
"Sayang.." Panggil Narendra.
"Iya, Mas. Kenapa? Mau di pasangin dasi nya juga sekalian?" Tanya Ayunda, dia sedang menyisir rambut sang suami dari belakang. Tadi, dia juga sudah memakaikan kemeja. Sekarang, suaminya malah meminta nya untuk menyisirkan rambutnya.
"Hehe, ketahuan banget ya?"
"Iya, ketahuan nya pakai banget lho." Jawab Ayunda sambil terkekeh pelan. Setelah di rasa rapi, dia pun meminta suaminya untuk berdiri dan mulai memasangkan dasi nya. Sekarang, Ayunda sudah bisa memasangkan dasi dengan rapih. Tentunya, bisa karena terbiasa. Narendra selalu meminta istrinya untuk memasang dasi di lehernya itu. Maka dari itu, kemampuan Ayunda semakin mahir sekarang.
"Makasih istri cantik ku.."
"Iya, sama-sama Mas." Jawab Ayunda sambil tersenyum.
"Bocil lagi ngapain ya?"
"Mungkin lagi bobok, dari tadi pagi mereka aktif banget. Sekarang mungkin bobok, capek habis main bola di dalam sini." Jawab Ayunda membuat Narendra terkekeh pelan.
"Terus, apa yang jadi bola nya kalau mereka beneran main bola di dalam sana, sayang?" Tanya Narendra sambil mengacak rambut Ayunda dengan gemas.
"Hehe, gak tahu tuh.."
"Kamu ini, ada-ada aja.." Narendra mengecup singkat kening Ayunda dan berlutut untuk menyamakan posisi nya dengan perut buncit sang istri.
"Hai bocil nya, Papa. Kalian lagi ngapain?" Bisik Narendra, seolah dia mengajak anak-anak nya bicara bersama. Konon katanya, berinteraksi seperti ini akan membuat sang bayi akan merasa semakin dekat dengan ayahnya. Dokter juga menyarankan untuk mengajak bayi yang masih ada di dalam kandungan untuk berinteraksi.
Tiba-tiba saja, perut Ayunda bergerak-gerak seperti nya bayi itu tahu kalau yang berbicara itu adalah sang ayah. Narendra tersenyum manis saat melihat reaksi anak-anaknya, meskipun Ayunda harus meringis karena tendangan itu cukup kuat membuat perutnya ngilu.
"Sayang, apa mereka tahu kalau aku ini papa nya ya? Langsung bergerak gini." Tanya Naren sambil menatap wajah cantik sang istri.
"Iya, tapi aku pipis di celana."
"Hah?"
"Hehe, aku ke kamar mandi dulu ganti celana." Jawab Ayunda sambil terkekeh pelan. Narendra juga terkekeh, dia tidak mengira kalau hal tadi bisa membuat sang istri sampai pipis di celana.
"Sayang, Mas tungguin di bawah ya?"
"Iya, Mas. Harus sarapan dulu sebelum pergi kerja." Peringat Ayunda dari arah kamar mandi. Pria itu mengiyakan, dia juga menerapkan sarapan pagi di rumah. Padahal biasanya, dia jarang sarapan pagi apalagi di rumah. Tapi setelah memiliki istri, Naren jadi lebih suka sarapan di rumah karena masakan sang istri selalu memanjakan lidahnya.
Beberapa menit kemudian, Ayunda pun mendekat ke arah sang suami yang juga sedang menunggu nya untuk sarapan bersama.
"Mas, masih nungguin?" Tanya Ayunda lirih.
"Iya, Mas masih nungguin kamu, sayang." Jawab Narendra.
"Lain kali makan aja duluan, Mas. Gimana kalau aku lama terus kamu telat ke kantor?" Tanya Ayunda lagi sambil mengambil piring dan mengambilkan makanan untuk sang suami.
__ADS_1
"Gapapa, kan Mas CEO nya. Telat dikit gapapa kok."
"Yaiya, aku juga tahu kalau kamu CEO nya. Tapi sebagai pemimpin perusahaan, harusnya kamu tuh bisa jadi inspirasi buat karyawan lain agar datang tepat waktu." Ucap Ayunda.
"Uhhh, istriku. Baiklah, bagaimana kalau kamu ikut Mas ke perusahaan?" Tanya Narendra.
"Boleh?"
"Boleh, sayang. Mas bakalan seneng kalau kamu ikut Mas ke kantor. Nanti biar Mas ada yang nemenin." Jawab Naren.
"Mau dong, aku bosen di rumah terus. Iya sih aku bisa jalan-jalan, metik stroberi, lihat taman bunga, tapi tetap saja rasanya agak bosan. Hehe."
"Jadi, mau ikut Mas ke kantor?"
"Mau mau mau.." Jawab Ayunda dengan antusias.
"Yaudah, sekarang kamu makan dulu ya. Gak usah ganti baju, kamu udah cantik kok. Besok, Mas pindahin kamar kita ke kamar bawah aja ya? Biar kamu gak kesusahan naik turun tangga."
