Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 181 - Bukan Hantu


__ADS_3

"Sayang, jangan bengong terus dong. Mas jadi mikir kalau yang tadi itu beneran hantu deh." Ucap Narendra. Pasalnya, sang istri terus saja melamun, meskipun dia sudah membuka bungkusan makanan yang tadi dia bawa dari luar. 


"Hmmm, aku gak bengong tuh. Tapi melamun, hehe." Jawab Ayunda yang membuat Narendra menghela nafasnya.


"Beda nya apa coba?"


"Lho, emang nya sama, Mas?"


"Sama, sayang. Sama-sama diem aja." Jawab Narendra sambil membuka makanan dan memindahkan nya ke piring yang ada di dalam nakas kecil di ruangan tempat Ayunda di rawat saat ini. 


"Itu apa, Mas?"


"Ayam."


"Ya aku tahu itu ayam goreng, Mas." 


"Iya, udah tahu ayam goreng kenapa nanya?"


"Ckkk, nyebelin banget deh kamu." Ucap Ayunda sambil memalingkan wajahnya ke arah lain. 


"Hehe, maafin ya. Ini ayam serundeng, sayang." 


"Buat aku?"


"No, ini buat Mas. Kamu makan sup buntut." Jawab Narendra sambil memperlihatkan semangkuk sup dengan aroma yang sangat menggoda. 


"Jeruk nya mana?"


"Ini dia.." Narendra mengambil jeruk kecil yang memang biasa di gunakan untuk sup, bukan hanya sup tapi juga ke berbagai makanan lainnya. Misalnya seblak dan juga bakso, karena akan menambah rasa asam yang membuat makanan terasa jauh lebih nikmat dan segar.


"Wah, mau mau." Jawab Ayunda sambil tersenyum kecil. Naren pun memeras jeruk itu ke dalam kuah dan membiarkan istrinya makan. Dia juga makan dengan ayam serundeng, meskipun sesekali istrinya itu akan celamitan dengan meminta makanan miliknya. 


Tapi, bagaimana pun juga Naren tidak pernah merasa keberatan sama sekali. Justru dia senang karena bisa memberikan makanan nya secara langsung menggunakan tangan nya sendiri. 


"Ayam nya enak, lain kali aku bakalan minta di beliin ayam itu, Mas."


"Iya, sayang." Jawab Ayunda sambil tersenyum kecil. Tapi, di tengah-tengah acara makan yang entah makan apa namanya, karena mereka sudah makan siang baru saja. Tapi belum ada dua jam setelah makan siang, mereka sudah kembali makan. 


Kalau Ayunda sih tidak apa-apa ya, karena dia sedang hamil dan mengandung dua bayi di dalam rahim nya. Ada wajarnya kenapa dia sering merasa kelaparan. Tapi Narendra? Seperti nya dia hanya ikut-ikutan saja, karena melihat istrinya makan, dia juga ikut lapar. 


Pintu terbuka, menunjukkan perawat berwajah pucat yang tadi memeriksa keadaan Ayunda. Perawat itu melempar senyuman manis, lalu berjalan dengan perlahan.

__ADS_1


"Sedang makan, Nona? Maaf saya mengganggu, saya kesini untuk melihat cairan infus saja." Ucap perawat itu sambil membenarkan letak infusan dan frekuensi tetesan nya, bisa saja terlalu cepat atau terlalu lambat. 


"Tidak apa-apa, suster." Jawab Ayunda sambil menatap suaminya yang terlihat juga tengah meneliti setiap inchi penampilan perawat wanita berwajah pucat itu. Tapi yang lebih membuat Ayunda yakin kalau perawat itu memang bukan hantu atau arwah penasaran adalah, kaki nya yang menginjak lantai. Artinya, dia benar-benar manusia asli kan bukan manusia jadi-jadian?


"Sus, maaf.." Ucap Narendra, membuat perawat itu menoleh dan menatap wajah Narendra yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan yang entah apa artinya.


"Iya, kenapa Tuan?"


"Kenapa wajah anda terlihat pucat seperti ini?" Tanya Naren, membuat perawat itu meraba wajahnya, lalu terkekeh pelan.


