
"Sayang.." Panggil Narendra. Dia baru saja keluar dari kamar nya, pria itu terlihat rapih dengan setelan jas rapi, dasi yang mengikat leher nya, juga rambut nya yang di sisir kelimis.
Hari ini, kedua nya akan menghadiri pesta pernikahan Maya dan Mark. Ayunda terlihat sudah siap dengan dress berwarna putih selutut yang membalut tubuh indah nya. Wanita itu terlihat sangat anggun ketika mengenakan gaun itu, bahkan Naren saja di buat berkali-kali kagum nya pada sosok sang istri.
"Iya, Mas. Udah selesai?" Tanya Ayunda. Wanita itu sedang mengecek beberapa barang yang harus di bawa oleh mereka ke gedung tempat Mark dan Maya akan melaksanakan pernikahan mereka.
"Udah, sayang. Ini juga udah di cek semua, yang?"
"Heemm, iya Mas. Sudah lengkap semua nya kok."
"Mami sama Papi mana?" Tanya Narendra.
"Mami masih pakai make up, rempong banget mami kamu tuh." Jawab Arvin yang juga sudah terlihat rapi dan gagah dengan menggunakan setelan jas hitam, sama seperti Narendra. Kedua nya terlihat sangat gagah dengan menggunakan setelan jas itu.
"Gitu-gitu juga istri Papi."
"Iya dan Mami kamu tuh." Jawab Arvino sambil mendelik. Berbeda dengan Narendra yang sudah mesem-mesem gak jelas. Benar, Mami nya memang agak rempong sedikit. Tapi ya nama nya ibu-ibu, gak masalah lah. Padahal, tanpa memakai make up sekalipun, Melisa memang sudah cantik.
"Maaf, Mami lama ya?" Ucap Melisa. Wanita paruh baya itu mengenakan dress panjang yang membalut tubuh nya. Wanita itu terlihat sangat cantik, dengan make up sederhana yang menghiasi wajah nya.
"Udah tau, nyadar juga kamu, Mi."
"Jadi, aku beneran lama gitu, Pi?" Tanya Melisa dengan tatapan tajam nya, membuat Arvino tak berkutik seketika. Jujur saja, dia paling menghindari saat istrinya menatap seperti itu. Bagi Arvin atau Naren, ketika Melisa menatap mereka dengan tatapan seperti itu sangatlah menakutkan.
"Udah-udah, jangan malah berantem. Ayo berangkat, udah siang ini." Ajak Narendra.
Akhirnya, semua nya pun berangkat dengan menggunakan tiga mobil yang melaju secara beriringan. Di mobil pertama, ada Narendra, Ayunda dan juga kedua orang tua nya. Di mobil kedua ada supir, teman-teman Maya juga. Sedangkan di mobil ketiga, berisi barang-barang yang di bawa dari rumah ke gedung. Istilah nya sih seserahan ya, tapi beda nya kalau biasanya seserahan itu di bawa pihak laki-laki, namun ini di bawa oleh atasan pihak laki-laki dan juga majikan pihak perempuan.
"Mas, Ayu kok mual ya? Bisa di buang aja gak ini pewangi nya?" Tanya Ayunda. Jujur saja, saat masuk ke dalam mobil pun Ayunda sudah merasakan pusing di kepala nya. Apalagi saat melaju, kepala nya terasa berputar-putar.
"Iya, sayang. Mas buang kok." Narendra menarik pengharum mobil itu dengan cepat lalu membuang nya keluar jendela, bodo amat lah kalau kena pengendara lain, dia tidak peduli. Yang dia pedulikan saat ini, hanya keadaan istrinya.
"Sayang, kamu baik-baik saja?" Tanya Narendra. Dia melirik ke arah istrinya dengan khawatir, sungguh keadaan Ayunda yang seperti ini mengingatkan dirinya pada saat sang istri tengah hamil muda. Kejadian nya persis seperti ini, dia mabuk kendaraan hanya karena pengharum ruangan.
"Hmm, aku pusing, Mas. Gapapa kok, lanjutin aja. Nanti juga baikan." Jawab Ayunda sambil memaksakan sedikit senyuman nya.
"Pindah ke belakang aja sama Mami, yuk? Biar mami pijat kepala nya." Ucap Melisa.
__ADS_1
"Mau, sayang?" Tanya Narendra.
"Gapapa kok, aku baik-baik saja. Jangan khawatir, ini hanya pusing biasa kok." Jawab Ayunda. Dia memang hanya merasa pusing, namun dia tidak menyangka kalau orang-orang akan se khawatir ini.
"Kalau ada apa-apa, bilang sama Mami ya."
"Iya, Mami. Terimakasih udah khawatir sama Ayu."
"Kamu anak Mami juga, sayang." Jawab Melisa. Wanita itu memang sudah menganggap Ayunda sebagai putri nya sendiri, dia sangat menyayangi Ayunda. Bahkan Narendra saja seringkali merasa iri dengan kasih sayang yang di berikan oleh Melisa pada Ayunda.
