Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 102 - Kejutan?


__ADS_3

"Sayang, Mas berangkat kerja dulu ya?" Pamit Narendra pada sang istri yang masih bermalas-malasan di atas kasur nya. Dia masih belum berpakaian sedikit pun setelah semalam dia melayani sang suami beberapa ronde seperti biasa nya.


"Iya, Mas. Maaf ya, aku gak masak. Pinggang aku sakit habis kamu pacu." Jawab Ayunda sambil tersenyum kecil. Narendra terkekeh pelan lalu mengusap pelan kepala sang istri, dia juga mengecup kening Ayunda.


"Maaf ya, sayang. Mas lupa diri semalem, enak banget soalnya, hehe."


"Gapapa, Mas. Enak kok, hehe." Jawab Ayunda sambil cengengesan. 


"Yaudah, Mas pergi dulu ya. Kamu mau nitip apa pas Mas pulang nanti, sayang?"


"Lihat nanti aja ya, Mas. Belum kepikiran, nanti kalau udah kepikiran nanti aku telepon aja ya, Mas?"


"Baiklah, mungkin hari ini Mas bakalan pulang agak terlambat sedikit." Jawab Narendra.


"Jangan terlalu keras bekerja nya, Mas. Kamu juga harus punya waktu buat aku sama anak kita, kamu juga harus mengutamakan kesehatan kamu, Mas." Ucap Ayunda membuat Narendra tersenyum kecil. Seandainya saja, istri nya mengetahui permasalahan yang saat ini tengah dia alami. Tapi Narendra tidak ingin memberitahu istri nya dulu untuk saat ini, biarlah dia berusaha untuk mencari jalan keluar nya sendiri. 


Dia tidak mau membebankan istrinya dengan hal-hal yang mungkin saja bisa membuat kandungan nya terganggu, apalagi kandungan Ayunda memang di nyatakan lemah oleh dokter. Jadi, Narendra harus ekstra menjaga nya sekarang. Dia juga tidak bisa menyalahkan kenapa istrinya begini, karena ini juga karena nya. 


Kebetulan hari ini, Mark pulang dari luar kota jadi dia akan berdiskusi dengan pria itu untuk mencari solusi dan jalan keluar dari masalah ini tanpa harus menyetujui tawaran gilaa dari Trisa. 


"Iya, sayang. Mas tahu batasan dan kemampuan Mas kok, sayang."


"Hmm, baiklah. Apa Mas gak punya seseorang di luar sana?" Tanya Ayunda. Entahlah, tiba-tiba saja pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut nya. Narendra mengernyitkan kening nya, ada apa dengan istrinya? Kenapa bisa dia bertanya semacam itu padahal setahu nya, tadi dia juga baik-baik saja.


"Tidak, sayang. Kenapa bertanya seperti itu?"


"Baiklah, aku percaya sama kamu."


"Tunggu, kamu kenapa? Apa ada hal yang mengganggu pikiran mu, sayang?" Tanya Narendra lagi. Dia yakin kalau istrinya sedang menyembunyikan sesuatu yang entah apa. Ayunda paling tidak bisa berbohong, makanya saat di mencoba untuk berbohong sudah pasti ekspresi wajah nya akan berubah.


"Tidak ada, Mas. Maaf, jika pertanyaan aku membuat kamu tersinggung, Mas."


"Jangan menyembunyikan apapun dari Mas ya? Kalau ada masalah, cerita sama Mas. Jangan di pendam sendiri, mengerti? Mas bakalan tunggu kalau semisal kamu mau cerita sama Mas, sayang." Ucap Narendra sambil mengacak rambut sang istri dengan gemas. 


Meskipun dia mengetahui kalau istrinya tengah berbohong, tapi tak apa-apa untuk saat ini dia akan menunggu sampai sang istri mau bercerita tentang masalah yang membuat nya gelisah. Ekspresi wajah aayunda tidak bisa berbohong sama sekali, meskipun mulut nya mengatakan kalau dia baik-baik saja. Tapi tidak dengan ekspresi wajah dan juga sorot mata nya. 


"Iya, Mas. Kita bahas ini nanti, sebaiknya segera lah berangkat. Nanti keburu kesiangan lho, udah mau jam setengah delapan." Ucap Ayunda. Narendra pun melirik jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangan nya, lalu segera beranjak dari duduknya lalu berjongkok untuk mencium bibir Ayunda dengan mesra.


"I love you, my wife.." Bisik Narendra membuat wajah Ayunda memerah, dia benar-benar malu saat mendengar ucapan Narendra yang terdengar sangat mesra.


