
"Mas, aku ngantuk." Lirih Ayunda. Setelah makan dengan lahap hingga ke kenyangan, akhirnya Ayunda merasa mengantuk.
"Tidur ya, Baby. Tapi setelah minum obat.." Ucap Narendra sambil tersenyum. Dia mendekat sambil membawa beberapa butir obat yang di berikan dokter dan harus di minum secara teratur agar keadaan Ayunda semakin cepat stabil.
"Gak mau, Mas. Obat itu kan pahit, gak enak." Jawab Ayunda sambil menggelengkan kepala nya, dia juga menutup mulut nya dengan kedua tangan.
"Iya, obat dari rumah sakit memang pahit, sayang. Tapi, ada kok obat yang manis dan enak lho."
"Hah? Memang nya ada obat yang manis dan enak?" Tanya Ayunda dengan wajah polos nya, dia tidak terlalu paham dengan tatapan penuh arti yang di layangkan oleh suami nya.
"Ada."
"Apa? Dimana, Mas?" Tanya Ayunda dengan wajah berbinar penuh semangat. Seolah dia memang mempercayai kalau apa yang suami nya katakan itu adalah memang kenyataan, tapi dimana memang nya ada obat yang manis dan enak? Rasanya gak ada, semua obat pasti memiliki rasa yang sama. Pahit.
Ada sih, obat lambung itu rasa nya biasa nya manis namun membuat enek. Tapi yang di ucapkan Narendra dan apa yang di maksud Naren itu bukan jenis obat, tapi ini hanya akal-akalan saja agar istrinya mau minum obat.
"Ada deh, nanti Mas kasih tau kalau kamu mau minum obat."
"Tapi Mas.."
"Kenapa?"
"Pahit." Jawab Ayunda dengan wajah aneh nya. Dari dulu, dia tidak suka minum obat. Saat dia masih hamil pun, dia memaksakan diri untuk meminum pil tambah darah dan juga vitamin sesuai resep dokter demi kesehatan buah hati nya.
"Nanti Mas kasih hadiah kalau kamu mau minum obat, sayang."
"Hadiah nya apa, Mas?"
"Rahasia dong, udah cepetan minum obat nya." Bujuk Narendra lagi. Dia pun memberikan beberapa pil obat itu pada istrinya dan memberikan juga segelas air untuk istrinya minum.
"Mas.."
"Pelan-pelan saja, tidak apa-apa. Namun, kamu harus tetap minum obat agar cepat sembuh ya."
Ayunda pun menelan ludah dengan kepayahan sambil melihat beberapa butir obat di tangan nya, ukuran nya cukup besar bagi Ayunda yang sedikit phobia dengan yang nama nya obat. Itulah alasan nya kenapa Ayunda tidak pernah mau sakit, karena dia paling malas untuk minum obat meskipun dia sedang sakit.
"Ayo cepat, sayang. Katanya mau obat yang manis sama hadiah."
"Hufftt, baiklah."
Akhirnya, Ayunda pun memberanikan dirinya. Dengan perlahan, dia pun meminum pil itu satu persatu hingga habis semua nya. Keringat membanjiri kening nya, wanita itu terlihat benar-benar phobia terhadap obat.
"Gimana?"
"Pahit, Mas. Hueekk.." Ucap Ayunda, hampir saja dia akan memuntahkan kembali obat itu, kalau saja Narendra tidak dengan cepat menahan nya menggunakan bibir. Ya, pria itu mencium bibir sang istri untuk menahan agar obat yang baru saja di minum Ayunda tidak keluar lagi.
__ADS_1
'Enak saja di muntahin lagi, susah-susah aku bujuk Ayu biar mau minum obat, masa harus di keluarin lagi?' Batin Narendra sambil melumaat bibir Ayunda, membuat wanita itu memejamkan kedua mata nya. Dia menikmati ciuman sang suami yang terasa sedikit menuntut. Narendra juga menekan tengkuk sang istri untuk memperdalam ciuman nya.
Hingga, beberapa menit kemudian ciuman Narendra pun terlepas. Wanita itu terlihat tengah mengatur nafas nya yang memburu. Meskipun dia sudah sangat sering berciuman, namun sampai saat ini Ayunda tidak bisa berciuman sambil mengambil nafas. Selalu saja, saat berciuman Ayunda lupa bernafas.
"H-ahh.. h-ahh.." Suara nafas Ayunda yang tersengal setelah beberapa menit berciuman dengan sang suami.
"Bernafas, sayang. Kamu ini kebiasaan banget deh, kalau ciuman pasti gak nafas." Ucap Narendra sambil mengusap bibir sang istri yang mengkilat karena pertautan bibir yang baru saja terjadi.