"Maaf, Tuan. Apa saya membuat anda takut? Sungguh, saya tidak berniat untuk mengerjai atau membuat anda takut. Tapi saya baru saja selesai syuting menjadi suster ngesot, hehe." Jawab perawat itu membuat Narendra terkaget-kaget. Siapa sangka jawaban nya akan seperti ini? Lagian, ngapain juga syuting di jam kerja coba? Bikin salah paham aja. 


"Random amat, sus. Sampai syuting di jam kerja, terus kerja masih pake make up kayak begitu. Apa gak bikin pasien makin jantungan? Yang ada kalau gini, pasien udah mau sembuh malah kena serangan jantung, sus." Ucap Narendra membuat suster itu terkekeh pelan. 


"Maafkan saya, Tuan. Sungguh, saya tidak berniat untuk menakut-nakuti, tapi saya benar-benar lupa menghapus nya. Tadi jam kerja udah mepet, jadi saya gak sempet hapus make up nya, Tuan."


"Hapus aja sana, cepet. Bikin merinding aja wajah mu tuh." Ucap Narendra dengan ketus membuat perawat itu segera undur diri. Ada-ada saja tingkah absurd perawat disini, syuting jadi suster ngesot katanya? Gilaa, yang ada pasien disini yang malah kena serangan jantung. Gak jadi sembuh, malah jadi wassalam. 


"Nah kan, kata aku juga apa, Mas. Perawat itu bukan hantu, orang kaki nya aja nginjek tanah kok." Ucap Ayunda yang membuat Narendra menatap sang istri dengan tatapan kesal seperti nya. 


"Ya kan mana Mas tahu kalau dia beneran manusia beneran, orang penampilan nya kayak gitu. Wajah nya itu lho, bikin merinding." Jawab Narendra yang membuat Ayunda terkekeh. Ada-ada saja memang suaminya ini, mana ada hantu di siang bolong? Yang benar saja, karena kan biasanya yang begituan akan keluar di malam hari. Gak mungkin siang gak sih?


"Yaudahlah, ayo makan lagi." Jawab Ayunda sambil kembali menyuap dengan lahap, makanan yang di belikan oleh sang suami benar-benar enak. Rasanya tidak hambar dan kaya akan rempah-rempah, membuat makanan itu tidak terasa amis sama sekali. Yang ada, hanya enak dan itu membuat nafssu makan Ayunda meningkat. 


"Aku harus berolahraga lagi setelah ini kalau tidak mau roti sobek ini berubah jadi donat." Gumam Narendra yang masih bisa di dengar oleh Ayunda.


"Kamu ada rencana mau gym lagi, Mas?"


"Iya, sayang. Kamu gak suka perut donat kan? Kamu suka nya roti sobek, jadi Mas akan mempertahankan itu meskipun sekarang doyan makan." Jawab Narendra yang membuat Ayunda tertawa. Mau bagaimana pun, ucapan Narendra itu memang benar. Dia suka mengusap perut kotak-kotak suami nya sebelum tidur, tapi kalau pun perut roti sobek itu berubah menjadi donat, mungkin rasanya juga akan sangat menggemaskan karena kenyal-kenyal gimana gitu. Iya kan? Kenyal karena lemak, wkwk. 


"Pertahankan selagi masih bisa, Mas." Jawab Ayunda menyemangati suaminya. Narendra pun tersenyum lalu kembali melanjutkan acara makan nya, begitu juga dengan Narendra. Dia sengaja memesankan dua porsi sup buntut untuk istrinya, sekalian dua porsi nasi juga agar istrinya kenyang. 


"Kata dokter gimana, Mas? Aku bisa pulang sore ini gak, Mas?"


"Iya boleh, sambil nunggu infusan nya habis dulu. Setelahnya kamu bisa pulang, sayang." Jawab Narendra. Gara-gara menyangka kalau yang masuk itu adalah hantu, Naren sampai lupa mengatakan hal itu pada istrinya. 


"Btw, itu suster nyambi jadi aktris gitu ya? Aktris horor." 


"Mana aku tahu, kenapa gak Mas tanyain aja tadi sama suster nya."


"Hehe, lupa plus malu, sayang." Jawab Narendra sambil terkekeh. Kalau di ingat-ingat lagi, apa yang dia pikirkan tadi sangat lucu. Bagaimana bisa dia menyangka kalau perawat itu adalah hantu? Dia harus meminta maaf tadi, tapi jangan salahkan dirinya juga, salahkan saja perawat nya kenapa tidak meneliti penampilan terlebih dulu. Masih mending kalau yang jantung nya kuat, gimana kalau yang di periksa itu sudah lansia? Bahaya sekali, bisa-bisa sekarat saat itu juga. 

