
"Ngapain aja seharian ini, sayang?" Tanya Narendra, setelah dia berpakaian. Dia duduk di sisi ranjang, dengan Ayunda yang juga sedang duduk di samping nya. Perempuan itu baru saja terbangun dari tidur nya.
"Tadi lihat-lihat majalah sama Mami, eeh lihat menu udang gitu jadi kepengen. Terus pergi belanja ke supermarket sama Mami, setelah itu aku tidur." Jawab Ayunda sambil tersenyum kecil.
"Begitu ya? Belanja bulanan pasti capek kan ya?" Tanya Naren sambil melirik ke arah Ayunda.
"Capek sih, tapi aku seneng. Soalnya Mami baik banget, hehe." Jawab Ayunda sambil terkekeh.
"Baguslah kalau begitu."
"Bagaimana pekerjaan kamu di perusahaan, Mas?" Tanya Ayunda. Meskipun dia tidak mengerti dengan yang nama nya pekerjaan di perusahaan. Tapi, dia ingin menanyakan hal seperti itu, layaknya seperti istri pada umum nya.
"Lancar kok, yang. Cuma belakangan ini kerjaan nya makin banyak aja, sampai aku sama Mark gak bisa handel." Jelas Narendra.
"Benarkah? Wahh, semangat ya suamiku. Aku ingin membantu, tapi aku tidak bisa bekerja di kantor seperti itu."
"Tidak apa-apa kok, yang. Aku ngeluh aja, hehe."
"Aku seneng kamu mau ngeluh begini sama aku, Mas. Gapapa, aku bakalan dengerin kamu kapan pun." Jawab Ayunda sambil tersenyum.
__ADS_1
"Terimakasih, istriku. Aku harap kamu bisa menunjukkan ku jalan pulang." Lirih Naren membuat Ayunda mengernyit. Maksud nya apa?
"Maksud nya apa, Mas?"
"Tidak apa-apa, sayang. Jadilah rumah ku dan ingatkan aku kalau semisal aku salah jalan."
"Tentu saja, aku pasti akan mengingatkan mu, Mas." Jawab Ayunda sambil tersenyum kecil. Naren merangkul Ayunda dari samlinh, dia menyandarkan kepala sang istri di pundak nya. Pria itu mengusap-usap kepala sang istri dengan lembut, sesekali dia mengecupi puncak kepala Ayunda dan mencium aroma shampoo sang istri.
"Rambut mu wangi sekali, sayang.."
"Benarkah? Aku memakai shampoo yang di belikan sama Mommy tadi, Mas." Jawab Ayunda.
"Baiklah, kalau begitu aku akan lebih sering keramas."
"Keramas? Hufftt, mendengar kata keramas membuat tubuh ku tegang, sayang." Celetuk Narendra sambil tersenyum nakal. Ayunda mendelik, kenapa suami nya ini berubah menjadi pria mesuum seperti ini?
"Mas mesuum sekali."
"Hehe, Mas mesuum kan sama istri sendiri. Jadi gak bakalan ada yang larang, toh ini juga kewajiban kamu sebagai istri aku."
__ADS_1
"Iya, tapi jangan sekarang ya?" Bujuk Ayunda, bisa lemas dia karena di hajar oleh Naren. Sebentar lagi akan memasuki jam makan malam, kalau mereka bermain sekarang yang ada kedua nya akan melewatkan makan malam nanti.
"Lho, memang nya kenapa?"
"Sebentar lagi jam makan malam, Mas. Aku gak mau bikin Mami sama Papi nunggu, jadi main nya di tunda dulu sampai nanti setelah selesai makan malam, gimana?" Tanya Ayunda membuat Naren terlihat berpikir. Jujur saja, sedari kantor tadi dia terus saja membayangkan tubuh molek sang istri yang berbaring di atas ranjang dengan dirinya yang menindih dari atas.
Belum lagi ekspresi keenakan dan desaahan manja yang keluar dari mulut istri nya itu, selalu berputar di pikiran nya. Sungguh Narendra terlihat seperti seorang pria mesuum yang selalu membayangkan ekspresi istrinya bahkan saat sedang bekerja dan itu membuat nya tak fokus.
Inti nya, Narendra menyukai saat dia melakukan penyatuan dengan istri nya. Tubuh mulus nan indah yang kini bisa dia nikmati kapan saja, dia juga menyukai suara Ayunda saat melenguuhkan nama nya di sela-sela desaahan nikmat nya. Dan saat itu, Naren akan bergerak cepat agar kedua nya cepat mendapatkan klimaaks masing-masing.
"Baiklah, nanti kita main ya? Kalau mau cepet, harus sering usaha."
"Iya, aku tahu kok. Jadi sekarang kita turun yuk? Aku mau bantuin Mami masak di bawah."
"Ayo, sayang." Jawab Naren, dia mengulurkan tangan nya ke arah Ayunda, gadis itu dengan senang hati menerima uluran tangan sang suami dan kedua nya pun turun bersamaan dari kamar dengan tangan yang saling bergandengan erat.
......
🌻🌻🌻🌻
__ADS_1