Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 192 - Kedatangan Darren


__ADS_3

"Surprise.." Ucap seseorang yang membuat tubuh Arvin gemetar. Tubuhnya lemas bahkan hampir tak bisa menyeimbangkan tubuhnya ketika melihat siapa orang yang datang ke rumah. 


"Siapa, Pi?" Tanya Melisa yang baru saja keluar dari arah dapur dengan celemek yang masih menutupi tubuh bagian depan nya. Wanita itu terlihat membulatkan kedua mata nya saat melihat siapa yang datang ke rumah pagi-pagi begini. Reaksi pasangan suami istri itu sama, keduanya sama-sama terkejut. 


"Hallo, menantu Papa.." Sapa nya sambil tersenyum, dia melambaikan tangan nya ketika melihat kedatangan Melisa dari arah dapur itu. 


"Papa.." Melisa langsung menghambur ke pelukan sang papa mertua. Ya, itu adalah Darren. Dia pulang, setelah setahun dia harus berada di negara orang karena dia memerlukan perawatan setelah kecelakaan itu. Dia juga koma cukup lama dan akhirnya dia bisa bangun dan berdiri disini sekarang. 


"Apa kabar, sayang?" Tanya Darren sambil mengusap punggung menantu nya dengan lembut. 


"Melisa baik-baik saja, bagaimana dengan keadaan Papa?" Balik tanya Melisa sambil mendongak menatap wajah Darren, wajah yang sudah lama tidak dia lihat, ini sangat membuat hatinya sakit namun bahagia. Tubuh Darren masih tinggi besar dan tegap seperti dulu, meskipun sekarang agak sedikit kurus. 


"Papa juga baik, sayang. Mana cucu menantu Papa?" Tanya Darren. 


"Ada di dalam, Pa. Mari masuk, Papa kesini sama siapa?" 


"Sam sama Selin, mereka lagi ke minimarket, katanya ada yang harus di beli." Jawab Darren. 


"Kamu kenapa bengong? Kamu gak seneng Papa pulang, Nak?" Tanya Darren saat melihat Arvin hanya terdiam saja sedari tadi. Hanya saja tatapan nya menyiratkan ada nya rasa sakit yang dia rasakan ketika melihat sosok sang ayah.


"Papa.."


"Iya, ini Papa, Nak." Jawab Darren sambil tersenyum. 


"Kemarilah, kau tak ingin memeluk papa mu ini? Kau tidak merindukan ku?" Tanya Darren lagi sambil merentangkan kedua tangan nya, dia sudah bersiap untuk menerima pelukan dari sang putra. 


Arvino berjalan pelan lalu memeluk tubuh sang ayah dengan erat, dia menangis disana. Sungguh, rasanya sangat mengharukan. Akhirnya setelah satu tahun, dia bisa melihat kembali sang ayah yang tersenyum seperti ini. Tidak ada wajah pucat dan penuh luka seperti yang dia lihat saat di Amerika. 


"Papa, maafin Arvin.."


"Papa sudah memaafkan kamu, Nak. Kamu memang anak Papa." Lirih Darren sambil mengusap puncak kepala Arvino dengan lembut. 


"Maafin kalau selama ini, Arvin selalu bikin Papa kesel. Maaf kalau.."


"Papa sudah memaafkan semua kesalahan kamu, bagaimana pun juga kamu adalah anak Papa satu-satunya. Papa sudah mengikhlaskan semuanya, Nak. Jadi, tak perlu ada yang di maafkan lagi." Jawab Darren sambil tersenyum.


"Senang bisa melihat senyuman itu lagi, Pa."


"Mana cucu menantu?" Tanya Darren, dia menanyakan keberadaan Ayunda. 


"Mari masuk, Pa." Ajak Arvino. Darren pun mengangguk lalu melangkahkan kaki nya masuk ke dalam rumah yang memiliki sejuta kenangan di dalamnya. 


Darren mengedarkan pandangan nya ke seluruh penjuru rumah bernuansa serba putih itu. Mansion ini sangat besar dan luas, ruangan dan barang-barang yang tertata rapih, tidak berubah sama sekali padahal sudah satu tahun dia tidak pulang, tapi semuanya masih sama bahkan suasana nya juga. 


Hati nya merasa bahagia, setelah sekian lama dia pergi, hingga akhirnya dia bisa pulang kembali ke rumah yang memiliki banyak sekali kenangan. 


"Senang bisa kembali ke rumah ini.." Gumam Darren lirih, membuat Arvin tersenyum kecil. 


"Semuanya masih sama kan, Pa?"


"Iya, semuanya masih sama. Rumah ini masih terasa hangat seperti dulu." Jawab Darren lagi. 