"Iya, Mami." Jawab Ayunda. Dia pun menyandarkan pundak nya di sandaran mobil, lalu memejamkan kedua mata nya. Namun, baru saja dia memejamkan mata nya, tiba-tiba saja dia merasa mual. Perut nya terasa di aduk-aduk, hingga membuat Ayunda terbangun seketika.
Hueekk..
Ayunda menahan nya dengan tangan, Narendra memberikan kantong kresek pada sang istri, lalu menghentikan laju kendaraan nya di pinggir jalan. Wanita itu muntah-muntah parah, membuat Melisa khawatir. Dia memijat tengkuk leher sang menantu dari belakang, juga mengoleskan minyak kayu putih.
"Aduh, pahit banget deh." Lirih Ayunda. Narendra pun membuang kresek itu keluar dan menatap wajah cantik sang istri.
"Gak kuat, Mas." Lirih nya lagi, tubuh nya terasa sangat lemas.
"Kamu kenapa sih, sayang? Kamu mabuk atau kamu hamil lagi?"
"Tapi, gejala nya persis seperti saat kamu hamil waktu itu, sayang."
"Muntah-muntah seperti ini bisa saja terjadi, Boy. Bukan berarti istri kamu hamil, buktinya kemarin dia baru selesai menstruasi kan?"
"Kalau udah gak kuat, jangan di paksakan, sayang." Ucap Melisa sambil terus mengusap-usap tengkuk leher sang menantu.
"Lemes, Mami.."
"Yaudah, kita putar balik saja ya?" Putus Melisa.
"Tapi, Mami.."
"Sudah, keputusan Mami sudah bulat. Dari pada kamu sakit, mendingan Mami rawat kamu." Jawab Melisa.
"Hasil make up Mami satu jam itu sia-sia dong?" Celetuk Arvino yang membuat istrinya itu mendelik kesal.
__ADS_1
"Mami sama Papi aja lanjutin ke pesta, biar aku sama Ayu yang pulang."
"Mas.."
"Sudah, jangan protes." Ucap Narendra.
"Yaudah, Mami sama Papi pindah mobil aja." Jawab Melisa. Dia pun turun dan pindah mobil, jadi kedua mobil itu pun pergi melanjutkan tujuan mereka.
"Hati-hati.." Ucap Narendra. Dia melambaikan tangan nya ketika mobil yang di naiki oleh Melisa dan Arvin. Jadi, rombongan itu pun melanjutkan perjalanan dengan dua mobil, karena satu lagi akan putar balik karena Ayunda yang mabuk parah.
"Mas.."
"Tidur aja ya? Bentar lagi kita sampai rumah. Mas mohon, kuat ya?"
"Hmm, pelan-pelan aja bawa mobil nya, Mas." Pinta Ayunda lirih, suara nya bahkan nyaris tidak terdengar saking lirih nya.
"Iya, sayang." Jawab Narendra. Dia pun kembali mengemudikan kendaraan roda empat nya dengan kecepatan di bawah rata-rata. Dia melirik ke arah sang istri yang memejamkan mata nya, wanita itu terlihat pucat setelah muntah-muntah tadi.
Singkat sekali rasanya, padahal Narendra hanya mengemudikan kendaraan nya dengan sangat perlahan seperti permintaan sang istri.
"Sayang, Mas gendong aja ya?"
"Gak usah, Mas."
"Gapapa, biar Mas gendong aja. Kamu keliatan nya lemes banget deh."
"Iya deh, Mas." Pasrah Ayunda. Narendra pun menggendong sang istri keluar dari mobil, pria itu terlihat gagah saat menggendong istrinya menaiki tangga menuju kamar nya. Sungguh, tubuh sang istri terasa sangat ringan. Mungkin karena Narendra merasa sangat khawatir, hingga dia tidak merasakan berat sama sekali di tubuh istrinya.
Narendra pun meletakan sang istri di atas ranjang. Pria itu pun membukakan sendal yang di kenakan oleh istrinya, dia juga menyelimuti tubuh Ayunda.
"Mas, mau kemana?"
"Ganti baju dulu, sayang. Tidur aja ya?"
"Temenin dong, Mas. Pengen di pijet, boleh?"
"Boleh, sayang." Jawab Narendra. Pria itu segera mengganti pakaian nya dengan pakaian rumahan, setelah itu kembali mendekati sang istri lalu memijit tubuh nya dengan perlahan. Dia khawatir melihat istrinya seperti ini, sungguh. Dulu, dia khawatir karena Ayunda mengalami morning sickness parah, tapi sekarang? Apa mungkin gejala morning sickness nya bisa kebawa pas udah gak hamil?
__ADS_1
......
🌻🌻🌻🌻🌻