Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 177 - Kekesalan Naren


__ADS_3

"Mas, nanti siang apa perlu aku bawain bekal?" Tanya Ayunda setelah sarapan. Saat ini, dia sedang memasangkan dasi di leher suaminya.


"Gak usah, sayang. Nanti Mas makan siang sama klien." Jawab Narendra sambil menahan pinggang istrinya agar tidak terjatuh. Saat ini, dia masih berada di dapur, namun dengan Ayunda yang duduk di meja wastafel untuk memakaikan dasi pada suaminya. Tentunya, Naren yang menggendong istrinya dan mendudukan nya disana. 


"Klien nya cowok apa cewek?" Tanya Ayunda dengan wajah yang di tekuk karena kesal kalau semisal suaminya akan pergi makan siang bersama klien perempuan. 


"Cowok dong, sayang." Jawab Narendra sambil tersenyum. Semenjak hamil, Ayunda juga menjadi pencemburu. Bahkan dengan tukang sampah saja dia cemburu sampai uring-uringan. Bayangkan saja, Narendra hanya mengobrol dengan ibu-ibu yang biasa mengambil sampah. 


Tapi, tukang sampah bukan hanya ada satu, bukan? Tapi ada banyak, hari itu ada tukang sampah yang mengambil sampah ke mansion, hanya saja bukan tukang sampah yang biasanya. Saat mengobrol, Ayunda melihat dan dia marah-marah sampai berhari-hari. Bahkan Narendra sampai heran sendiri kenapa dengan istrinya. Tapi saat di tanya, ternyata jawabannya adalah dia cemburu pada wanita paruh baya yang mengobrol dengan nya pagi hari. 


Awalnya, Naren keheranan. Dia merasa tidak mengobrol dengan siapapun, tapi setelah di ingat-ingat, akhirnya dia ingat kalau beberapa hari yang lalu memang dia berbicara dengan seseorang yang bertugas mengambil sampah. Setelah mengetahui nya, Narendra tertawa tapi apa yang Ayunda lakukan? Dia menangis dan kalau sudah menangis, Ayunda akan sulit di tenangkan.


"Yaudah deh, kalau cowok. Awas aja kalau sampai kamu makan siang berkedok meeting dengan wanita, aku pastikan kamu gak bakalan bisa ketemu adik bayi." 


"Heyy, kenapa kamu mengatakan hal seperti itu, sayang? Kamu tahu sendiri kan, aku paling gak bisa kalau ketemu adik bayi." Ucap Narendra.


"Ya itu resiko kamu kalau ketemu cewek, gak bakalan aku kasih jatah pokoknya!"


"Astaga, iya iya, sayangku." Jawab Naren sambil tersenyum kecil. Dia pun memeluk istrinya, lalu secara perlahan menurunkan istrinya dari atas meja wastafel. 


"Awas aja ya kamu."


"Iya, sayangku. Aku takkan melanggar janjiku, ketemu adik bayi lebih menyenangkan soalnya."


"Tapi kalau kamu nya nyebelin, adik bayi nya juga gak bakalan mau di tengokin sama bapaknya."


"Iya istriku, sayang. Aku gak bakalan bikin kamu marah atau kesel kok, nanti pulang mau di bawain apa?" Tanya Narendra. Sudah biasa bagi Narendra jika pulang bekerja, dia selalu membawakan oleh-oleh untuk istrinya di rumah nanti. 


"Kue coklat sama greentea, kayaknya enak deh, Mas."


"Iya, sayang. Nanti Mas beliin ya, cake yang di restoran biasa?" Tanya pria itu lagi sambil mengusap puncak kepala sang istri dengan gemas. 


"Iya Mas, aku suka yang rasa coklat sama greentea. Boleh ya?"


"Boleh, nanti Mas belikan. Sekarang, ayo antar Mas keluar. Mas mau berangkat, soalnya udah agak siang sekarang, nanti Mas terlambat." Ucap Narendra. Ayunda pun menganggukan kepala nya, lalu menggandeng tangan sang suami dan mengantarkan nya hingga ke teras. 


Narendra memeluk sang istri, lalu mengecup kening nya dengan lembut, Ayunda juga menyalin tangan suaminya dengan takzim. Dia tersenyum lalu melihat suaminya yang masuk ke dalam mobil, lalu melambaikan tangan nya saat Naren mulai melajukan kendaraan roda empatnya dengan kecepatan sedang menjauhi mansion tempat mereka tinggal selama ini.  


