Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 136 - Buka Puasa


__ADS_3

Setelah makan malam selesai, Ayunda berpamitan untuk pergi ke kamar lebih dulu. Narendra mengizinkan, sedangkan dia masih ingin berada di bawah untuk berbincang dengan kedua orang tua nya selama beberapa menit.


"Boy, sana tidur. Ini sudah cukup larut, tak baik membuat istrimu menunggu." Ucap Melisa. Dia tersenyum ketika melihat putra nya menganggukan kepala nya. Tadi, Ayunda sudah mengatakan hal ini pada ibu mertua nya. Dia ingin memberikan hak suami nya malam ini, tentu nya dengan persiapan yang matang. Benar-benar sudah menyiapkan diri nya untuk melayani sang suami. 


"Baik, Mi. Kalau begitu, Naren ke kamar dulu. Selamat malam dan selamat beristirahat."


"Iya, Boy. Jangan terlalu di geber ya, istrimu baru mendingan." Celetuk Melisa dengan senyum jahil nya, membuat Narendra mengernyitkan kening nya.


"Apa nya yang di geber, Mi?"


"Aaahh enggak, udah sana ke kamar. Mami sama papi juga mau tidur kok." Jawab Melisa. Membuat Narendra menggelengkan kepala nya, lalu pergi ke kamar nya. Dia meniti anak tangga satu persatu dengan hati-hati, hingga akhirnya dia sampai di kamar. 


Aneh, tiba-tiba saja Naren merasa gemetar sendiri saat dia akan membuka pintu. Hati nya terasa berdebar tak karuan, padahal tidak ada hal yang membuat nya seperti ini. Bahkan, tangan nya saja terlihat ragu untuk memegang handle pintu. 


"Astaga, ada apa dengan ku? Gak biasa nya aku begini." Gumam Narendra. Dengan mengumpulkan sedikit keberanian, akhirnya Naren pun memutar handel pintu nya. Pintu itu terbuka, dengan cepat Naren masuk dan kembali menutup nya. Dia berbalik dan seketika itu juga dia di buat melotot dengan pemandangan yang membuat celana nya tiba-tiba saja terasa sesak. 


"Mas, sudah datang?" Tanya Ayunda berbasa-basi. Wanita itu tersenyum menggoda ke arah suami nya. 


"Yang, kenapa kamu pake baju ginian sih?" Tanya Narendra. Dia heran pada istrinya, biasa nya dia paling tidak suka saat dirinya meminta istrinya untuk mengenakan pakaian seksii seperti ini. Tapi sekarang, secara ajaib tanpa di pinta sedikit pun, sekarang Ayunda mengenakan nya, tanpa paksaan. 


Narendra menelan ludah nya dengan kepayahan, bahkan terasa tercekat di tenggorokan. Istrinya terlihat sangat menggairahkan sekarang, sungguh demi apapun Naren di buat kesulitan mengendalikan dirinya sendiri saat ini. 


Ayunda berjalan pelan ke arah sanh suami dengan langkah anggun nya. Wanita terlihat sangat cantik, bahkan Narendra di buat nyaris tak berkedip saat melihat penampilan istrinya. Panas sekali, suasana di kamar ini sangat panas, membuat Narendra berkeringat hingga wajah nya memerah karena menahan desakaan sesuatu di bawah sana yang menuntut pelepasan.


"Yang, mau ngapain?" Tanya Narendra.


"Kamu keliatan takut, kenapa? Perasaan aku gak menakutkan, justru aku seksii kan?" Goda Ayunda sambil meraba tubuh nya sendiri.


"Sayang, sejak kapan kamu jadi nakal kayak gini?" Tanya Narendra dengan suara serak nya, dia benar-benar tidak tahan lagi sekarang.


"Aku? Perasaan dari dulu, cuman ya gitu kehalang rasa malu sama gengsi, hehe." Jawab Ayunda, dia berjalan semakin mendekat hingga membuat Narendra mundur. Hingga akhirnya punggung pria itu menabrak tembok kamar nya. Wanita itu tersenyum lalu mengusap lembut wajah tampan sang suami, dia juga mengalungkan kedua tangan nya di leher Narendra.


"Sayang, aduh aku gak kuat.."


"Kalau udah gak kuat, ya ayo kita main." Ajak Ayunda.


"Sayang, kamu tau gimana aku kalo udah nafssu kan? Kamu sanggup emang nya kalau aku terkam hmm?"