"Papi, ini kopi nya sudah jadi." Ucap Ayunda sambil membawa sebuah cangkir berisi kopi hitam. 


"Sayang, itu kau?" Tanya Darren, membuat Ayunda yang sedang meletakan kopi di atas meja pun mendongak dan melihat siapa yang memanggilnya. Tadi, dia belum menyadari keberadaan Darren di ruangan ini. Dia terlalu sibuk dengan apa yang tengah dia lakukan, hingga tidak menyadari kalau ada seseorang yang sudah menunggu nya dengan senyuman manis. Dia sangat merindukan gadis yang kini sudah menjadi wanita.


"K-kakek?"


"Ya, ini kakek, sayang." Jawab Darren sambil tersenyum. 


Ayunda tersenyum lalu berjalan dengan cepat dan memeluk Darren dengan erat, dia menumpahkan rasa rindu nya selama satu tahun ini dengan memeluk tubuh itu seerat-eratnya. 


"Apa kabar, sayang?" Tanya Darren sambil mengusap wajah cantik Ayunda dengan lembut.


"Ayu baik-baik saja, bahkan rasanya jauh lebih baik sekarang. Apalagi setelah melihat kalau Kakek baik-baik saja." 


"Suami mu kemana?" 


"Masih di kamar, Kek. Soalnya kan weekend jadinya dia bangun agak siang." Jawab Ayunda. 


"Hmm, kebiasaan nya tidak berubah sama sekali. Anak itu masih tukang tidur, mana kebo kalau sudah tidur, susah bangun nya."


"Apa perlu Ayu bangunin Mas Naren nya, Kek?"

__ADS_1


"Tidak perlu, sayang. Biarkan saja dia beristirahat." Jawab Darren sambil tersenyum. Darren pun duduk di sofa yang ada di ruang tamu, hingga suara pintu yang tertutup membuat atensi nya teralihkan. Darren melihat sosok asing yang baru saja keluar dari arah kamar yang dia ketahui kalau itu adalah kamar tamu.


"Siapa dia?" Tanya Darren sambil menunjuk Adam yang baru keluar dengan pakaian sederhana nya.


"Dia Adam, paman nya Ayunda. Sekarang dia juga tinggal disini bersama kita, Pa." Jelas Arvino sambil tersenyum.


"Ohh, hallo selamat datang. Aku Darren, Ayah nya Arvin." 


"S-salam kenal, Tuan."


"Tuan? Gak salah kah kau memanggil ku, Tuan? Kita keluarga, kenapa kau memanggil ku seolah aku ini adalah atasan dan kau bawahan nya?" Tanya Darren membuat Adam terdiam.


"Saya bingung harus memanggil anda dengan panggilan apa.."


"Darren, panggil nama saja. Seperti nya kita juga seumuran." Jawab Darren sambil tersenyum.


"Aaahh iya, Darren."


"Kemari dan duduklah disini." Ucap Darren sambil tersenyum. Adam pun mengangguk dan duduk di sofa kosong yang berhadapan dengan mereka. 


"Anda tidak keberatan saya tinggal disini bersama kalian?" Tanya Adam lirih.


"Keberatan? Tidak tuh, aku memang yang membangun rumah ini. Tapi rumah ini sangat luas, dengan banyak kamar kosong juga. Lagipula kalau kau tinggal disini kau akan lebih dekat dengan Ayunda, kau adalah keluarga satu-satunya yang dia miliki kan?"


"I-iya, Darren."


"Maka dari itu, kalau Arvin atau Naren yang meminta mu tinggal disini, percayalah dia sudah mempertimbangkan nya dan aku setuju kau tinggal disini. Ayu senang kan kalau Paman mu tinggal disini?" Tanya Darren, membuat Ayunda menganggukan kepala nya dengan cepat mengiyakan pertanyaan sang kakek.


"Sangat, Kek. Aku sangat senang jika Paman tinggal disini, dengan begitu aku akan merasa lebih dekat dengan Paman." 


"Kau dengar sendiri kan kalau Ayunda sangat bahagia dengan kehadiran mu disini?"


"Saya hanya tidak ingin merepotkan kalian semua apalagi membebankan karena saya tinggal disini. Tadinya, saya akan tinggal disini untuk sementara waktu sampai saya gajian." Jelas Adam.


"Kau ingin mengontrak? Jangan bodooh, disini masih luas, Adam. Kau tinggal disini saja bersama kami. Uang gaji mu, simpan lah untuk anak istrimu di kampung." Ucap Darren. Dia belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan Adam dan juga keluarga nya. 