"I love you more, my husband." Balas Ayunda. Setelah nya, mereka pun berpisah. Narendra harus bekerja ke kantor dan Ayunda masih ingin bermalas-malasan di kamar nya, sungguh tubuh nya saat ini terasa sangat pegal. Bahkan, terasa seolah tulang-tulang nya meluruh dari tubuh nya. 


Narendra pun masuk ke mobil nya lalu melajukan nya dengan kecepatan di atas rata-rata, karena hari ini dia harus berbincang dengan Mark tentang pemecahan masalah yang tengah melanda nya sekarang. Tentu saja Mark akan membantu nya, karena ini juga menyangkut tentang gaji bulanan nya.


"Aku harus bekerja dengan keras mulai sekarang, aku tidak mau berhubungan apapun lagi dengan wanita itu." Gumam Narendra. Dia ingin cepat-cepat sampai di perusahaan nya, tapi sialnya dia malah terjebak macet. Jadi waktu tempuh nya lebih lama, ngaret hingga satu jam lebih. Padahal jarak dari rumah nya ke kantor tidak terlalu jauh, biasa nya di tempuh hanya dalam setengah jam saja. Tapi tadi, dia terkena macet parah, mungkin karena jam orang-orang pergi bekerja. Yang pergi bekerja kan bukan hanya Naren saja. 


Setelah satu jam ngaret itu, akhirnya Narendra sampai di perusahaan sedikit terlambat. Di lobi, dia sudah di sambut oleh Mark yang memang sedang menunggu nya. Pria itu langsung beranjak dari duduk nya saat melihat Narendra datang dengan wajah super duper datar nya. Dia berjalan dengan kedua tangan nya yang di masukkan ke dalam saku.


"Selamat pagi, Tuan." Sapa Mark sambil mengikuti langkah sang atasan yang langsung masuk ke dalam ruangan nya.


"Pagi, Mark. Kemarilah.."


"Ada apa, Tuan?" Tanya Mark yang langsung duduk di kursi yang berhadapan dengan Narendra.


"Bagaimana pembangunan cabang perusahaan kita, lancar? Apa ada mafia seperti yang kita curigai?" Tanya Narendra, dia menatap wajah Mark dengan tatapan tajam nya.


"Lancar, ternyata mafia nya sudah mengundurkan diri dan sekarang sudah proses pengejaran, untung saja kita ngeuh nya sebelum dia menggelapkan banyak uang perusahaan." 


"Tangkap dia, aku tidak mau tahu. Pokonya penghianat harus mendapatkan hukuman yang setimpal." Ucap Narendra sambil meninju meja kerja nya, membuat Mark sendiri terlonjak kaget. 


"Lalu, bagaimana dengan saham yang tiba-tiba turun drastis, Tuan?" Tanya Mark pelan.


"Itulah yang ingin aku bicarakan dengan mu, aku curiga semua ini ada campur tangan nya Trisa."

__ADS_1


"Trisa? Ada apa lagi dengan wanita itu, Tuan?" Tanya Mark sambil mengernyitkan kening nya. Dia sendiri heran, kenapa wanita itu kebal sekali seolah tidak ada habis-habisnya membuat ulah. Padahal dulu, dia sendiri yang menyia-nyiakan Narendra. Tapi sekarang, dia juga yang mengejar-ngejar Naren seolah dia tidak memiliki salah apapun terhadap pria itu. 


"Kemarin, dia datang dan menawarkan tawaran gila, Mark."


"Maksud nya?"


"Dia tahu kalau saham perusahaan ku sedang merosot turun, tapi dia datang dan seolah sedang memanfaatkan kesempatan, dia pun menawarkan sebuah penawaran. Yaitu, dia bersedia menolong ku memulihkan saham perusahaan tapi dengan catatan, aku harus jadi pacar nya." Jelas Narendra panjang lebar, bahkan Mark yang sedang mendengarkan penjelasan pria di depan nya itu dengan seksama sampai tersedak ludah nya sendiri. 


Uhukk.. uhuk.. 


"Ini mengagetkan sekali untuk ku, Tuan."


"Apalagi aku, Mark. Logika nya kan, dari mana dia mengetahui kalau perusahaan ku sedang tidak baik-baik saja kan?" Tanya Narendra membuat Mark terlihat berpikir keras.


"Wanita itu gila ternyata.."


"Kan sudah saya bilangin dari dulu, kalo Trisa itu wanita gak bener. Tuan nya aja yang buta karena cinta." Celetuk Mark membuat Narendra mendelik kesalbjarena ucapan asisten nya sedikit menyinggung nya. 


"Mau ku tahan gaji atau gimana?"


"Eehh, maaf-maaf Tuan." Ucap Mark. Bisa kena mental kalau semisal gaji nya tidak di bayarkan bulan ini. 


