Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 123 - Susu Kehamilan Hanya Untuk Bumil?


__ADS_3

"Mommy.." Panggil Narendra. Pria tampan itu baru saja pulang dari kantor sore hari nya, dia melihat istrinya sedang berada di kebun stroberi yang ada di samping rumah, dekat dengan taman bunga yang tadi Ayunda dan Melisa datangi pagi-pagi, untuk menyegarkan pikiran mereka. 


Ayunda berbalik, dia sedang memetik buah stroberi yang memang sudah banyak yang memerah karena tiga hari tidak di periksa, Ayunda sampai membawa keranjang kecil sebagai wadah untuk membawa buah berwarna merah dan beraroma manis itu. 


"Iya, Dad. Sudah pulang?"


"Hmm, bukan nya nungguin suami pulang kerja terus di sambut pake baju dinas, kamu malah asik ngambilin stroberi." Ucap Narendra yang mana, hal itu membuat Ayunda terkekeh pelan karena merasa lucu dengan suami nya yang terdengar seperti sedang merengek sekarang.


"Hehe, sayang kan kalau buah nya gak di ambilin, nanti busuk."


"Udah sore, ayo masuk." Jawab Narendra. Kalau sudah begini, sebaiknya menurut saja sebelum pria itu marah padanya. Kalau sudah marah, nanti akan sangat sulit untuk membujuk nya. 


"Buah nya masih banyak, Dad."


"Suruh maid aja, lagian tukang kebun kan banyak, jangan malah main di kebun. Kamu tuh nyonya di rumah ini, malah blusukan." Ucap Narendra membuat Ayunda mencebik. Dia kan bosan kalau harus berada di dalam rumah terus menerus. 


"Gapapa dong, presiden aja suka blusukan apalagi aku yang cuma ibu rumah tangga."


"Hey, kamu itu istri pengusaha, sayang."


"Ya, tapi aku kan bosen kalau harus berada di rumah aja seharian, Mas." Jawab Ayunda. Narendra menghentikan langkah nya, membuat Ayunda yang kurang fokus itu menabrak punggung kokoh nan lebar milik suami nya itu. 


"Bosen? Pergi ke salon buat spa atau manicure kan bisa, sayangku. Bukan malah blusukan di kebun."


'Hadeuhh, cuma main di samping rumah juga harus aja kena marah.' Batin Ayunda. Suami nya terasa sedikit lebih overprotektif sekarang, mungkin karena dia trauma dengan apa yang terjadi pada Ayunda beberapa waktu silam.


"Diem, kenapa?"


"Gapapa kok, Mas. Cuman, kata Mami gak baik kalau suami lagi bicara terus aku nyela." Jawab Ayunda yang membuat Narendra terkekeh.


"Haha, baiklah. Sudah mandi?"


"Udah kok, yang belum tuh kelonan. Kangen deh, hehe." Ucap Ayunda dengan senyuman manis nya. Narendra menatap nakal ke arah sang istri, baginya ucapan Ayunda barusan itu adalah sebuah kode kalau sekarang Ayunda tengah menginginkan permainan nya. 


"Mau kelonan sore-sore begini?"


"Ya gapapa dong, kan soalnya sama suami sendiri. Gimana? Atau kamu lagi gak mau, Mas?" Tanya Ayunda. Sontak saja, pertanyaan sang istri itu membuat Narendra melotot. Mana mungkin seorang Narendra yang doyan main kuda-kudaan itu menolak ajakan sang istri? Rasanya tidak mungkin, bukan? 


"Kenapa kamu nanya gitu sih, Bby?"


"Kali aja kamu nya lagi capek gitu."


"Denger ya, secapek-capeknya aku, gak mungkin dong kalau aku nolak. Aku mendadak gak capek kalau masalah itu, hehe. Lagian, nyenengin suami kan pahala nya gede." Jawab Narendra yang membuat Airyn menguluum senyum nya. Pakai bawa-bawa pahala segala, bilang aja dia mau.


"Jadi, mau main gak sore ini?"


"Gas lah." Jawab Narendra sambil menggandeng tangan sang istri lalu membawa nya ke kamar. Dia meninggalkan sepatu, tas kerja nya di sofa ruang tamu. Beginilah Narendra, kalau sudah sampai rumah pasti melupakan barang-barang seperti itu dan meletakan nya dimana saja, karena Istrinya membuat dirinya lupa diri. 