__ADS_1


"Mas.."


"Iya, sayang. Kenapa?"


"Kapan mau beli buah kiwi?" Tanya Ayunda dengan antusias.


"Nanti aja pulang dari sini, gimana?"


"Iya, Mas."


"Ehh, tapi kamu kan baru aja sakit. Gak jadi deh, nanti aja kalau kamu udah beneran sembuh. Mas gak mau ambil resiko bikin kamu kecapean." Ucap Narendra yang membuat Ayunda mengerucutkan bibir nya karena kesal. Dia merasa di berikan harapan yang palsu oleh sang suami.


"PHP." Celetuk Ayunda yang membuat Narendra mengernyit. Istilah kata apalagi itu?


"Apa itu?"


"Pemberi harapan palsu." Jawab Ayunda, Narendra tergelak. Tapi kemudian dia menatap sang istri yang juga tengah menatapnya dengan tatapan sendu. Dia sangat ingin berjalan-jalan setelah ini, dia tidak ingin langsung pulang setelah berhasil keluar dari ruangan berbau obat-obatan ini. Jujur saja, aroma ruangan ini membuatnya mual meskipun sudah memakai pengharum ruangan, tapi tetap saja itu tidak bisa menghilangkan aroma yang sebenarnya. Tetap saja aroma nya akan ada di ruangan ini.


"Kita ke minimarket aja kalau gitu, kalau ke supermarket, Mas takut kamu kelelahan jalan nya. Gimana?" Tawar Narendra. Dia memang paling tidak bisa melihat istrinya kesal apalagi marah, dia tidak suka melihat nya, dia lebih suka melihat istrinya tersenyum tapi harus karena nya. Tidak boleh ada yang membuat istrinya tertawa selain dirinya. 


Anggap saja dia sudah ada di tahap bucin tolool, tapi tidak apa-apa jika orang-orang menjuluki nya seperti itu karena memang pada fakta nya dia memang sangat mencintai istrinya. Jadi sebisa mungkin dia harus menyenangkan hati sang istri yang lembutnya kebangetan.


"Yaudah deh, sekalian beli buah-buahan lain ya?"


"Iya, sayang. Tapi jangan beli buah peach lagi ya? Mas gak mau kamu atau anak-anak kita kenapa-napa. Kamu mengerti kan, sayang?"


"Iya, Mas. Maafin aku ya? Karena gak bisa kontrol makanan, gak bisa bedain mana yang boleh di makan dan yang gak boleh di makan sama ibu hamil." Ucap Ayunda lirih yang membuat Narendra segera beranjak dari duduknya, pria itu mengecup puncak kepala istrinya dengan mesra.


"Jangan menyalahkan dirimu sendiri, sayang. Tidak apa-apa, kamu juga tidak tahu kan kalau semisal buah itu bisa membahayakan kandungan kamu?"


"Iya, Mas. Aku kira semua buah itu bagus di konsumsi sama bumil." Jawab Ayunda. 


"Gapapa kok, gak usah minta maaf. Lagian bukan salah kamu ya.."


"Makasih ya, Mas."


"Sama-sama, sayang. Mas juga minta maaf kalau semisal Mas gagal jagain kamu lagi."


"Katanya gak boleh nyalahin diri sendiri, tapi kamu kok malah nyalahin diri kamu sendiri?" Tanya Ayunda yang membuat Narendra tersenyum kecil. Inilah yang dia sukai dari sifat sang istri. 


Ayunda tidak pernah menyalahkan siapapun atas apa yang menimpa nya atau apa yang dia alami, seperti saat kejadian yang sudah berlalu itu. Dia malah memilih untuk menyalahkan dirinya sendiri di bandingkan jika harus menyalahkan orang lain meskipun orang itu memang benar-benar bersalah. Dia lebih baik menghukum dirinya sendiri dari pada menghukum orang lain, terlebih main hakim sendiri, Ayunda bukanlah orang seperti itu meskipun dia tahu kalau apa yang di lakukan itu adalah sebuah kesalahan yang besar dan fatal. 

__ADS_1


.......


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2