"Tapi ya, Tuan.."


"Hmm, apa?" Tanya Narendra. Belum juga Mark menyelesaikan ucapan nya, Narendra sudah memotong nya.


"Apa Tuan tidak curiga dengan karyawan kita?"


"Maksud mu?"


"Begini, Tuan. Bagi saya, ini terlalu janggal. Dari mana Trisa bisa mengetahui masalah yang di rahasiakan perusahaan? Secara, dia bukan bagian dari perusahaan kan? Jadi, jawaban nya pasti ada salah satu karyawan kita yang mungkin menjadi penghianat juga, Tuan." Jelas Mark. Benar juga, lalu kenapa dia tidak berpikiran kesana? 


"Benar juga, kenapa aku tidak berpikir kesana ya?"


"Makanya, cari cewek biar gak jomblo!" 


"Lah, saya jomblo terhormat. Setidaknya, saya pilih-pilih wanita buat di jadiin pacar." Jawab Mark dengan sedikit sindiran yang membuat Narendra menggebrak meja, membuat Mark terlonjak kaget karena ulah pria itu. 


"Astaga, Tuan. Saya belum nikah lho ini, gak mau mati muda." Ucap Mark sambil mengusap dada nya.


"Sebaiknya kembali ke pembahasan utama saja!"


"Baiklah, Tuan. Jadi, menurut anda bagaimana kalau kita memata-matai karyawan di perusahaan kita secara sembunyi-sembunyi."


"Kenapa harus sembunyi-sembunyi?"


"Kalau kita melakukan nya secara terang-terangan, bukan nya itu akan membuat tersangka nya waspada? Bisa saja dia dia langsung mengundurkan diri seperti mafia dana perusahaan itu." Jawab Mark membuat Narendra mengangguk-anggukan kepala nya. Apa yang di ucapkan oleh Mark benar adanya, kalau dia melakukan pengawasan secara terang-terangan, bisa saja musuh akan langsung angkat kaki dari perusahaan untuk menghindari hukuman. 


Namun kali ini, hukuman yang akan di berikan Narendra bukan hukum penjara atau melibatkan aparat keamanan, dia punya hukuman tersendiri untuk menghukum semua penghianat yang sudah menghianati nya. 


Enak saja, bagi Narendra hukuman penjara itu tidak setimpal karena mereka masih hidup dan masih bisa bernafas. Meskipun tidak bebas dan udara nya hanya udara penjara yang pengap dan dingin. 


"Bagaimana?"


"Lakukan saja, Mark. Aku tidak ingin berhubungan lagi dengan wanita itu, aku muak melihat wajah nya. Kalau bisa, lenyapkan saja wanita itu." Ucap Narendra membuat Mark tertawa. 


"Kalau di lenyapkan, kita membutuhkan jasa mafia agar perbuatan kita tidak terendus pihak berwajib." Jawab Mark sambil terkekeh. 


"Hmmm, lakukan saja yang menurut mu yang terbaik. Kau harus mengusahakan nya, Mark. Bantu aku, karena nasib gaji mu akan di pertaruhkan." Ucap Naren membuat Mark menganggukan kepala nya dengan cepat. Dia memang harus bekerja lebih keras sekarang ini. 


"Kalau semua rencana mu berhasil, aku akan menaikan gaji mu dua kali lipat. Kau tergiur?"


"Dua kali lipat ya? Oke, saya rasa itu cukup menguntungkan. Baiklah, saya akan memulai nya hari ini. Kalau begitu, saya permisi dulu, Tuan."

__ADS_1


"Ya, baiklah. Semangat, Mark."


"Semangat juga untuk anda, Tuan." Jawab Mark. Naren menganggukan kepala nya, lalu membiarkan asisten nya itu pergi.


Setelah kepergian Mark, Narendra termenung di meja nya. Dia benar-benar merasa ada sesuatu yang salah memang, tidak mungkin Trisa bisa mengetahui masalah ini sedangkan wanita itu bukan bagian dari perusahaan. Tapi, dia tidak kepikiran sama sekali kalau pelaku yang meretas data-data perusahaan nya itu adalah karyawan nya sendiri. Gila bukan?


Tentu saja, Narendra sudah mencurigai seseorang. Tapi sejauh ini belum ada bukti yang kuat agar Narendra bisa menebas kepala nya. Kalau saja benar dia yang terbukti telah meretas data-data perusahaan itu, Narendra tidak akan segan-segan untuk menebas kepala nya di tempat. Dari gelagat nya sudah sangat mencurigakan dari awal memang.