Kalau butuh saja baru dia akan kesana kemari, kebingungan mencari barang-barang itu. Saat itu, Melisa akan mengomeli nya. Narendra memang seperti itu, dari dulu dia memang sudah ceroboh. Dia suka menyimpan barang-barang tidak sesuai tempat nya, kalau pas butuh aja pasti di cariin. Pas gak butuh di biarkan begitu saja, seolah barang-barang itu tidak berharga. Padahal di dalam tas kerja itu ada laptop yang berisi file-file penting perusahaan dan file perusahaa yang mengajukan kerja sama dengan nya. 


Tapi, bisa-bisa nya Narendra meletakan nya di sembarang tempat. Seperti sekarang, Melisa menggelengkan kepala nya saat melihat sepatu dan tas kerja tergeletak begitu saja. Tas masih mending berada di sofa, nah sepatu? Yang satu nya ada di ruang tamu, satu nya lagi ada di teras. Nah lho, kok bisa begitu? Entahlah, nama nya juga Narendra.


"Astaga, anak itu. Udah punya istri, bentar lagi punya anak juga masih aja ceroboh. Pas barang nya hilang aja pasti nyari, marah-marah pada siapapun yang di temuin, tapi pas gak butuh malah di lempar-lempar begini. Dasar ceroboh!" Gumam Melisa sambil memungut pakaian dan tas kerja itu lalu menyimpan nya di ruang kerja putra nya. 


"Nyonya.."


"Hmm, apa, Maya?"


"Maaf, saya di pinta Nona Ayunda untuk membuatkan pudding buah, tapi jelly nya habis. Bolehkah saya meminta izin untuk membeli nya ke warung yang ada di depan sana?" Tanya Maya dengan sopan. 

__ADS_1


"Boleh, Maya. Sebentar.." Melisa berbalik lalu pergi, tak lama kemudian wanita paruh baya itu kembali menghampiri Maya dan memberikan sejumlah uang pada Maya, maid khusus yang selalu melayani menantu nya. Namun, tidak dalam waktu lama lagi karena Mark mengatakan akan secepat nya menikahi Maya. 


Kedua nya sudah sama-sama dewasa, tidak ada salahnya untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius meskipun mereka pacaran belum lama. Tapi masih beruntung karena mereka masih sempat berkenalan, sedangkan dalam kasus Narendra dan Ayunda, mereka tidak di berikan waktu seperti itu. Mereka saling mengenal dan saling mencintai setelah menikah, terlebih lagi setelah kehadiran janin yang hidup dan berkembang di rahim Ayunda. 


Sejak saat itu, Narendra terlihat sangat menyayangi Ayunda. Benar, anak adalah sumber kekuatan yang membuat Narendra merasa bahagia, percaya dan semakin membuka hati nya untuk Ayunda. Karena pada dasar nya, saat awal-awal menikah Narendra memang masih mengingat nama wanita lain yakni Trisa. Namun sekarang, tidak lagi. Dia sudah benar-benar mencintai istrinya sekarang.


"Ini uang nya, cepat kembali dan hati-hati ya.."


"Baik, Nyonya." Jawab Maya, dia menerima uang dari Melisa dan segera pergi untuk membeli jelly untuk membuatkan pudding buah pesanan Ayunda. Namun, baru saja di luar rumah Maya sudah melihat kalau Mark ada disana, dia juga terlihat baru saja datang karena dia baru turun dari mobil sedan miliknya. 


"Ehh, ayang. Mau kemana?" Tanya Mark sambil tersenyum. 


"Mau ke depan beli agar-agar, Mas."


"Aku anter ya? Di depan banyak cowok." Jawab Mark. Tadinya, dia kesini untuk mengambil berkas yang tadi pagi tidak di bawa oleh Narendra karena lupa seperti nya.


"Jalan kaki aja tapi?"


"Capek dong, jauh gak?" Tanya Mark sambil tersenyum.


"Deket kok, cuma di depan sana aja. Mending tunggu aja deh disini, Mas. Gak lama kok, aku cuma beli agar-agar terus pulang."


"Gak boleh!" Jawab Mark dengan tegas. Akhirnya, Maya pun pasrah saja dan membiarkan sang kekasih untuk pergi bersama nya. Padahal cuma mau beli agar-agar doang, tapi Mark malah melarang nya dengan tegas.