"Asal pelan-pelan dan kamu nya ngasih waktu buat istirahat, sanggup-sanggup aja kok." Jawab Ayunda sambil tersenyum manis. 


"Aku gak bisa jamin kalau aku bakalan main pelan-pelan, sayang." 


"Nanti aku bilangin kamu kalau aku sakit, oke?"


"Hmm, baiklah. Ayo." Putus Narendra. Akhirnya pertahanan pria itu luluh juga, siapa juga yang tahan kan? Melihat mangsa yang empuk di depan mata dengan memakai pakaian dinas yang menggoda, membuat hasraat Narendra naik hingga ke ubun-ubun. Bahkan sekarang, junior nya sudah bangkit dan siap untuk di ajak berperang. 


"Gendong, Mas." Pinta Ayunda dengan manja. Narendra terkekeh, dia pun menggendong sang istri ala koala. Namun, dia masih sempat mengunci pintu sebelum dia membawa tubuh istrinya ke atas ranjang. Pria itu segera mengungkung tubuh istrinya, wanita itu tetap membiarkan tangan nya melingkar di leher kokoh sang suami. 


Narendra menundukan kepala nya, dia mencium bibir mungil kemerahan sang istri, dia melumaat dan memaguut nya dengan penuh kelembutan. Dia juga mengusap-usap wajah cantik sang istri, membuat Ayunda hanyut di dalam ciuman mesra nan hangat itu. 


Ayunda sudah larut ke dalam kehangatan yang di berikan oleh suami nya. Wanita itu mulai bergerak-gerak tak karuan saat tangan sang suami mulai meraba-rabaa tubuh nya dengan tangan besar nan kekar nya. 


"Aaahhh.." Ayunda mendesaah tertahan saat Narendra mulai menyesap leher jenjang dan putih nya itu dengan gemas juga menggigit nya hingga meninggalkan bekas kemerahan yang berjejer rapih di leher putih sang istri. 


"Sakit, yang?"


"Dikit kok, gapapa. Ayo lagi.." Pinta Ayunda. Narendra tersenyum manis, lalu kembali memberikan sentuhan-sentuhan manja di titik-titik sensitif sang istri, membuat wanita itu menjerit tertahan karena sensasi nikmat dan geli yang bercampur aduk menjadi satu. Bahkan tubuh wanita itu sampai gemetar karena tak sanggup menahan kenikmatan yang di berikan oleh suami nya. 

__ADS_1


Tidak perlu di ragukan lagi, pria itu memang pandai memuaskan nya dia sangat pandai untuk membuat Ayunda menjerit keenakan. Dia sangat handal dalam hal seperti ini, bahkan Ayunda sendiri sering kalah dan takluk di bawah kendali suami nya.


"Enghh, Mas.." Ayunda melenguuh saat Narendra dengan brutal nya memainkan buah apel miliknya. Dia menguluum puncak nya dengan nikmat, hingga membuat wanita itu memejamkan mata nya menikmati kenikmatan yang di suguhkan eh suami nya. 


"Kenapa, sayang?"


"Mas, aaahh.." 


"Baru begini saja kamu sudah kalah, sayang?" Tanya Narendra dengan senyuman nakal nya. Dengan cepat, dia menarik pakaian tipis yang di kenakan oleh sang istri, dia juga menanggalkan semua pakaian yang dia kenakan hingga kedua nya sama-sama polos saat ini. 


Ayunda bisa melihat dengan jelas kalau senjata milik sang suami sudah berdiri tegak dan siap di ajak bertarung. Wanita itu menelan ludah nya, dia tidak ingat sejak kapan milik suami nya bisa sebesar ini. Padahal dulu, dia merasa milik Narendra tidak sebesar ini. 


"Kenapa, sayang?" Tanya Narendra pelan.


"Itu punya Mas kok makin gede aja sih? Kamu pake sesuatu ya biar si dedek makin gede?" Tuduh Ayunda. Jujur saja, wanita itu merasa ngeri sendiri ketika melihat senjata sang suami yang besar, panjang dan jangan lupakan urat-urat nya yang menyembul, mungkin saking tegang nya membuat urat-urat itu terlihat menyembul. 


"Mana ada, sayang? Gak ada, dari dulu ukuran nya memang segini kok." Jawab Narendra. Dia memang tidak menggunakan apapun pada adik kecil nya, dia juga tidak pernah menyentuh nya sama sekali sejak istrinya sakit. 