"Lihat saja, kalau kau memang orang nya, aku takkan ragu untuk memenggal kepala mu, bajingaan!" Geram Narendra, lagi-lagi dia melampiaskan ke kesalan nya dengan meninju meja kerja yang tak bersalah apa-apa. Kalau semisal itu meja bisa ngomong, dia pasti akan bertanya kenapa sedari tadi Narendra terus saja memukul nya tanpa alasan. 


Di rumah, Ayunda sedang memasak untuk makan siang. Hari ini, dia ingin membuat kejutan untuk suaminya dengan membawakan nya makan siang. Jadi, dia memasak makanan yang enak untuk sang suami, semuanya makanan kesukaan Narendra. Dia membuat udang dengan saus lada hitam, dia juga membuat tumis sayur yang di campur dengan ayam dan juga ada nugget sayur. Semua nya dia buat sendiri, tanpa meminta bantuan pada maid. 


Maid itu hanya menemani Ayunda memasak saja, menemani wanita itu dengan mengobrol yang membuat suasana dapur terasa lebih hangat karena di warnai dengan canda tawa dari mereka. Sungguh, maid pun merasa sangat nyaman dengan keberadaan Ayunda. Wanita itu tidak bertindak seolah dia adalah nyonya muda di rumah ini, jadi dia menuntut harus di hormati, tidak sama sekali. Bahkan, wanita itu bersikap sangat sederhana dan dia adalah pribadi yang ramah, hingga membuat nya bisa berbaur dengan orang-orang di sekitar nya.


Selain itu, Ayunda juga tidak suka membeda-bedakan seseorang berdasarkan derajat atau level seseorang. Dia menganggap semua nya sama, laki-laki, perempuan, tua atau muda, pengusaha atau pelayan, semua nya berhak mendapatkan satu hal, yakni rasa hormat. 


"Nona, pasti suami Nona sangat beruntung memiliki istri seperti Nona."


"Benarkah? Mungkin harus nya itu sebaliknya, aku yang beruntung memiliki suami seperti Mas Naren." Jawab Ayunda sambil tersenyum manis, dia sedang mengaduk-aduk masakan nya di teflon. 


"Tapi, beliau juga pasti akan sangat beruntung karena memiliki anda sebagai istrinya. Selain cantik, anda juga pintar memasak, Nona."


"Begitu kah?"


"Tentu, Nona."


"Hmmm, baiklah. Terimakasih atas oujian mu." Jawab Ayunda sambil tersenyum.


"Anda akan berangkat sendirian?" Tanya salah satu maid itu.


"Sama supir kok, Mas Naren bisa marah besar kalau semisal aku pergi sendirian."


"Baiklah, Nona." 


Setelah selesai dengan masakan nya, Ayunda memindahkan makanan nya ke dalam kotak makan dan membawa nya. Dia pun berpamitan pada orang-orang yang ada di rumah, setelah itu dia pun berangkat bersama supir.


"Aku berangkat dulu ya?"


"Hati-hati, Nona." Ayunda menganggukan kepala nya, setelah itu Ayunda pun pergi ke perusahaan sang suami.


Selang satu jam kemudian, akhirnya mobil yang membawa Ayunda pun sampai di perusahaan milik sang suami, tepat nya tempat sang suami bekerja. 


Wanita itu berjalan anggun, dia mengenakan dress sederhana yang panjang di bawah lutut berwarna putih gading. Perut nya yang buncit membuat aura kecantikan Ayunda semakin terpancar. 


"Selamat siang, kak."


"Siang, Nona. Mau bertemu pak Naren?"


"Iya, ada?"


"Ada, Nona. Silahkan masuk, saya antar." Jawab sang resepsionis, dia pun mengantar Ayunda ke ruangan sang atasan. Kedua nya masuk ke dalam lift dan perempuan itu menekan tombol di lift dan selang beberapa menit, mereka pun sampai. Resepsionis itu pun membiarkan Ayunda masuk ke dalam ruangan Narendra, sedangkan dia akan pergi kembali ke tempat kerja nya. 


Namun, tiba-tiba saja dia mengingat sesuatu. Dia panik, ingin balik lagi untuk melarang Ayunda masuk ke dalam ruangan suami nya, tapi ternyata dia tidak lagi melihat lagi keberadaan Ayunda disana.


"Walah, bakalan ada perang ketiga ini. Aduh, harus bilang sama Tuan Mark." Gumam resepsionis itu lalu segera turun dari lantai atas.


Sedangkan di dalam ruangan, Ayunda mematung saat melihat pemandangan yang terlihat sangat membuat hati nya sesak sekali rasanya saat ini. Bagaimana tidak, dia melihat… 


"M-mass ."


.......


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2