
"Apa iya Naren semenakutkan itu kalau marah, Mark?" Tanya Adam sambil berjalan mengikuti Mark dari belakang.
"Benar, dia sangat menakutkan, Paman. Andai saja aku punya penyakit jantung, sudah lama aku tiada hanya karena mendengar teriakan Tuan Naren saat dia marah." Jawab Mark.
"Semenakutkan itu ya?"
"Iya, pokoknya kemarahan Tuan Naren adalah salah satu hal yang harus di hindari."
"Hahaha, seperti itu? Tapi dia berbeda saat di rumah, Mark." Jawab Adam sambil tersenyum.
"Tentu saja beliau berbeda, Paman. Kan di rumah ada pawang nya, mana bisa dia menunjukkan sifat aslinya di depan istrinya. Apalagi saat ini Nona Ayu sedang hamil, bisa-bisa dia kena pukul."
"Kena pukul?"
"Katanya, orang yang hamil jauh lebih galak kan? Bahkan Tuan Naren saja pernah di pukul."
"Astaga, apa iya keponakan ku bisa segalak itu, Mark? Padahal dia gadis yang lemah lembut." Ucap Adam sambil menggelengkan kepala nya. Tapi memang pada fakta nya, memang Ayunda berubah seratus delapan puluh derajat setelah hamil. Selain berubah menjadi lebih sensitif, Ayunda juga agak sedikit emosian. Tapi itu saat usia kehamilan nya masih kecil, sekarang sih dia lebih banyak manja nya ketimbang galaknya.
"Iya, saya juga tahu kalau Nona Ayunda adalah wanita yang sangat lembut, maka dari itu Tuan Naren sangat mencintainya. Tapi setelah hamil, katanya sih agak berubah. Mungkin karena perubahan hormon kali ya? Itu yang membuat sifat Nona Ayu berubah." Jelas Mark sambil tersenyum kecil.
"Mungkin iya, tapi sekarang dia tidak seperti itu. Malah sekarang seneng nya manja-manjaan aja sama Naren."
"Karena usia kandungan nya saat ini sudah besar dan sebentar lagi akan melahirkan."
"Masih dua bulanan lagi, Mark."
"Iya, Paman." Jawab Mark, tak sabar sekali rasanya menantikan moment itu. Dia ingin tahu seperti apa wajah kedua bayi dari persatuan kedua bibit unggul itu, pasti akan sangat lucu dan menggemaskan. Baru membayangkan saja sudah membuatnya tersenyum kecil.
"Kenapa, Mark?"
"Lagi bayangin wajah bayi nya Tuan Naren sama Nona Ayu, kayaknya bakalan lucu-lucu banget. Soalnya orang tua nya juga cantik terus tampan."
"Hmm, omong-omong apa kau sudah menikah?"
"Sudah, Paman. Aku menikahi maid yang selama ini mengurus Nona Ayunda." Jawab Mark sambil tersenyum.
"Ternyata di dunia ini masih ada pria yang mencintai tanpa melihat fisik atau derajat ya, apalagi pria ya seperti kamu dan Naren."
"Ngapain memang nya? Derajat kita di hadapan Tuhan kan sama aja, mau kaya atau miskin yang penting kita saling mencintai dan mau berjuang, itu sudah cukup, Paman." Jawab Mark sambil tersenyum.
Ohh, andai saja putrinya masih hidup. Mungkin dia akan membawa nya ke kota dan mencarikan pria gentel yang mau menerima nya apa adanya. Melihat Naren dan Mark membuatnya yakin kalau pria yang baik masih ada dan banyak disini. Tapi sayang sekali putrinya malah memilih seorang pria brengsek yang hanya menginginkan tubuhnya saja.
Tidak, lebih tepatnya dia hanya memanfaatkan putrinya. Setelah dia rusak, padahal itu karena ulahnya dia tidak mau bertanggung jawab dan membuat Mona gelap mata hingga melakukan hal sekejam itu pada janin yang bahkan tidak bersalah sama sekali.
"Andai saja putriku bertemu dengan orang sebaik dirimu atau Naren, mungkin saat ini aku sangat bahagia." Lirih Adam sambil memejamkan kedua mata nya.
"Ada apa dengan putrimu, Paman?"
"Hmmm, dia meninggal setelah melakukan aborsi."
"Aborsi?"
"Mona, nama putri Paman itu Mona. Dia anak yang cantik dan ceria, hanya saja salah pergaulan membuatnya hamil di luar nikah. Dia sudah mendesak pihak pria, bahkan kami juga meminta agar pria itu mau mempertanggung jawabkan perbuatan nya terhadap Mona. Tapi mereka kekeuh tidak setuju dan akhirnya Mona melakukan hal itu, Mark."