Sedangkan di kamar sepasang pasutri lama itu tengah terjadi huru hara. Yaps, mereka tengah bermain dengan hebat nya. Pria itu terus saja menggerakan pinggang nya maju mundur dengan kuat dan dalam, membuat Ayunda menjerit kenikmatan. Dia tidak bisa berhenti untuk mendesaah saat Narendra terus saja memompa miliknya keluar masuk di bawah sana.


"Aaahhh, Mas.. Lebih cepat pliss.." Pinta Ayunda, dia mendesaah kenikmatan saat Narendra terus bergerak menghentak masuk ke dalam inti sang istri yang sudah basah itu memudahkan nya untuk bergerak lebih cepat dan nikmat.


"Uuhhh, nikmat sekali.." Racun sang pria tampan itu, dia terus bergerak maju mundur dengan cepat hingga membuat bunyi ciplakan yang terdengar karena pertemuan antara kulit itu yang sudah bercampur dengan keringat. 


Narendra mencabut senjata nya, dia meminta sang istri untuk berbaring miring dengan perut yang di ganjal oleh bantal. Kembali, Narendra menghajar Ayunda dari belakang membuat Ayunda menjerit karena kaget saat benda itu masuk ke dalam miliknya yang baru saja terasa kosong, kini miliknya terasa penuh kembali seperti tadi. 


"Aaahhh, Mas aku.."


"Bersama, sayang.." Jawab Narendra. Dia kembali menekan senjata miliknya dengan kuat hingga mentok ke dalam sana, Ayunda menjerit kenikmatan bersama dengan itu dia juga mendapatkan klimaaks nya, begitu juga dengan Narendra.


Dia berhasil mendapatkan pelepasan nya, dia mengeluarkan semua nya di dalam milik sang istri. Tubuh pria itu ambruk dan segera menarik sang istri untuk lebih dekat padanya dan memeluk nya dari belakang dengan mesra.


Kedua nya tengah sibuk menghirup nafas masing-masing, nafas mereka tersengal-sengal seperti habis lari maraton. Padahal, mereka tidak kemana-mana, hanya di kamar saja tepatnya di atas kasur empuk berukuran besar yang selama ini menjadi tempat peristirahatan untuk pasangan suami istri itu dari lelah nya kegiatan sehari-hari di luaran sana.


"Terimakasih istriku, apa kamu capek? Atau ada yang sakit?"


"Cuma ini aja yang berasa sedikit sakit, Mas. Kamu main nya gak ada ampun deh." Jawab Ayunda. Dia memang sudah terbiasa dengan sang suami yang kalau main selalu sedikit kasar karena memang sudah bernafssu mungkin. Tapi, tetap saja rasanya agak ngilu jika pria itu menekan miliknya hingga mentok ke dalam inti nya itu karena sekarang dia sedang hamil, jadi rasanya agak sedikit ngilu saja saat di masukin seperti itu. 


"Hehe, maaf ya. Nafssu banget kalau denger kamu desaah."


"Oke, lain kali kalau kita main aku bakalan diem aja biar gak di kasarin." Jawab Ayunda membuat Narendra menggeleng, dia tidak suka kalau bermain tanpa suara seksii sang istri yang terdengar sangat merdu itu. 


"Mana bisa begitu, jangan dong."


"Haha, yaudahlah. Ayo kita mandi, lengket banget deh ini badan." Ajak Ayunda. Narendra pun mencabut penyatuan mereka dan dengan sigap pria tampan itu pun segera menggendong istri nya ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh mereka dari sisa-sisa keringat hasil permainan hebat selama hampir satu jam itu. 


Ayunda terlihat asik menatap wajah tampan sang suami dari bawah, dia juga meraba rahang tegas sang suami yang terlihat sangat seksii dan manly, Ayunda benar-benar menyukai postur wajah sang suami, tampan dengan rahang tegas yang tidak di tumbuhi bulu-bulu halus. Mulus sekali, mungkin karena Narendra rajin cukuran pake krim bercukur. 


"Kamu kenapa natap Mas kayak gitu?"


"Ganteng, hehe."


"Suami siapa dulu dong?"