"Putri saya sudah meninggal, istri saya di rumah sakit jiwa karena gangguan jiwa, Darren."


"H-aahh?"


"Iya, yaudah."


"Papa mau istirahat dulu?"


"Papa mau makan, papa kangen sama masakan kamu, sayang." Jawab Darren sambil tersenyum pada Melisa. Akhirnya Melisa pun menganggukan kepala nya.


"Ayo kita sarapan.." Ajak Melisa. Semuanya pun beranjak dari duduknya lalu pergi ke ruang makan yang berdampingan dengan dapur. 


"Naren kemana, sayang?" Tanya Melisa saat dia tidak melihat keberadaan Narendra di ruang makan.


"Astaga, seperti nya dia masih tidur, Mi. Ayu bangunin dulu ya, sebentar. Duluan saja sarapan nya." Ucap Ayunda, dia kembali beranjak dari duduknya dengan berjalan pelan karena perut nya yang sudah sangat besar sedikit menghambat pergerakan nya. Wanita itu pun pergi ke kamar untuk membangunkan sang suami, dia membuka pintu dan melihat kalau Naren masih bergelung di bawah selimut hangatnya. 


Ayunda tahu kalau ini memang weekend dan artinya itu adalah waktunya untuk Naren beristirahat setelah dia kelelahan bekerja selama seminggu penuh di kantor dengan sejuta pekerjaan yang seolah tiada habisnya. 


"Mas.." Panggil Ayunda sambil menyibak gordeng dan mengikatnya. 


"Mas, ayo bangun dong." Kali ini, Ayunda mengguncang tubuh sang suami secara perlahan. 


"Hoaamm.." Narendra menguap lebar, dengan cepat Ayunda menutup mulut suaminya itu dan menepuk nya dengan pelan. 


"Berisik, kebiasaan kalo bangun suka nguap gede bener." 


"Hehe, namanya juga udah kebiasaan. Agak susah buat di hilangkan, sayang." Jawab Narendra sambil terkekeh pelan. 


Cup..


Narendra mencuri satu kecupan singkat di pipi kanan istrinya, lalu mencubit pipi gembul nya yang sudah terlihat seperti bakpau saking bulatnya. 


"Isshh, jorok banget kamu, Mas. Belum gosok gigi, belum cuci muka udah nyosor aja." 


"Hehe, soalnya gemes aja liat pipi kamu yang gembul itu bikin Mas gak tahan buat gak cium pipi kamu." Jawab Narendra sambil terkekeh. Dia juga mengusap pipi nya yang basah karena ulah suaminya.


"Udah, sana mandi. Yang lain udah nungguin di meja makan, kamu tuh kebiasaan banget deh kalo weekend pasti bangun nya siang. Suka banget bikin orang nunggu." Omel Ayunda sambil menggelengkan kepala nya. 

__ADS_1


"Gak mau aahhh, dingin.."


"Dih, jorok banget. Mandi sana, inget semalam kita habis perang lho, masa gak mandi. Itu badan bau keringet." Ucap Ayunda.


"Mandiin.." pinta Narendra membuat Ayunda mencebikkan bibirnya karena kesal dengan permintaan sang suami. 


"Udah gede, mandi sendiri sana."


"Yang.."


"Gak usah manja, Mas. Udah mau jadi bapak juga, masih aja manja."


"Hehe, yaudah deh."


"Cepetan mandi nya, ada kejutan lho di luar sana. Kamu pasti bakalan seneng deh pas udah lihat kejutan nya." Ucap Ayunda membuat Narendra yang sudah memegang handle pintu kamar mandi pun berbalik dan menatap wajah cantik sang istri yang sedang tersenyum. 


"Kejutan apa?"


"Ada deh, makanya cepet mandi nya biar kamu tahu." Jawab Ayunda, membuat Naren pun segera masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan tubuhnya secepat kilat. Dia merasakan kalau kejutan ini bukanlah kejutan yang biasa, maka nya dia sangat antusias. 


"Sudah? Tumben cepet mandi nya. Mandi kadal ya?"


"Ckk, kamu tuh ya. Aku suka bingung sama kamu, mandi lama di katain bidadari berendam, cepet di katain mandi kadal. Aku tuh serba salah banget ya?"


"Ya namanya juga cowok, kalau yang gak pernah salah kan pasti cewek. Aku misalnya." Jawab Ayunda sambil tertawa.


"Iya deh si paling gak salah. Ayo kita keluar, sayang." Ajak Narendra sambil menggandeng tangan sang istri. Pasangan suami istri itu pun keluar dan langsung menuju ke arah ruang mana yang berjarak tak jauh dari ruangan utama atau ruang tamu. 