"Iya, Mas. Aku nurut aja karena aku yakin apapun yang kamu lakuin, pasti semuanya demi kebaikan aku. Iyakan?"
"Tentu saja, sayang." Jawab Naren sambil mengusap rambut panjang sang istri, lalu mengecupnya dengan mesra.
"Omong-omong, Mami sama Papi kemana ya?"
"Kebiasaan, dari mana dulu sih, Mi?" Tanya Narendra.
"Habis nyiram tanaman."
"Pagi-pagi gini? Gak sarapan dulu?" Tanya Naren lagi.
"Hehe, habisnya Mami kan pengen nyiram tanaman dulu."
"Yaudah, ayo sarapan. Mana Papi?"
"Papi udah berangkat ke bengkel, katanya mobil nya sudah selesai di perbaiki." Jawab Melisa sambil duduk di depan pasangan suami istri yang selalu bucin tak tahu tempat itu.
"Lama bener, Mi."
"Gak tahu tuh, waktu itu katanya udah selesai kan. Pas mau di ambil ternyata belom selesai, masih banyak yang harus di ganti."
"Berarti mobil Papi rusak nya udah parah banget kalau gitu, soalnya kan gak mungkin mobil berbulan-bulan di bengkel. Itu pasti karena mobilnya rusak dan banyak yang harus di perbaiki." Ucap Narendra.
"Iya, mungkin saja. Kamu tahu sendiri kan gimana papi mu itu, paling malas kalau di suruh servis mobil secara rutin. Pas udah rusak aja, baru di bawa ke bengkel."
"Mungkin karena udah tua kali, Mi." Jawab Narendra yang membuat Melisa terkekeh. Suaminya itu selalu marah kalau di panggil sudah tua, padahal kan dia memang sudah tua. Bahkan sebentar lagi dia akan menjadi seorang kakek dari dua cucu yang saat ini masih di kandung oleh Ayunda.
__ADS_1
"Kalau papi mu dengar, dia bisa marah besar lho. Papi mu itu gak tua kok."
"Iya iya, padahal emang udah tua tapi gak mau di bilang tua." Jawab Naren sambil menggelengkan kepala nya dengan heran. Bagaimana dia tidak heran dengan sang ayah coba? Faktanya, dia memang sudah tua sekarang. Tapi tetap saja dia tidak mau di panggil tua. Katanya, dia hanya matang saja belum tua.
"Mami, Naren izin mau bawa Ayu ke kantor ya? Katanya dia bosan, sekalian biar dia jalan-jalan aja."
"Boleh, tapi hati-hati. Jangan sampai menantu Mami lecet sedikitpun. Kamu paham?"
"Iya, Mami." Jawab Narendra. Setelah sarapan, mereka pun berangkat. Melisa melambaikan tangan nya saat mobil milik Naren perlahan mulai meninggalkan rumah miliknya dengan kecepatan rata-rata.
"Kamu kelihatan seneng banget, yang."
"Iya, aku seneng banget ikut kamu ke perusahaan sekarang." Jawab Ayunda. Entah kenapa, padahal hanya ke perusahaan saja, tapi dia sudah senang sekali. Mungkin karena dia sudah lama tidak pergi berjalan-jalan keluar, semenjak dia hamil lebih tepatnya.
"Mas.."
"Iya, sayang. Ada apa?"
"Bulan depan kita sudah harus belanja barang kebutuhan bayi.."
"Iya, kita belanja ke baby shop aja biar lengkap."
"Tapi apa Mas sudah siap masalah uang nya?"
"Hahaha, tentu saja sudah, sayang. Jangan khawatirkan masalah itu, Mas sudah menyiapkan semuanya. Jangan lupakan siapa suami mu ini, sayang." Jawab Narendra yang membuat Ayunda terkekeh pelan.
"Mas, kapan ya kakek akan pulang kesini?"
"Kata uncle Sam, katanya kondisi kakek sekarang sudah mulai membaik, jadi mungkin dalam waktu dekat setelah dia merasa benar-benar sembuh, maka dia akan pulang, sayang. Jangan khawatir, nanti kakek akan pulang kok."
"Hmmm, kamu kangen gak sama kakek, Mas?"
"Kenapa bertanya seperti itu, sayang. Tentu saja Mas kangen."
"Rumah agak sepi karena kakek gak ada ya, semoga saja saat kakek pulang nanti aku masih belum lahiran." Jawab Ayunda.
"Memangnya kenapa?"
"Gapapa, aku pengen pas aku melahirkan, semua keluarga hadir disini. Itu saja."
"Baiklah, pasti kakek akan sembuh dalam waktu dekat. Saat kamu melahirkan nanti, dia sudah ada disini." Jawab Narendra sambil tersenyum kecil, dia menatap wajah cantik sang istri dengan tatapan hangat penuh kasih sayang.
......
🌻🌻🌻
__ADS_1