Ayunda pun kembali masuk ke rumah setelah memastikan sang suami sudah berangkat bekerja. Wanita itu akan beres-beres hari ini, itung-itung untuk merenggangkan otot-otot nya. Dia hanya hamil, bukan sakit apalagi lumpuh. Jadi, tidak seharusnya semua pekerjaan di lakukan oleh orang lain. 


Tapi, saat dia sampai di dapur, dia malah melihat mami mertuanya sedang membereskan meja dan mencuci piring. Ayunda menghela nafasnya, dia sudah tahu hal ini akan terjadi karena sudah biasa terjadi setiap paginya. 


"Mami.."


"Iya, sayang. Kenapa? Mau ngemil ya, sebentar Mami beresin ini dulu, terus Mami bikinin ya. Mau makan apa?" Tanya Melisa sambil tersenyum kecil.

__ADS_1


"Ayu mau beres-beres ya?"


"Gak boleh, sayang. Kamu gak boleh kecapean, nanti kamu sakit atau enggak perut kamu yang sakit." Ucap Melisa. 


"Tapi kan kalau cuma nyuci piring, Ayu juga bisa dan itu juga bukan kerjaan yang berat, Mami." 


"Yaudah, hari ini Mami izinin kamu nyuci piring. Besok udah gak boleh, kalau mau merenggangkan otot biar gak kaku, mulai besok kita pergi senam ibu hamil ya. Mami yang anter, gak jauh kok cuma di komplek sebelah." Ucap Melisa membuat Ayunda menghela nafasnya. Bolehkah dia merasa kalau ini semua terlalu berlebihan untuknya? Dia tahu kalau mertua nya ini sangat menyayanginya, tapi bukankah ini terlalu berlebihan?


"Mi, ini terlalu berlebihan rasanya."


"Lho, berlebihan di bagian mana nya, sayang?" Tanya Melisa sambil mengernyitkan kening nya. 


"Ayu tahu kalau tujuan Mami memanjakan Ayu itu karena Mami sayang sama Ayu, tapi Ayu juga pengen beres-beres biar gak terlalu duduk banget di rumah."


"Ya kalau gak mau duduk, kamu berdiri terus jalan-jalan ke taman di belakang. Mawar biru kesukaan kamu lagi musim nya mekar sekarang, cantik banget. Coba deh kamu kesana nanti." Ucap Melisa. Tapi bukan ini yang dia maksud. 


"Mami.."


"Sayang, Mami dan Papi akan jagain kamu. Sebisa mungkin, kami gak mau bikin kamu kelelahan karena pekerjaan rumah. Itu sebabnya disini ada banyak maid yang mengerjakan semua itu, Mami gak mau membebankan kamu dengan semua pekerjaan rumah. Mami hanya ingin kamu fokus aja sama kesehatan kamu dan cucu Mami. Itu saja sudah cukup, sayang." Ucap Melisa sambil tersenyum menatap wajah Ayunda. 


"Mami tahu, selama ini kamu merasa terkekang oleh sikap Mami. Tapi sumpah demi apapun, Mami melakukan ini hanya semata-mata agar kamu tidak kelelahan, sayang. Apalagi saat ini kamu sedang hamil besar, itu akan membuat tubuhmu jauh lebih lelah. Apalagi ada dua kehidupan di dalam rahim mu, sayang. Kamu mengerti sampai sini? Mami harap kamu mengerti, Nak."


"Mami, maafin Ayu.." ucap Ayunda lirih. Lagi-lagi, dia salah mengartikan kasih sayang Mami mertuanya ini. Harusnya dia merasa bahagia karena dia begitu memperhatikan nya, bukan malah menganggap kalau ini semua bentuk dari kekangan. 


"Tidak apa-apa, sayang. Wajar kalau semisal pun kamu merasa terkekang, Mami agak terlalu protektif ya jagain kamu nya?"


"Gapapa, jangan minta maaf karena kamu gak salah, sayang." Jawab Melisa lalu mengusap puncak kepala menantu kesayangan nya ini. 


"Sayang, mau ngemil apa? Nanti mami bikinin, mau salad buah gak? Stok di kulkas udah habis sekarang." Tanya Melisa. 


"Hehe, mau. Banyakin buah peach nya ya, Mi? Ayu mau nyuci piring dulu." 


"Iya, kalau udah selesai nyuci piring, nanti bantuin Mami ngupas buah ya, sayang?"


"Siap, Mami." Jawab Ayunda sambil tersenyum. Dia pun mencuci piring nya, lalu setelahnya dia pun membantu sang ibu untuk mengupas buah-buahan yang akan di jadikan salad buah. 