Narendra memicingkan matanya saat dia melihat ada punggung yang seolah tak asing bagi nya, dia seolah mengingat seseorang yang saat ini berada di negara lain. 


'Itu seperti kakek, tapi apa mungkin dia sudah pulang ya?' Narendra membatin, dia benar-benar merasa familiar dengan punggung yang tengah memunggungi nya itu, tapi dia tidak bisa memastikan terlebih dulu sebelum dia melihat wajahnya.


"Nah, itu dia pasangan bucin kita." Ucap Arvino yang membuat Narendra mencebikan bibirnya. Kesal? Tentu saja, masih pagi juga sudah membuat dirinya kesal, padahal dirinya baru saja bangun dari tidur lelapnya. Tapi dia malah di suguhi dengan sindiran kecil yang membuatnya kesal terlontar dari sang ayah. 


"Apaan sih, Pi."


"Enggak tuh, tapi kenapa kamu suka sekali membuat semua orang menunggu hmm?" Tanya Arvin dengan melipat kedua tangan di dada nya.


"Sudahlah, Arvin.  Ayo makan, cucu kakek. Kasian istri kamu udah lapar tuh, dia telat makan gara-gara kamu bangun terlambat." Ucap seseorang yang membuat kedua mata Naren memicing, suara nya tidak asing. 


"Kenapa, Ren? Kamu tidak mengenali kakek mu sendiri?" Tanya Darren sambil menoleh. Dia menatap Narendra dengan tatapan yang penuh arti. Tentu nya, dia ingat kesan terakhir yang mereka tinggalkan sesaat sebelum akhirnya dia memilih untuk pergi ke Amerika untuk sementara waktu, tapi sayang nya kecelakaan itu malah membuatnya harus berpisah cukup lama dengan cucu dan juga anak-anak nya.


"K-kakek.." panggil Narendra dengan terbata, dia memanggil Darren dengan suara lirihnya. Kedua mata nya nampak berkaca-kaca saking terharu nya dia bisa melihat sang kakek berada di depan nya seperti ini. 


"Iya, Ren. Ini kakek, apa kabar?" Tanya Darren sambil tersenyum kecil.


"Naren baik-baik saja, bagaimana dengan kakek? Sudah sembuh total?" Tanya Narendra sambil berjalan mendekat, lalu memeluk sang kakek dari belakang.


"Iya, kakek sudah sembuh. Sekarang kakek sudah sembuh total kok, sudah tidak meminum obat lagi, makanya udah bisa pulang." Jawab Darren sambil mengusap tangan Naren yang melingkar di lehernya karena Naren memeluknya saat Darren sedang duduk sambil memakan makanan nya. 


"Syukurlah, Naren sangat senang mendengarnya."


"Hmm, kakek juga senang karena akhirnya kakek sembuh dan bisa pulang kesini untuk berkumpul bersama kalian." Jawab Darren.


"Kakek, maafkan kesan terakhir kita yang kurang baik. Untuk itu, Naren sangat menyesali nya. Naren minta maaf sama Kakek, kalau semisal hari itu kakek kecewa dan sakit hati dengan perkataan Naren yang agak kasar." Ucap Narendra dengan lirih.


"Kakek sudah memaafkan semuanya, tidak ada yang perlu di maafkan lagi. Terimakasih karena sudah mengakui kesalahan kamu, Nak."


"Iya, Kakek." Jawab Narendra sambil tersenyum. Dia mengusap puncak kepala cucu nya dengan lembut.


"Cieee, sebentar lagi kamu bakalan jadi papa." Goda Darren sambil menyenggol pelan lengan Narendra. 


"Hehehe, malu aku Kek."


"Ngapain malu, lagian kan emang iya. Bapaknya twins, harus lebih aktif ya. Jangan nakal, apalagi kebo tidur nya sampe siang begini. Kebiasaan kamu tuh harus di ubah itu, apalagi bikin orang nunggu. Istri kamu tuh lagi hamil, jangan sampai dia telat makan cuma gara-gara nungguin kamu." Nasehat Darren membuat Narendra cengengesan. 


"Kan Ayu bisa makan duluan.."


"Elah, kayak kamu gak tahu istrimu kayak gimana aja, Ren."


"Heheh, iya deh Kek. Maafin Naren ya, maaf semuanya kalau bikin kalian nunggu."


"Iya iya, ayo kita makan." Ajak Arvino. Mereka pun memulai acara sarapan yang tertunda cukup lama hanya karena menunggu satu orang yang masih tertidur tadi, siapa lagi kalau bukan Narendra. 

__ADS_1


.......


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2