"Maaf, Mas. Aku malu, soalnya aku kan belum mandi. Aku takut nafas aku bau, hehe." Jawab Ayunda sambil tertawa.
"Astaga, istriku. Kayak gak biasa aja ciuman sama Mas pas bangun tidur, bahkan sebelum cuci muka dan gosok gigi."
"Hehe, tetep aja rasanya agak malu, Mas."
"Hmm, yasudah. Sekarang kamu udah minum obat kan? Ayo tidur, kamu harus banyak istirahat biar kondisi kamu cepet pulih." Ucap Narendra sambil mengusap puncak kepala sang istri dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Kasih tau dulu, obat yang manis tuh apa?"
"Lah, itu barusan."
"A-apa, Mas?" Tanya Ayunda dengan wajah polos nya.
"Itu, bibir Mas."
"Isshh, kamu tuh ya! Aku kirain kamu serius, pantesan aku mikir gak ada obat yang manis dan enak. Ternyata modus toh." Kesal Ayunda dengan mengerucutkan bibir nya, membuat Narendra gemas untuk kembali mencium bibir istrinya itu.
"Enggak mau!" Jawab Ayunda sambil menutupi bibir nya dengan tangan.
"Yaudah, ayo tidur."
"Hadiah nya?"
"Astaga, hadiah nya nanti kalau kamu udah sembuh. Oke?"
"Hmmm, baiklah Mas. Kamu tidur dimana, Mas?" Tanya Ayunda.
"Aku bisa tidur dimana saja, di sofa, di lantai juga bisa. Jangan khawatirkan aku, sayang. Aku baik-baik saja, jadi bisa tidur dimana pun." Jawab Narendra sambil tersenyum manis.
"Yaudah, disini aja tidur nya sama aku. Ranjang ini cukup besar, Mas. Muat untuk berdua kok." Ajak Ayunda membuat wajah Narendra berbinar, dia sangat senang kalau istrinya peka seperti ini. Karena memang sedari tadi, dia mengharapkan kalau istrinya itu mengajak nya untuk tidur bersama di ranjang pasien itu.
Memang ini adalah ruangan rawat dengan kualitas VVIP, jadi ranjang nya saja cukup besar dan bisa untuk berdua. Narendra memang sengaja menempatkan sang istri di ruangan ini agar dia bisa nebeng di ranjang sang istri dan memeluk nya.
Sebenarnya, dia juga modus. Mana mungkin dia mau tidur di sofa, karena itu akan membuat badan nya terasa sakit apalagi bagian pinggang nya, meskipun masih cukup muda namun seringkali Narendra merasa sakit di pinggang nya alias encok. Kalau di lantai, enak saja CEO terkenal di negara ini tidur di lantai, kedinginan. Tidak mungkin dan tak pernah mungkin.
"Kemarilah, Mas. Terus peluk aku, dingin banget di ruangan ini."
__ADS_1
"Iya, sayang." Jawab Narendra. Dalam hati, dia tersenyum puas saat mendengar permintaan sang istri. Dasar modus. Tapi ya, nama nya juga bucin kan ya. Apapun bisa di lakukan agar bisa terus membersamai orang terkasih.
Ayunda pun menggeser tubuh nya, membiarkan sang suami untuk tidur di samping nya. Pria itu dengan senang hati berbaring di samping istrinya, lalu memeluk sang istri dari belakang karena kedua nya tidur dengan posisi miring.
Narendra mengusap-usap puncak kepala Ayunda dan mengecup nya dengan mesra. Wanita itu merasa nyaman, dia pun berbalik hingga membuat posisi mereka berhadapan saat ini. Ayunda bersandar nyaman di pelukan Narendra, pelukan yang terasa sangat hangat, nyaman dan menenangkan. Membuat Ayunda selalu bisa tertidur dengan nyenyak saat berada di dalam pelukan sang suami.
"Selamat tidur istriku."
"Selamat tidur juga pak suami, selamat malam."
"Iya, tidurlah sebelum aku berubah pikiran."
"Aku gak takut sih, soalnya aku lagi masa nifas." Jawab Ayunda lirih, membuat Narendra tersenyum smirk. Seperti nya, Ayunda lupa siapa suami nya ini. Pria ini adalah sejenis pria yang bisa memanfaatkan situasi, apapun itu dan dimana pun itu.
"Aku tau, mulut kamu banjir tapi yang atas enggak kan? Aku bisa aja jejelin mulut kamu pake si junior sekarang kalau kamu gak tidur juga."
"Iya, aku langsung tidur kok Mas."