"Kau tahu sendiri kalau hal itu dilarang dan ilegal kan? Seperti yang sudah bisa di tebak, Mona mengalami pendarahan dan akhirnya dia meninggal karena kehabisan banyak darah." Lirih Adam sambil menundukkan kepala nya.
"Paman.."
__ADS_1
"Aku tidak membenci mereka, tapi aku hanya menyayangkan kenapa mereka tidak berusaha untuk mempertanggung jawabkan perbuatan nya. Padahal, mereka keluarga terpandang, tapi kenapa mereka seperti itu. Hanya itu saja yang aku sesalkan."
"Hmm, terpandang?"
"Pria yang menghamili Mona adalah anak kepala desa." Jawab Adam sambil tersenyum.
"Astaga, aku benar-benar malu mendengarnya. Aku pria, tapi aku sangat malu."
"Paman tidak menyalahkan nya, Paman sadar kalau ini juga kesalahan Mona, putri Paman. Tapi setidaknya kalau dia mau bertanggung jawab, harusnya saat ini Mona masih hidup." Ucap Adam sambil mengusap setetes cairan bening yang menetes ke pipi nya.
"Paman.."
"Paman merasa gagal mendidik Mona, Mark. Ada rasa sakit yang masih tertinggal hingga saat ini, bahkan Paman terus menyalahkan diri atas semua yang terjadi pada Mona dan juga istri Paman."
"Istri Paman kemana?" Tanya Mark sambil menatap Adam.
"Dia di rawat di rumah sakit, dia mengalami depresi setelah kehilangan Mona."
"Keluarga ku hancur, aku pikir ini semua karma karena istri ku selalu memperlakukan anak yatim dengan buruk. Dia selalu menyakiti perasaan Ayunda, keponakan nya sendiri." Lirih Adam membuat Mark menatap Adam dengan tatapan sendu. Bagaimana tidak, Adam memiliki rasa sakit yang hampir sama dengan orang asing yang saat ini dia sebut keluarga.
"Paman, jangan menyalahkan diri sendiri. Paman bukanlah orang tua yang gagal, hanya saja ini memang sudah takdir yang tidak bisa di ubah."
"Tapi rasanya sangat sakit, Mark."
"Tentu, aku juga tahu seperti apa sakitnya. Aku juga hidup sendirian di panti asuhan selama bertahun-tahun, kata ibu panti dulu aku di buang di jembatan bahkan hampir saja tergilas mobil kalau saja tidak ada orang baik hati yang menyelamatkan aku dan membawaku ke panti asuhan." Jelas Mark lirih.
"Bisa paman tebak kan, aku terlahir tanpa di inginkan oleh kedua orang tuaku. Makanya mereka membuang ku seperti itu, hingga akhirnya ada pasangan yang membawa ku keluar dari panti dan merawat juga menyayangi ku selayaknya anak sendiri. Hingga saat ini, bahkan setelah aku menikah pun mereka tetap menyayangi ku."
"Kamu sangat beruntung, Nak."
"Tentu, Paman juga sangat beruntung karena anda masih memiliki orang sebaik Nona Ayunda. Dia adalah wanita yang sangat baik, pengertian dan juga perhatian."
"Jangan lupa kalau anda juga ikut mengambil peran untuk merawat dan membesarkan nya."
"Peran orang tua nya lebih penting, Mark. Andai saja mereka berdua masih ada, pasti mereka akan sangat bangga melihat putri mereka tumbuh menjadi seorang perempuan yang tegar dan kuat." Ucap Adam sambil tersenyum kecil.
"Anda juga orang yang sangat baik, Paman." Jawab Mark, membalas senyuman kecil itu.
Tak lama kemudian, Mark mendengar ponsel nya berbunyi cukup nyaring. Dengan cepat dia merogoh ponsel dari dalam saku nya. Ternyata Naren lah yang tengah menghubungi nya saat ini.
"Hallo, Tuan."
'Dimana? Masih lama?' Tanya nya, nada suara nya terdengar sangat datar.
"Sudah di loby kok, Tuan. Ada apa? Ingin menitip sesuatu?"
'Kepala ku pusing sekarang, bisakah kau membelikan aku obat sakit kepala?' Pinta Narendra. Dia memang benar-benar mengalami sakit yang teramat di kepala nya karena ulah dua manusia yang baru saja menggelar drama di depan nya. Menyebalkan sekali, tapi dia puas karena sudah menghukum wanita itu. Meskipun dia masih sangat kesal karena mulut kotor wanita itu sudah menghina istrinya.
"Baik, Tuan. Obat yang biasa saya belikan atau yang lain?"
'Yang biasa saja dan cepatlah, Mark.'
"Baik, Tuan." Jawab Mark. Lalu sambungan telepon pun di matikan oleh Narendra.
"Ada apa, Mark?"