"Sayang, ngupas nya agak tebel gapapa. Kamu ngupas nya tipis banget." Ucap Melisa sambil terkekeh saat melihat Ayunda mengupas buahnya setipis mungkin. 


"Hehe, sayang aja soalnya kalau ngupas nya ketebelan, Mami. Buah-buahan kan mahal." Jawab Ayunda, dia juga terkekeh karena ulah nya sendiri.


"Gapapa, sayang. Kupas nya agak tebel aja."


"Iya, Mami." Jawab wanita itu, meskipun saat ini dia merasa sesak karena perutnya yang besar. 


"Kenapa, sayang?"

__ADS_1


"Agak engap, Mami."


"Aduh, sesuaikan duduknya biar kamu nyaman, sayang." Ucap Melisa. Ayunda pun mencari posisi duduk yang bisa membuatnya nyaman. Wanita itu terlihat sedikit kesulitan untuk mencari posisi duduk yang tidak membuatnya sesak. 


"Mami, kalau Ayu duduk selonjoran gapapa?"


"Gapapa, sayang. Lakukan apapun yang bisa membuat kamu nyaman." Jawab Melisa. Ayunda menganggukan kepala nya, lalu dia pun duduk selonjoran sambil mengupas buahnya. Sesekali, Ayunda mencomot buahnya dan memakan nya. Dia memang sangat menyukai buah. Rasanya sangat enak dan menyegarkan, itulah sebabnya Melisa sering sekali membuatkan Ayunda cemilan dan makanan yang mengandung banyak buah. 


Meskipun sudah memasuki trimester ketiga, tapi Ayunda masih seringkali mengalami mual-mual bahkan muntah berkali-kali dalam sehari seperti saat masih ngidam dulu. Bedanya saat ini, misalnya tidak teratur. Jika dulu, hanya saat pagi-pagi saja dia akan mengalami mual dan muntah. Tapi sekarang, dia hanya merasa mual jika sehabis makan. 


"Sayang.."


"Iya, Mami.."


"Kapan rencana nya kamu mau beli perlengkapan bayi?"


"Mungkin nanti, setelah usia kandungan ku menginjak tujuh bulan, kenapa Mi?" 


"Enggak, mami mau ikut hehe."


"Iya, Mami. Nanti Ayu kasih tahu kalau mau belanja."


"Iya, sayang." Jawab Melisa. Keduanya pun sibuk dengan kegiatan masing-masing, mereka memotong dan mengupas buah-buahan yang akan di jadikan salad buah. 


Sedangkan di perusahaan, Narendra sedang merasa kesal sekesal-kesalnya pada Asisten nya, Mark. Pria itu tidak memberitahu dirinya kalau hari ini meeting itu di wakilkan dan yang menjadi wakilnya adalah seorang wanita. Naren tahu kalau dia akan mendapatkan bencana jika sampai Ayunda tahu dia meeting dengan wanita. 


"Jadi, kenapa kau tidak memberitahu ku, Mark? Kau tahu apa yang bisa saja kau sebabkan dari hal ini hah?" Tanya Narendra sambil menatap wajah Mark yang terlihat pucat. Tak pernah dia melihat Naren semarah ini hanya karena meeting nya di wakilkan. 


"Maaf, Tuan. Saya pikir, anda takkan masalah jika meeting nya ternyata di wakilkan."


"Kau saja yang berangkat, aku tak mau meeting dengan wanita! Bisa-bisa aku tak di beri izin untuk menjenguk anakku nanti."


"Maksudnya? Anak yang mana, Tuan? Bukankah Nona Ayunda belum melahirkan?" Tanya Mark dengan wajah bodohnya. 


"Sudah tahu anak ku belum lahir, kenapa kau bertanya lagi hah? Kau tidak mengerti, Mark. Sana pergilah, gantikan meeting itu."


"Tapi Tuan, saya sudah mengatakan kalau anda yang akan datang. Nanti investor akan kecewa jika semisal anda tidak datang, Tuan."


"Lalu kau mengorbankan jatah malam ku, begitu? Tidak, aku lebih baik kehilangan klien dari pada kehilangan jatah malamku, Mark." Jawab Narendra dengan ketus.


"Tapi ini kan.."


"Ckkk, baiklah. Tapi kalau aku kena amuk istriku, kau harus ikut menjelaskan. Kau paham?"


"B-baik, Tuan." Jawab Mark, dia pun harus pasrah jika semisal Ayunda mengamuk padanya nanti.

__ADS_1


.......


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2