"Good girl." Ucap Narendra, dia pun mengecup singkat kening Ayunda dan membiarkan wanita itu tertidur di dalam pelukan nya. Hanya beberapa menit saja, hingga Naren bisa mendengar hembusan nafas teratur dari sang istri. Dia tersenyum kecil, lalu mengusap-usap rambut panjang istri nya.
"Secepat itu? Kamu takut aku terkam atau kamu memang lelah dan pelukan ku terlalu nyaman?" Gumam Narendra sambil terus mengusap-usap kepala sang istri.
"Aku sangat beruntung memiliki mu, sayang. Memang pertemuan kita tidak di sengaja, namun mencintai mu aku sengaja. Aku menyayangi mu bahkan lebih dari diriku sendiri." Gumam Narendra. Dia tersenyum jika mengingat pertemuan pertama nya dengan Ayunda.
Dia ingat benar, saat pertama kali melihat Ayunda di bar hari itu. Dia tak lebih dari seorang gadis polos yang di manfaatkan, gadis dengan kemeja kerja berwarna putih, rok hitam selutut yang terlihat rapi. Tidak terlihat seperti wanita malam yang bisa keluar masuk di bar. Penampilan nya sangat mencolok, karena berbeda dengan gadis-gadis yang ada di tempat seperti ini.
Namun, siapa sangka gadis yang dia nilai sederhana, bahkan wajah nya bisa di bilang biasa-biasa saja itu mampu membuat seorang Narendra menggila mal itu karena tubuh seorang Ayunda? Bahkan sekarang, dia sangat mencintai sosok istrinya ini. Jodoh siapa yang tau kan? Tidak ada yang tahu kapan datang nya pendamping itu, tidak ada yang tahu juga dengan siapa kita berjodoh kan? Jodoh bisa datang kapan saja.
Siapa yang menyangka kalau Narendra bisa sebucin ini pada istrinya? Bahkan sekarang, menurut penglihatan seorang Naren, wajah Ayunda sangatlah cantik. Jauh berbeda dengan perempuan lain nya, karena Ayunda selain cantik wajah nya, cantik juga hati dan perilaku nya. Pokoknya, Ayunda adalah sosok yang sempurna bagi Narendra.
"Aku mencintaimu, sayang. Kuatlah, aku berjanji akan mengganti setiap air mata yang sudah kamu keluarkan setelah menikah dengan ku dengan kebahagiaan." Gumam nya lagi. Narendra pun memejamkan mata nya, setelah mengatakan hal itu Narendra pun tertidur sambil memeluk tubuh sang istri.
Pagi hari nya, Arvin dan Melisa datang ke rumah sakit dengan membawa beberapa tas berisi pakaian ganti dan juga sarapan untuk kedua nya. Hari ini, Melisa memasak sup daging lagi untuk menantu nya. Dia suka melihat cara makan Ayunda kemarin, dia sangat lahap sekali. Itulah yang membuat Melisa memasak menu itu pagi ini, khusus untuk menantu nya. Karena untuk Naren, dia memasak telur balado kesukaan pria itu juga.
Melisa membuka pintu ruangan itu dengan perlahan. Kedua nya saling menatap lalu tersenyum saat melihat pasangan suami istri itu masih tertidur dengan saling memeluk. Ayunda terlihat sangat nyenyak sekali, membuat mereka tidak tega untuk mengganggu waktu istirahat mereka.
Kedua nya paham kalau Ayunda mungkin kelelahan, apalagi dalam keadaan nya saat ini. Dia masih sangat lemah setelah operasi pengangkatan janin kemarin, keadaan Ayunda masih sangat lemah saat ini. Apalagi hati nya yang mungkin masih sangat terpukul dengan kejadian ini. Mau bagaimana pun, meskipun baru lima bulan janin itu menghuni rahim nya, pasti itu sangat berkesan bagi Ayunda, namun sekarang janin itu sekarang telah pergi.
Perlu menyesuaikan diri, itulah yang harus di lakukan oleh Ayunda. Mau bagaimana pun, dia harus membiasakan diri tanpa kehadiran sosok malaikat kecil yang tumbuh di rahim nya itu, harus mengikhlaskan nya sebagai usaha yang terbaik, meskipun itu akan sangat berat.
"Kita keluar saja ya, Mi. Kasian ganggu mereka tidur, pasti mereka kecapean."
"Iya, Pi." Jawab Melisa. Kedua nya pun keluar dari ruangan itu dan menutup kembali pintu ruangan itu secara perlahan. Setelah itu, mereka memutuskan untuk menunggu di luar, tepatnya di ruang tunggu.
.......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