"Tapi kenapa sekarang ukuran nya bisa sebesar itu, Mas?"


"Mas gak tau, mungkin karena udah lama gak di pake kali, yang."


"Jadi ngumpul gitu?" Tanya Ayunda sambil tersenyum dan Narendra menganggukan kepala nya mengiyakan pertanyaan sang istri.


"Yaudah, pelan-pelan aja. Ngeri aku liat si dedek, kok makin gede aja. Kamu kasih makan apa sih?"


"Hahaha, sayang ini ada-ada aja. Mana ada aku kasih makan." Jawab Narendra. Dia pun kembali bermain-main dengan tubuh sang istri, sungguh ini adalah moment yang paling Naren tunggu-tunggu. 


Setelah di rasa cukup pemanasan, Narendra pun bersiap untuk membobol gawang sang istri untuk pertama kali nya setelah Ayunda sakit beberapa bulan lalu. Ayunda memejamkan mata nya, sungguh dia tidak bisa melihat adegan ini. Takut? Jelas, dia takut. 


Pria itu menekan adik nya di pintu masuk sang istri, Ayunda memejamkan mata nya. Sungguh, rasanya masih sama. Sakit, sangat sakit. Rasanya seperti saat pertama kali melakukan nya, sungguh. Ini bukan hanya omongan semata tapi ini benar-benar sakit. 


"Mas, pelan-pelan."


"Sayang, kamu yakin? Mas gak tega liat kamu kesakitan gini." Ucap Narendra. Dia ingin berhenti namun istrinya menahan dirinya dan meminta agar dirinya tetap melanjutkan permainan nya.


"Tidak, lanjutkan saja. Aku yakin dengan keputusan ku, Mas. Lakukan dengan baik dan perlahan." 


"Sayang.."


"Aku baik-baik saja, lakukanlah." Jawab Ayunda sambil tersenyum manis. Narendra pun menatap wajah tampan sang suami dengan senyum manis yang terkembang di bibir nya. 


Narendra pun tak memiliki pilihan lain, selain itu dia juga ingin melampiaskan hasraat nya yang sudah cukup lama tertunda. Sungguh, ini sangat berat dan menyakitkan. Rasa nya sangat menyakitkan sekali, apalagi dengan adik nya yang mengacung setiap kali dia melihat sang istri. 


Jujur saja, dia tidak tega melihat wajah sang istri yang terlihat kesakitan. Kalau dulu, saat pertama kali mereka melakukan nya, itu beda lagi cerita nya karena dia mabuk dan dalam keadaan setengah sadar karena pengaruh obat perangsang. Jadi, yang ada di pikiran nya hanya bagaimana cara nya agar dia bisa mendinginkan tubuh nya, meskipun itu dengan cara merusak seorang gadis baik-baik.


"Sayang, sama seperti waktu itu. Kalau terasa sakit saat mas melakukan nya, kamu cakar atau gigit punggung Mas ya?" Ucap Narendra, dia terlihat sangat khawatir saat melihat istrinya meringis menahan sakit.


"Iya, Mas."


Narendra pun kembali melakukan upaya penyatuan, dia menekan adikbnua cukup kuat hingga berhasil masuk separuhnya, tapi batu segitu saja Ayunda sudah kesakitan. Wanita itu menangis, Narendra melihat hal itu pun tak tega. Dia benar-benar tidak tega melihat istrinya seperti ini, namun dia tidak bisa berhenti lagi meksipun dia ingin. 


Pria itu kembali menekan senjata nuabhingga berhasil masuk semua nya. Ayunda meringis menahan rasa sakit di bagian bawah nya. Naren menundukan kepala nya, lalu mengecup kedua mata sang istri lalu menatap nya dengan tatapan yang sulit di artikan. 


"Sayang.."


"Haha, aku baik-baik saja. Ayo lanjutkan, Mas." 

__ADS_1


"Maaf kalau Mas menyakiti kamu, ya?"


"Iya, tidak apa-apa. Lakukan saja, biar terbiasa." Jawab Ayunda. Naren pun melakukan nya dengan perlahan. Malam itu, mereka melakukan nya selama beberapa jam. Narendra melakukan nya dengan perlahan dan kelembutan, namun karena durasi yang cukup lama tetap saja membuat Ayunda sedikit merasakan kesakitan. Tapi, wanita itu tidak ingin membuat sang suami khawatir dan menghancurkan gairaah nya, jadi dia bersikap biasa saja agar suami nya senang. 