"Tuan Naren sakit kepala, dia meminta di belikan obat. Paman bisa ke ruangan Tuan Naren sendiri? Sudah dekat kok, tinggal lurus lalu belok kanan."
__ADS_1
"Baiklah, hati-hati di jalan Nak."
"Iya, Paman." Jawab Mark dengan sopan. Dia pun meninggalkan Adam di loby sendirian untuk pergi ke apotik segera. Adam pun berjalan secara perlahan dan akhirnya sampai di ruangan Narendra.
Pria paruh baya itu membuka pintu secara perlahan, lalu melihat Narendra yang sedang berdiri menghadap jendela besar di depan nya dengan kedua tangan yang di masukkan kedalam saku celana bahan nya.
"Naren.." panggil Adam, membuat Narendra pun menoleh dan tersenyum kecil yang terlihat sangat di paksakan.
"Iya, Paman. Bagaimana tour bersama Mark nya?" Tanya Naren lalu berjalan dan duduk di samping Adam. Dia terlihat biasa saja, raut wajahnya tidak memperlihatkan kalau dia baru saja marah besar. Dia terlalu pandai untuk menyembunyikan nya, toh buat apa juga menunjukkan nya, lagi pula Adam tidak bersalah apa-apa.
"Menyenangkan sekali, perusahaan ini sanbat luas dan besar."
"Paman selama ini kerja apa?"
"Paman cuma kerja serabutan, palingan ya jadi buruh angkut kelapa sawit." Jawab Adam sambil tersenyum.
"Bagaimana kalau sekarang Paman kerja disini aja?"
"Paman cuma lulusan SMP, Nak."
"Tak apa, jadi OB saja dulu. Gaji nya lumayan kok, meskipun hanya petugas kebersihan." Ucap Narendra, membuat Adam terdiam.
Bukan, bukan dia tidak suka dengan pekerjaan dan di bagian mana dia bekerja, tapi dia masih mempertimbangkan semuanya. Kalau dia bekerja disini, pastinya dia akan sangat sulit untuk bertemu dengan sang istri yang di rawat di rumah sakit yang ada di kampung.
"Maaf, Paman. Bukan maksud Naren untuk merendahkan Paman hanya karena pekerjaan yang Naren tawarkan, tapi kan kalau Paman disini, setidaknya paman jadi lebih mudah bertemu Ayu. Bahkan akan setiap hari bertemu dengan Ayu, dia sangat menyayangi Paman." Ucap Narendra.
"Tapi kalau Paman bekerja disini, bagaimana dengan istri Paman di kampung?"
"Istri?"
"Iya, dia depresi dan di rawat di rumah sakit jiwa."
"Itu bukan hal yang sulit, nanti Naren urus biar Bibi bisa di pindah ke rumah sakit yang ada disini saja, biar dekat."
"Nak, kamu serius?"
"Tentu, bagaimana bisa Naren gak serius?" Balik tanya Narendra sambil tersenyum kecil.
"Tapi kan.."
"Jadi OB juga bukan pekerjaan yang memalukan kok, gaji nya juga cukup besar."
"Bukan itu, paman tidak mempermasalahkan pekerjaan apapun itu selagi masih bisa Paman lakukan pasti akan paman lakukan. Lalu, bagaimana dengan semua barang-barang paman yang ada di kampung?"
"Akan Naren bawa kesini, Naren mohon sama Paman. Naren sangat mencintai Ayu dan Naren gak mau kalau istri Naren harus menangis karena berpisah lagi sama Paman nya, satu-satunya keluarga yang dia miliki." Ucap Narendra.
"Naren melihat kalau dia sangat bahagia dengan kedatangan paman, dia sangat semringah. Naren tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi, jadi tinggalah disini dan berkumpul dengan Ayunda dan kami."
"Lalu bagaimana dengan kedua orang tua kamu, Nak? Paman takut mereka akan keberatan apalagi kalau Paman tinggal sama kalian, atau enggak selama Paman belum gajian untuk ngontrak."
"Ngapain ngontrak sih, Paman? Rumah itu sangat luas dan banyak kamar yang kosong. Salah satunya bisa paman tempati, jangan khawatir. Orang tua Naren juga akan menerima semuanya, biar Naren yang bicara sama mereka." Jawab Narendra sambil tersenyum seolah meyakinkan Adam agar mau tinggal bersama nya.
"Baiklah, Paman akan tinggal bersama kalian kalau itu yang bisa membuat Ayunda bahagia. Maka akan Paman lakukan."
"Syukurlah kalau begitu, Paman. Naren sangat senang mendengarnya, apalagi Ayunda. Dia pasti akan sangat senang karena dia akan dekat dengan anda." Jawab Narendra sambil tersenyum. Dia jadi tidak sabar untuk memberitahukan hal yang membahagiakan ini pada istrinya.
.......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