurlah, bagaimana dengan keluarga nya?" Tanya Ayunda.


"Awalnya mereka keberatan, tapi sekarang mereka tidak mempermasalahkan kekurangan ku, itu semua karena suamiku berhasil meyakinkan mereka." Jawab Safira sambil tersenyum kecil.


"Syukurlah, Safira. Kamu harus bersyukur karena memiliki keluarga dan suami yang menerima mu apa adanya."


"Awalnya aku ragu, mengingat bagaimana masa lalu ku dulu, tapi ternyata mereka sama sekali tidak mempermasalahkan semua itu."


"Kamu harus berubah, Fir."


"Tentu, aku akan memperbaiki hidupku sekarang. Aku sangat bahagia bertemu suamiku."


"Sayang.." Panggil Narendra dan ada seseorang di sampingnya. 


"Mas, udah dapet?" Tanya Ayunda dengan antusias.


"Ini, sayang."


"Bro, ini bini gue."


"Lah, ini bini gue." Jawab pria itu sambil menunjuk ke arah Fira. 


"Lah, dia mah temen bini gue." Ucap Narendra tak mau kalah. 


"Jadi mereka temenan juga?"


"Hahaha iya.." 


"Mas, dia siapa?" Tanya Ayunda.


"Kenalin, ini Hendery temen Mas waktu kuliah di Inggris dulu." Jawab Narendra.


"Hallo, aku Hendery sekaligus suami Safira." Ucap Hendery sambil tersenyum kecil. 


"Wah, dunia sempit ya ternyata. Bisa-bisan nya saling berteman seperti ini." Ucap Safira sambil tersenyum kecil. 


.......


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2