Narendra benar-benar melampiaskan hasraat nya pada sang istri malam ini, dia baru berhenti setelah beberapa jam akhirnya dia mendapatkan pelepasan nya yang pertama. Ayunda menghembuskan nafas nya, dia merasa lega karena akhirnya suami nya telah selesai bermain. Artinya, dia bisa beristirahat malam ini dan besok mungkin akan melakukan kembali aktivitas nya seperti biasa. 


"Aargghh.." Narendra menekan senjata nya sedalam mungkin, hingga mentok ke dalam milik sang istri.


"Mas, terlalu dalam. Sakit.." Ayunda kembali meringis kesakitan saat suami nya melajukan hal itu.


"Maaf dan terimakasih, aku sangat puas." Bisik Narendra sambil tersenyum kecil. Dia pun segera melepas penyatuan nya dan berguling ke samping, dia tidak ingin ambruk dan menindih tubuh istrinya. 


"Sama-sama, Mas. Sudah kewajiban ku, aku mencintaimu."


"Aku juga sangat mencintaimu, sayang." Balas Narendra. Wanita itu pun tersenyum, lalu memeluk sang suami. Narendra pun membalas pelukan sang istri dengan senang hati. Dia pun mengusap-usap lembut punggung dan kepala belakang istrinya. 


"Nyaman sekali berada di pelukan kamu, Mas."


"Senyaman itu kah, sayang?" Tanya Narendra sambil tersenyum. 


"Iya, sangat nyaman. Bikin tidur aku lebih nyenyak, hehe."


"Hmm, syukurlah. Aku akan dengan senang hati terus memeluk kamu setiap hari, jam, menit bahkan setiap detik." Jawab Narendra yang membuat Ayunda terkekeh.


"Mana ada orang pelukan setiap detik, Mas?"


"Yahh, kamu tuh kebiasaan banget deh suka merusak suasana. Aku kan tadinya niat mau gombal."


"Haha, yaudah maafin ya."


"Gapapa istriku. Kamu lelah kan? Ayo tidur, sayang."


"Kamu juga kan? Kamu sudah bekerja keras, hehe." Jawab Ayunda sambil terkekeh. 


"Harus dong, aku bekerja keras biar kamu gak kecewa sama aku."


"Mana ada aku kecewa sama kamu, Mas. Kamu gak pernah mengecewakan, selalu." Jawab Ayunda. 


"Oke, aku salting brutal mendengar jawaban kamu, sayang." Ucap Narendra. Dia mengeratkan pelukan nya pada tubuh Ayunda, lalu menciumi wajah sang istri dengan gemas. Sungguh, memiliki istri semenggemaskan Ayunda di jamin hidup itu tidak akan terlalu monoton atau membosankan, karena Ayunda selalu memiliki cara untuk membuat hati Narendra berbunga-bunga, bahkan terasa di hinggapi ribuan kupu-kupu di perut nya. 


"Hahaha, lebay deh kamu."


"Udah, ayo tidur. Sebelum Mas berubah pikiran." Jawab Narendra sambil tersenyum nakal. 


"Oke, Mas aku tidur dulu ya. Selamat malam, suamiku."


"Iya, selamat malam juga istriku. Tidur yang nyenyak dan mimpi indah."


"Mas sih yang bakalan mimpi indah, iya kan?" Tanya Ayunda.


"Hmm, iya. Mas akan mimpi indah, hehe. Itu karena Mas sudah berbuka puasa." Jawab Narendra. Namun, ketika pria itu melihat ke bawah, dia melihat istrinya sudah tertidur. Hembusan nafas teratur terasa menerpa dada bidang nya yang masih polos karena tidak mengenakan sehelai pakaian pun. Begitu juga dengan Ayunda, kedua nya sama-sama tidak memakai apapun di tubuh mereka. Hanya di tutupi selimut tebal.


"Selamat tidur istriku, sayang. Mas mencintai mu.." Lirih Narendra. Dia mengecup singkat kening sang istri, pria itu pun memejamkan kedua mata nya. Hingga akhirnya rasa kantuk nya pun datang dan dia pun tertidur, menyusul sang istri ke alam mimpi.


.......


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2