
Sore harinya, mereka pun berpamitan untuk pergi. Tentu saja, Samuel dan Selin mengantarkan kepergian keluarga mereka dengan rasa sedih. Di bandara, bahkan Sam tidak mau melepaskan pelukan nya pada Arvino. Dia merasa sedih karena harus berpisah kembali bersama keponakan kesayangan nya itu, kalau bisa dia ingin terus menerus berkumpul bersama dengan keluarga nya.
Hanya seminggu saja, tapi rumah terasa begitu nyaman dan hangat, ramai juga. Setelah kepergian semua nya, pasti suasana rumah akan terasa sepi sunyi seperti biasa. Pasti nya, dia akan merasa kehilangan setelah kepergian mereka semua. Terlebih lagi Ayunda, Sam sudah merasa sangat dekat dengan istri dari keponakan nya itu. Dia merasa Ayunda adalah wanita yang sangat baik, cerdas dan juga memiliki satu hal yang tak banyak di miliki oleh wanita lain kebanyakan.
"Sayang, lain kali berkunjung lagi kemari ya? Lain kali, datanglah saat musim semi." Ucap Selin sambil mengusap wajah cantik Ayunda.
"Pasti, Aunty. Saat musim semi datang, nanti baby nya sudah lahir." Jawab Ayunda sambil tersenyum.
"Aahhh ya, sehat-sehat di perut mami ya, sayang. Jangan rewel kasian Mami nya." Ucap Selin sambil mengusap lembut perut Ayunda, wanita itu tersenyum lalu memeluk Ayunda dan mengusap rambut nya.
"Hati-hati di jalan, jangan lupa kalau sudah sampai segera kabari aunty ya, cantik?"
"Baik, aunty. Kalau begitu, Ayu sama yang lain pamit ya."
"Ya, sayang. Sampai jumpa lagi." Ucap Selin, ke empat nya pun berjalan menuju ke dalam bandara. Selin dan juga Samuel melambaikan tangan mereka, dengan berat hati mereka harus melepas kepergian keluarga mereka. Mau bagaimana lagi? Mereka juga memiliki urusan masing-masing yang harus mereka selesaikan.
"Kita pulang, sayang?" Ajak Samuel pada istrinya, Selin.
"Kita ke rumah sakit ya?" Ucap Selin sambil menggandeng tangan sang suami.
"Iya, sayang. Aku juga merindukan kakak ku." Jawab nya, lalu kedua nya pun pergi meninggalkan kawasan bandara.
Di dalam pesawat, Ayunda dan Narendra kembali mendapatkan tempat duduk di samping jendela. Wanita cantik itu menggelayut manja di pundak sang suami, Narendra juga terus menerus menggenggam erat tangan istrinya. Jujur saja, dia merasa tenang ketika istrinya melakukan hal seperti ini. Dia menyukai saat istrinya bermanja dengan nya, definisi sudah bucin sampai ke tulang nya.
Hingga akhirnya, pesawat pun take off. Ayunda menghela nafas nya ketika melihat pesawat mulai mengangkasa, beruntung nya ada Narendra yang selalu siaga melindungi istrinya. Merangkul istrinya, menggenggam tangan istrinya dengan erat.
__ADS_1
"Tidak perlu takut, ada Mas disini, sayang." Ucap nya lirih. Ayunda mengangguk dan kembali tenang, dia mengusap perut nya yang terasa agak sedikit ngilu. Mungkin inilah yang membuat dokter tak menyarankan bagi ibu hamil trimester pertama untuk melakukan penerbangan. Sebaiknya di hindari saja bepergian ke luar negeri, salah satunya mungkin inilah alasan nya, karena getaran yang membuat perut ibu hamil akan terasa ngilu dan itu bisa saja menyebabkan keguguran jika kandungan nya lemah.
Pesawat pun mengudara semakin tinggi, Ayunda bisa melihat rumah-rumah yang terlihat kecil. Ini adalah pemandangan yang sangat berkesan bagi Ayunda, ini pertama kali nya dia melihat pemandangan seperti ini. Kemarin, saat berangkat dia malah tertidur karena takut mabuk. Tapi sekarang, dia melihat semua nya, semoga saja dia tidak mabuk lagi.
"Tidur yuk? Kita sampai ke Indonesia besok pagi-pagi banget lho." Ucap Narendra.
"Iya, Mas." Jawab Ayunda dia pun memasang bantal leher yang memang di sediakan dari maskapai penerbangan.
"Nanti, Mas bangunin kalau udah waktunya makan."
"Iya, Mas. Ternyata makanan di pesawat enak-enak ya." Ucap Ayunda sambil cengengesan.
"Lumayan lah, sepadan dengan harga tiket yang mahal, sayang." Jawab Narendra. Pria itu mengusap-usap kepala sang istri dengan lembut dan menyandarkan kepala sang istri di pundak nya. Ayunda pun memejamkan kedua mata nya, Narendra juga melakukan hal yang sama. Dia mengantuk karena tadi malam dia tidak bisa tidur karena udara nya terlalu dingin, apalagi bagi Ayunda yang notabene nya sedang hamil dan tubuh nya rentan akan penyakit.