__ADS_1


"Suami aku, suami aku." Jawab Ayunda sambil tersenyum manis. Narendra yang gemas melihat tingkah manis sang istri pun mencubit gemas hidung Ayunda lalu mengecup kening nya, sebelum akhirnya dia mengisi bath up dengan air hangat. Selain itu, dia juga menambahkan beberapa tetes aromaterapi dan juga bath bomb. Setelah suhu airnya cukup, kedua nya pun masuk ke dalam bath up dan mandi berdua dengan mesra di sore hari itu, tentu nya di tambahkan dengan bumbu-bumbu kemesuuman yang di lakukan oleh Narendra. 


Ada-ada saja kelakuan pria dewasa itu, tangan nya nakal kemana-mana. Kalau di biarkan, sudah jelas acara mandi bersama ini hanya akan menjadi kedok semata padahal acara inti nya adalah bermain ronde ke dua. Tapi, Ayunda kelelahan mungkin karena efek kehamilan nya yang semakin membesar membuat wanita itu jadi lebih mudah lelah. Wajar saja kan? Karena dia membawa berat dari janin yang tengah dia kandung di perut nya. 


"Jangan sampai ada ronde kedua ya, Mas. Aku nya capek, kalau mau main lagi nanti malam aja ya? Kasih aku istirahat dulu, ngisi tenaga dulu. Aku gak mau kita melewatkan acara makan malam." 


"Aahh, ketebak banget ya, Mom?"


"Hmm, aku tuh hafal betul akal bulus kamu, Mas." Jawab Ayunda ketus yang membuat Narendra terkekeh.


"Ya sudah, ayo mandi yang bener." Narendra pun melanjutkan menyabuni punggung sang istri dengan lembut dan perlahan. Hingga beberapa menit kemudian, kedua nya sudah selesai mandi dan segera berpakaian. 


"Mas, aku turun duluan ya?"


"Iya, tapi hati-hati pas nurunin tangga nya. Jangan ceroboh."


"Iya suamiku." Jawab Ayunda. Wanita itu pun keluar dari kamar dan menuruni satu persatu anak tangga secara perlahan dengan berpegangan pada sisi tangga. Sesampai nya di bawah, Maya langsung menyambut nya dengan ramah. Namun, di dapur ada Mark yang juga tengah membuat kopi. 


"Lho, Tuan Mark kapan kesini?"


"Tadi, Nona. Saya tadinya ingin mengambil berkas, sekalian mau ketemu ayang, hehe." Jawab Mark yang membuat Ayunda mencebik. 


"Bilang aja mau modus!"


"Itu juga sih, hehe."


"Nona, ini susu kehamilan anda. Hari ini susu nya rasa mangga, Nona."


"Eemm, Maya.."


"Iya, Nona. Apa yang bisa saya bantu?" Tanya Maya, dia segera berbalik ke arah Ayunda ketika mendengar suara wanita itu memanggil dirinya. 


"Bisakah susu nya di ganti? Aku lagi pengen yang rasa coklat, boleh?"


"Tentu saja, Nona. Akan saya buatkan." Jawab Maya, dia pun mengambil kembali gelas berisi susu rasa mangga dan membuatkan susu kehamilan rasa coklat. 


"Maaf, Nona. Tuan Naren kemana?" Tanya Mark pelan.


"Masih pake baju, Om Mark." Jawab Ayunda, sambil mencomot sepotong pudding buah buatan Maya.


"Ohh, habis mandi ya?"


"Hmm, iya benar." Jawab Ayunda. 


Tak lama, Maya kembali membawakan segelas susu rasa coklat dan meletakan nya di depan sang Nona. Ayunda tersenyum manis, dia suka melihat susu coklat yang terlihat sangat enak, bahkan aroma nya juga sudah sangat enak. Susu rasa coklat adalah rasa kesukaan nya, meskipun bukan susu kehamilan.


"Makasih, Maya."


"Sama-sama, Nona."


"Terus, yang tadi susu nya di kemanain?" Tanya Mark.


"Saya minum, sayang soalnya nanti mubadzir kalau di buang."


"Tapi kamu kan gak hamil, sayang." 


"Gapapa, memang nya susu ini hanya bisa di minum sama bumil aja gitu?" Tanya Maya membuat Mark terdiam. Iya sih bener, bukan cuma bumil yang bisa minum ini susu. Tapi di kemasan nya sudah tertera untuk ibu hamil trimester pertama. Sedangkan kekasih nya tidak hamil, jangankan hamil bermain saja tidak pernah. Baru juga silaturahmi bibir saja, masa iya bikin hamil?


.......

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2