Waktu terasa begitu cepat berlalu, kini pasangan suami istri itu sudah berada di rumah. Tentu nya bersama dengan Arvino dan juga Melisa. Ke empat nya memilih beristirahat di kamar masing-masing. Ayunda merasa sangat bahagia karena akhirnya, suasana rumah yang dia rindukan kini kembali dia rasakan. Udara nya memang cukup dingin, tapi tidak sedingin saat berada di luar negeri.
"Hehe, aku kangen suasana di kamar ini, Mas."
"Hmm, baru juga seminggu."
"Ya kan tetap aja aku rindu sama suasana kamar, suasana rumah sama suasana pagi hari yang sejuk. Bukan dingin nya, sumpah seminggu disana bikin aku hampir beku." Jawab Ayunda sambil tersenyum. Narendra pun terkekeh, dia pun merasa seperti itu ketika berada di negara tempat tinggal sang paman.
"Sama aja, Mas juga kangen suasana disini, sayang. Jadi sekarang, ayo tidur dulu istirahat. Nanti lanjut cerita lagi, terus stroberi itu udah seminggu gak di petik, pasti udah banyak yang mateng." Ucap Narendra sambil tersenyum kecil.
"Wahh iya ya, nanti deh aku ke kebun sambil healing lihat taman bunga mawar aku."
__ADS_1
"Iya, sayang. Sekarang tidur dulu ayang nya, biar nanti seger pas bangun." Ucap Narendra. Ayunda pun menganggukan kepala nya, dia menduselkan wajah nya di dada bidang sang suami. Narendra tersenyum manis, lalu mengusap-usap puncak kepala istrinya dengan lembut.
Sore harinya, Ayunda terbangun lebih dulu. Dia tersenyum ketika melihat suaminya masih tertidur dengan lelap di samping nya, tangan nya melingkari pinggang nya dengan erat. Pria itu memeluk nya setiap saat.
Secara perlahan, Ayunda pun melepaskan tangan sang suami yang melingkar di pinggang nya, lalu pergi ke kamar mandi dengan langkah perlahan agar sang suami tidak terbangun. Dengan cepat, Ayunda pun membersihkan tubuh nya dengan air dingin. Dia sedang ingin mandi air dingin, tidak biasa nya memang. Tapi mandi air dingin memang menyegarkan. Selama di Amerika, Ayunda hanya mau mandi menggunakan air hangat saja. Mana ada orang yang mau mandi menggunakan air dingin yang terasa sedingin es batu itu kan? Tak ada yang mau, lebih baik jangan mandi.
Setelah selesai membersihkan tubuh nya, Ayunda pun keluar dari kamar untuk pergi ke taman bunga, dia tersenyum ketika melihat tanaman bunga kesukaan nya saat batang nya bergerak-gerak tertiup angin yang berhembus. Ayunda merasakan kebahagiaan dan ketenangan ketika melihat taman bunga yang indah ini, lalu pikiran nya kembali tertuju ke kebun stroberi. Dia harus pergi kesana sekarang juga, dia ingin memakan buah stroberi yang langsung di petik dari pohon nya langsung, seperti kebiasaan nya.
"Ke kebun lah.." gumam Ayunda, dia pun berjalan dengan santai ke kebun di samping rumah, dekat dengan kebun sayuran milik mami mertua nya. Sayuran nya terlihat sangat segar dan terawat, sayuran disini tumbuh dengan subur.
"Sayuran nya montok banget, kayaknya enak deh kalo di masak." Gumam Ayunda. Dia pun kembali fokus ke tujuan utama nya, yakni memetik buah stroberi. Ayunda sangat antusias ketika melihat banyak sekali buah stroberi yang sudah matang dan siap di petik, Ayunda memetik nya dan memakan nya langsung dengan lahap.
"Udah disini aja, sayang?" Tanya Melisa sambil tersenyum, dia kaget ketika melihat menantu nya sudah ada di kebun untuk memakan buah stroberi kesukaan nya.
"Hehe, Mami.."
"Lanjutin aja, sayang. Stroberi nya banyak yang mateng tuh."
"Iya, Mami. Mami mau metik sayur?"
"Iya, sayang. Mau di masak, kamu ada request buat makan malam nanti?" Tanya Melisa. Ayunda menggelengkan kepala nya perlahan.
"Ayu lagi gak mau makan apa-apa, jadi apapun masakan Mami pasti Ayu makan." Jawab Ayunda sambil tersenyum.
"Yaudah kalo gitu, sayang. Mami ngambil sayur dulu, kamu lanjutin aja makan buah nya. Kamu memang harus banyak makan buah-buahan biar sehat dan kuat." Ucap Melisa membuat Ayunda menganggukan kepala nya mengiyakan. Dia memang suka makan buah, jadinya hanya di suruh makan buah saja bukanlah masalah bagi Ayunda.
__ADS_1
......
🌻🌻🌻🌻🌻